Kembali ke Surat Al-Baqarah

البقرة (Al-Baqarah)

Surat ke-2, Ayat ke-10

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta.

📚 Tafsir Al-Muyassar

Di dalam hati mereka terdapat keraguan dan kerusakan akibatnya mereka diuji Allah dengan berbuat berbagai macam maksiat yang mewajibkan adanya siksaan bagi mereka, sehingga Allah pun menambah keraguan pada hati mereka dan bagi mereka siksaan yang menyedihkan akibat kedustaan dan kemunafikan mereka.

Sumber: https://tafsirweb.com/224-surat-al-baqarah-ayat-10.html

📚 Tafsir as-Sa'di

10. firmanNya, “dalam hati mereka ada penyakit”. Yang dimaksud dengan penyakit disini adalah penyakit keraguan, syubhat, dan kemunafikan. Hal itu dikarenakan hati itu dihadapkan oleh dua penyakit yang menyebabkannya jauh dari kesehatannya dan kenormalannya, yaitu penyakit syubhat yang batil dan penyakit syahwat yang menjerumuskan.

Kekufuran, kemunafikan, keragu-raguan, dan semua bid’ah-bid’ah itu adalah penyakit-penyakit syubhat, sedangkan perzinaan, suka akan kekejian dan menyukai kemaksiatan serta melakukannya, adalah di antara penyakit-penyakit syahwat. Sebagaimana firman Allah ta'ala : " sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya" (QS. Al-Ahzab : 32) Yakni syahwat zina. Dan orang yang selamat adalah orang yang diselamatkan dari kedua penyakit tersebut, hingga terwujudlah baginya keyakinan, keimanan, dan kesabaran dari setiap kemaksiatan lalu dia berjalan dalam pakaian-pakaian keselamatan.

Dan firmanNYa tentang kaum munafikin, “dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakitnya, ” adalah sebuah penjelasan tentang hikmah Allah ta’ala terhadap penentuan kemaksiatan atas pelaku-pelakunya dan bahwasanya hal itu disebabkan dosa-dosa mereka yang terdahulu. Allah menguji mereka dengan kemaksiatan yang terjadi kemudian yang mengakibatkan hukuman. Sebagaimana firman Allah ta'ala : "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat" (QS. Al-'An'am : 110) "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka" (QS. As-Shof :5) "Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir." (QS. At-Taubah : 125) Maka hukuman bagi kemaksiatan adalah kemaksiatan setelahnya, sebagaimana balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya.

Allah berfirman : "Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk" (QS. Maryam : 76)

Sumber: https://tafsirweb.com/224-surat-al-baqarah-ayat-10.html

📚 Tafsir Al-Wajiz

Di dalam hati mereka terdapat kerusakan akidah baik keragu-raguan dan kemunafikan ataupun kekufuran dan kedustaan. Kemudian Allah menambahkan penyakit lain pada (diri) mereka, yaitu dengki dan kebencian terhadap tingginya (derajat) kalam Allah, tetapnya kaidah Islam dan pertolongan (Allah) kepada orang-orang mukmin. Dan bagi mereka azab yang menyakitkan akibat kebohongan dan keangkuhan mereka dengan berpura-pura beriman

Sumber: https://tafsirweb.com/224-surat-al-baqarah-ayat-10.html

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ibnu Abbas mejelaskan bahwa (dalam hati mereka ada penyakit) yaitu keragu-raguan Begitu juga pendapat Mujahid, 'Ikrimah, Hasan Al-Bashri, Abu Al-'Aliyah, dan Qatadah. Dari 'Ikrimah dan Thawus, berkata bahwa maksud (di dalam hati mereka ada penyakit) yaitu, Riya' Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa makna (Dalam hati mereka ada penyakit) yaitu penyakit dalam keyakinan beragama. Penyakit ini bukanlah penyakit fisik.

Mereka adalah orang-orang munafik. Penyakit yang dimaksud adalah keraguan tentang islam yang sudah masuk ke dalam diri mereka. (Allah menambahkan penyakit kepada mereka) maknanya yaitu menambahkan hal kotor pada diri mereka. Lalu Abdurrahman membaca (Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira (124) Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit) (tambahan) keburukan atas keburukan mereka dan kesesatan atas kesesatan mereka.

Yang dikatakan oleh Abdurrahman ini adalah pendapat yang hasan. itu adalah balasan sebanding dengan perbuatan mereka. Begitu juga yang dikatakan para ulama terdahulu yang melihat pada firman Allah SWT, (Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya (17)) (Surah Muhammad).

Firman Allah SWT (sebab apa yang mereka dulu dustakan) itu juga dibaca "yukadzibun". Sungguh mereka itu digambarkan dengan ayat ini dan yang sebelumnya, karena mereka adalah pendusta dan mendustakan kebenaran. Gambaran pada ayat ini dan sebelumnya dijadikan satu

Sumber: https://tafsirweb.com/224-surat-al-baqarah-ayat-10.html

Informasi Tambahan

Juz

1

Halaman

3

Ruku

3

Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk

Surah An-Nahl: 98

Adab Membaca Al-Quran

1. Suci dari Hadats

Pastikan dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil sebelum memegang dan membaca Al-Quran. Berwudhu terlebih dahulu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada kitab suci Al-Quran.

2. Niat yang Ikhlas

Membaca Al-Quran dengan niat mencari ridha Allah SWT, bukan untuk pamer atau mencari pujian. Niat yang ikhlas akan membawa keberkahan dalam membaca Al-Quran.

3. Menghadap Kiblat

Diutamakan menghadap kiblat saat membaca Al-Quran sebagai bentuk penghormatan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Posisi duduk yang sopan dan tenang juga dianjurkan.

4. Membaca Ta'awudz

Memulai dengan membaca ta'awudz dan basmalah sebelum membaca Al-Quran. Ta'awudz merupakan permintaan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

5. Khusyuk dan Tenang

Membaca dengan tenang dan penuh penghayatan, memahami makna ayat yang dibaca. Tidak tergesa-gesa dan memperhatikan tajwid dengan baik.

6. Menjaga Kebersihan

Membaca Al-Quran di tempat yang bersih dan suci, serta menjaga kebersihan diri dan pakaian. Hindari membaca Al-Quran di tempat yang tidak pantas.

7. Memperindah Suara

Membaca Al-Quran dengan suara yang indah dan tartil, sesuai dengan kemampuan. Tidak perlu memaksakan diri, yang terpenting adalah membaca dengan benar sesuai tajwid.

Masukan & Feedback:info@finlup.id
© 2026 quran.finlup.id - All rights reserved