الكهف (Al-Kahf)
Surat ke-18, Ayat ke-28
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.
📚 Tafsir Al-Muyassar
Dan bersabarlah dirimu (wahai nabi), bersama-sama dengan para sahabatmu dari orang-orang mukmin yang fakir yang beribadah kepada tuhan mereka semata dan menyeruNya di pagi hari dan sore hari, sedang mereka menginginkan wajah Allah dengan itu. dan duduklah bersama mereka dan pergauli mereka. Dan janganlah kamu palingkan pandanganmu dari mereka kepada orang lain dari kalangan orang-orang kafir untuk tujuan mencari kesenangan dengan perhiasan kehidupan duniawi. Dan janganlah kamu menaati orang yang telah Kami jadikan hatinya lalai dari mengingat Kami dan dia lebih mengutamakan keinginan hawa nafsunya ketimbang menaati penguasanya dan keadaannya dalam seluruh perbuatannya menjadi sia-sia dan binasa.
Sumber: https://tafsirweb.com/4854-surat-al-kahfi-ayat-28.html
📚 Tafsir as-Sa'di
28. Allah memerintahkan NabiNya, Muhammad, sedangkan orang lain mengikutinya sebagai teladan dalam perintah dan larangan, supaya bersabar bersama orang-orang beriman, ahli ibadah yang selalu kembali kepada Allah. “Orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari,” yaitu pada permulaan pagi dan sore hari. Mereka menginginkan Wajah Allah dengan hal itu.
Allah menyebutkan karrakter mereka dengan ibadah dan keikhlasan dalam melaksanakannya. Jadi, di dalamnya terdapat perintah supaya bersahabat dengan orang baik dan berusaha keras untuk berkumpul dengan mereka, sekalipun mereka itu orang-orang fakir. Karena berhubungan erat dengan mereka memberikan manfaat-manfaat yang tidak terhitung. “Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka,” maksudnya pandanganmu jangalah melampaui mereka dan mengangkat penglihatanmu dari mereka “(karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini,” sebab ia merupakan bahaya, tidak bermanfaat, penghancur kemaslahatan agama dan menjadikan hati bergantung dengan dunia.
Akibatnya, pikiran dan angan-angan terfokuskan padanya. Kecintaan di hati terhadap akhirat sirna. Sesungguhnya perhiasan dunia begitu memikat orang yang melihatnya dan menyihir hati, sehingga hati itu lalai untuk mengingat Allah dan lebih menatap aneka kelezatan dan godaan syahwat.
Waktunya pun sia-sia dan urusannya menjadi tidak karuan. Kemudian dia menjadi orang yang merugi dan menyesal selama-lamanya. Oleh karena itu, Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.” Dia lalai mengingat Allah, maka Allah menghukumnya dengan menjadikannya lalai untuk mengingatNya, “serta menuruti hawa nafsunya,” maksudnya dia menjadi orang yang memperturutkan hawa nafsunya.
Apa saja yang disukai oleh nafsunya, niscaya dia lakukan dan berusaha mendapatkannya sekalipun akan membinasakan dan merugikannya. Dia telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan, seperti Firman Allah, "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (Al-Jatsiyah:23). “Dan keadaannya itu,” maksudnya kemaslahatan agama dan duniawinya “melampaui batas,” maksudnya lenyap sia-sia lagi tidak terwujudkan. Allah melarang menaati orang seperti ini, karena ketaatan kepadanya akan mengajaknya untuk mengikutinya. Pasalnya, dia tidak menyeru kecuali kepada orang yang memiliki sifat sepertinya.
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang seharusnya ditaati dan menjadi imam bagi orang-orang adalah orang yang hatinya penuh dengan kecintaan kepada Allah dan mencurahkannya pada lisannya, lalu dia tekun berdzikir kepada Allah, mengikuti semua keridhaanNya, lebih mendahulukannya daripada bisikan hawa nafsunya. Maka dengan itu, dia berhasil menjaga waktunya, kondisinya membaik dan tindak-tanduknya lurus, mengajak manusia kepada kenikmatan yang Allah berikan kepadanya, maka pantaslah dia diikuti dan dijadikan sebagai imam. Sabar yang disebutkan dalam ayat ini adalah bersabar dalam ketaatan kepada Allah yang mana ia merupakan jenis kesabaran yang paling tinggi.
Kesempurnaan bentuk kesabaran ini, akan menyempurnakan jenis-jenis kesabaran lainnya. Dalam ayat ini terdapat kandungan mengenai disunnahkannya berdzikir, berdoa, dan beribadah pada dua penghujung siang, karena Allah memuji mereka atas perbuatan itu. Setiap perbuatan yang Allah memuji pelakunya, berarti menunjukkan bahwa Allah mencintai perbuatan itu.
Dan jika Allah mencintainya, maka Dia memerintahkan dan menganjurkan orang untuk melakukannya.
Sumber: https://tafsirweb.com/4854-surat-al-kahfi-ayat-28.html
📚 Tafsir Al-Wajiz
28. Bersabarlah kamu dan teguhlah bersama-sama orang-orang lemah yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hanya karena beribadah dan mengharap keridhaan-Nya. Janganlah palingkan kedua matamu kepada mereka yang mengharapkan perhiasan dunia ini.
Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari dzikir dan mengingat Alquran juga mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan melewati batas. Ayat ini turun untuk kumpulan petinggi Qurays yang meminta Nabi untuk membersihkan majlis dan sahabatnya dari orang-orang miskin, agar mereka dibuatkan tempat dan perkumpulan khusus untuk mereka
Sumber: https://tafsirweb.com/4854-surat-al-kahfi-ayat-28.html
📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 27-28 Allah SWT berfirman seraya memerintahkan kepada RasulNya SAW agar membaca dan menyampaikan kitabNya yang mulia kepada manusia (Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya) yaitu, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah, menyimpang, dan menghapusnya. Firman Allah: (Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dariNya) Diriwayatkan dari Mujahid tentang tentang kata “multahada”, dia berkata bahwa maknanya adalah tempat berlindung. Diriwayatkan dari Qatadah, bahwa maknannya adalah penolong, yaitu tidak ada penolong selain Dia.
Ibnu Jarir berkata, bahwa maknannya adalah,”Jika kamu, wahai Muhammad, tidak membaca apa yang Aku wahyukan kepadamu dari Kitab Tuhanmu, maka sesungguhnya tidak ada tempat berlindung bagimu dari Allah” . Sebagaimana Allah berfirman: (Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia) (Surah Al-Maidah: 67) dan (Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali) (Surah Al-Qashash: 85) yaitu, bertanya kepadamu tentang apa yang diwajibkan atas dirimu berupa penyampaian risalah.
Firman Allah: (Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya) yaitu duduklah bersama orang-orang yang mengingat Allah seraya mengagungkan, memuji, menyucikan, dan memohon kepadaNya di setiap pagi dan petang dari kalangan hamba-hambaNya, baik mereka orang-orang fakir atau orang-orang kaya, orang-orang kuat atau orang-orang lemah. Kemudian Allah SWT memerintahkan agar bertahan duduk bersama mereka. Maka Allah berfirman: (Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari) Diriwayatkan dari Sa'd bin Abi Waqqas, dia berkata,"Kami enam orang bersama Nabi SAW.
Lalu orang-orang musyrik berkata kepada Nabi SAW,”Usirlah mereka, agar mereka tidak berbuat kurang ajar kepada kami" Sa’d berkata,”Itu adalah aku, Ibnu Mas'ud, seorang laki-laki dari Bani Hudzail, Bilal, dan dua laki-laki lainnya yang aku lupa namanya. Maka setelah mendapat sambutan mereka yang demikian itu, Rasulullah SAW berbicara pada diri sendiri. Kemudian Allah SWT menurunkan firmanNya: (dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedangkan mereka menghendaki keridhaan-Nya) Firman Allah: (dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini) Ibnu Abbas berkata bahwa janganlah kamu melewatkan mereka dengan memilih selain mereka, yaitu menggantikan mereka dengan orang mulia dan memiliki harta. (dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami) yaitu orang yang disibukkan dengan dunia dari agama dan peribadatan kepada Tuhannya (dan adalah keadaannya itu melewati batas) yaitu amalnya, perbuatannya yang foya-foya, berlebihan, dan sia-sia.
Janganlah kamu mengikuti dan menyukai cara mereka, dan jangan pula menginginkannya. sebagaimana Allah berfirman: (Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal (131)) (Surah Thaha)
Sumber: https://tafsirweb.com/4854-surat-al-kahfi-ayat-28.html
Informasi Tambahan
Juz
15
Halaman
297
Ruku
255