البقرة (Al-Baqarah)
Per AyatMushaf
۞
قَوْلٌ
perkataan
مَّعْرُوْفٌ
yang baik
وَّمَغْفِرَةٌ
dan pemberian maaf
خَيْرٌ
lebih baik
مِّنْ
daripada
صَدَقَةٍ
sedekah
يَّتْبَعُهَآ
ia mengiringinya
اَذًى
gunjingan
ۗ
وَاللّٰهُ
dan Allah
غَنِيٌّ
Maha Kaya
حَلِيْمٌ
Maha Penyantun
﴿٢٦٣﴾
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun.
270 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Perkataan baik yang dipakai menjawab orang yang meminta dan pemberian maaf terhadap sikap yang tampak dari peminta-minta berupa desakan dalam meminta itu lebih baik dari pada sedekah yang diiringi dengan menyakiti hati dan perlakuan buruk dari pemberi sedekah. Allah Mahakaya, tidak membutuhkan sedekah-sedekah hamba-hambaNya, lagi Maha penyantun, tidak menyegerakan siksaan pada mereka.
Sumber: https://tafsirweb.com/1029-surat-al-baqarah-ayat-263.html
Tafsir as-Sa'di
263. Allah menyebutkan empat tingkatan dalam kebajikan: Tingkatan pertama: Nafkah yang terlahir dari niat yang shalih dan pemberi nafkah tidak mengiringinya dengan menyebut-nyebutnya dan menyinggung perasaan si penerima. Tingkatan kedua: Berkata yang baik, yaitu kebajikan berupa perkataan dengan segala bentuknya yang mengandung kebahagiaan bagi seorang Muslim, meminta maaf dari orang yang meminta apabila dia tidak memiliki apa yang diminta, dan sebagiannya dari perkataan yang baik.Tingkatan ketiga: Kebajikan dengan memberi maaf dan ampunan kepada orang yang telah berlaku buruk kepada anda, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Dua yang terakhir ini lebih utama dan lebih baik dari tingkatan berikut. Tingkatan keempat: Pemberi infak itu mengiringi infaknya dengan perlakuan menyakitkan kepada penerimanya karena dia telah mengotori kebaikannya tersebut dan dia telah berbuat baik dan jahat (sekaligus).Kebajikan yang murni walaupun sangat sedikit adalah lebih baik daripada kebajikan yang dicampuri oleh keburukan walaupun kebajikan itu banyak. Ini merupakan ancaman yang keras terhadap orang yang berinfak yang menyakiti orang yang diberikan nafkahnya tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang suka mencela dan bodoh. “Dan Allah” yang Mahatinggi adalah juga “Maha Kaya” dari sedekah-sedekah mereka dan dari seluruh hamba-hambaNya, “lagi Maha Penyantun”; di samping kesempurnaan kekayaanNya dan luasnya pemberian dariNya, Dia Penyantun terhadap pelaku-pelaku maksiat. Dia tidak menyegerakan hukuman bagi mereka, akan tetapi Dia memberikan keselamatan kepada mereka, memberi mereka rizki, meluaskan bagi mereka kebaikanNYa; namun mereka menentang Allah dengan bermaksiat kepadaNya.Kemudian Allah melarang dengan sangat keras dari mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti orang yang diberi. Allah membuat perumpamaan tentang itu dengan FirmanNya,
Sumber: https://tafsirweb.com/1029-surat-al-baqarah-ayat-263.html
Tafsir Al-Wajiz
263. Perkataan dan tanggapan yang baik terhadap orang yang meminta maaf, serta penutupan, pengabaian dan pemaafan kesalahan bagi orang yang mendesak untuk meminta maaf itu lebih baik daripada sedekah yang diberikan kepadanya namun disertai dengan manna (membicarakan pemberian) dan sesuatu yang menyakitinya melalui ucapan ataupun tindakan. Allah tidak butuh sedekah semacam ini dan Allah itu Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya, sehingga tidak mendahulukan hukumannya, melainkan menundanya
Sumber: https://tafsirweb.com/1029-surat-al-baqarah-ayat-263.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 262-264 Allah سبحانه وتعالى memuji orang-orang yang berinfak di jalanNya, kemudian mereka tidak mengikutkan dari apa yang telah mereka infakkan berupa kebaikan dan sedekah itu dengan penyebutan dari apa yang dia beri, sehingga dia tidak mengungkit-ungkit apa yang dia berikan kepada seseorang tidak dengan ucapan maupun tindakan. Firman Allah: (dan dengan tidak menyakiti) yaitu bersama dengan perbuatan baik itu, mereka tidak melakukan hal yang dibenci, sehingga menjadikan sia-sia kebaikan yang telah dia lakukan sebelumnya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjanjikan kepada mereka balasan yang besar atas hal itu.Allah berfirman: (mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka) yaitu pahala mereka ada di sisi Allah, bukan pada selainNya, (Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka) yaitu dalam menghadapi apa yang akan mereka hadapi berupa kengerian di hari kiamat. (dan tidak (pula) mereka bersedih hati) yaitu mereka tidak bersedih atas apa yang mereka tinggalkan berupa anak-anak dan apa yang mereka lewatkan di kehidupan dunia beserta segala keindahannya, karena mereka telah sampai pada keadaan yang lebih baik bagi mereka daripada semua itu.Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Perkataan yang baik) yaitu ucapan yang baik dan doa seorang muslim, (dan pemberian maaf) yaitu pemaafan dan pengampunan atas kezaliman baik dalam perkataan maupun perbuatan, (lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan) (Allah Maha Kaya) dari makhlukNya (Maha Penyantun) yaitu Allah memberikan maaf, ampunan, dan membiarkan mereka. Telah disebutkan dalam hadits terkait larangan memberikan sedekah dengan mengungkit-ungkit. Dalam hadits shahih Muslim, dari hadits Syu'bah dari Al-A'masy dari Sulaiman bin Mashar dari Khursyah bin Al-Hurr dari Abu Dzar, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka tidak juga mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih.“Orang yang selalu mengungkit pemberiannya, orang yang melebihkan sarungnya, dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” Oleh karena itu, Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti) Dia memberitahukan bahwa sedekah akan batal apabila diiringi dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti.Maka tidak akan tersisa pahala sedekah itu karena dosa yang diakibatkan oleh mengungkit-ungkitnya dan menyakiti (orang yang diberi). Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman: (seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia) yaitu, janganlah membatalkan sedekah kalian dengan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti (orang yang diberi) sebagaimana sedekah yang batal karena riya kepada manusia. Allah menampakkan kepada mereka bahwa sedekah itu hanya karena Allah semata, dan tujuannya hanyalah agar manusia memujiNya atau mengenalinya dengan sifat-sifat yang indah, agar manusia bersyukur.Atau bisa juga dikatakan: Dia adalah Dzat yang Maha Mulia, dan hal-hal semacam itu yang bersifat duniawi, dengan memutuskan pandangan dari Allah سبحانه وتعالى dan mencari keridhaanNya serta pahala yang besar. Karena itu, Allah berfirman: (dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir) Kemudian Allah membuat perumpamaan orang itu dengan infak yang dia lakukan Adh-Dhahhak berkata, “Orang yang mengiringi infaknya dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti (orsng yang diberi) itu seperti firman Allah (Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin) itu adalah bentuk jamak dari “Shafwanah” Di antara mereka ada yang mengatakan ““As-Shafwan” itu digunakan untuk kata mufrad yaitu “Ash-Shafa”, yaitu batu yang licin. (yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat) yaitu hujan yang sangat deras. (lalu menjadilah dia bersih) yaitu tanah itu meninggalkan batu itu dan menjadikannya bersih, yaitu licin dan kering, tidak ada sesuatupun yang tersisa dari tanah itu di atasnya, bahkan semuanya hilang, yaitu begitulah amal orang-orang menghilang dan lenyap di sisi Allah.Jika mereka menampakkan amal mereka di hadapan manusia itu layaknya tanah.Oleh karena itu Allah berfirman: (Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir)
Sumber: https://tafsirweb.com/1029-surat-al-baqarah-ayat-263.html
Informasi
Surat
البقرة (Al-Baqarah)
Sapi — 286 ayat
Tempat Turun
Madaniyah
Ayat ke-
263 dari 286 ayat
Juz
Juz 3
Halaman
Halaman 44
Ruku
Ruku 37
Manzil
Manzil 1
Hizb
Hizb 9 (18/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-270 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-2