القصص (Al-Qasas)

Per AyatMushaf
فَاَصْبَحَ
maka jadilah dia/Musa
فِى
dalam
الْمَدِيْنَةِ
kota
خَاۤىِٕفًا
ketakutan
يَّتَرَقَّبُ
dia menunggu-nunggu
فَاِذَا
maka tiba-tiba
الَّذِى
(orang) yang
اسْتَنْصَرَهٗ
meminta tolong kepadanya
بِالْاَمْسِ
dengan kemarin
يَسْتَصْرِخُهٗ
ia berteriak kepadanya
ۗقَالَ
berkata
لَهٗ
kepadanya
مُوْسٰٓى
Musa
اِنَّكَ
sesungguhnya kamu
لَغَوِيٌّ
benar-benar orang sesat
مُّبِيْنٌ
yang nyata
﴿١٨﴾
Karena itu, dia (Musa) menjadi ketakutan berada di kota itu sambil menunggu (akibat perbuatannya), tiba-tiba orang yang kemarin meminta pertolongan berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya, “Engkau sungguh, orang yang nyata-nyata sesat.”
3270 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Karenanya, di dalam kota, Musa menjadi takut kepada Fir’aun, ia mencari tahu tentang berita yang diperbincangkan oleh masyarakat terkait dirinya dan korban yang dibunuhnya. Lalu ia melihat temannya yang kemarin beradu senjata dengan orang lain dari suku Qibthi dan meminta pertolongan darinya, maka Musa berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu itu benar-benar banyak berbuat penyimpangan dan nyata kesesatannya.”

Sumber: https://tafsirweb.com/7068-surat-al-qashash-ayat-18.html

Tafsir as-Sa'di

18-19. Setelah terjadi pembunuhan yang dilakukannya terhadap orang yang berasal dari musuhnya, maka dia menjadi “merasa takut menunggu-nunggu di kota itu,” apakah diketahui oleh keluarga Fira’un ataukah tidak? Sebenarnya dia merasa takut, karena dia tahu bahwa tidak akan seorang pun yang berani melakukan perbiatan seperti ini kecuali Musa dari Bani Israil.Ketika dia dalam keadaan seperti itu, “maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin,” untuk melawan musuhnya, “berteriak meminta pertolongan kepadanya,” untuk melawan seorang Qibthi lain. “Musa berkata kepadanya,” seraya mencela sikap orang itu, “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata,” maksudnya nyata kesesatannya dan menampakkan kelancangan. “Maka tatkala dia hendak memegang dengan keras,” maksudnya, Musa hendak mencengkeram dengan keras “orang yang menjadi musuh keduanya,” musuhnya dan musuh orang yang meminta pertolongan kepada Musa. Maksudnya, pada saat perkelahian sedang berlangsung antara orang dari bangsa Qibthi dan seorang berkebangsaan Israil, maka yang dari bangsa Israil ini meminta pertolongan kepada Musa, lalu jiwa kesukuan pun bangkit hingga membuat Musa bermaksud menampar orang Qibthi itu, maka “musuhnya berkata,” maksudnya orang yang dari bangsa Qibthi itu berkata kepada Musa untuk mencela tindakannya membunuh orang lain, “apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di bumi ini,” karena diantara jejak terbesar dari tindakan orang yang semena-mena di bumi ini adalah membunuh jiwa manusia dengan alasan tidak benar, “dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian.” Kalau tidak, dan kalau seandainya kamu menghendaki perdamaian, niscaya kamu telah melerai antara aku dengannya tanpa harus membunuh salah satu (di antara kami).Maka Musa menahan diri dari membunuhnya dan sadar karena nasihat dan tegurannya.

Sumber: https://tafsirweb.com/7068-surat-al-qashash-ayat-18.html

Tafsir Al-Wajiz

18. Karena itu, Musa merasa takut, menunggu-nunggu dengan khawatir akibat perbuatannya di kota itu, maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: "Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata kesesatannya"

Sumber: https://tafsirweb.com/7068-surat-al-qashash-ayat-18.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 18-19 Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya memberitahukan tentang keadaan nabi Musa setelah membunuh orang Qibti, bahwa jadilah dia: (di kota itu merasa takut) yaitu karena apa yang telah dia perbuat (menunggu-nunggu dengan khawatir) yaitu memantau apa yang akan terjadi terkait perkara itu. Maka di jalan dia bertemu dengan orang yang dia tolong kemarin menghadapi orang Qibti. Ternyata dia sedang berkelahi dengan orang lain.Ketika orang itu melihat nabi Musa, dia meminta tolong lagi kepada nabi Musa untuk menghadapi orang lain itu. Maka nabi Musa berkata kepadanya: (Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)) yaitu, jelas kesesatannya dan banyak keburukannya. Lalu nabi Musa berniat memukul orang Qibti itu, tetapi orang Israil yang lemah dan hina itu mengira bahwa nabi Musa hendak memukulnya karena apa yang dia katakan itu.Maka orang itu membela diri: (Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia?) Hal itu tidak yang mengetahuinya selain dia dan nabi Musa

Sumber: https://tafsirweb.com/7068-surat-al-qashash-ayat-18.html

Informasi

Surat

القصص (Al-Qasas)

Kisah-Kisah — 88 ayat

Tempat Turun

Makkiyah

Ayat ke-

18 dari 88 ayat

Juz

Juz 20

Halaman

Halaman 387

Ruku

Ruku 335

Manzil

Manzil 5

Hizb

Hizb 78 (155/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-3270 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-28