النمل (An-Naml)
Per AyatMushaf
اِذْ
ketika
قَالَ
berkata
مُوْسٰى
Musa
لِاَهْلِهٖٓ
kepada keluarganya
اِنِّيْٓ
sesungguhnya aku
اٰنَسْتُ
aku melihat
نَارًاۗ
api
سَاٰتِيْكُمْ
aku akan mendatangkan kepadamu
مِّنْهَا
dari padanya
بِخَبَرٍ
dengan kabar
اَوْ
atau
اٰتِيْكُمْ
aku mendatangkan kepadamu
بِشِهَابٍ
dengan api yang menyala
قَبَسٍ
nyala api
لَّعَلَّكُمْ
agar kalian
تَصْطَلُوْنَ
kamu berdiang/memanaskan badan
﴿٧﴾
(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya, “Sungguh, aku melihat api. Aku akan membawa kabar tentang itu kepadamu, atau aku akan membawa suluh api (obor) kepadamu agar kamu dapat berdiang (menghangatkan badan dekat api).”
3166 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Ingatlah kisah Musa, ketika ia berkata kepada keluarganya dalam perjalanannya dari Madyan menuju negeri Mesir, “Sesungguhnya aku menyaksikan api. Aku akan datang kepada kalian dengan membawa berita yang menunjukkan arah jalan yang tepat atau aku akan datang dengan membawa nyala api itu agar kalian dapat menghangatkan diri dengannya dari hawa dingin.”
Sumber: https://tafsirweb.com/6871-surat-an-naml-ayat-7.html
Tafsir as-Sa'di
7 maksudnya, ingatlah kondisi yang utama lagi sangat mulia ini drai kondisi-kondisi Nabi Musa bin Imran, yaitu pada permulaan mendapat wahyu, dan terpilihnya dia menjadi RasulNya, serta pembicaraan Allah secara langsung kepadanya. Yaitu, setelah dia tinggal di negeri madyan dalam beberapa tahun lamanya, kemudian dia berjalan bersma keluarganya drai madyan menuju mesir. Ketika dia di tengah perjalanan, dia tersesat, dan pada saat itu dia berada dalam kegelapan malam yang sangat dingin.Maka dia berkata kepada mereka (keluarganya),” sesungguhnya aku melihat api,” aku melihat adanya api dari kejauhan. “aku nanti akan membawa kepadamu kabar drainya,” tentang jalan, “atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang,” maksudnya, kalian dapat menghangatkan badan. Ini menunjukan bahwa Musa tersesat dan sudah sangat kedinginan dan begitu pula keluarganya.
Sumber: https://tafsirweb.com/6871-surat-an-naml-ayat-7.html
Tafsir Al-Wajiz
7. Ingatlah wahai Nabi, ketika Musa berkata kepada istrinya dalam perjalanan Madyan menuju Mesir: "Sesungguhnya aku melihat api dari kejauhan. Aku kelak akan membawa kepadamu khabar dari api itu, agar dapat menunjukkan jalan untuk kita.Atau aku akan membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat menghangatkan diri dari dingin".
Sumber: https://tafsirweb.com/6871-surat-an-naml-ayat-7.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 7-14 Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada RasulNya nabi Muhammad ﷺ seraya mengingatkan kepada beliau tentang perkara nabi Musa saat Allah memilihnya, mengajaknya bicara langsung, dan membuatnya bermunajat, dan memberinya mukjizat-mukjizat yang agung dan jelas serta dalil-dalil yang dapat mengalahkan musuh. Allah mengutusnya kepada Fir'aun dan para pembesar kaumnya, lalu mereka membangkang, dan mengingkarinya serta enggan mengikuti dan taat kepada petunjuknya. Jadi Allah سبحانه وتعالى berfirman: ((Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya) yaitu ingatlah ketika nabi Musa berjalan di malam hari bersama keluarganya, saat itu malam sangat gelap.Lalu nabi Musa menemui nyala api di lereng Bukit Thur, yaitu melihat api yang menyala dan bergerak, lalu dia berkata: (Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepada kalian kabar darinya) yaitu tentang jalan (atau aku membawa kepada kalian suluh api supaya kalian dapat berdiang) yaitu untuk menghangatkan tubuh kalian. Dan sama dengan apa yang dia katakan, yaitu sesungguhnya dia kembali dari api itu dengan membawa berita yang sangat agung. Dia telah mengambil dari api itu cahaya yang agung, Oleh karena itu Allah berfirman: (Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia, "Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu dan orang-orang yang berada di sekitarnya) yaitu setelah nabi Musa sampai ke tempat api itu, dia melihat pemandangan yang menakjubkan dan agung, dimana dia berhenti melihat api itu, dan api itu menyala di sebuah pohon yang hijau, tidak semakin besar melainkan semakin menyala-nyala.Lalu nabi Musa terhenti karena takjub melihat apa yang dia lihat (diserulah dia,"Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu”) Ibnu Abbas berkata bahwa yang dimaksud adalah disucikan, dan (dan orang-orang yang berada di sekitarnya) adalah para malaikat. Firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam) yaitu Dzat yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, tidak ada sesuatu pun dari makhlukNya yang menyerupaiNya, dan tidak ada sesuatupun dari makhlukNya yang dapat meliputiNya. Dia Maha Tinggi, Maha Besar, dan Maha Membedakan semua makhluk.Bumi dan langit tidak dapat memuatNya, bahkan Dialah Dzat yang Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu dan Maha Suci dari kemiripan dengan makhlukNya. Firman Allah سبحانه وتعالى: ((Allah berfirman), "Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (9)) Allah memberitahu kepadanya bahwa yang sedang berbicara kepadanya adalah Tuhannya, Allah yang Maha Perkasa, yang mengalahkan, dan yang menundukkan segala sesuatu, dan Maha Bijaksana dalam semua firman dan perbuatanNya.Kemudian Allah memerintahkannya untuk melemparkan tongkat yang ada di tangannya untuk menunjukkan kepadanya bukti yang jelas bahwa Dialah Dzat yang berbuat, memilih, dan Maha kuasa atas segala sesuatu. Setelah nabi Musa melemparkan tongkatnya dari tangannya, tiba-tiba tongkat itu berubah menjadi ular yang sangat besar, dan gerakannya sangat cepat. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Maka tatkala Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit) Kata “Al-Jan” adalah ular yang cepat dan banyak gerakannya.Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi ﷺ melarang membunuh ular-ular yang ada di rumah-rumah. Setelah nabi Musa menyaksikan hal itu: (larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh) yaitu tidak menoleh ke belakang lagi karena sangat takut yang mencekam ((Allah berfirman), "Hai Musa, janganlah kamu takut.Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak akan takut di hadapanKu") yaitu, janganlah takut terhadap apa yang kamu lihat, sesungguhnya Aku hendak memilihmu sebagai seorang rasul dan Aku akan menjadikanmu sebagai seorang nabi yang terkemuka. Firman Allah سبحانه وتعالى: (tetapi orang yang berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (11)) Ini adalah istisna’ munqati' yang di dalamnya terdapat kabar gembira yang besar bagi manusia, karena disebutkan bahwa barangsiapa yang mengerjakan suatu keburukan, lalu meninggalkannya, bertaubat dan kembali kepada Allah, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman (Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar (82)) (Surah Thaha) dan (Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (110)) (Surah An-Nisa’).Ayat-ayat yang menunjukkan hal ini cukup banyak. Firman Allah: (Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit) Ini adalah mukjizat lainnya yang jelas yang menunjukkan kekuasaan Allah, Dzat yang melakukan segala sesuatu, yang memilih, dan membuktikan kebenaran utusan yang diberikan kepadanya dengan mukjizat. Allah memerintahkan kepadanya untuk memasukkan tangannya ke saku bajunya, dan ketika dia memasukkan dan mengeluarkannya, maka tangannya menjadi putih bersinar, seakan-akan kilat yang menyambar, sangat menyilaukan mata.Firman Allah سبحانه وتعالى: ((Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat) yaitu, kedua mukjizat ini merupakan sebagian dari sembilan mukjizat yang Aku kuatkan kamu dengannya dan Aku menjadikannya sebagai bukti yang membenarkanmu kepada Fir'aun dan kaumnya (Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik) Inilah sembilan mukjizat itu yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى: (Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata) (Surah Al-Isra': 101) sebagaimana penjelasan itu telah disebutkan di sana.Firman Allah سبحانه وتعالى: (Maka tatkala mukjizat-mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka) yaitu dengan jelas dan terang (berkatalah mereka, "Ini adalah sihir yang nyata") Mereka bermaksud menentangnya dengan sihir mereka, tetapi mereka dikalahkan dan kembali dalam keadaan hina (Dan mereka mengingkarinya) yaitu yang tampak pada urusan mereka (padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya) yaitu mereka mengetahui dalam diri mereka bahwa itu adalah kebenaran dari sisi Allah, tetapi mereka mengingkari, membangkang dan bersikap angkuh terhadapnya (Karena kezaliman dan kesombongan (mereka)) yaitu, dalam diri mereka telah tertanam watak zalim dan sombong, tidak mau mengikuti kebenaran. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan) yaitu perhatikanlah, wahai Muhammad, bagaimanakah akibat mereka itu karena Allah membinasakan mereka dengan menenggelamkan mereka semuanya dalam waktu yang singkat. Maksudnya adalah dikatakan,”Waspadalah, wahai orang-orang yang mendustakan Muhammad dan mengingkari Al-Qur,'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, bahwa kalian pasti akan tertimpa azab seperti yang telah menimpa mereka dengan azab yang lebih dahsyat dan lebih kuat, karena sesungguhnya nabi Muhammad ﷺ itu lebih mulia lagi lebih agung daripada nabi Musa, dan bukti beliau lebih jelas dan lebih kuat daripada bukti nabi Musa melalui apa yang dianugerahkan Allah kepada beliau, berupa dalil-dalil yang diiringi dengan apa yang ada pada diri dan kemuliaan akhlak beliau serta berita gembira yang disampaikan oleh para nabi terdahulu tentang beliau dan janji serta ikrar yang diambil Tuhannya darinya.
Sumber: https://tafsirweb.com/6871-surat-an-naml-ayat-7.html
Informasi
Surat
النمل (An-Naml)
Semut-semut — 93 ayat
Tempat Turun
Makkiyah
Ayat ke-
7 dari 93 ayat
Juz
Juz 19
Halaman
Halaman 377
Ruku
Ruku 327
Manzil
Manzil 5
Hizb
Hizb 76 (151/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-3166 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-27