Kembali ke Surat Maryam

مريم (Maryam)

Surat ke-19, Ayat ke-7

يٰزَكَرِيَّآ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ِۨاسْمُهٗ يَحْيٰىۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

(Allah berfirman), “Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.”

📚 Tafsir Al-Muyassar

Wahai zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan mengabulkan permohonanmu. Dan sungguh Kami anugerahkan kepadamu seorang anak lelaki bernama yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah memberikan nama bagi seorang pun dengan nama tersebut.

Sumber: https://tafsirweb.com/5053-surat-maryam-ayat-7.html

📚 Tafsir as-Sa'di

7. Maksudnya, Allah memberinya kabar gembira tentang (kelahiran) Yahya melalui para malaikat. Allah menamakannya dengan sebutan Yahya.

Sebuah nama yang selaras dengan pemiliknya. Dia hidup dengan nyata lagi tampak oleh lndera (hissi) sampai nikmat (Allah) sempurna pada dirinya dan juga hidup secara maknawi. Yaitu kehidupan hati dan ruhnya disertai wahyu, ilmu dan agama. “Yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya,” maksudnya belum pernah ada seorang pun yang menggunakan nama ini sebelumnya.

Ada kemungkinan (juga), makna ayat ini adalah Kami belum pernah menciptakan orang yang setara dan sama namanya dengannya di banding masa sebelumnya. Sehingga, jadilah ini sebagai kabar gembira (bagi Zakaria) karena kesempurnaan Yahya, yang menyandang sifat-sifat yang terpuji, dan bahwa Yahya itu mengungguli orang-orang sebelumnya. Akan tetapi, berdasarkan kemungkinan ini, maka keumumannya harus ditakhsis (dipersempit) dengan Nabi Ibrahim, Musa, NUh, dan lain sebagainya, yang mereka ini dipastikan lebih baik dibandingkan dengan Yahya.

Sumber: https://tafsirweb.com/5053-surat-maryam-ayat-7.html

📚 Tafsir Al-Wajiz

7. Maka Allah mengabulkan doa nabi Zakaria, sehingga Malaikat menyerunya dengan perkataan: “Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu, bahwa kamu akan memperoleh seorang anak yang bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah memberi nama ini sebelum dia dan belum menciptakan orang yang serupa dengan dia dalam hal kesalehan dan kewara’an

Sumber: https://tafsirweb.com/5053-surat-maryam-ayat-7.html

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Kalam ini mengandung sesuatu yang dibuang, yaitu bahwa doa nabi Zakaria dikabulkan Allah SWT Maka dikatakan kepadanya: (Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya) sebagaimana Allah berfirman: (Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (38) Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di dalam mihrab (katanya), "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh” (39)) (Surah Ali Imran) Firman Allah: (yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia) Qatadah, Ibnu Juraij, dan Ibnu Zaid berkata bahwa Allah belum pernah menamakan seseorang dengan nama Yahya.

Ini adalah pendapat yang dipilih Ibnu Jarir. Mujahid berkata tentang firmanNya: (yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia) yaitu mirip dengannya. Hal ini dia ambil dari makna firmanNya (maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?) yaitu mirip (Surah Maryam 65) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa maknannya adalah sebelum itu tidak ada pasangan mandul yang dapat melahirkan anak seperti dia.

Hal ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa nabi Zakaria sebelumnya tidak punya anak; begitu juga istrinya, dia adalah seorang wanita mandul sejak awal umurnya.

Sumber: https://tafsirweb.com/5053-surat-maryam-ayat-7.html

Informasi Tambahan

Juz

16

Halaman

305

Ruku

264

Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk

Surah An-Nahl: 98

Adab Membaca Al-Quran

1. Suci dari Hadats

Pastikan dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil sebelum memegang dan membaca Al-Quran. Berwudhu terlebih dahulu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada kitab suci Al-Quran.

2. Niat yang Ikhlas

Membaca Al-Quran dengan niat mencari ridha Allah SWT, bukan untuk pamer atau mencari pujian. Niat yang ikhlas akan membawa keberkahan dalam membaca Al-Quran.

3. Menghadap Kiblat

Diutamakan menghadap kiblat saat membaca Al-Quran sebagai bentuk penghormatan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Posisi duduk yang sopan dan tenang juga dianjurkan.

4. Membaca Ta'awudz

Memulai dengan membaca ta'awudz dan basmalah sebelum membaca Al-Quran. Ta'awudz merupakan permintaan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

5. Khusyuk dan Tenang

Membaca dengan tenang dan penuh penghayatan, memahami makna ayat yang dibaca. Tidak tergesa-gesa dan memperhatikan tajwid dengan baik.

6. Menjaga Kebersihan

Membaca Al-Quran di tempat yang bersih dan suci, serta menjaga kebersihan diri dan pakaian. Hindari membaca Al-Quran di tempat yang tidak pantas.

7. Memperindah Suara

Membaca Al-Quran dengan suara yang indah dan tartil, sesuai dengan kemampuan. Tidak perlu memaksakan diri, yang terpenting adalah membaca dengan benar sesuai tajwid.

Masukan & Feedback:info@finlup.id
© 2026 quran.finlup.id - All rights reserved