Kembali ke Surat Al-Hajj

الحج (Al-Hajj)

Surat ke-22, Ayat ke-73

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗوَاِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُۗ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ

Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah.

📚 Tafsir Al-Muyassar

Wahai sekalian manusia, telah dijadikan satu perumpamaan, maka simak dan renungilah ia: sesungguhnya berhala-berhala dan tandingan-tandingan yang kalian sembah selain Allah, tidak akan mampu bersekutu untuk menciptakan seekor lalat sekalipun, apalagi makhluk yang lebih besar dari lalat? Dan tidak mampu mempertahankan apa yang telah dirampas oleh lalat darinya. Apakah ada bentuk kelemahan yang lebih parah dari keadaan ini?

Kedua belah pihak sama-sama lemah; kelemahan yang mengejar, yaitu yang disembah selain Allah, untuk merebut apa yang telah diambil oleh lalat darinya, dan lemah pula yang dikejar, yaitu lalat. Bagaimana bisa berhala-berhala dan tandingan-tandingan didaulat sebagai tuhan sesembahan, sedang keadaannya sedemikian lemah?

Sumber: https://tafsirweb.com/5809-surat-al-hajj-ayat-73.html

📚 Tafsir as-Sa'di

73-74. Ini sebuah permisalan yang Allah (gariskan) untuk menggambarkan keburukan peribadahan kepada berhala-berhala dan menjelaskan cacatnya akal-akal orang-orang yang menjalankan ibadah kepadanya serta (menjelaskan) kelemahan semua pihak. Allah berfirman, “Hai manusia.” Ini pembicaraan yang terarah kepada kaum Mukminin dan kaum kafir.

Dengan itu, orang-orang Mukminin akan melonjak tingkat ilmu dan bashirah mereka. Sedangkan bagi kaum kafir, ayat itu menjadi hujjah yang menggugat mereka. “Telah dibuat perumpamaan, maka kalian dengarkanlah perumpamaan itu,” maksudnya condongkanlah pendengaran-pendengaran kalian ke arahnya. Dan pahami kandungannya.

Jangan sampai mengenai hati yang sedang lalai dan pendengaran yang sedang membelok. Benar-benar arahkan hati dan pendengaran kalian. Yaitu Firman Allah ini, “SEsungguhnya segala yang kamu seru selain Allah,” keterangan ini mencakup setiap obyek yang disembah selain Allah, “sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun,” yang merupakan binatang yang paling hina lagi menjijikkan.

Mereka tiada berdaya untuk menciptakan makhluk yang lemah ini. Apalagi benda-benda yang lebih baik darinya (sudah mesti mereka lebih tidak berdaya). “Walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya,” bahkan, lebih parah daripada itu, “dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tidaklah mereka dapat merebutnya.” Ini merupakan titik puncak kelemahannya. “Amat lemahlah yang menyembah,” yaitu yang menyembah sesembahan selain Allah, “dan amat lemah (pulalah) yang disembah,” yaitu lalat. Masing-masing lemah.

Lebih lemah lagi daripada keduanya adalah orang yang bergantung kepada makhluk yang lemah ini dan memposisikannya sebagai Rabbul ‘Alamin (Penguasa alam semesta). Orang ini tidak menghormati Allah dengan sebenar-benarnya. Dia telah menyamakan obyek yang membutuhkan peran pihak lain lagi tanpa daya (dilihat) dari segala aspek dengan Dzat Yang Mahakaya lagi Kuat dari segala sisi.

Dia telah mempersamakan obyek yang tidak mempunyai kemampuan (bagi dirinya dan bagi orang lain) yang menetapkan kebaikan, bahaya, kematian, kehidupana, dan kebangkitan dengan Dzat yang Maha Pemberi kemanfaatan dan bahaya, Yang Melimpahkan dan Menahan 9kenikmatan), Pemilik kerajaan, dan Yang Mengatur dengan berbagai macam aturan di dalamnya. “Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa,” maksudnya sempurna kekuatanNya, sempurna kemuliaanNya. Di antara kesempurnaan kekuatan dan kemuliaanNya; bahwasanya ubun-ubun seluruh makhluk berada di dua TanganNya. Tidaklah ada benda yang bergerak dan diam melainkan (pasti) dengan keinginan dan kehendakNya.

Apa yang dikehendaki oleh Allah, niscaya terjadi, dan apa-apa yang tidak diinginkan oleh Allah, niscaya tidak akan terlaksana. Di antara kesempurnaan kekuatan Allah bahwa Dia memegangi langit-langit dan bumi sehingga tidak terjatuh. Dan (bukti) kesempurnaan kekuatan Allah, Dia membangkitkan seluruh makhluk (setelah kehancurannya), sejak makhluk yang pertama dan yang paling akhir hanya dengan satu tiupan, dan Allah dapat membinasakan para dictator dan umat-umat manusia yang sombong, hanya dengan sesuatu yang kecil dan cemeti dari siksaanNya.

Sumber: https://tafsirweb.com/5809-surat-al-hajj-ayat-73.html

📚 Tafsir Al-Wajiz

73. Hai manusia penduduk Makkah dan lainnya, telah dibuat perumpamaan yang sangat amat jelas, maka dengarkan dan smaklah perumpamaan itu dengan saksama dan menelaah. Sesungguhnya segala yang kamu sembah selain dari Allah itu sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka para sesembahan kalian bersatu untuk menciptakannya.

Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu karena mereka lemah dan tidak mampu berbuat apa-apa. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah pulalah berhala yang disembah itu. Yaitu para penyembah berhala dan berhala itu sendiri.

Sumber: https://tafsirweb.com/5809-surat-al-hajj-ayat-73.html

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 73-74 Allah SWT berfirman seraya mengingatkan tentang kehinaan berhala-berhala itu dan kebodohan akal orang-orang yang menyembahnya (Hai manusia, telah dibuat perumpamaan) yaitu tentang apa yang disembah oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah dan menyekutukanNya (maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu) yaitu perhatikan dan dengarkanlah (Sesungguhnya segala yang kamu sembah selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya) Yaitu sekalipun semua berhala dan tandingan yang kalian sembah itu bersatu untuk menciptakan seekor lalat, maka mereka tidak akan mampu me­lakukannya. Kemudian Allah SWT berfirman: (Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu) yaitu mereka tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun. Bahkan yang lebih jelas daripada itu mereka tidak mampu membela diri dari lalat itu dan menolong dirinya sendiri seandainya lalat itu merampas sesuatu yang ada padanya, berupa aroma harum yang ada padanya .

Dan seandainya berhala-berhala itu berkehendak untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya, maka tidak akan mampu melakukannya; padahal lalat adalah makhluk Allah yang paling lemah dan hina. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah) As-Suddi dan lainnya berkata mengatakan bahwa “Ath-thalib” adalah orang yang menyembah, sedangkan “Al-matlub” adalah berhala. Kemudian Allah SWT berfirman: ( Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya) yaitu, mereka tidak mengetahui tentang kekuasaan dan keagungan Allah saat mereka menyembah sembahan selain Dia bersamaNya berupa berhala-berhala yang tidak mampu memper­tahankan diri terhadap serangan lalat karena kelemahannya (Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa) yaitu Dia adalah Dzat yang Maha kuat yang dengan kekuasaan dan kekuatanNya untuk menciptakan segala sesuatu (Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya) (Surah Ar-Rum: 27) dan (Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras (12) Sesungguh­nya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali) (13)) (Surah Al-Buruj) serta (Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi sangat Kokoh (58)) (Surah Adz-Dzariyat) Firman Allah: (lagi Maha Perkasa) yaitu, Dia Maha Perkasa atas segala sesuatu. sehingga Dia mengalahkan dan menundukkannya.

Jadi tidak ada yang dapat mencegah dan mengalahkanNya, karena keagungan dan kekuasaanNya, yaitu Dia adalah Dzat Yang Maha Esa dan Maha Perkasa

Sumber: https://tafsirweb.com/5809-surat-al-hajj-ayat-73.html

Informasi Tambahan

Juz

17

Halaman

341

Ruku

294

Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk

Surah An-Nahl: 98

Adab Membaca Al-Quran

1. Suci dari Hadats

Pastikan dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil sebelum memegang dan membaca Al-Quran. Berwudhu terlebih dahulu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada kitab suci Al-Quran.

2. Niat yang Ikhlas

Membaca Al-Quran dengan niat mencari ridha Allah SWT, bukan untuk pamer atau mencari pujian. Niat yang ikhlas akan membawa keberkahan dalam membaca Al-Quran.

3. Menghadap Kiblat

Diutamakan menghadap kiblat saat membaca Al-Quran sebagai bentuk penghormatan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Posisi duduk yang sopan dan tenang juga dianjurkan.

4. Membaca Ta'awudz

Memulai dengan membaca ta'awudz dan basmalah sebelum membaca Al-Quran. Ta'awudz merupakan permintaan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

5. Khusyuk dan Tenang

Membaca dengan tenang dan penuh penghayatan, memahami makna ayat yang dibaca. Tidak tergesa-gesa dan memperhatikan tajwid dengan baik.

6. Menjaga Kebersihan

Membaca Al-Quran di tempat yang bersih dan suci, serta menjaga kebersihan diri dan pakaian. Hindari membaca Al-Quran di tempat yang tidak pantas.

7. Memperindah Suara

Membaca Al-Quran dengan suara yang indah dan tartil, sesuai dengan kemampuan. Tidak perlu memaksakan diri, yang terpenting adalah membaca dengan benar sesuai tajwid.

Masukan & Feedback:info@finlup.id
© 2026 quran.finlup.id - All rights reserved