Kembali ke Surat Taha

طٰهٰ (Taha)

Surat ke-20, Ayat ke-131

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى

Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.

📚 Tafsir Al-Muyassar

Dan janganlah kamu memandang berbagai macam kesenangan yang telah Kami berikan kepada kaum Musyrikin dan orang-orang yang serupa dengan mereka, karena sesungguhnya itu hanya sekedar hiasan belaka yang akan sirna di kehidupan dunia ini. Kami memberikan kesenangan itu kepada mereka untuk menguji mereka dengannya. Dan rizki Tuhanmu dan pahalaNya lebih baik bagimu dari kesenangan yang Kami berikan kepada mereka dan lebih abadi, lantaran tidak ada waktu putus dan habisnya.

Sumber: https://tafsirweb.com/5373-surat-thaha-ayat-131.html

📚 Tafsir as-Sa'di

131.Maka janganlah engkau membelalakkan “kedua matamu,” dengan penuh keheranan dan janganlah engkau berulang-ulang memandang dengan simpatik ke pernak-pernik dunia dan orang-orang yang larut dalam kemewahan padanya, dalam makanan, minuman yang lezat, palaian yang mewah, hunian-hunian yang sarat dengan keindahan, dan wanita-wanita yang cantik-cantik. Semua itu merupakan kembang “kehidupan dunia,” makasudnya jiwa orang-orang yang terpedaya begitu riang dengannya, dan (kehidupan dunia) itu menarik kekaguman orang-orang yang berpaling (dari peringatan). Orang-orang zhalim menikmatinya tanpa menengok kondisi alam akhirat.

Kemudian, kembang dunia itu pun hilang dengan begitu cepat dan berlalu semua, membunuhi para pecintanya dan perundungnya. Mereka akan menyesal di saat sesal tidak berguna lagi. Mereka mengetahui tindak tanduk mereka ketika memasuki Hari Kiamat.

Allah hanyalah menjadikannya sebagai sumber fitnah dan ujian, supaya dapat dideteksi orang-orang yang diam dan terpukau dengannya dan orang-orang yang lebih baik amalannya. Sebagaimana Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus." (Al-Kahfi:7-8). “Dan karunia Rabbmu,” yang segera (dapat diraih), berupa ilmu, iman, dan hakikat-hakikat amalan yang shalih. Dan karunia yang ditunda (di akhirat) berupa kenikmatan yang lestari dan kehidupan yang nyaman di sisi Rabb Yang Maha Penyayang “adalah lebih baik,” daripada sesuatu yang Kami limpahkan kepada kelompok-kelompok itu pada dzat dan sifat-sifatnya. “dan lebih kekal,” lantaran tidak pernah terputus. Buah-buahnya dan kesejukannya langgeng.

Seperti Firman Allah, "Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Al-A’la:16-17). Dalam ayat ini terselip sebuah isyarat bahwa seorang hamba jika menyaksikan pada dirinya terdapat kerakusan terhadap pesona dunia dan sorotan kepadanya, maka dia wajib mengingatkan dirinya dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di depannya (di akhirat) dari karunia Rabbnya, dan dia harus membandingkan antara ini dan itu.

Sumber: https://tafsirweb.com/5373-surat-thaha-ayat-131.html

📚 Tafsir Al-Wajiz

131. Dan jangan terlalu larut melihat dengan penuh angan dan harapan terhadap sesuatu yang dimiliki orang lain berupa kenikmatan kehidupan dunia, yaitu hiasan-hiasan dan kesenangannya seperti harta benda, bangunan, perkakas, dan kendaraan. Sungguh Kami menguji mereka dalam hal itu.

Dan jadikanlah hasratmu itu hanya untuk sesuatu yang ada di sisi Allah. Dan apa yang dijaga oleh Allah dan dijanjikan Allah untukmu di akhirat itu lebih baik daripada apa yang Dia berikan kepada mereka di dunia serta lebih abadi dan tidak terputus-putus.

Sumber: https://tafsirweb.com/5373-surat-thaha-ayat-131.html

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 131-132 Allah SWT berfirman kepada NabiNya, Muhammad SAW,"Janganlah melihat orang-orang yang bermewah-mewahan dan kenikmatan yang mereka miliki. Karena sesungguhnya hal itu tidal lain merupakan perhiasan dan nikmat yang pasti lenyap, kami menguji mereka dengan hal itu dan hanya sedikit orang yang banyak bersyukur di antara hamba-hambaKu" Mujahid berkata bahwa firmanNya (azwajan minhum) adalah orang-orang kaya karena sungguh telah diberikan kepadamu apa yang lebih baik daripada apa yang diberikan kepada mereka. Sebagaimana Allah berfirman di ayat lain: (Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung (87) Jangan sekali-kali engkau (Muhammad) tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir)) (Surah Al-Hijr: 87-88).

Begitu juga apa yang disiapkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW di akhirat merupakan sesuatu yang agung tanpa batas dan tidak bisa digambarkan. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas (5)) (Surah Adh-Dhuha) Oleh karena itu Allah berfirman: (Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal) Beliau SAW adalah orang paling zuhud di dunia, padahal beliau mampu menguasainya.

Ketika beliau mendapatkan harta, beliau menafkahkannya di bagian sini dan bagian sana kepada hamba Allah dan tidak pernah menyimpan sesuatu pun untuk diri beliau di hari esok. Qatadah dan As-Suddi berkata tentang firmanNya: (bunga kehidupan dunia) yaitu perhiasan kehidupan dunia. Qatadah berkata tentang firmanNya: (untuk Kami fitnah mereka dengannya=) yaitu Kami menguji mereka.

Firman Allah: (Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya) yaitu, selamatkanlah mereka dari azab Allah dengan mengerjakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka) (Surah At-Tahrim: 6) Firman Allah: (Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu) yaitu ketika kamu mengerjakan shalat, maka rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak kamu sangka.

Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (2) Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka) (Surah Ath-Thalaq) dan ((56) (57) (58)) (Surah Adz-Dzariyat) Oleh karena itu Allah berfirman: (Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu) Firman Allah: (Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa) yaitu, akibat yang baik di dunia dan akhirat, yaitu surga hanya bagi orang yang bertakwa kepada Allah.

Disebutkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Tadi malam aku melihat dalam mimpi seakan-akan kita berada di rumah Uqbah bin Rafi', lalu kita disuguhi buah kurma masak dari kurmanya Ibnu Thab. Lalu aku menakwilkan mimpi itu, bahwa sesungguhnya akibat yang terpuji dan derajat yang tinggi itu bagi kita di dunia, dan bahwa agama kita telah sempurna.

Sumber: https://tafsirweb.com/5373-surat-thaha-ayat-131.html

Informasi Tambahan

Juz

16

Halaman

321

Ruku

277

Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk

Surah An-Nahl: 98

Adab Membaca Al-Quran

1. Suci dari Hadats

Pastikan dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil sebelum memegang dan membaca Al-Quran. Berwudhu terlebih dahulu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada kitab suci Al-Quran.

2. Niat yang Ikhlas

Membaca Al-Quran dengan niat mencari ridha Allah SWT, bukan untuk pamer atau mencari pujian. Niat yang ikhlas akan membawa keberkahan dalam membaca Al-Quran.

3. Menghadap Kiblat

Diutamakan menghadap kiblat saat membaca Al-Quran sebagai bentuk penghormatan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Posisi duduk yang sopan dan tenang juga dianjurkan.

4. Membaca Ta'awudz

Memulai dengan membaca ta'awudz dan basmalah sebelum membaca Al-Quran. Ta'awudz merupakan permintaan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

5. Khusyuk dan Tenang

Membaca dengan tenang dan penuh penghayatan, memahami makna ayat yang dibaca. Tidak tergesa-gesa dan memperhatikan tajwid dengan baik.

6. Menjaga Kebersihan

Membaca Al-Quran di tempat yang bersih dan suci, serta menjaga kebersihan diri dan pakaian. Hindari membaca Al-Quran di tempat yang tidak pantas.

7. Memperindah Suara

Membaca Al-Quran dengan suara yang indah dan tartil, sesuai dengan kemampuan. Tidak perlu memaksakan diri, yang terpenting adalah membaca dengan benar sesuai tajwid.

Masukan & Feedback:info@finlup.id
© 2026 quran.finlup.id - All rights reserved