البقرة (Al-Baqarah)
Per AyatMushaf
يَكَادُ
hampir-hampir
الْبَرْقُ
kilat
يَخْطَفُ
menyambar
اَبْصَارَهُمْ
penglihatan mereka
ۗ
كُلَّمَآ
setiap
اَضَاۤءَ
bersinar
لَهُمْ
kepada mereka
مَّشَوْا
mereka berjalan
فِيْهِ
didalamnya
ۙ
وَاِذَآ
dan apabila
اَظْلَمَ
menjadi gelap
عَلَيْهِمْ
atas mereka
قَامُوْا
berhenti
ۗوَلَوْ
dan bila
شَاۤءَ
menghendaki
اللّٰهُ
Allah
لَذَهَبَ
niscaya Ia melenyapkan
بِسَمْعِهِمْ
dengan pendengaran mereka
وَاَبْصَارِهِمْ
dan penglihatan mereka
ۗ
اِنَّ
sesungguhnya
اللّٰهَ
Allah
عَلٰى
atas
كُلِّ
setiap
شَيْءٍ
sesuatu
قَدِيْرٌ
Maha Kuasa
ࣖ
﴿٢٠﴾
Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
27 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Begitu dekatnya dari dahsyatnya cahaya kilat menyambar pandangan mereka, walaupun demikian setiap kali cahaya menerangi mereka, maka mereka berjalan pada cahaya itu, dan jika cahayanya menghilang maka jalan pun menjadi gelap bagi mereka sehingga mereka menghentikan langkah di tempat mereka . dan seandainya bukan karena Allah menunda siksa bagi mereka pastilah Allah akan mencabut pendengaran dan penglihatan mereka. Dan Allah Maha Kuasa atas hal tersebut di setiap waktu dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Sumber: https://tafsirweb.com/255-surat-al-baqarah-ayat-20.html
Tafsir as-Sa'di
20. ”Setiap kali kilat itu menyinari mereka, ” yakni kilat dalam kegelapan-kegelapan tersebut, ”mereka berjalan dibawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti, ” yakni mereka diam. Seperti itulah kondisi orang-orang munafik ketika mereka mendengarkan al-Qur’an, perintah-perintahnya, larangan-larangannya, janji dan ancamannya. Mereka meletakkan jari jemari mereka pada telinga-telinga mereka dan mereka berpaling dari perintahnya, larangannya, janjinya dan ancamannya, lalu ancamannya mengusik mereka, janji-janjinya mengganggu mereka, dan mereka berpaling darinya dengan sekuat tenaga, hingga membuat mereka lebih kokoh, mereka membencinya seperti seorang yang terkena hujan dan ia mendengar guruh lalu meletakkan jari jemarinya pada kedua telinganya karena takut dari kematian.Orang seperti ini masih mempunyai kemungkinan memperoleh keselamatan, adapun orang-orang munafik, dari manakah mereka memperoleh keselamatan, padahal Allah ta’ala mengawasi mereka, baik dengan Kuasa maupun ilmuNya, dan mereka tidak akan lepas dariNya dan tidak mampu melemahkan-Nya, bahkan Dia akan mencatat perbuatan-perbuatan mereka lalu kelak akan memberikan balasan atasnya dengan balasan yang setimpal. Dan ketika mereka diuji dengan ketulian, kebutaan, dan kebisuan maknawi serta tertutupnya pintu-pintu keimanan bagi mereka, Allah berfirman, “jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka” yaitu yang bersifat nyata.Ini merupakan sebuah tindakan agar mereka takut, dan peringatan dari hukuman dunia, agar mereka berhati-hati lalu mengambil pelajaran dari sebagian kejahatan dan kemunafikan mereka. “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” Dia tidaklah lemah terhadap apa pun, dan di antara KuasaNya adalah bahwa apabila Dia menghendaki sesuatu, niscaya Dia lakukan, tanpa ada yang bisa menghalangi dan tanpa ada yang bisa merintangi. Dalam ayat ini ada ayat-ayat yang semisalnya ada sebuah jawaban terhadap golongan al-Qadariyah yang berpendapat bahwasanya perbuatan-perbuatan mereka tidaklah termasuk dalam Kuasa Allah ta’ala, karena perbuatan-perbuatan mereka termasuk bagian dari hal-hal yang masuk dalam firmanNya, “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”
Sumber: https://tafsirweb.com/255-surat-al-baqarah-ayat-20.html
Tafsir Al-Wajiz
Orang-orang munafik itu seperti orang yang menerjang petir, mereka berjalan dalam cahaya namun berhenti dalam kegelapan. Ketika kondisi materi keduniaan mereka membaik, mereka mengambil keuntungan dari kenikmatan-kenikmatan itu. Mereka mengumumkan keimanan mereka dan menegakkan Islam.Akan tetapi ketika mereka mendapatkan cobaan, mereka berhenti berjalan, marah, memakai pakaian kafir mereka dan menunjukkan kemunafikan mereka. Dan Allah berkuasa untuk tidak membuat mereka cacat sedikitpun. Apabila berkehendak, niscaya Dia akan melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka
Sumber: https://tafsirweb.com/255-surat-al-baqarah-ayat-20.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ini merupakan perumpamaan lain yang dibuat oleh Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang munafik. Mereka adalah kaum yang terkadang melihat kebenaran dan terkadang meragukannya. Lalu hati mereka selalu bergejolak dalam keragu-raguan, kekafiran, dan kebimbangan seperti (Atau seperti hujan lebat)."Ash-Shaibu" artinya adalah hujan, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, beberapa sahabat, Abu Al-‘Aliyah, Mujahid, Sa'id bin Jubair, ‘Atha, Hasan Al-Bashri, Qatadah, ‘Athiyyah Al-‘Aufi, ‘Atha’ Al-Khurasani, As-Suddi, dan Ar-Rabi' bin Anas. Ad-Dhahhak berkata, bahwa (Ash-Shaibu) maknanya adalah awan. Makna yang lebih populer adalah hujan yang turun dari langit, yang terjadi dalam keadaan gelap; Hal itu merujuk pada keraguan, kekafiran, dan kemunafikan. (Ar-Ra’du) adalah sesuatu yang membuat hati gelisah karena ketakutan; karena ketakutan dan kengerian yang sangat parah itu berpengaruh bagi orang-orang munafik, dan kengerian; sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman (Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka) [Surah Al-Munafiqun: 4], dan juga berfirman: (Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu) (56) Jikalau mereka memperoleh tempat perlindunganmu atau gua-gua atau lobang-lobang (dalam tanah) niscaya mereka pergi kepadanya dengan secepat-cepatnya. (57) [At-Taubah]. (Al-Barqu) yaitu cahaya keimanan yang menyilaukan di hati-hati orang-orang munafik pada beberapa waktu; karena itu Allah berfirman: (mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati.Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir) maknanya yaitu tidak berguna sedikitpun kewaspadaan mereka, karena Allah meliputi mereka dengan kekuasaanNya, dan mereka berada di bawah kehendak dan keinginanNya; sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman (Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang (17) (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? (18) Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan (19) padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka (20)) [Al-Buruj]. Kemudian dikatakan (Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka) karena kekuatannya yang sangat dahsyat, dan kelemahan penglihatan, serta hilangnya keyakinan untuk beriman. Dari Ibnu Abbas, berkata bahwa (Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka) maksudnya yaitu hampir saja ayat-ayat Al-Quran menyingkap aib orang-orang munafik.Dari Ibnu Abbas berkata bahwa (Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka) itu karena kekuatan besar dari cahaya kebenaran itu (Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti), maknanya yaitu setiap kali sedikit keimanan tampak bagi mereka, mereka bergembira karenanya dan mengikutinya, dan terkadang keraguan datang kepada mereka, dan menjadikan hati mereka gelap, dan mereka berhenti dalam keadaan bimbang. Dari Ibnu Abbas, berkata,”makna (Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu) yaitu, setiap kali mereka merasakan dampak dari kemuliaan Islam, mereka merasa tenang, dan jika Islam menghadapi kesulitan, mereka kembali kepada kekafiran, seperti firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat) [Surah Al-Hajj: 11].Dari Ibnu Abbas berkata, bahwa makna (Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti) yaitu mereka mengetahui dan membicarakan tentang kebenaran, lalu dalam perkataannya mereka akan berpegang teguh pada hal itu, namun ketika mereka tergoda dengan kekafiran (mereka bimbang), yaitu kebingungan. Hal ini juga dikatakan oleh Abu Al-‘Aliyah, Hasan Al-Bashri, Qatadah, dan Ar-Rabi' bin Anas, dan As-Suddi dengan dengan sanadnya dari para sahabat; dan ini adalah pendapat yang paling benar dan jelas. Hanya Allah yang lebih Mengetahui.Begitulah keadaan mereka pada hari kiamat, ketika manusia diberi cahaya sesuai keimanannya, yaitu sebagian dari mereka ada yang diberi cahaya yang akan menerangi jalannya dengan jarak yang sangat jauh atau bahkan lebih dari itu, ada pula yang cahayanya sesekali padam dan menyala, dan ada yang berjalan di atas shirat dengan sesekali berhenti, serta ada yang cahayanya padam sepenuhnya, dan mereka itu murni orang-orang munafik yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى (Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)" [Surah Al-Hadid: 13]).Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang hak orang-orang beriman: ((yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai) [Al-Hadid: 12]. Allah سبحانه وتعالى juga berfirman: (pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". [Surah At-Tahrim: 8]. Dari Abdullah bin Mas'ud berkata makna (sedang cahaya mereka memancar di hadapan) [Surah At-Tahrim: 8] maknanya yaitu sesuai dengan amal perbuatan, mereka akan melewati shirat, di antara mereka ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang cahayanya seperti pohon kurma, dan yang paling redup cahayanya di antara mereka, adalah orang yang cahayanga ada di ibu jarinya yang sesekali menyala dan padam.Ad-Dhahhak bin Muzahim berkata, Setiap orang yang memperlihatkan keimanannya di dunia, pada hari kiamat akan diberi cahaya. Lalu, ketika dia mencapai shirat, cahaya orang-orang munafik padam. Ketika orang-orang mukmin melihat itu, mereka menjadi khawatir dan berkata: (Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu) [Surah At-Tahrim: 8] Ketika hal ini telah ditetapkan, orang-orang terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu orang-orang mukmin yang murni dan mereka itu adalah orang-orang yang digambarkan di empat ayat pertama surah Al-Baqarah; orang-orang kafir yang murni dan mereka itu adalah orang-orang yang dijelaskan di dua ayat setelahnya; orang-orang munafik dan mereka itu terdiri dari dua kelompok: orang-orang yang murni munafik, yaitu orang-orang yang diumpamakan sebagai orang yang menyalakan api, dan orang-orang munafik yang ragu-ragu; terkadang tampak pada diri mereka kilauan iman dan terkadang memudar; mereka lah orang yang diumpamakan seperti air (hujan), dan mereka lebih lemah kondisinyaa daripada orang-orang yang disebutkan sebelumnya.Kedudukan ini menyerupai beberapa aspek yang disebutkan dalam surah An-Nur berupa perumpamaan orang beriman. Sesuatu yang ditempakan oleh Allah di dalam hatinya berupa petunjuk dan cahaya (diumpamakan) dengan lampu dalam kaca yang berkilau seperti bintang yang bercahaya seperti mutiara. Itu adalah hati orang mukmin yang bersinar karena keiimanannya dan pengaplikasiannya atas syariat yang murni tanpa noda atau campuran hal lainnya, seperti yang akan dijelaskan di bagian selanjutknya, jika Allah menghendaki.Kemudian, dijelaskan perumpamaan hamba-hamba kafir yang mengira bahwa mereka menguasai segala seuatu, padahal sebenarnya mereka tidak mempunyai apa-apa. Mereka itu orang-orang yang memiliki kebodohan berlipat-lipat, seperti dalam firman Allah سبحانه وتعالى (Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun) (Surah An-Nur: 39).Kemudian, dijelaskan perumpamaan orang-orang kafir yang bodoh dan sederhana. Mereka itu orang-orang yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam firmanNya (Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun (40) (Surah An-Nur).Jadi orang-orang kafir di sini dibagi menjadi menjadi dua kelompok, yaitu penyeru, dan pengikut, seperti yang disebutkan di awal surah Al-Hajj: (Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat (3)) (Surah Al-Hajj), dan firman Allah setelahnya (Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya (8)) (Surah Al-Hajj).Sungguh Allah telah membagi orang-orang di awal dan akhir surah Al-Waqi'ah. Di dalam surah Al-Insan, Allah membagi mereka menjadi dua kelompok: yaitu orang-orang terdahulu dan yang didekatkan, dan orang-orang golongan kanan, yaitu orang-orang yang berbuat kebaikan. Jadi kesimpulan dari seluruh ayat ini bahwa orang-orang mukmin terbagi menjadi dua kelompok, yaitu orang-orang yang didekatkan dan orang-orang yang berbuat baik.Dan orang-orang kafir terbagi menjadi dua kelompok, yaitu para penyeru dan pengikut. Serta orang-orang munafik juga terbagi menjadi dua kelompok, yaitu orang munafik murni, dan orang munafik yang memiliki salah satu ciri-ciri kemunafikan, sebagaimana disebutkan dalam hadits sahih dari Abdullah bin Amr, dari Nabi ﷺ: " Ada tiga tanda, jika seseorang memiliki tiga tanda ini, maka ia disebut munafik murni. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: orang yang jika berbicara, dia berdusta, jika membuat janji, tidak dipenuhi, dan jika diberi amanat, dia khianat " Bukti bahwa seseorang dapat memiliki sebagian keimanan dan sebagian kemunafikan dapat berdasarkan hadis atau keyakinan, sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat, seperti yang diyakini oleh sebagian salaf dan beberapa ulama, seperti yang telah disebutkan sebelumnya dan akan dijelaskan kemudian, jika Allah menghendaki.Dari Abu Sa'id, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Hati itu ada empat macam: hati yang jernih di dalamnya ada cahaya bagaikan pelita yang menyala, hati yang tertutup disalut kantungnya, hati yang terbalik, dan hati yang berlapis-lapis. Adapun hati yang jernih, itu adalah hati orang beriman dengan cahaya imannya. Adapun hati yang tertutup, itu adalah hati orang kafir.Adapun hati yang terbalik, itu adalah hati orang munafik tulus, ia mengenali kebenaran kemudian menolaknya. Adapun hati yang berlapis-lapis, itu adalah hati yang berisi iman dan kemunafikan. Perumpamaan iman dalam hati itu seperti biji lobak, diberi air yang baik, dan perumpamaan kemunafikan dalam hati itu seperti luka yang membusuk, berisi nanah dan darah, maka yang mana dari dua bahan ini yang lebih mendominasi, maka dialah yang lebih dominan." Demikianlah sanad yang baik dan kuat.Dan firman Allah, "Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Allah membawa pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. An-Nur), menurut riwayat Ikrimah atau As-Suddi Jadi, ringkasannya dari keseluruhan ayat-ayat yang agung ini adalah bahwa orang beriman terbagi menjadi dua kelompok yang mendapat keberuntungan dan mendekatkan diri kepada Allah, yaitu orang-orang yang shalih. Dan orang-orang kafir terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pemberi seruan dan pengikutnya.Dan juga orang-orang munafik terbagi menjadi dua kelompok, yaitu munafik tulus, dan munafik dengan sifat-sifat nifaq. Seperti yang disebutkan dalam dua kitab sahih dari Abdullah bin Amr, dari Nabi Muhammad ﷺ, 'Ada tiga tanda, jika ada dalam diri seseorang, dia adalah munafik tulus, jika ada dalam dirinya salah satunya, dia memiliki sifat-sifat nifaq, sehingga dia meninggalkannya ketika berbicara dia berdusta, ketika berjanji dia ingkar, dan ketika dipercayai dia berkhianat.' Mereka menggunakan hadis ini sebagai dalil yang menyatakan bahwa seseorang terkadang memiliki ciri-ciri keimanan dan ciri-ciri kemunafikan, baik dalam perbuatan maupun keyakinan, sebagaimana yang telah ditunjukkan dalam ayat itu, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian kelompok ulama’ terdahulu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya dan akan dijelaskan pada bagian selanjutnya, jika Allah menghendaki. Dari Abu Sa'id, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Hati itu ada empat macam; hati yang bersih, hati itu seperti lentera yang bercahaya, hati yang tertutup, hati itu terikat dengan tutupnya, hati yang sakit, dan hati yang terbalik.Adapun hati yang bersih adalah hatinya orang beriman, itu seperti lentera yang bercahaya, sedangkan hati yang tertutup adalah hatinya orang kafir, hati yang sakit adalah hati orang munafik, hati itu mengetahui yang baik namun mengingkarinya, dan hati yang terbalik adalah hati yang di dalamnya ada iman dan kemunafikan, contoh keimanan di situ adalah seperti tanah yang dapat memberikan air yang bersih, sedangkan kemunafikan adalah seperti bisul, di dalamnya hanya nanah dan darah, maka di antara keduanya yang paling kuat akan menguasai yang lainnya.' Hadits ini memiliki sanad yang baik, dan merupakan hadits hasan Dari ‘Ikriman, atau Sa’in bin Jubair, dari Ibnu Abbas, berkata bahwa makna firman Allah, (Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu( yaitu, ketika mereka meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya. (Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu), Ibnu Abbas berkata, maknanya yaitu bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu yang Dia kehendaki pada hamba-hambaNya, baik berupa siksaan atau ampunan. Ibnu Jarir berkata, “Allah سبحانه وتعالى hanya menggambarkan DzatNya dengan kuasa atas segala sesuatu di sini, karena Dia memperingatkan orang-orang munafik dengan azab dan kekuasaanNya, dan memberitahu mereka bahwa Dia meliputi mereka dan Maha Kuasa untuk melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Makna dari "Qadiir" itu adalah (Qaadir) "Maha Kuasa", sama seperti makna (‘Aalim) “Maha Mengetahui”.Ibnu Jarir Ath-Thabari dan para mufasir yang mengikutinya berpendapat bahwa kedua contoh ini adalah dua perumpamaan untuk satu golongan dari orang-orang munafik. Kata sambung"Aw" dalam firman Allah (Aw Kashayyibin minas samaa’i) mempunyai makna "wawu" (dan) seperti (dalam) firman Allah (dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.) (Surah Al-Insan: 24), atau bisa mengandung makna memilih, yaitu: Buatlah perumpamaan bagi mereka dengan ini, dan jika kamu berkehendak (bisa) dengan ini.Al-Qurtubi berkata: kata “Aw” menunjukkan makna persamaan, seperti contoh Duduklah bersama Al-Hasan atau Ibnu Sirin. Menurut pendapat Az-Zamakhshari, keduanya adalah sama-sama boleh dipilih untuk duduk bersamanya. Maksudnya itu seperti ungkapannya: "Sama saja, aku berikan contoh ini atau itu, karena hal itu sesuai dengan kondisi mereka.Saya berkata, “Hal ini dapat menggambarkan jenis orang-orang munafik. Mereka terdiri dari beberapa jenis dan memiliki banyak penggambaran sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam Surah At-Taubah; yaitu pada beberapa ayat yang didahului dengan minhum yang menyebutkan keadaan dan penggambaran mereka, serta perbuatan dan ucapan yang mereka yakini.Maka menjadikan kedua perumpamaan ini untuk dua jenis orang-orang munafik itu lebih sesuai dengan kodisi dan penggambaran mereka. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui. sebagaimana diberikan dua perumpamaan dalam Surah An-Nur untuk dua jenis orang kafir, yaitu penyeru dan pengikut, dalam firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana....) sampai firmanNya (Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam....) )Surah An-Nur 39-40(, firman yang pertama itu untuk para penyeru yang berada dalam kebodohan yang berlipat-lipat, sedangkan firman kedua itu untuk para pengikut yang memiliki tingkat kebodohan yang sederhana.Dan hanya Allah yang lebih Mengetahui kebenaran.
Sumber: https://tafsirweb.com/255-surat-al-baqarah-ayat-20.html
Informasi
Surat
البقرة (Al-Baqarah)
Sapi — 286 ayat
Tempat Turun
Madaniyah
Ayat ke-
20 dari 286 ayat
Juz
Juz 1
Halaman
Halaman 4
Ruku
Ruku 3
Manzil
Manzil 1
Hizb
Hizb 1 (1/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-27 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-2