Kembali ke Surat Al-A'raf

الاعراف (Al-A'raf)

Surat ke-7, Ayat ke-151

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِاَخِيْ وَاَدْخِلْنَا فِيْ رَحْمَتِكَ ۖوَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ࣖ

Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang dari semua penyayang.”

📚 Tafsir Al-Muyassar

Musa berkata setelah menjadi jelas alasan saudaranya, dan tahu bahwa saudaranya tidak berbuat kesalahan dalam perkara yang menjadi tanggung jawabnya dari perintah Allah, ”wahai tuhanku, amunilah kemarahanku dan ampunilah bagi saudaraku apa yang telah terjadi antara dirinya dan Bani israil. Dan masukanlah kami kedalam rahmatMu yang amat luas. Sesungguhnya Engkau paling penyayang kepada kami daripada seluruh yang penyayang.”

Sumber: https://tafsirweb.com/2605-surat-al-araf-ayat-151.html

📚 Tafsir as-Sa'di

151 Musa menyesal atas perbuatannya yang teruru-buru terhadap saudaranya sebelum dia mengetahui bahwa saudaranya tidak seperti yang dia duga. Musa berkata, ”ya Rabbku ampunilah aku dan saudaraku” Harun. ”dan masukkanlah kami dalam RahmatMu” yakni di dalamnya jadikanlah RahmatMu meliputi kami dari segala segi karena ia adalah benteng yang kokoh dari segala keburukan dan disanalah seluruh kebaikan dan kebahagiaan. ”dan engkau adalah Maha penyayang diantara para penyayang.” yakni lebih menyayangi kami dari seluruh penyayang, lebih sayang kepada kami daripada bapak, ibu, anak dan diri kami sendiri.

Sumber: https://tafsirweb.com/2605-surat-al-araf-ayat-151.html

📚 Tafsir Al-Wajiz

151. Musa berkata: “Wahai tuhanku, ampunilah atas perbuatanku ini terhadap saudaraku, dan ampunilah saudaraku, Harun, jika dia lalai dan membatasi diri untuk mencegah perbuatan mereka, serta masukkanlah kami ke dalam surga dan rahmatMu yang luas. Engkaulah Dzat yang Maha Pengasih di dunia dan akhirat”

Sumber: https://tafsirweb.com/2605-surat-al-araf-ayat-151.html

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 150-151 Allah SWT memberitahukan bahwa ketika nabi Musa kembali kepada kaumnya setelah bermunajat kepada Allah SWT, dia kembali dalam keadaan marah dan kecewa. Abu Darda’ berkata, “al-asfu” adalah kemurkaan yang sangat dahsyat. (Musa berkata, "Alangkah buruknya perbuatan yang kalian kerjakan sesudah kepergianku") dia berkata,"Betapa buruknya apa yang kalian lakukan berupa menyembah patung anak sapi setelah aku pergi meninggalkan kalian" Firman Allah SWT: (Apakah kalian hendak mendahului janji Tuhan kalian?) dia berkata,"Kalian mempercepat kedatanganku kepada kalian sedangkan waktu kepergianku telah ditetapkan Allah SWT" Firman Allah SWT: (dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya) karena khawatir jika saudaranya lalai dalam melarang mereka, sebagaimana Allah berfirman di ayat lain: (Berkata Musa, "Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat (92) (sehingga) kamu tidak mengikuti aku?

Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” (93) Harun menjawab, "Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pulai) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah belah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku'" (94)) (Surah Thaha) Di sini Allah berfirman: (Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim) Yaitu janganlah kamu memasukkanku ke dalam golongan mereka, dan menjadikanku bersama mereka.

Sesungguhnya dia berkata,”anak ibuku” agar lebih lembut dan menyentuh nabi Musa, karena sesungguhnya dia adalah saudara kandungnya. Setelah nabi Musa sudah memastikan ketidakterlibatan nabi Harun dari perbuatan kaumnya, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya, "Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu, dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku" (90)) (Surah Thaha) jadi saat itu saat itu nabi Musa (berkata, Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Semoga Allah merahmati Musa, orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri tidaklah sama dengan orang yang diberi tahu.

Tuhannya memberi tahu kepadanya bahwa kaumnya teperdaya sesudah kepergiannya, dan ternyata ia tidak melemparkan luh-luh itu. Tetapi setelah ia melihat mereka dan menyaksikan perbuatan mereka, maka barulah ia melemparkan luh-luh itu”

Sumber: https://tafsirweb.com/2605-surat-al-araf-ayat-151.html

Informasi Tambahan

Juz

9

Halaman

169

Ruku

139

Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk

Surah An-Nahl: 98

Adab Membaca Al-Quran

1. Suci dari Hadats

Pastikan dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil sebelum memegang dan membaca Al-Quran. Berwudhu terlebih dahulu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada kitab suci Al-Quran.

2. Niat yang Ikhlas

Membaca Al-Quran dengan niat mencari ridha Allah SWT, bukan untuk pamer atau mencari pujian. Niat yang ikhlas akan membawa keberkahan dalam membaca Al-Quran.

3. Menghadap Kiblat

Diutamakan menghadap kiblat saat membaca Al-Quran sebagai bentuk penghormatan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Posisi duduk yang sopan dan tenang juga dianjurkan.

4. Membaca Ta'awudz

Memulai dengan membaca ta'awudz dan basmalah sebelum membaca Al-Quran. Ta'awudz merupakan permintaan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

5. Khusyuk dan Tenang

Membaca dengan tenang dan penuh penghayatan, memahami makna ayat yang dibaca. Tidak tergesa-gesa dan memperhatikan tajwid dengan baik.

6. Menjaga Kebersihan

Membaca Al-Quran di tempat yang bersih dan suci, serta menjaga kebersihan diri dan pakaian. Hindari membaca Al-Quran di tempat yang tidak pantas.

7. Memperindah Suara

Membaca Al-Quran dengan suara yang indah dan tartil, sesuai dengan kemampuan. Tidak perlu memaksakan diri, yang terpenting adalah membaca dengan benar sesuai tajwid.

Masukan & Feedback:info@finlup.id
© 2026 quran.finlup.id - All rights reserved