البقرة (Al-Baqarah)
Surat ke-2, Ayat ke-182
فَمَنْ خَافَ مِنْ مُّوْصٍ جَنَفًا اَوْ اِثْمًا فَاَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ
Tetapi barangsiapa khawatir bahwa pemberi wasiat (berlaku) berat sebelah atau berbuat salah, lalu dia mendamaikan antara mereka, maka dia tidak berdosa. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
📚 Tafsir Al-Muyassar
Maka siapa pun yang mengetahui terjadi pelencengan dari kebenaran dari seorang yang berwasiat dalam wasiatnya lantaran salah ucap atau sengaja, lalu dia menasihati si pemberi wasiat saat memberikan wasiatnya dengan sesuatu yang lebih adil, maka jika hal itu tidak berhasil, lalu dia meluruskan antara dua belah pihak dengan mengubah Isi wasiat supaya sejalan dengan perintah Syariah, maka tidak ada dosa yang menjadi tanggungannya dalam perkara ini. Sesungguhnya Allah maha pengampun bagi hamba-hamba Nya lagi maha penyayang terhadap mereka.
Sumber: https://tafsirweb.com/685-surat-al-baqarah-ayat-182.html
📚 Tafsir as-Sa'di
181-182. “Maka Barang siapa yang merubah wasiat itu,” yakni wasiat bagi orang-orang yang disebutkan atau selain mereka, “setelah ia mendengarnya,” maksud nya setelah dia memahaminya, mengetahui jalannya, dan pelaksanaannya, “maka dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya.” Kalau tidak demikian, maka sesungguhnya orang yang berwasiat itu telah tetap pahalanya di sisi Allah, sedangkan dosanya adalah atas orang yang merubah wasiat tersebut. “sesungguhnya Allah maha mendengar.” Dia mendengar seluruh suara dan diantaranya adalah bahwa Dia mendengar tentang isi wasiat dari seorang yang berwasiat, maka sepatutnya ia menyadari bahwa dzat yang maha mendengar lagi maha melihat selalu mengawasinya, dan ia tidak boleh berlaku zalim dalam wasiat itu, “lagi maha mengetahui” tentang niatnya dan mengetahui tentang perbuatan orang yang diberikan wasiat tersebut. Apabila seorang yang berwasiat telah berusaha dan Allah mengetahui niatnya, maka Allah akan membalasnya (dengan pahala) walaupun ia salah. Dalam ayat ini terkandung peringatan bagi orang yang diberikan (dititipkan) wasiat untuk tidak merubahnya, karena Allah maha mengetahui hal itu dan mengawasi segala apa yang ia kerjakan, maka waspadalah dari pengawasan Allah.
Ini adalah hukum wasiat yang adil. Sedangkan wasiat yang mengandung kesewenang-wenangan, ketidakadilan, dan dosa, maka seyogyanya orang yang menyaksikan orang yang berwasiat saat melakukan wasiat untuk memberikan nasihat kepadanya dengan apa yang terbaik dan paling adil, dan agar ia mencegahnya dari kezhaliman dan ketidakadilan tersebut yaitu condong karena suatu kesalahan yang tidak disengaja. Sedangkan dosa itu adalah bila disengaja dalam melakukannya.
Namun bila orang yang menyaksikan itu tidak melakukan hal di atas, maka sebaiknya ia mendamaikan antara orang-orang yang diwasiatkan kepada mereka dan berusaha menciptakan keadilan diantara mereka dalam bentuk kesepakatan bersama dan perdamaian, dan menasihati mereka agar menunaikan segala kewajiban-kewajiban yang ditanggung orang yang meninggal dari mereka tersebut, maka orang ini telah melakukan kebaikan yang agung dan tidak ada dosa baginya sebagaimana yang harus ditanggung oleh orang yang merubah wasiat yang dholim tersebut, Oleh karena itu, Allah berfirman “Sesungguhnya Allah maha pengampun,” maksudnya, Dia mengampuni seluruh ketergelinciran, memaafkan kesalahan bagi orang yang bertaubat kepadaNya, dan diantaranya adalah ampunanNya terhadap orang yang menahan nafsunya selalu menggugurkan sebagian hak-haknya demi saudaranya, karena barangsiapa yang memaafkan niscaya Allah akan memaafkannya.
Dan Allah akan mengampuni dosa mayat yang berbuat dholim pada wasiatnya tersebut jika keluarga mayit mau saling memaafkan, demi menggugurkan kewajiban si mayit, “lagi maha penyayang” kepada hamba-hambaNya yaitu dengan mensyariatkan kepada mereka segala perkara yang dengannya mereka saling berkasih sayang dan berkasih mesra. Ayat ayat ini menunjukkan tentang anjuran untuk berwasiat, dan menjelaskan untuk siapa wasiat itu diperuntukkan, dan juga tentang ancaman terhadap orang yang merubah wasiat yang adil, serta anjuran untuk mendamaikan pada wasiat yang dholim,
Sumber: https://tafsirweb.com/685-surat-al-baqarah-ayat-182.html
📚 Tafsir Al-Wajiz
182. Namun barangsiapa mengetahui bahwa pemberi wasiat itu berpaling dari kebenaran karena keliru atau karena sengaja, lalu dia (saksi) mendamaikan antara penerima wasiat dan pemberi wasiat ketika terjadi perselisihan dan pertentangan karena wasiat itu dengan meniadakan sesuatu yang membahayakan dan menyalahi syariat serta menetapkan kebenaran, maka tiada dosa baginya atas perbuatan adil ini. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi maha Penyayang bagi orang-orang yang mendamaikan
Sumber: https://tafsirweb.com/685-surat-al-baqarah-ayat-182.html
📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 180-182 Ayat ini memuat perintah kepada orang tua dan kerabat dekat untuk berwasiat. Hal ini dianggap sebagai kewajiban menurut dua pendapat yang paling benar sebelum turunnya ayat tentang waris. Ketika turunnya ayat tentang keajiban pembagian waris, hal ini di¬nasakh.
Pembagian waris menjadi kewajiban dari Allah dimana ahli waris harus menerima bagian mereka dengan pasti, tanpa ada wasiat atau pemberian tambahan dari pemberi wasiat. Oleh karena itu, terdapat hadits dalam kitab “As-Sunan” dan kitab lain yang diriwayatkan dari Amr bin Kharijah, dia berkata: "Aku mendengar Rasulullah SAW sedang memberikan khutbah, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memberi hak bagi setiap orang yang berhak, meskipun tidak ada wasiat bagi ahli waris. Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin, dia berkata: Ibnu Abbas duduk lalu membaca Surah Al-Baqarah sampai ayat (apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak) Lalu Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini telah dinasakh.” Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya) dia berkata: “Tidak ada orang lain yang mendapatkan warisan bersama orang tua selain untuk kerabat.
Maka Allah menurunkan ayat tentang pembagian warisan. Dia menjelaskan pembagian warisan bagi orang tua dan menetapkan wasiat bagi kerabat dengan sepertiga harta orang yang meninggal Driwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya) Ayat ini telah dinasakh dengan ayat: (Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan (7)) [Surah An-Nisa] Kemudian Ibnu Abu Hatim berkata,” Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Abu Musa, Sa'id bin Al-Musayyib, Al-Hasan, Mujahid, ‘Atha', Sa'id bin Jubair, Muhammad bin Sirin, ‘Ikrimah, Zaid bin Aslam, Ar-Rabi' bin Anas, Qatadah, As-Suddi, Muqatil bin Hayyan, Thawus, Ibrahim An-Nakha'i, Syuraih, Adh-Dhahhak, dan Az-Zuhri mengatakan: “Ayat ini telah dinasakh dengan ayat tentang pembagian warisan Yang mengherankan yaitu pendapat dari Abu Abdullah Muhammad bin Umar Ar-Razi, dimana dia telah mengemukakan dalam tafsirnya Al-Kabir dari riwayat Abu Muslim bahwa ayat ini tidak dinasakh; melainkan dijelaskan dengan ayat tentang pembagian harta waris.
Maknanya bahwa Allah telah mewajibkan aturan warisan yang Dia perintahkan kepada kalian untuk memberi warisan kepada orang tua dan kerabat melalui firmanNya (Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu) [Surah An-Nisa: 11].
Dia berkata,”Ini adalah pendapat mayoritas mufasir dan ahli fiqih” Dia juga berkata bahwa di antara mereka ada yang mengatakan bahwa ayat ini telah dinasakh dalam hal tentang pemberian harta waris yang bagi orang yang menerima harta waris dan tetap tentang orang yang tidak mendapatkan harta waris. Itu adalah pandangan Ibnu Abbas, Al-Hasan, Masruq, Thawus, Adh-Dhahhak, Muslim bin Yasar, Al-Ala' bin Ziyad. Saya berkata, Pendapat itu juga disampaikan oleh Sa'id bin Jubair, Ar-Rabi' bin Anas, Qatadah, dan Muqatil bin Hayyan.
Tetapi menurut pendapat mereka konteks ini tidak disebut dengan nasakhdalam istilah kita yang ada di masa sekarang, karena ayat tentang pembagian harta waris hanya menghapuskan hukum bagi sebagian individu yang telah diwajibkan dalam ayat tentang wasiat secara umum. Hal ini karena kerabat, itu lebih umum daripada orang yang mendapat harta waris maupun yang tidak mendapat harta waris, sehingga hukum bagi yang mendapat harta waris diubah sesuai dengan yang telah diatur dalam ayat tersebut. Namun, sisanya masih sama sesuai dengan ayat yang pertama.
Hal ini menurut pendapat sebagian dari mereka bahwa wasiat di awal permulaan Islam adalah sesuatu yang diwakilkan sampai ayat tentang hal itu dinasakh. Adapun yang berpendapat bahwa hal itu adalah sesuatu yang wajib (sesuai konteks dari ayat yang nampak) kemudian ditentukan dengan cara dimansuk dengan ayat pembagian harta waris sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan mufasir dan ahli fiqih. Sesungguhnya kewajiban memberi wasiat kepada orang tua, kerabat dekat yang mendapat harta waris itu dimansukh secara keseluruhan. bahkan dijelaskan dengan hadits yang telah disebutkan sebelumnya,” Sesungguhnya Allah telah memberi hak bagi setiap orang yang berhak, meskipun tidak ada wasiat bagi ahli waris”.
Ayat tentang pembagian harta waris adalah ketentuan tersendiri dan merupakan kewajiban dari sisi Allah bagi orang yang wajib melakukannya dan beberapa kelompok tertentu. Hukum ayat ini dinasakh secara keseluruhan dengan ayat tersebut. Kerabat yang tidak mendapatkan harti waris itu masih dianjurkan untuk diberi wasiat sebagian dari sepertiga harta mengacu pada cakupan ayat tentang wasiat, dan sesuai yang ada pada hadits shahih Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, 'Tidaklah seseorang muslim yang memiliki hak yang bisa diwasiatkan, lalu ia tidur dua malam, melainkan ia telah menulis wasiatnya.” Ibnu Umar berkata, “Tidaklah ada satu malam pun terlewat sejak aku mendengar Rasulullah SAW mengatakan itu, kecuali aku memiliki wasiat” Firman Allah SWT (jika ia meninggalkan harta yang banyak) yaitu harta, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, ‘Atha', Sa'id bin Jubair, Abu Al-‘Aliyah, ‘Athiyyah, Al-Aufi, Adh-Dhahhak, As-Suddi, Ar-Rabi' bin Anas, Muqatil bin Hayyan, Qatadah, dan lainnya Kemudian di antara mereka ada yang berkata,”Wasiat itu telah ditentukan hukumnya, baik sedikit hartanya maupun banyak, seperti warisan” Di antara mereka ada yang berkata: “Seseorang berwasiat jika meninggalkan harta yang sangat banyak.” Kemudian mereka berbeda pendapat mengenai jumlahnya.
Hisyam bin 'Urwah meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata: “Ali ditanya: “Sesungguhnya seorang dari suku Quraisy telah meninggal dan meninggalkan tiga ratus atau empat ratus dinar tanpa wasiat?. Ali berkata: 'Tidak apa-apa. Sesungguhnya Allah berfirman: (jika ia meninggalkan harta yang banyak).
Hisyam bin 'Urwah juga meriwayatkan dari ayahnya bahwa Ali pernah menemui seorang dari kaumnya yang hendak memberi wasiat. Orang itu bertanya: “Haruskah aku membuat wasiat?” Ali menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman: (jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat) Jika kamu meninggalkan sedikit harta, maka tinggalkanlah itu untuk anakmu.” Qatadah mengatakan: “Dikatakan bahwa jumlahnya adalah seribu dinar dan lebih dari itu.” Firman Allah SWT: (secara ma'ruf), yaitu dengan lembut dan penuh kebaikan.
Sebagaimana Dia berfirman tentang kebaikan: (Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut). Dia berfirman: “Sungguh, wasiat adalah hak yang wajib dibuat bagi setiap muslim dengan cara yang baik dan tidak dengan cara yang munkar ketika ajal mendekatinya.” Yang dimaksud dengan cara yang baik adalah membuat wasiat kepada kerabatnya dengan wasiat yang tidak merugikan pewarisnya tanpa memberikan warisan yang berlebihan dan tidak pula terlalu sedikit. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim, bahwa Sa'ad berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan tidak ada yang mewarisiku kecuali hanya putriku. apakah saya boleh mewasiatkan dengan dua pertiga hartaku?
' Rasulullah SAWbersabda; “Jangan” saya bertanya; “Ataukah setengahnya? “ Beliau bersabda: “Jangan,” Lalu dia bertanya,”Sepertiga?” kemudian Rasulullah bersabda: “Sepertiga. Sepertiga itu sudah banyak. Kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka miskin lalu meminta-minta kepada orang lain.
Firman Allah: (Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya) Allah SWT berfirman bahwa barangsiapa yang mengubah atau mengganti wasiat, mengubah ketentuannya dan menambah atau menguranginya, maka tindakan ini termasuk perbuatan menyembunyikan sesuatu yang dengan cara yang telah disebutkan sebelumnya. (maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya) Ibnu Abbas dan beberapa ulama lainnya mengatakan bahwa pahala orang yang meninggal itu ada di sisi Allah, sedangkan dosanya melekat kepada mereka yang mengubah wasiat itu" (Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) berarti: Allah telah melihat apa yang diwasiatkan oleh orang yang meninggal, dan Dia Maha mengetahui hal itu serta apa yang diubah oleh penerima wasiat. FirmanNya: ((Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa) Ibnu Abbas, Abu Al-‘Aliyah, Mujahid, Adh-Dhahhak, Ar-Rabi' bin Anas, dan As-Suddi mengatakan bahwa “Al-Janaf“ adalah kesalahan. Hal ini mencakup semua jenis kesalahan, dengan mereka menambahkan pewaris melalui suatu cara, seperti ketika seseorang mewasiatkan penjualan suatu barang kepada seseorang secara berlebihan, atau mewasiatkan harta kepada cucunya dengan memberinya tambahan wasiat, atau hal lain yang yang serupa melalui banyak cara.
Kesalahan ini bisa terjadi baik secara tidak sengaja, karena sikap alami dan rasa sayang, atau bahkan dengan sengaja dan berdosa melakukan hal tersebut. Dalam kasus ini, pemberi wasiat harus memperbaiki ketentuan dalam wasiat dan berlaku adil dalam memberikan wasiat sesuai syariat. Mereka harus menyesuaikan apa yang diwasiatkan oleh orang yang meninggal dengan hal-hal yang lebih mendekati wasiat itu dan serupa dengannya secara keseluruhan, berdasarkan niat pemberi wasiat dan prinsip-prinsip syariat.
Perbaikan dan penyesuaian ini bukanlah perubahan, dan itulah sebabnya Allah menyertakan nasehat ini dan menjelaskannya tentang larangan melakukan perubahan itu agar orang-orang memahami bahwa perbuatan itu bukanlah bagian dari larangan itu. Hanya Allah yang lebih mengetahui"
Sumber: https://tafsirweb.com/685-surat-al-baqarah-ayat-182.html
Informasi Tambahan
Juz
2
Halaman
28
Ruku
23