الشعراۤء (Asy-Syu'ara')
Per AyatMushaf
اِلَّا
kecuali
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
اٰمَنُوْا
beriman
وَعَمِلُوا
dan mereka berbuat/beramal
الصّٰلِحٰتِ
kebajikan/saleh
وَذَكَرُوا
dan mereka mengingat
اللّٰهَ
Allah
كَثِيْرًا
banyak
وَّانْتَصَرُوْا
dan mereka mendapat pertolongan
مِنْۢ
dari
بَعْدِ
sesudah
مَا
apa
ظُلِمُوْا
mereka teraniaya
ۗوَسَيَعْلَمُ
dan pasti akan mengetahui
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
ظَلَمُوْٓا
mereka teraniaya
اَيَّ
dimana/mana
مُنْقَلَبٍ
tempat kembali
يَّنْقَلِبُوْنَ
mereka kembali
ࣖ
﴿٢٢٧﴾
Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.
3159 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Allah mengecualikan dari para penyair itu para penyair yang mendapatkan hidayah dengan keimanan, dan beramal shalih, serta memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut) Allah. mereka melantunkan syair tentang mentauhidkan Allah, pujian kepadaNya, Dzat Yang Mahatinggi namaNya, membela Rasulullah Muhammad, mengucapkan kata-kata dengan hikmah, nasihat dan adab-adab yang luhur, serta membela Islam. Mereka mengolok orang yang mengolokNya atau mengolok RasulNya, sebagai sanggahan terhadap para penyair dari orang-orang kafir. Dan orang-orang yang zhalim terhadap diri mereka dengan perbuatan syirik dan maksiat dan menzhalimi orang lain dengan melecehkan hak orang atau menganiaya mereka atau dengan tuduhan-tuduhan yang batil, akan mengetahui tempat kembali manakah dari tempat kembali yang buruk lagi membinasakan yang akan mereka tempati kelak?Sesungguhnya itu adalah tempat kembali yang buruk. Kami memohon kepada Allah keselamatan dan terbebas dari segala keburukan.
Sumber: https://tafsirweb.com/6637-surat-asy-syuara-ayat-227.html
Tafsir as-Sa'di
227 setelah Allah menjelaskan kondisi para penyair dengan penjelasan yang telah Dia jelaskan itu, Dia mengecualikan orang yang beriman (dari para penyair itu) kepada Allah, kepada RasulNya dan beramal shalih, suka memperbanyak dzikir kepada Allah dan melawan musuh-musuhnya dari kaum musyrikin setelah menganiaya mereka. Sehingga syair mereka menjadi bagian dari amal shalih dan buah dari iman mereka, karena (syair-syair mereka) mengandung pujian terhadap orang-orang beriman dan perlawanan terhadap ahli syirik dan kafir, serta pembelaan terhadap agama Allah dan penjelasan terhadap ilmu-ilmu yang bermanfaat dan himbauan untuk berakhlak mulia, seraya berfirman, “kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal shalih dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezhaliman. Dan orang-orang yang zhalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali,” yaitu ke tempat hisab yang mana tidaklah ia melewati suatu perbuatan (dosa) kecil dan besar melainkan pasti ia mengitungnya, dan tidaklah melewati suatu hak melainkan pasti memenuhinya.
Sumber: https://tafsirweb.com/6637-surat-asy-syuara-ayat-227.html
Tafsir Al-Wajiz
227. Kecuali penyair-penyair yang memiliki empat sifat yaitu beriman kepada Allah dan rasul, beramal saleh melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Senantiasa banyak menyebut Allah dalam puisi mereka, dan menolong agama mereka dari orang-orang zolim/musuh mereka atau orang-orang kafir.Seperti apa yang sudah dilakukan dua penyair pada zaman Nabi yaitu Hasan bin Tsabit dengan melawan orang musyrik dan mendukung Nabi dan seruan Islam. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. Munqalib adalah tempat kembali atau tempat tinggal, yanqalibun adalah kembali.
Sumber: https://tafsirweb.com/6637-surat-asy-syuara-ayat-227.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 221-227 Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya berbicara kepada orang-orang musyrik yang menduga bahwa apa yang disampaikan Rasulullah ﷺ bukanlah kebenaran, dengan dalih bahwa itu hanyalah buat-buatan beliau sendiri, atau dia diberi penglihatan oleh jin. Maka Allah membersihkan beliau dari ucapan dan tuduhan mereka, dan menegaskan bahwa sesungguhnya apa yang disampaikan olehnya itu dari sisi Allah. Dan bahwa itu adalah wahyuNya yang Dia turunkan kepada beliau melalui malaikat yang mulia, dipercaya dan mempunyai kedudukan agung.Dan bahwa Al-Qur'an itu sama sekali bukan dari setan, karena sesungguhnya setan tidak mempunyai keinginan seperti Al-Qur'an yang agung, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya membisikkan kedustaannya kepada orang-orang yang seperti mereka dan sependapat dengan mereka dari kalangan para dukun yang berdusta. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Apakah akan Aku beritakan kepada kalian) yaitu aku beritahukan kepada kalian (kepada siapa setan-setan itu turun? (221) Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa) yaitu, pendusta dalam ucapannya dan banyak (dosanya), yakni durhaka dalam semua perbuatannya. Orang-orang seperti mereka itulah yang selalu didatangi oleh setan, yaitu para dukun dan orang-orang yang serupa dengan mereka, dari kalangan orang yang berdusta dan durhaka. karena setan juga suka berdusta dan durhaka (mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu) yaitu setan-setan itu mencuri dengar dari berita langit, dan satu kalimat yang mereka dengar tentang ilmu ghaib, lalu mereka menambahinya dengan seratus kedustaan.Kemudian mereka menyampaikannya kepada pendukung-pendukung mereka dari kalangan manusia. Lalu para manusia itu menceritakannya kepada orang lain, dan banyak orang yang membenarkan apa yang mereka katakan karena kebenaran mereka dalam kalimat yang telah didengarkan dari langit itu dengan kenyataan yang terjadi.. Sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Urwah bin Az-Zubair.Dia berkata bahwa Aisyah pernah berkata bahwa ada segolongan orang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang dukun, maka beliau ﷺ menjawab,"Sesungguhnya mereka itu tidak benar sama sekali" Mereka bertanya,"Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka menceritakan sesuatu yang sesuai dengan kejadiannya yang terjadi" Nabi ﷺ menjawab: “Itu berasal dari berita yang benar yang dicuri oleh jin, lalu dia membisikkan ke telinga kekasihnya bagaikan suara kokokan ayam jantan, dan dia mencampuradukkannya dengan seratus dusta lebih” Firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat (224)) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang kafir itu diikuti oleh manusia dan jin yang sesat. Demikian juga dikatakan Mujahid, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan selain keduanya. Firman Allah سبحانه وتعالى: (Tidakkah kamu melihat bahwa mereka mengembara di tiap-tiap lembah (225)) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa mereka larut di setiap perbuatan yang tidak ada gunanya Qatadah berkata bahwa yang dimaksud adalah penyair yang memuji suatu kaum dengan bathil dan mencaci kaum yang lain dengan bathil.Firman Allah سبحانه وتعالى: (dan bahwa mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya? (226)) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa kebanyakan ucapan mereka adalah dusta. Apa yang dikatakan Ibnu Abbas ini memang suatu kenyataan, karena para penyair biasa membangga-banggakan ucapan dan perbuatan yang sama sekali tidak dilakukan oleh seorangpun dari mereka dan tidak pula diriwayatkan dari mereka, Mereka selalu mengatakan hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan. Makna yang dimaksud adalah bahwa Rasulallah ﷺ yang diturunkan Al-Qur'an kepada beliau bukanlah seorang dukun dan bukan pula seorang penyair, karena keadaan beliau bertentangan dengan keadaan mereka dari berbagai segi secara jelas.Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya; Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan (69)), (Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia (40) dan Al-Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kalian beriman kepadanya (41) Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran darinya (42) Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam (43) (Surah Al-Haqqah) Demikian juga Allah berfirman di sini: (Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam (192) dia dibawa turun oleh Ruhul Amin (Jibril) (193) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan (194) dengan-bahasa Arab yang jelas (195)) (Surah Asy-Syu'ara') sampai firmanNya (Dan Al-Qur’an itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan (210) Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al-Qur’an itu, dan mereka pun tidak akan kuasa (211) Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengar Al-Qur'an itu (212) (Surah Asy-Syu'ara') sampai firmanNya: (Apakah akan Aku beritakan kepada kalian kepada siapa setan-setan itu turun? (221) Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa (222) mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta (223) Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat (224) Tidakkah kamu melihat bahwa mereka mengembara di tiap-tiap lembah? (225) dan bahwa mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya (226)) Firman Allah: (kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh) Akan tetapi pengecualian ini termasuk ke dalam pengertian bahwa semua penyair Anshar dan lainnya, sehingga termasuk juga ke dalamnya para penyair yang serupa dengan mereka dari kalangan para penyair Jahiliah yang mencela Islam dan para penganutnya, kemudian bertaubat dan kembali kepada Allah serta meninggalkan kebiasaan buruknya itu dan beramal shalih serta banyak menyebut nama Allah untuk melawan semua perkataan buruk yang pernah dia ucapkan.Sesungguhnya amal kebaikan itu dapat menghapuskan keburukan. Firman Allah سبحانه وتعالى (dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman) Ibnu Abbas berkata, bahwa mereka menjawab syair orang-orang kafir yang menghina orang-orang mikmun. Demikian juga dikatakan Mujahid, Qatadah dan lainnya.Ini seperti yang disebutkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Hassan: “Balaslah mereka atau seranglah syair mereka, dan Jibril akan membantumu” Firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali) sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: ((yaitu) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zhalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk (52)) (Surah Ghafir) Qatadah bin Di'amah berkata tentang firmanNya: (Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali) yaitu para penyair dan lainnya.Diriwayatkan dari Shafwan bin Muhriz, bahwa dia ketika membaca ayat ini, dia menangis sehingga aku berkata bahwa tangisannya itu membuatnya sesak (Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali)
Sumber: https://tafsirweb.com/6637-surat-asy-syuara-ayat-227.html
Informasi
Surat
الشعراۤء (Asy-Syu'ara')
Para Penyair — 227 ayat
Tempat Turun
Makkiyah
Ayat ke-
227 dari 227 ayat
Juz
Juz 19
Halaman
Halaman 376
Ruku
Ruku 326
Manzil
Manzil 5
Hizb
Hizb 75 (150/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-3159 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-26