البقرة (Al-Baqarah)
Surat ke-2, Ayat ke-124
۞ وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”
📚 Tafsir Al-Muyassar
Ingatlah -wahai nabi- ketika Allah menguji Ibrahim dengan apa yang disyariatkan nya kepadanya berupa amalan-amalan taklifiyah, dan dia pun menjalankan dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman kepadanya: “Aku jadikan kau sebagai teladan baik bagi umat manusia”.
Ibrahim Alaihissalam berkata. “Wahai Tuhanku jadikanlah juga dari keturunanku imam-imam sebagai limpahan karunia dari Mu”. Maka Allah menjawab bahwa sesungguhnya kepemimpinan dalam agama tidak akan dipegang oleh orang-orang yang zalim.
Sumber: https://tafsirweb.com/558-surat-al-baqarah-ayat-124.html
📚 Tafsir as-Sa'di
124. Allah ta’ala mengabarkan tentang seorang hamba dan kekasihNya, Nabi Ibrahim alaihissalam -yang telah disepakati kepemimpinan dan kemuliaannya di mana setiap kelompok dari ahli kitab mengakuinya dan bahkan juga orang-orang musyrik- bahwasanya Allah ta’ala menguji dan mencobanya dengan beberapa kalimat yaitu dengan perintah-perintah dan larangan-larangan sebagaimana telah menjadi kebiasaan Allah dalam menguji hamba-hambaNya, agar pembohong yang tidak tegar dalam ujian dan cobaan jelas berbeda dengan orang yang jujur, yang derajatnya akan meningkat dan martabatnya terangkat, amalnya bertambah dan ikhlas, dan orang yang paling mulia dalam perkara ini adalah al-Khalil Ibrahim, dimana beliau menyempurnakan dan memenuhi pelaksanaan ujian Allah bagi beliau, lalu Allah berterima kasih terhadap beliau karena hal tersebut, dan Allah masih saja terus berterima kasih seraya berfirman, “Sesungguhynya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Maksudnya , mereka akan mengikutimu dalam pertunjuk, dan mereka berjalan dibelakangmu menuju kepada kebahagiaan mereka yang abadi, hingga kamu memperoleh pujian yang abadi, balasan yang sempurna dan penghormatan dari setiap orang. Hal ini –demi Allah- merupakan derajat paling mulia yang diburu oleh orang-orang yang saling berlomba, dan setinggi-tingginya kedudukan yang mana lengan baju orang yang bekerja keras disingsingkan, sesempurna-sempurnanya keadaan yang diperoleh oleh Ulul ‘Azmi dari para Rosul, dan pengikut-pengikut mereka dari kalangan shiddiq mengikuti mereka yang mengajak kepada Allah dan kepada jalanNya.
Dan ketika Ibrahim bergembira dengan kedudukan seperti itu, dan memperolehnya, lalu beliau memohon hal itu juga diberikan kepada keturunannya agar derajatnya dan derajat keturunannya tinggi , hal ini merupakan kepemimpinan beliau dan nasihat beliau kepada hamba-hamba Allah serta kebahagiaannya agar banyak di antara mereka orang-orang yang menjadi penyeru kepada petunjuk, maka hanya bagi Allahlah keagungan cita-cita yang tinggi dan kedudukan-kedudukan yang mulia ini. Kemudian Allah yang Maha penyayang lagi Mahalembut mengabulkannya dan Dia mengabarkan tentang penghalang dari memperoleh kedudukan seperti ini dalam FirmanNya, “JanjiKu ini tidak mengenai orang-orang yang zhalim,” maksudnya tidak akan memperoleh kepemimpinan dalam agama bagi orang yang menzhalimi diri sendiri dan memudaratkannya serta merendahkan kedudukannya , karena tidak ada kezhaliman dalam kedudukan ini. Dan sesungguhnya perangkat untuk menggapai kedudukan seperti ini adalah kesabaran dan keyakinan.
Hasilnya adalah agar pelakunya berada dalam kondisi keimanan yang kuat dan amalan shalih, akhlak-akhlak yang luhur, karakter yang lurus, kecintaan yang sempurna, rasa takut (kepada siksa Allah), dan penyerahan diri. Maka sungguh jauh hal ini dengan kezhaliman? Pemahaman terbalik dari ayat ini menunjukkan bahwasanya selain orang yang zhalim akan memperoleh kepemimpinan, akan tetapi dengan berusaha melakukan segala factor-faktor penyebabnya.
Sumber: https://tafsirweb.com/558-surat-al-baqarah-ayat-124.html
📚 Tafsir Al-Wajiz
. Wahai Muhammad, ingatlah ketika Allah menguji Nabi Ibrahim dengan berbagai perintah, dia melalui/mengerjakannya dengan sepenuh hati dan tanggung jawab. Allah berkata: “Aku benar-benar menjadikanmu pemimpin atau contoh yang baik perihal agama dan amal kebaikan.
Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Allah, jadikanlah anak keturunanku sebagai pemimpin bagi umat mereka. Maka Allah mengkabarkan kepada nabi Ibrahim bahwa anak-cucunya akan menjadi pemimpin dan bahkan menjadi nabi. Allah juga mengkabarkan bahwa anak-cucu nabi Ibrahim tidak akan ada yang terjerumus dalam kedhaliman dan kemaksiatan.
Karena ahli maksiat dan orang dholim tidak pantas menjadi contoh bagi manusia. Pemimpin haruslah orang yang mampu berbuat adil dan menjalankan perintah agama, apabila tidak seperti itu maka mereka termasuk orang yang zalim
Sumber: https://tafsirweb.com/558-surat-al-baqarah-ayat-124.html
📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Allah SWT berfirman sembari memberi perhatian atas kemuliaan nabi Ibrahim AS, Khalilullah. Sesungguhnya Allah SWT menjadikannya sebagai seorang imam bagi manusia yang mengikutinya untuk bertauhid, ketika dia melaksanakan syariat Allah SWT berupa perintah dan larangan. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: (Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan)) maknanya yaitu, sebutkanlah (wahai Muhammad) kepada kaum musyrik dan Ahli Kitab yang berlagak mengikuti agama nabi Ibrahim AS padahal sebenarnya mereka tidak mengikuti agama tersebut.
Adapun orang yang mengikuti jalannya yang lurus adalah kamu dan orang-orang mukmin bersamamu, serta beritahukan kepada mereka tentang ujian yang Allah berikan kepada nabi Ibrahim AS, yaitu ujian untuk melaksanakan perintah dan laranganNya, sehingga (lalu Ibrahim menunaikannya) yaitu melaksanakan semuanya, sebagaimana Allah SWT berfirman (dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (37)) (Surah An-Najm) yaitu menyempurnakan semua yang disyariatkan untuknya, dan dia telah melaksanakannya.
Allah SWT berfirman (Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (120) (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus (121) Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh (122) Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (123)) Firman Allah SWT (dengan kalimat) yaitu dengan syariat, perintah, dan larangan, maka kalimat itu disampaikan, dan yang dimaksud adalah kalimat qadariyah sebagaimana firman Allah SWT tentang Maryam (dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat) (Surah At-Tahrim: 12) hal itu merujuk pada hukum-hukum syariat, sebagaimana firman Allah SWT: (Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil.
Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya) (Surah Al-An'am: 115), yaitu hukum-hukum syariat. “Kalimat” bisa menjadi keterangan tentang kebenaran, atau permintaan untuk keadilan jika itu adalah perintah atau larangan, seperti dalam ayat yang mulia ini: (Dan (ingatlah), ketika nabi Ibrahim AS diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya) yaitu dia melaksanakan semuanya (Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia") maknanya, yaitu sebagai balasan atas apa yang telah dilakukannya, yaitu melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan.
Allah menjadikannya sebagai tauladan dan imam bagi manusia, yang diikuti dan dicontoh. Firman Allah SWT, (Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim") ketika Allah menjadikan Ibrahim sebagai seorang imam, dia memohon kepada Allah agar para imam setelahnya adalah keturunan-keturunannya, lalu Allah mengabulkan permohonannya dan memberitahukan bahwa di antara keturunannya akan ada orang-orang zalim, dan janjiNya tidak akan berlaku bagi mereka.
Oleh karena itu, mereka tidak akan menjadi imam-imam yang diikuti. Dalil bahwa permohonan nabi Ibrahim AS dikabulkan terdapat dalam firmanNya dalam surah Al-Ankabut: (dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya) (27) Setiap nabi yang diutus Allah dan setiap kitab yang diturunkan Allah setelah nabi Ibrahim, semoga shalawat dan salam dari Allah tercurahkan kepada mereka semuanya. Adapun terkait firman Allah SWT (Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim") Ada perbedaan pendapat mengenai hal ini.
Ibnu Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid bahwa makna dari (Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim") adalah, Aku tidak memiliki imam yang zalim.
Dalam suatu riwayat, “Aku tidak akan menjadikan imam seseorang yang zalim yang akan diikuti oleh orang lain." Said bin Jubair berkata bahwa makna (Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim") adalah orang musyrik, tidak akan menjadi imam yang zalim.
Artinya, tidak akan ada imam yang zalim yang diikuti oleh orang lain. As-Suddi berkata, makna dari (Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim). yaitu Janjiku adalah nubuwwahKu. Ibnu Jarir memilih bahwa ayat ini (meskipun sudah jelas bahwa itu memiliki makna memberi berita) yaitu bahwa janji Allah tidak akan dicapai dengan kepemimpinan orang zalim.
Dalam ayat ini terdapat pemberitahuan dari Allah kepada nabi Ibrahim bahwa akan ada di antara keturunanmu yang zalim kepada dirinya sendiri, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya oleh Mujahid dan yang lainnya, dan hanya Allah lebih mengetahui. Ibnu Khuwaizi Mandad Al-Maliki berkata: orang zalim tidak layak menjadi khalifah, hakim, pemberi fatwa, imam shalat, saksi, atau perawi
Sumber: https://tafsirweb.com/558-surat-al-baqarah-ayat-124.html
Informasi Tambahan
Juz
1
Halaman
19
Ruku
16