Kembali ke Surat At-Taubah

التوبة (At-Taubah)

Surat ke-9, Ayat ke-84

وَلَا تُصَلِّ عَلٰٓى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمْ عَلٰى قَبْرِهٖۗ اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَمَاتُوْا وَهُمْ فٰسِقُوْنَ

Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

📚 Tafsir Al-Muyassar

Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (wahai rasul) salah seorang yang telah mati dari kalangan orang-orang munafik untuk selamanya, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya untuk mendoakan kebaikan baginya. Sebab, sesungguhnya mereka itu telah kafir kepada Allah dan kepada rasulNya, dan mereka mati dalam keadaan fasik. Inilah hukum secara umum pada orang yang sudah diketahui kemunafikannya.

Sumber: https://tafsirweb.com/3100-surat-at-taubah-ayat-84.html

📚 Tafsir as-Sa'di

84. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka,” orang-orang munafik. “Dan janganlah kamu berdiri (mendo'akan) di kuburnya,” setelah dikubur untuk mendo'akannya, karena do'a dan berdiri di atas kubur mereka adalah syafaat darinya kepada mereka, sementara tak berguna lagi syafaat bagi mereka.

Begitulah, siapa pun yang diketahui bahwa dia adalah kafir dan munafik, maka dia tidak dishalatkan (ketika mati). Di dalam ayat ini terdapat dalil disyariatkannya shalat jenazah atas orang-orang yang beriman dan berdiri di atas kubur mereka untuk mendoakan mereka, sebagaimana Nabi melakukan hal itu kepada orang-orang yang beriman, karena pembatasan larangan pada orang-orang munafik menunjukkan bahwa hal itu dibolehkan untuk orang-orang yang beriman.

Sumber: https://tafsirweb.com/3100-surat-at-taubah-ayat-84.html

📚 Tafsir Al-Wajiz

84. Dan jangan sampai kamu menyalati salah seorang munafik yang mati, wahai Nabi, yaitu shalat jenazah, dan janganlah kamu berhendi di kuburannya untuk mendoakannya. Sesungguhnya mereka itu kufur kepada Allah dan rasulNya.

Mereka keluar jalan keadilan dan jalan yang lurus. Dan mereka mati dalam keadaan tersebut. Ayat ini turun karena Nabi SAW menyalati pemimpin orang-orang munafik, yaitu Abdullah bin Ubay.

Lalu setelah itu beliau tidak menyalati orang-orang munafik.

Sumber: https://tafsirweb.com/3100-surat-at-taubah-ayat-84.html

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW agar berlepas diri dari orang-orang munafik, tidak menyalatkan seorang pun dari mereka yang mati, dan tidak berdiri di kuburnya untuk memohonkan ampun baginya atau berdoa untuknya; karena sesungguhnya mereka mengingkari Allah dan Rasulullah, dan mereka mati dalam kekafirannya. Hal ini merupakan hukum yang mencakup setiap orang yang telah dikenal kemunafikannya, sekalipun penyebab turunnya ayat ini tentang Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin orang-orang munafik. Sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata,”Ketika Abdulah bin Ubay mati, anaknya Abdullah datang menghadap Rasulullah SAW dan meminta baju beliau untuk digunakan sebagai kafan ayahnya.

Lalu Rasulullah SAW memberinya baju beliau. Kemudian dia meminta Rasulullah SAW untuk menyalatkan ayahnya. lalu Rasulullah SAW berdiri untuk menyalatkannya. Lalu Umar berdiri dan menarik baju beliau dan berkata,"Wahai Rasulullah, engkau akan menyalatkan jenazahnya, dan sungguh Tuhanmu telah melarangmu menya­latkannya?" lalu Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya Allah hanya memberiku pilihan.

Dia telah berfirman (Kamu mohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka”, maka Allah tidak akan mengampuni mereka) (Surah At-Taubah: 80) Dan aku akan menambahkannya lebih dari tujuh puluh kali.

Umar berkata,"Dia adalah orang munafik" lalu Rasulullah SAW menyalatkannya. Maka Allah SWT menurunkan ayat ini (Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang pun yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya)

Sumber: https://tafsirweb.com/3100-surat-at-taubah-ayat-84.html

Informasi Tambahan

Juz

10

Halaman

200

Ruku

166

Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk

Surah An-Nahl: 98

Adab Membaca Al-Quran

1. Suci dari Hadats

Pastikan dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil sebelum memegang dan membaca Al-Quran. Berwudhu terlebih dahulu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada kitab suci Al-Quran.

2. Niat yang Ikhlas

Membaca Al-Quran dengan niat mencari ridha Allah SWT, bukan untuk pamer atau mencari pujian. Niat yang ikhlas akan membawa keberkahan dalam membaca Al-Quran.

3. Menghadap Kiblat

Diutamakan menghadap kiblat saat membaca Al-Quran sebagai bentuk penghormatan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Posisi duduk yang sopan dan tenang juga dianjurkan.

4. Membaca Ta'awudz

Memulai dengan membaca ta'awudz dan basmalah sebelum membaca Al-Quran. Ta'awudz merupakan permintaan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

5. Khusyuk dan Tenang

Membaca dengan tenang dan penuh penghayatan, memahami makna ayat yang dibaca. Tidak tergesa-gesa dan memperhatikan tajwid dengan baik.

6. Menjaga Kebersihan

Membaca Al-Quran di tempat yang bersih dan suci, serta menjaga kebersihan diri dan pakaian. Hindari membaca Al-Quran di tempat yang tidak pantas.

7. Memperindah Suara

Membaca Al-Quran dengan suara yang indah dan tartil, sesuai dengan kemampuan. Tidak perlu memaksakan diri, yang terpenting adalah membaca dengan benar sesuai tajwid.

Masukan & Feedback:info@finlup.id
© 2026 quran.finlup.id - All rights reserved