الاسراۤء (Al-Isra')
Surat ke-17, Ayat ke-72
وَمَنْ كَانَ فِيْ هٰذِهٖٓ اَعْمٰى فَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ اَعْمٰى وَاَضَلُّ سَبِيْلًا
Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar).
📚 Tafsir Al-Muyassar
Dan barang siapa di dunia ini buta hatinya dari melihat bukti-bukti kuasa Allah, tidak beriman kepada risalah yang dibawa Muhammad maka dia pada hari kiamat akan lebih buta untuk mengetahui jalan menuju surga dan juga lebih sesat jalannya dari petunjuk dan bimbingan.
Sumber: https://tafsirweb.com/4676-surat-al-isra-ayat-72.html
📚 Tafsir as-Sa'di
72. “Dan barangsiapa yang di sini,” yakni di dunia ini “buta” dari kebenaran, maka dia tidak menerima dan tidak tunduk kepadanya, justru dia mengikuti kesesatan “niscaya di akhirat (nanti) dia akan lebih buta (pula)” (tidak melihat) jalur menuju surge, sebagaimana tatkala di dunia dia tidak menapakinya “dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” Karena balasan itu disebabkan oleh jenis amal perbuatan itu tersendiri, dan sebagaimana kamu memberi balasan, maka kamu diberi balasan pula. Dalam ayat ini, terdapat dalil bahwasanya setiap umat itu akan diseru kepada agama dan kitabnya. Apakah dilaksanakan ataukah tidak?
Mereka tidak akan diazab dengan syariat nabi lain yang tidak diperintahkan untuk mengikutinya. Allah tidak akan mengazab seseorang kecuali setelah hujjah tegak atasnya, kemudian dia menyelisihinya. Orang-orang yang suka berbuat kebaikan akan diberikan kitab mereka dengan tangan kanannya.
Mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar. Sedangkan orang-orang yang suka berbuat kejelekan, akan mendapatkan kebalikannya. Mereka tidak mampu membaca kitab mereka disebabkan dahsyatnya kegelisahan dan ketakutan yang mereka rasakan.
Sumber: https://tafsirweb.com/4676-surat-al-isra-ayat-72.html
📚 Tafsir Al-Wajiz
72. Dan barangsiapa di dunia dia buta bashirahnya atau hatinya, maka di akhirat itu buta penglihatannya. Dia tidak ditunjukkan menuju jalan kemenangan bahkan jauh darinya.
Sumber: https://tafsirweb.com/4676-surat-al-isra-ayat-72.html
📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 71-72 Allah SWT memberitahukan tentang hari kiamat, bahwa Dia akan menghisab setiap umat dengan pemimpin mereka. Para ulama’ berbeda pandapat tentang hal ini. Mujahid dan Qatadah berkata bahwa yang dimaksud adalah nabi mereka.
Ini sebagaimana firman Allah SWT: (Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah kepuiusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya (47)) (Surah Yunus) Ibnu Zaid berkata bahwa yang dimaksud adalah kitab mereka yang diturunkan kepada nabi mereka berupa hukum-hukum syariat, dan pendapat ini dipilih Ibnu Jarir.
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid bahwa dia berkata, yaitu kitab-kitab mereka. Bisa juga dimaknai dengan apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Aufi dari ibnu Abbas tentang firmanNya: ((Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap-tiap umat dengan pemimpinnya) yaitu kitab amal perbuatan mereka. Demikian juga dikatakan oleh Abu Al-’Aliyah, Al-Hasan, Adh-Dhahhak.
Ini adalah pendapat yang paling kuat, berdasarkan firman Allah: (Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata) (Surah Yasin: 12) Bisa juga dimaknai bahwa yang dimaksud dengan imam mereka adalah setiap kaum memiliki orang yang dijadikan mereka sebagai panutan, dan orang-orang yang beriman itu bermakmum kepada para nabi, dan orang-orang kafir bermakmum kepada pemimpin-pemimpin mereka.
Sebagaimana Allah berfirman: (Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka) (Surah Al-Qashash: 41) Disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim,”Sungguh setiap umat akan mengikuti apa yang dahulu disembahnya, maka orang yang menyembah Thaghut, akan mengikuti Thaghut.
Allah SWT berfirman: (Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan (28) (Allah berfirman), "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadap kalian dengan benar.
Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kalian kerjakan" (29)) (Surah Al-Jatsiyah) Hal ini tidak bertentangan dengan peristiwa didatangkannya Nabi SAW ketika Allah memberikan keputusan hukum di antara umatnya.
Karena sesungguhnya wajib bagi beliau SAW menjadi saksi terhadap umat beliau atas amal mereka, sebagaimana firman Allah: (Dan terang benderanglah bumi (Padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi) (Surah Az-Zumar: 69) Firman Allah: (Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu) (41)) (Surah An-Nisa’) Akan tetapi yang dimaksud dengan imam di sini adalah catatan amal perbuatan.
Oleh karena itu Allah berfirman: ((Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpin (kitab catatan amal)nya; dan barang siapa yang diberikan kitab amalnya di tangan kanannya, maka mereka ini akan membaca kitabnya itu) yaitu karena kesenangan dan kebahagiaannya berdasarkan catatan amal shalih yang ada di dalam kitab catatan amalnya, dia senang membacanya.
Sebagaimana firmanNya: (Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah kitabku (ini)” (19)) sampai dengan firmanNya: (Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku (25) Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku (26)) (Surah Al-Haqqah) Firman Allah: (mereka tidak dianiaya sedikit pun) telah dijelaskan sebelumnya bahwa “al-fatil” adalah benang memanjang pada tengah biji kurma.
Firman Allah: (dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini) Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah dan Ibnu Zaid berkata (dan yang ada di sini) yaitu di kehidupan dunia. (buta) dari hujjah, tanda-tanda, keterangan-keterangan dari Allah (niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta) yaitu, demikian pula (dan lebih sesat dari jalan (yang benar)) yaitu lebih sesat dari apa yang dia alami di dunia. Kami berlindung kepada Allah dari hal itu.
Sumber: https://tafsirweb.com/4676-surat-al-isra-ayat-72.html
Informasi Tambahan
Juz
15
Halaman
289
Ruku
247