البقرة (Al-Baqarah)
Per AyatMushaf
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
يُؤْمِنُوْنَ
beriman
بِالْغَيْبِ
dengan yang gaib
وَيُقِيْمُوْنَ
dan mereka mendirikan
الصَّلٰوةَ
sholat
وَمِمَّا
dan sebagian dari apa
رَزَقْنٰهُمْ
telah Kami beri rezki kepada mereka
يُنْفِقُوْنَ
mereka menafkahkan
ۙ
﴿٣﴾
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,
10 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Mereka itu adalah orang-orang yang membenarkan perkara-perkara yang gaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra dan akal mereka Semata, karena hal itu tidak dapat diketahui kecuali dengan wahyu dari Allah kepada rasul-Nya. seperti iman kepada malaikat,surge,neraka dan yang lainnya dari apa-apa yang diberitakan oleh Allah atau diberitakan oleh Rosul-Nya sholallohu’alaihi wasallam. (Iman adalah satu kalimat yang mengandung arti iqrar kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosulul-Nya, hari akhir dan qadar yang baik dan yang buruk. dan yang membuktikan benarnya ikrar tersebut adalah dengan ucapan dan amal dengan hati, lisan dan anggota tubuh) Dan mereka denga bukti kebenaran iman mereka terhadap yang gaib adalah dengan menjaga pelaksanaan salat pada waktu-waktunya dengan pelaksanaan yang shahih sesuai dengan yang Allah syariatkan kepada nabi-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. dan dari sebagian harta yang Kami anugerahkan kepada mereka, mereka mengeluarkan zakat yang wajib maupun yang sunnah dari harta mereka.
Sumber: https://tafsirweb.com/221-surat-al-baqarah-ayat-3.html
Tafsir as-Sa'di
3. “Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.” Hakikat keimana adalah pembenaran yang total terhadap apa pun yang dikabarkan oleh para Rasul, yang meliputi ketundukan anggota tubuh. Perkara keimanan itu tidak hanya kepada hal-hal yang dapat diperoleh oleh panca indera semata, karena hal ini tidaklah mampu membedakan antara seorang Muslim dengan seorang kafir, namun perkara yang dianggap dalam keimanan kepada yang ghaib adalah yang tidak kita lihat dan tidak kita saksikan, namun kita hanya mengimaninya saja karena ada kabar dari Allah dan kabar dari RasulNya. Itulah keimanan yang mampu membedakan antara seorang Muslim dengan seorang kafir, karena itulah pembenaran yang utuh terhadap Allah dan RasulNya.Maka seorang yang beriman adalah yang mengimani segala sesuatu yang dikabarkan olh RasulNya, baik yang dia saksikan ataupun tidak, baik dia mampu memahami dan masuk akalnya, ataupun akal dan pemahamannya tidak mampu mencernanya. Berbeda dengan orang-orang atheis yang mendustakan perkara-perkara ghaib, karena akal-akal mereka yang terbatas lagi lalai tidak sampai kepadanya, akhirnya mereka mendustakan apa yang tidak mampu dipahami oleh ilmu mereka, yang pada akhirnya rusaklah akal-akal mereka, sia-sialah harapan mereka, dan (sebaliknya) bersihlah akal kaum Mukminin yang membenarkan lagi mengambil hidayah dengan petunjuk Allah. Dan termasuk dalam keimanan kepada yang ghaib adalah keimanan kepada seluruh kabar yang diberitakan oleh Allah dari hal-hal ghaib yang terdahulu maupun yang akan datang kondisi-kondisi Hari Akhirat, hakikat sifat-sifat Allah dan bentuk-bentuknya, dan kabar yang diberikan oleh RasulNya tentang semua itu; dimana mereka beriman kepada sifat-sifat Allah dan keberadaanya, dan mereka meyakininya walaupun mereka tid ak mampu memahami cara dan bentuknya.Kemudian Allah berfirman, ” yang mendirikan shalat”.Dia tidak berfirman yang mengerjakan shalat, atau menjalankan shalat, karena sesungguhnya tidaklah cukup hanya sekedar menjalankan dengan bentuknya yang lahir saja, karena mendirikan shalat yang dimaksud adalah mendirikan shalat secara lahir dengan menyempurnakan rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan syarat-syaratnya, dan juga mendirikannya secara bathin dengan mendirikan ruhnya yaitu dengan menghadirkan hati padanya, merenungi apa yang dibaca dan mengamalkannya. Yaitu shalat yang memperoleh ganjaran. Maka tidak ada ganjaran bagi seorang hamba dari shalatnya kecuali apa yang dia pahami darinya, dan termasuk dalam shalat di sini adalah yang wajib maupun yang sunnah.Kemudian Allah berfirman, “ dan menafkahkan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka.” Termasuk didalamnya nafkah-nafkah yang wajib, seperti zakat, nafkah atas istri, keluarga dan para budak dan sebagainya., dan nafkah-nafkah yang dicintai dengan segala jalan kebaikan.Dan tidak disebutkannya hal –hal yang diinfakkan karena banyaknya sebab-sebabnya dan bermacam-macam penerimaanya, dan karena nafkah itu pada dasarnya adalah sebuah ibadah kepada kepada Allah. Dia juga disebutkan dengan kata “Dari” yang menunjukkan makna sebagian, demi untuk mengingatkan mereka bahwasanya Allah tidak menghendaki dari mereka kecuali sebagian kecil saja dari harta-harta mereka yang tidak akan memudaratkan mereka dan tidak akan pula memberatkan mereka, bahkan mereka akan mengambil manfaat dari infak mereka tersebut, dan saudara-saudara mereka juga akan dapat mengambil manfaat darinya. Dan dalam firman Allah, “ rizki yang kami anugerahkan kepada mereka” terkandung sebuah isyarat bahwa yang ada di hadapanmu ini tidaklah diperoleh dari kekuatan dan kepemilikanmu, akan tetapi itu semua adalah rizki Allah yang dianugerahkan kepada kalian dan diberikanNya nikmat itu atas kalian.Maka karena nikmat yang diberikan oleh Allah atas kalian dan kemurahanNya terhadap kalian dibanding banyak hamba-hambaNya yang lain, maka bersyukurlah kepadaNya dengan mengeluarkan sebagian nikmat yang diberikan atas kalian tersebut, dan hiburlah saudara-saudara kalian yang tidak memilikinya. Dan sangatlah banyak sekali Allah menyatukan (menyandingkan) shalat dengan zakat dalam alQur’an, karena shalat itu mengandung keikhlasan hanya kepada Dzat yang disembah, sedangkan zakat dan nafkah mengandung berbuat baik kepada sesama hamba-hambaNya. Maka tanda dari kebahagiaan seorang hamba adalah keikhlasannya kepada Dzat yang disembah dan usahanya dalam membderikan manfaat kepada manusia, sebagaimana tanda kesengsaraan seorang hamba adalah tidak adanya kedua perkara tersebut pada dirinya, tidak ada keikhlasan dan tidak pula perbuatan baik kepada sesama.
Sumber: https://tafsirweb.com/221-surat-al-baqarah-ayat-3.html
Tafsir Al-Wajiz
Ciri-ciri orang yang bertakwa ada 6, yaitu membenarkan secara mutlak dan sempurna semua sesuatu yang ghaib, seperti malaikat, jin, hari kebangkitan, hari perhitungan, dan hal lain tentang kengerian hari kiamat; melaksanakan shalat secara sempurna dengan rukun dan syaratnya, khusyu’ di dalamnya karena Allah dan menjaganya sesuai waktunya; menafkahkan apa yang diberikan oleh Allah secara baik dan halal untuk zakat yang telah diwajibkan, untuk sedekah di jalan Allah, serta nafkah wajib untuk kerabat dan keluarga lainnya;
Sumber: https://tafsirweb.com/221-surat-al-baqarah-ayat-3.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ali bin Abi Thalhah dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas yaitu, (Yuminuun) berarti (membenarkan). Ma'mar meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa "Al-Iman" berarti perbuatan Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi' bin Anas, (Yu'minuun) berarti mereka takut. Ibnu Jarir dan yang lainnya berkata, "yang lebih utama yaitu mereka digambarkan dengan keimanan kepada sesuatu yang ghaib, dalam ucapan, keyakinan, maupun tindakan.Dia juga mengatakan bahwa terkadang ketakutan kepada Allah masuk makna keimanan, yaitu membenarkan ucapan dengan sebuah tindakan. Iman adalah sesuatu yang mencakup pengakuan terhadap Allah, kitabNya, dan rasul-rasulNya serta membenarkan pengakuan tersebut dengan perbuatan. Saya berkata: "Dalam bahasa, iman digunakan untuk makna pengakuan yang murni.Terkadang dalam Al-Quran iman digunakan untuk makna tersebut.Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى : (Dia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin) [Surah At-Taubah: 61], dan seperti ucapan saudara-saudara Yusuf (dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar) [Surah Yusuf: 17].Juga ketika disandingkan dengan amal, seperti Allah سبحانه وتعالى (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan) [Surah Al-'Ashr: 3].Namun, jika digunakan secara mutlak, maka iman dalam konteks syariat hanya akan terwujud dengan keyakinan, ucapan, dan amal perbuatan. Demikianlah imam-imam berpendapat, bahkan telah diriwayatkan oleh Imam Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, Abu 'Ubaid, dan ulama' lainnya secara sepakat, bahwa iman itu berupa ucapan dan perbuatan yang dapat bertambah atau berkurang Telah disebutkan dalam catatan dan hadits, Kami menjelaskan dalam pembukaan syarah kitab Shahih bukhari. Segala puji bagi Allah Beberapa mufasir ada yang menafsirkan iman sebagai ketakutan berdasarkan firman Allah سبحانه وتعالى (Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka) (Surah Al-Mulk: 12) dan firmanNya, ((Yaitu) orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih sekalipun tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat (33)) (Surah Qaf: 33).Ketakutan adalah inti dari iman dan keilmuan, seperti firman Allah سبحانه وتعالى (Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepadaNya, hanyalah para ulama) (Surah Fatir: 28).Sebagian dari mereka berpendapat bahwa mereka beriman kepada yang gaib sebagaimana mereka beriman kepada yang tampak, dan mereka bukan seperti orang munafik yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى (Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok (14)) (Surah Al-Baqarah) dan firmanNya, (Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.(1)) (Surah Al-Munafiqun).Berdasarkan hal ini, ayat ((orang bertakwa adalah) Orang yang mempercayai hal ghaib, menegakkan sembahyang, dan sebagian dari yang Kami anugerahkan kepada mereka itu mereka menginfakkannya) adalah haal, yaitu keadaan tersembunyi dari pandangan manusia. Adapun tentang makna (yang ghaib) di sini para ulama' salaf berbeda pendapat, dan semuanya benar merujuk pada makna itu. Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi' bin Anas dari Abu Al-'Aliyah tentang firman Allah سبحانه وتعالى (Mereka beriman kepada sesuatu yanhghaib) maknanya yaitu Mereka beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, surga dan nerakaNya, bertemu menghadap Dia, serta beriman kepada kehidupan setelah mati dan kebangkitan, semua ini adalah hal ghaib yang dimaksud.Demikian juga yang dikatakan Qatadah bin Di'amah. Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Abu Muhammad, dari 'Ikrimah, atau dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas: (sesuatu yang ghaib) berarti sesuatu yang datang dariNya, yaitu dari Allah سبحانه وتعالى. Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Ashim, dari Zurri: sesuatu yang ghaib itu adalah Al-Quran.'Atha' bin Abi Rabah berkata, Barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka dia telah beriman kepada sesuatu yang ghaib. Isma'il bin Abi Khalid berkata, (Yu'minuuna bil ghaib) berarti dengan sesuatu tang ghaib dalam agama Islam. Zaid bin Aslam berkata, (Mereka yang beriman kepada sesuatu yang ghaib) maknanya adalah takdir.Semuanya makna ini saling dekat yang makna yang sama, karena semua yang disebutkan itu merupakan bagian dari sesuatu yang ghaib yang wajib diimani. Dari Abdurrahman bin Yazid berkata, Kami sedang duduk bersama Abdullah bin Mas'ud, lalu kami menyebut para sahabat Nabi ﷺ dan apa yang telah mereka kerjakan. Abdullah bin Mas'ud berkata: Sesungguhnya perintah nabi Muhammad ﷺ itu jelas bagi siapa saja yang melihatnya, dan demi Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, tidak ada seorang pun yang pernah beriman dengan iman yang lebih utama daripada iman kepada sesuatu yang ghaib.Lalu beliau membaca (Alif lam mim(1) Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (2) (yaitu) mereka yang beriman kepada sesuatu yang ghaib…) sampai ayat (orang-orang yang beruntung) (Surah Al-Baqarah: 5) Makna tentang hal ini terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Mahiriz.Dia berberkata,"Aku berkata kepada Abu Jum'ah, "Ceritakanlah kepada kami sebuah hadits yang pernah engkau dengar dari Rasulullah ﷺ", Dia menjawab, "Ya, aku akan menceritakan hadis yang baik. Kami makan bersama Rasulullah ﷺ dan Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah. Lalu dia bertanya kepada Rasulullah, "Apakah ada orang yang lebih baik dari kami?Kami telah masuk Islam bersamamu dan berjihad bersamamu" Rasulullah menjawab, "Iya, ada sekelompok orang setelah kalian yang beriman kepadaku meskipun mereka tidak pernah melihatku" Hadits ini mengandung petunjuk tentang keutamaan beramal dengan tekun, dimana para ahli hadits berbeda pendapat tentangnya, sebagaimana yang telah saya terangkan dalam "Syarh al-Bukhari", karena hadits ini memuji mereka atas hal tersebut, dan disebutkan bahwa mereka mendapatkan pahala yang lebih besar daripada orang-orang yang hanya memiliki keimanan tapi itu bukan hal yang mutlak. Ibnu Abbas berkata "(Wa yuqiimunash shalaata )" maknanya yaitu mereka mendirikan shalat, yaitu semua shalat fardhu. Qatadah berkata, bahwa "mendirikan shalat" adalah menjaga waktu-waktu shalat, wudhu, rukuk, dan sujudnya.Muqatil bin Hayyan berkata, bahwa "mendirikan shalat" adalah menjaga waktu-waktu shalat, menyucikan diri sebelumnya, menyempurnakan rukuk dan sujudnya, membaca Al-Quran di dalamnya, dan membaca tasyahhud serta bershalawat kepada Nabi ﷺ, dan inilah yang dimaksud dengan "mendirikan shalat".Ali bin Abi Thalhah dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa (Mim maa razaqnaa hum yunfiquun) maknanya adalah zakat dari harta mereka. Ibnu Jarir memilih bahwa ayat ini mencakup zakat dan infak secara umum. Dia berkata: "Tafsiran yang paling utama dan tepat tentang ayat ini adalah bahwa mereka harus menunaikan sesuatu yang menjadi kewajiban mereka di dalam harta mereka kepada semua orang, baik zakat, pengeluaran yang wajib bagi mereka, seperti keluarga dan anak-anak, dan orang lain yang wajib mereka beri nafkah, seperti kerabat atau orang yang memiliki hak dalam harta mereka, dan hal lain semacam itu" Karena Allah سبحانه وتعالى mengawasi semua tindakan mereka, memuji mereka atas tindakan tersebut.Setiap bentuk infak dan zakat itu dipuji. Makna asal dari kata "shalat" dalam bahasa bangsa Arab adalah doa. Seperti yang dikatakan oleh Al-A'sha, dalam bait: "Dia memiliki penjaga yang tidak pernah meninggalkan rumahnya.Bahkan jika disembelih, ia berdoa dan meratap" Dia juga berkata: "Angin menyapanya di tempat tinggalnya, dia berdoa dan memohon di dalamnya" Kedua bait tersebut dibaca oleh Ibnu Jarir sebagai bukti pendukung atas makna tersebut. Kemudian kata "shalat" yang digunakan dalam syariat adalah sesuatu yang mengandung rukuk, sujud, dan gerakan-gerakan khusus di waktu-waktu tertentu dengan syarat, sifat dan jenis yang sudah diketahui. Adapun mengenai zakat, pembahasannya akan disampaikan pada babnya jika Allah سبحانه وتعالى menghendaki.
Sumber: https://tafsirweb.com/221-surat-al-baqarah-ayat-3.html
Informasi
Surat
البقرة (Al-Baqarah)
Sapi — 286 ayat
Tempat Turun
Madaniyah
Ayat ke-
3 dari 286 ayat
Juz
Juz 1
Halaman
Halaman 2
Ruku
Ruku 2
Manzil
Manzil 1
Hizb
Hizb 1 (1/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-10 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-2