Kembali ke Surat Al-Baqarah

البقرة (Al-Baqarah)

Surat ke-2, Ayat ke-170

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.

📚 Tafsir Al-Muyassar

Dan apabila kaum mukminin berkata menasehati orang-orang yang sesat, “Ikutilah oleh kalian apa yang diturunkan oleh Allah berupa Alquran dan hidayah”. Mereka justru terus-menerus mengikuti para pendahulu mereka yang menyekutukan Allah Seraya berkata, "Kami tidak ingin mengikuti ajaran agama kalian, sebaliknya kami hanya mau mengikuti apa saja yang kami dapati Bapak Bapak kami melakukannya”. Apakah mereka akan mengikuti bapak-bapak mereka Meskipun mereka itu tidak memahami sedikitpun dari Wahyu Allah dan tidak memperoleh petunjuk yang lurus?.

Sumber: https://tafsirweb.com/654-surat-al-baqarah-ayat-170.html

📚 Tafsir as-Sa'di

170. “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” Mereka merasa cukup hanya mengikuti nenek moyang mereka, dan mereka tidak membutuhkan untuk beriman kepada para nabi, padahal nenek moyang mereka itu adalah orang-orang yang paling bodoh dan paling sesat. Syubhat ini sangatlah lemah untuk menolak kebenaran. Ini semua adalah tanda tentang berpalingnya mereka dari kebenaran dan kebencian mereka terhadapnya, serta tidak adanya sikap adil pada mereka, sekiranya mereka diberikan hidayah dan kehendak yang tulus, pasti kebenaran itulah yang menjadi target, karena barangsiapa yang menjadikan kebenaran itu sebagai targetnya lalu menimbang-nimbang kebenaran itu dengan yang lainnya, maka jelaslah baginya kebenaran itu secara pasti, lalu ia akan mengikutinya bila ia bersikap adil.

Sumber: https://tafsirweb.com/654-surat-al-baqarah-ayat-170.html

📚 Tafsir Al-Wajiz

170. Dan ketika dikatakan kepada orang-orang kafir: “Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah atas rasulNya berupa Al-Qur’an, hikmah, dan keimanan kepada Allah, dan rasulullah,” maka mereka akan berkata: “Kami tidak akan mengikuti agama kalian. Kami mengikuti ibadah bapak-bapak kami” Lalu Allah membalas mereka: “Apakah tetap begitu meskipun bapak-bapak yang mereka tiru itu tidak mengetahui apapun tentang hakikat dan rahasia agama, dan tidak mendapatkan petunjuk menuju sesuatu yang mengandung kebenaran, hidayah, kebaikan, dan kebahagiaan”

Sumber: https://tafsirweb.com/654-surat-al-baqarah-ayat-170.html

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 170-171 Allah berfirman, (Dan apabila dikatakan kepada mereka) yaitu orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik: (kutilah apa yang telah diturunkan Allah) kepada RasulNya, dan tinggalkanlah apa yang telah menjadi kebiasaan kalian berupa kesesatan dan kebodohan.

Mereka menjawab dalam pembelaan mereka, ("(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati) yaitu kami dapati (dari (perbuatan) nenek moyang kami") yaitu menyembah berhala dan para sekutu Tuhan. Allah SWT berfirman untuk mengingkari jawaban mereka, (walaupun nenek moyang mereka itu) yaitu orang-orang yang mereka ikuti jejaknya walaupun mereka (tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?") yaitu tidak memiliki pemahaman dan petunjuk. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun terkait sekelompok Yahudi yang diajak Rasulullah SAW masuk Islam, lalu mereka menjawab, ("(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami") Lalu Allah menurunkan ayat ini.

Kemudian Allah memberikan perumpamaan untuk mereka, sebagaimana Allah SWT berfirman, (Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk) (Surah An-Nahl: 60).

Lalu Allah berfirman, (Dan perumpamaan orang-orang kafir) yaitu karena kesesatan dan kebodohan mereka itu seperti binatang yang keluar berjalan dan tidak paham terhadap sesuatu yang dikatakan kepadanya. bahkan jika gembala memanggilnya (yaitu untuk mengarahkanya) ia tidak akan memahami panggilan itu; ia hanya mendengar suara saja.

Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Abu Al-‘Aliyah, Mujahid, ‘Ikrimah, ‘Atha’, Al-Hasan, Qatadah, ‘Atha Al-Khurasani, dan Ar-Rabi' bin Anas. Dikatakan bahwa perumpamaan yang dibuat ini seperti doa mereka untuk berhala-berhala yang bisa mendengar, tidak bisa melihat, dan tidak memiliki akal untuk berpikir tentang apapun. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir dan merupakan pendapat pertama yang lebih baik, karena berhala-berhala tersebut memang tidak bisa mendengar, melihat, atau memahami, serta tidak memiliki kehidupan.

Allah SWT berfirman, (Mereka tuli, bisu dan buta) yaitu mereka tuli dari mendengar kebenaran, bisu karena tidak bisa memahaminya; dan juga buta dari jalan yang benar (maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti) yaitu mereka tidak bisa memikirkan dan memahami apapun sebagaimana Allah SWT berfirman (Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus (39)) (Surah Al-An’am)

Sumber: https://tafsirweb.com/654-surat-al-baqarah-ayat-170.html

Informasi Tambahan

Juz

2

Halaman

26

Ruku

22

Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk

Surah An-Nahl: 98

Adab Membaca Al-Quran

1. Suci dari Hadats

Pastikan dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil sebelum memegang dan membaca Al-Quran. Berwudhu terlebih dahulu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada kitab suci Al-Quran.

2. Niat yang Ikhlas

Membaca Al-Quran dengan niat mencari ridha Allah SWT, bukan untuk pamer atau mencari pujian. Niat yang ikhlas akan membawa keberkahan dalam membaca Al-Quran.

3. Menghadap Kiblat

Diutamakan menghadap kiblat saat membaca Al-Quran sebagai bentuk penghormatan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Posisi duduk yang sopan dan tenang juga dianjurkan.

4. Membaca Ta'awudz

Memulai dengan membaca ta'awudz dan basmalah sebelum membaca Al-Quran. Ta'awudz merupakan permintaan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

5. Khusyuk dan Tenang

Membaca dengan tenang dan penuh penghayatan, memahami makna ayat yang dibaca. Tidak tergesa-gesa dan memperhatikan tajwid dengan baik.

6. Menjaga Kebersihan

Membaca Al-Quran di tempat yang bersih dan suci, serta menjaga kebersihan diri dan pakaian. Hindari membaca Al-Quran di tempat yang tidak pantas.

7. Memperindah Suara

Membaca Al-Quran dengan suara yang indah dan tartil, sesuai dengan kemampuan. Tidak perlu memaksakan diri, yang terpenting adalah membaca dengan benar sesuai tajwid.

Masukan & Feedback:info@finlup.id
© 2026 quran.finlup.id - All rights reserved