طٰهٰ (Taha)

Per AyatMushaf
يَوْمَىِٕذٍ
pada hari itu
يَّتَّبِعُوْنَ
mereka mengikuti
الدَّاعِيَ
penyeru
لَا
tidak
عِوَجَ
bengkok
لَهٗ
baginya
ۚوَخَشَعَتِ
dan khusyuk/merendah
الْاَصْوَاتُ
semua suara
لِلرَّحْمٰنِ
kepada yang Maha Pengasih
فَلَا
maka tidak
تَسْمَعُ
kamu dengar
اِلَّا
kecuali
هَمْسًا
bisikan
﴿١٠٨﴾
Pada hari itu mereka mengikuti (panggilan) penyeru (malaikat) tanpa berbelok-belok (membantah); dan semua suara tunduk merendah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik.
2456 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Pada hari itu, manusia mengikuti suara penyeru menuju tempat berkumpul di Hari Kiamat, tidak ada yang membelok dari seruan penyeru. Karena hal itu merupakan kejadian yang haq dan kebenaran bagi seluruh makhluk. Suara-suara merendah sebagai bentuk ketundukan terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih, maka kamu tidak mendengar, kecuali suara bisikan semata.

Sumber: https://tafsirweb.com/5350-surat-thaha-ayat-108.html

Tafsir as-Sa'di

108-110. OLeh sebab itu, Allah berfirman, “Pada hari itu, manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru.” Hal itu terjadi saat umat manusia dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan berdiri darinya.Lalu ada penyeru yang memanggil mereka untuk datang dan berkumpul di Mahsyar. Mereka mengikutinya dengan bergegas menuju kepadanya, tidak menoleh ke arah lain dan tidak berbelok ke kanan maupun ke kiri. Firman Allah “Dengan tidak berbelok-belok,” tidak memiringkan diri dari panggilan penyeru.Seruan (penyeru) itu betul-betul benar bagi seluruh makhluk, memperdengarkan (seruan) kepada semuanya dan berteriak kepada mereka semua. Mereka pun datang menuju tempat pengadilan KIamat, dengan suara yang merendah kepada Rabb Yang Maha Pemurah. “Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja,” selain suara pijakan kaki-kaki atau bisikan-bisikan dengan lirih dengan menggerakan dua bibirnya saja. Suasana hening, tenang, dan diam menguasai mereka untuk menunggu keputusan hukum Allah Yang Maha Pemurah bagi mereka.Wajah-wajah mereka menunduk maksudnya hina dan merunduk. Engkau menyaksikan di tempat pengadilan yang agung ini orang-orang kaya, orang-orang miskin, kaum lelaki, kaum wanita, orang-orang merdeka, budak-budak, raja-raja dan rakyat jelata dalam keadaan diam, tutup mulut, pandangan mereka merendah, leher-leher mereka menunduk dengan berlutut, dan wajah-wajah mereka hina. Mereka tidak mengetahui keputusan pasti yang mengenainya, tidak tahu apa yang akan diperbuat pada mereka.Setiap orang sibuk dengan diri dan urusannya sendiri, melupakan ayahnya, saudara kandungnya, kawan akrabnya, dan orang kecintannya. Masing-masing orang memiliki urusan yang menyibukkannya. [saat itulah] Dzat Yang Maha Memutuskan lagi Mahaadil Yang Maha memiliki Hari Kiamat menetapkan keputusan padanya dan membalasi orang yang berbuat baik dengan curahan kebaikan dariNya, dan orang yang berbuat buruk dengan menghalangi (nya dari rahmatNya). Harapan yang terpancang pada Rabb yang Mahamullia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, adalah untuk memperlihatkan kepada para makhluk sebagian dari keutamaan, kebaikan, maaf, toleransi, dan ampunan yang tidak bisa diungkapkan oleh lisan-lisan dan tidak dapat dimajinasikan oleh akal pikiran.Semua makhluk ketika itu menunggu-nunggu rahmatNya, ketika menyaksikannya orang-orang yang beriman kepadaNya dan kepada para RasulNya mendapatkan rahmatNya secara khusus. Jika dikatakan, “Dari manakah kalian mendapatkan harapan ini?” jika engkau mau, katakanlah, “Dari manakah pengetahuan kalian tentang ini?” Maka kita katakan, “Karena kami mengetahuinya dari dominannya rahmat Allah daripada kemurkaanNYa, dan luasnya kemurahanNya yang merata pada semua makhluk, serta melalui apa yang kami saksikan pada diri-diri kami dan orang lain, berupa kenikmatan-kenikmatan yang melimpah di dunia ini. Terutama keutamaan yang ada di Hari Kiamat.Sesungguhnya Firman Allah, "dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja." "kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya" dan firman-Nya "Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir." (Al-Furqan:26). Begitupula sabda Nabi "sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat yang diturunkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai rahmat, denga itu mereka saling berkasih saying dan berlemah lembut, sampai bintang mengangkat cakarnya dari anaknya karena hawatir melukainya" [Maksudnya] karena sifat sayang yang diletakkan di hatinya.Di Hari Kiamat, Allah menggabungkan rahmat ini dengan Sembilan puluh Sembilan rahmat. Dengan itu, Allah mencurahkan kasihNya pada para hambaNya. Bersama sabda nabi "Allah memiliki kasih saying yang lebih kepada hamba-hamba-Nya dari orang tua kepada anaknya" Maka, katakanlah terserah kamu, tentang berapa besarnya rahmat Allah.Sesungguhnya rahmatNya akan lebih besar dari apa yang engkau katakan. Dan imajinasikanlah rahmat Allah pada level yang lebih besar sekehendakmu. Sesungguhnya rahmat Allah lebih besar dari apa yang engkau sampaikan.Mahasuci Allah yang mencurahkan rahmatNya dalam sifat keadilan dan penerapan hukumanNya. Sebagaimana Dia merahmati dalam bentuk keutamaan, kebaikan dan pahalaNya. Dan Mahatinggi (Allah) Dzat yang rahmatNya melingkupi segala sesuatu, kemurahanNya merata pada setiap makhluk hidup, dan Dzat Yang Maha kaya tiada membutuhkan para hambaNya, Maha Penyayang kepada para hambaNya.Mereka itu membutuhkanNya selama-lamanya dalam seluruh kondisi mereka. Tidak mungkin mereka mengesampingkanNya dalam sekejap mata. FirmanNYa, “Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya,” maksudnya seseorang tidak dapat memberikan syafaat di sisiNya kecuali orang yang sudah diberi izin untuk mengeluarkan syafaat.Dan Allah tidak mengeluarkan izin kecuali (diperuntukkan) bagi orang yang Dia ridhai ucapannya, maksudnya permohonan syafaatnya, dari kalangan para nabi, para rasul, hamba-hambaNya yang dekat, bagi orang yang diridhai ucapan dan tindakannya. Yaitu orang Mukmin yang ikhlas. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada cara bagi siapa pun untuk meraih syafaat dari siapa saja.

Sumber: https://tafsirweb.com/5350-surat-thaha-ayat-108.html

Tafsir Al-Wajiz

108. Pada hari kiamat dan setelah Kami mengangkat gunung-gunung dan membangkitkan manusia dari kubur, mereka akan mengikuti panggilan Allah menuju padang Mahsyar, tidak ada yang menolak panggilan itu, bahkan mereka bergegas mendatanginya. Suara-suara makhluk terhenti dan lirih karena takut dan tunduk kepada Allah, sehingga tidak terdengar sedikitpun orang yang berbicara kecuali dengan suara yang samar-samar/pelan.

Sumber: https://tafsirweb.com/5350-surat-thaha-ayat-108.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 105-108 Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung) yaitu apakah itu masih tetap ada atau akan lenyap pada hari kiamat? (maka katakanlah, "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) dengan sehancur-hancurnya) yaitu, Allah melenyapkannya dari tempatnya dan menghancurkan serta menghamburkannya (maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu) yaitu bumi (datar sama sekali) yaitu satu hamparan rata. Kata “Al-qa'” adalah tanah rata, dan “Ash-shafshaf” adalah penegasan atas hal itu. Dikatakan, bahwa maknannya adalah tanah yang tidak ada tumbuhannya.Pendapat pertama lebih baik, sekalipun pendapat lainnya maksudnya juga demikian. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman: (tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi (107)) yaitu kamu tidak akan melihat di bumi pada hari itu suatu lembah, dataran tinggi, dataran rendah, dan tempat yang tinggi. Demikianlah yang dikatakan Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, Qatadah, dan lainnya dari kalangan ulama Salaf. (Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok) yaitu di hari mereka menyaksikan keadaan dan kengerian ini, mereka memenuhi seruan yang memanggil mereka dengan segera, di mana pun seruan itu memerintah mereka, maka mereka segera menurutinya.Seandainya hal itu dilakukan di dunia, sungguh lebih bermanfaat bagi mereka. Akan tetapi hal itu tidak lagi bermanfaat bagi mereka. Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada kami) (Surah Maryam: 38) dan (dengan patuh mereka segera datang kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, “Ini adalah hari yang sulit” (8)) (Surah Al-Qamar) Firman Allah: (dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah) Ibnu Abbas berkata bahwa maknanya adalah terdiam.Sa'id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa maknannya adalah langkah yang pelan. Demikian juga dikatakan Ikrimah, Mujahid, Adh-Dhahhak, Ar-Rabi' bin Anas, Qatadah, Ibnu Zaid, dan lainnya. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja) yaitu suara pelan.Sa'id menggabungkan kedua pendapat itu, dan itu bisa terjadi. Adapun yang dimaksud dengan langkah kaki adalah usaha manusia ketika menuju padang Mahsyar, mereka berjalan dengan tenang dan merendahkan diri. Adapun suara pelan, maka bisa pada suatu keadaan tertentu dan tidak pada keadaan itu.Sungguh Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia (105)) (Surah Hud)

Sumber: https://tafsirweb.com/5350-surat-thaha-ayat-108.html

Informasi

Surat

طٰهٰ (Taha)

Taha — 135 ayat

Tempat Turun

Makkiyah

Ayat ke-

108 dari 135 ayat

Juz

Juz 16

Halaman

Halaman 319

Ruku

Ruku 275

Manzil

Manzil 4

Hizb

Hizb 64 (127/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-2456 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-20