البقرة (Al-Baqarah)

Per AyatMushaf
۞
اِنَّ
sesungguhnya
اللّٰهَ
Allah
لَا
tidak
يَسْتَحْيٖٓ
segan
اَنْ
sesungguhnya
يَّضْرِبَ
membuat
مَثَلًا
perumpamaan
مَّا
berupa
بَعُوْضَةً
nyamuk
فَمَا
bahkan apa
فَوْقَهَا
lebih rendah darinya
ۗ
فَاَمَّا
bahkan apa
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
اٰمَنُوْا
beriman
فَيَعْلَمُوْنَ
maka mereka mengetahui
اَنَّهُ
bahwasanya ia
الْحَقُّ
benar
مِنْ
dari
رَّبِّهِمْ
Tuhannya
ۚ
وَاَمَّا
dan adapun
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
كَفَرُوْا
kafir/ingkar
فَيَقُوْلُوْنَ
maka mereka berkata
مَاذَآ
apa yang
اَرَادَ
menghendaki
اللّٰهُ
Allah
بِهٰذَا
dengan ini
مَثَلًا
perumpamaan
ۘ
يُضِلُّ
Dia menyesatkan
بِهٖ
dengannya
كَثِيْرًا
banyak
وَّيَهْدِيْ
dan Dia memberi petunjuk
بِهٖ
dengannya
كَثِيْرًا
banyak
ۗ
وَمَا
dan adapun
يُضِلُّ
Dia menyesatkan
بِهٖٓ
dengannya
اِلَّا
kecuali
الْفٰسِقِيْنَۙ
orang-orang fasik
﴿٢٦﴾
Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik,
33 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak malu dari kebenaran dengan menyebutkan sesuatu baik sedikit maupun banyak, meskipun hanya menyebutkan perumpamaan dengan sesuatu yang sangat kecil, seperti seekor nyamuk atau lalat dan binatang serupa lainnya. Yang Allah jadikan perumpamaan akan lemahnya semua yang disembah selain Allah. Adapun orang-orang Mukmin mereka mengetahui hikmah Allah dalam membuat perumpamaan dengan sesuatu yang kecil maupun besar dari makhluk-Nya, sedangkan orang-orang kafir mereka mencemooh sembari berkata: “apa maksud Allah membuat perumpamaan dengan serangga-serangga yang hina ini?”.Maka Allah menjawab pengingkaran mereka, bahwa tujuannya adalah untuk menguji dan membedakan mana orang mukmin dan mana orang kafir, karena itu Allah memalingkan dengan perumpamaan tersebut banyak manusia dari kebenaran lantaran penghinaan mereka terhadap bentuk perumpamaan itu dan sebaliknya Allah memberikan Taufik bagi orang selain mereka untuk mendapatkan tambahan keimanan dan hidayah. Dan Allah tidak menzalimi siapapun, karena Dia tidaklah memalingkan dari kebenaran kecuali orang-orang yang sudah keluar dari ketaatan kepada-Nya.

Sumber: https://tafsirweb.com/279-surat-al-baqarah-ayat-26.html

Tafsir as-Sa'di

26. Allah ta’ala berfirman, “sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan,” maksudnya perumpamaan apa pun itu, ”berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu, ” karena perumpamaan meliputi kebijaksanaan dan penjelasan akan kebenaran, sedang Allah tidaklah segan mengungkapkan kebenaran. Dalam hal ini seakan-akan ada sebuah jawaban bagi orang yang mengingkari pemakaian perumpaan dalam hal-hal yang remeh dan memprotes Allah dalam hal tersebut, padahal dalam hal itu tidak ada yang patut diprotes, bahkan hal itu adalah suatu pengajaran Allah ta’ala kepada hamba-hambaNya serta kasih sayangNya kepada mereka, maka wajiblah diterima dengan terbuka dan penuh kesyukuran.Oleh karena itu Allah berfirman, “Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka mengetahui (yakin) bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, ”mereka memahami dan memikirkannya, lalu apabila mereka mengetahui apa yang meliputi hal tersebut dalam perinciannya, niscaya bertambahlah ilmu dan keimanan mereka dengan hal itu, namun bila tidak, niscaya mereka mengetahui bahwasanya hal itu adalah suatu kebenaran dan apa pun yang dikandungnya adalah kebenaran, walaupun kandungan kebenarannya itu tidak dapat mereka mengerti, karena pengetahuan mereka bahwasanya Allah tidaklah membuat perumpamaan itu dengan sia-sia, akan tetapi sebuah hikmah yang tinggi dan nikmat yang dalam. “tetapi mereka yang kafir mengatakan, ’apa maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?’” yakni, mereka menyanggah dan bingung sehingga bertambahlah kekufuran kepada kekufuran yang telah ada pada mereka, sebagaimana bertambahnya keimanan bagi kaum Mukminin kepada keimana mereka.Oleh karena itulah Allah berfirman, “dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberiNya petunjuk.” Demikianlah kondisi kaum Mukminin dan kaum kafir ketika turunnya ayat-ayat al-Qur’an, Allah berfirman : " Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir." (QS. At-Taubah : 124-125) Maka tidak ada kenikmatan yang lebih besar bagi hamba dari turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Walaupun demikian, hal ini bagi suatu kaum menjadi ujian, kebingungan, kesesatan, dan bertambahnya keburukan kepada keburukan yang telah ada pada mereka, sedang bagi kaum yang lain menjadi ujian, rahmat, dan bertambahnya kebaikan yang telah ada pada mereka. Maka Mahasuci Dzat yang telah membeda-bedakan antara hamba-hambaNya dalam memberikan petunjuk dan kesesatan.Kemudian Allah menyebutkan hikmah dibalik penyesatan yang dilakukan olehNya kepada seseorang yang tersesat, seraya berfirman, “ dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, ” yaitu orang-orang yang berpaling dari ketatan kepada Allah dan yang menentang Rosul-rosul Allah yang akhirnya kefasikan itu menjadi sifat paten mereka, dan mereka sendiri tidak ingin merubahnya, maka berjalanlah hikmah Allah bagi mereka dalam menyesatkan mereka, karena mereka tidaklah pantas mendapat petunjuk, sebagaimana berjalannya hikmah dan keutamaaNya dalam memberikan petunjuk kepada orang yang memiliki sifat keimanan dan menghiasi diri mereka dengan amalan-amalan shalih. Kefasikan itu ada dua macam: yang pertama adalah kefasikan yang mengeluarkan seseorang dari Islam yaitu kefasikan yang mengakibatkan keluar dari keimanan seperti yang disebutkan dalam ayat ini dan yang semacamnya, sedangkan yang kedua adalah kefasikan yang tidak mengeluarkan dari keimanan. Sebagaimana dalam Firman-Nya : " Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurot :6)

Sumber: https://tafsirweb.com/279-surat-al-baqarah-ayat-26.html

Tafsir Al-Wajiz

Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan dengan nyamuk atau semacamnya baik kecil maupun besar sebagai nasihat dan pelajaran. Orang-orang mukmin mengetahui bahwa perumpamaan itu benar, tidak berubah, tidak batil dan datang dari Allah. Sedangkan orang-orang kafir, mereka mengolok-olok perumpamaan itu dan meremehkan faidahnya.Allah menghendaki perumpamaan itu untuk menyesatkan suatu kaum dan memberi hidayah bagi kaum lainnya. Akan tetapi kesesatan itu untuk orang-orang fasik, yaitu orang-orang tidak taat kepada Allah. Sesungguhnya mereka berbuat fasik, kemudian Allah menyesatkan mereka dengan kefasikan mereka sendiri.Ayat ini diturunkan sebagaimana disebutkan Ath-Thabari ketika orang-orang kafir menghujat tentang keberadaan Al-Qur’an sebagai kalam Allah dengan berkata: “Sesungguhnya Allah malu membuat perumpamaan dengan sesuatu yang hina seperti lalat, semut, lebah dan laba-laba dan hal itu tidak sesuai dengan ucapan orang-orang yang fasih”

Sumber: https://tafsirweb.com/279-surat-al-baqarah-ayat-26.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Arti ayat ini yaitu bahwa Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia tidak segan atau tidak takut untuk memberikan suatu perumpamaan dengan segala sesuatu baik yang kecil ataupun besar. Huruf "ma" di sini untuk mengurangi penambahan, dan kata (ba'uzhah) mansub sebagai badal, sebagaimana dikatakan: "La adhrabanna dharban ma", Hal itu menunjukkan sesuatu yang lebih rendah, atau kata "ma" itu bisa menjadi isim nakirah yang disifati dengan (ba'uzhah) Ibnu Jarir memilih bahwa "ma" di sini adalah ma maushul, dan (ba'uzhah) dii’rab sesuai dengan I’rabnya. Dia berkata:"Itu merupakan sesuatu yang wajar dalam percakapan orang Arab, bahwa mereka mengi'rabkan shilah dari “ma” dan “man” dengan i'rabnya; karena keduanya terkadang menjadi isim ma’rifah dan terkadang menjdai isim nakirah, sebagaimana yang dikatakan Hasan bin Tsabit: Cukup bagi kami keutamaan atas orang lain Cinta kepada Nabi Muhammad telah menyatu pada diri kami.Terkait firmanAllah سبحانه وتعالى: (atau yang lebih rendah dari itu) itu ada dua pendapat: Pendapat pertama yaitu hal lain selain (nyamuk) dalam ukuran kecil dan kehinaannya, sebagaimana ketika seseorang digambarkan dengan celaan dan kekikiran, lalu pendengarnya akan berkata: "Iya, dan di bawah itu", maksudnya yaitu terkait hal yang telah kamu gambarkan. Ini adalah pendapat Al-Kisa'i dan Abu Ubaidah yang dikatakan oleh Ar-Razi dan kebanyakan para pentahqiq. Dalam hadits: "Seandainya dunia ini mempunyai nilai di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberikan kepada orang kafir setetes airpun." Pendapat kedua: yaitu bahwa (Fa maa fauqaha) maknanya adalah sesuatu yang lebih besar daripada nyamuk, karena tidak ada sesuatu yang lebih hina dan lebih kecil daripada nyamuk.Ini adalah pendapat Qatadah bin Di'amah, dan pendapat itu dipilih Ibnu Jarir, dan dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:"Tidak ada seorang Muslim yang disengat duri atau sesuatu yang lebih besar daripada itu, melainkan dia akan mendapatkan pahala karenanya dan dihapuskan dosanya dengan itu" Hadits ini memberitahukan bahwa hal itu tidak menunjukkan sesuatu yang kecil sebagai perumpamaan, sekalipun sekecil nyamuk. Sebagaimana Allah tidak segan menciptakan nyamuk, begitu juga Dia tidak segan membuat perumpamaan dengan nyamuk, sebagaimana membuat perumpamaan dengan lalat dan laba-laba dalam firmanNya: ) Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya.Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.( (Surah Al-Hajj) Allah juga berfirman: (Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui (41) (Surah Al-Ankabut).Mujahid berkata tentang firman Allah سبحانه وتعالى: (Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu) bahwa maknanya yaitu bahwa perumpamaan yang kecil maupun yang besar, orang-orang mukmin tetap meyakini dan mengetahui bahwa itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka, dan Allah memberi mereka petunjuk dengan perumpamaan-perumpamaan itu. Qatadah berkata bahwa ayat (Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka) maknanya yaitu mereka mengetahui bahwa itu adalah kalam Allah dan itu dari sisiNya Hal yang serupa juga diriwayatkan dari Mujahid, Hasan, Ar-Rabi' bin Anas, dan lainnya Abu Al-'Aliyah berkata: bahwa yang dimaksud dalam (Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka) yaitu perumpamaan ini, sedangkan (tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?") sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam Surah Al-Muddathir (Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri) (Surah Al-Muddatsir: 31) Dia juga berfirman pada ayat ini (Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk.Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik) Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas berkata, mereka adalah orang-orang munafik. Sementara Abu Al-'Aliyah berkata maksud dari (Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik) adalah orang-orang munafik, demikian pula pendapat Ar-Rabi' bin Anas. Qatadah berkata, makna dari (Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik) adalah orang-orang yang berbuat fasik, lalu Allah menyesatkan mereka ke dalam kefasikan mereka.Orang fasik dalam bahasa Arab adalah orang yang keluar dari ketaatan juga. Orang Arab berkata (fasaqa al-ruthbah) ketika buah kurma keluar dari kulitnya; dan karena itu yang dikatakan tentang tikus (tanah) ketika keluar dari liangnya untuk merusak (tanaman). Jadi istilah orang fasik mencakup orang kafir dan orang yang berbuat maksiat, tetapi kefasikan orang kafir lebih besar dan lebih tercela.Sedangkan yang dimaksud dengan orang fasik dalam ayat ini adalah orang fasik yang kafir. Hanya Allah yang lebih mengetahui. Dalil yang menunjukkan bahwa Dia mendeskripsikan mereka yaitu dengan firmanNya, ((yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi.Mereka itulah orang-orang yang rugi (27)) Ciri-ciri ini adalah ciri-ciri orang kafir yang berbeda dengan ciri-ciri orang beriman, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra'd (Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (19) (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian (20) dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk... (21)) sampai firmanNya (Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam) (25) (Surah Ar-Ra’d).Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna perjanjian yang diterangkan untuk orang-orang fasik itu. Beberapa mengatakan bahwa perjanjian itu adalah wasiat Allah kepada makhlukNya, yaitu perintahNya kepada mereka berupa ketaatan dan laranganNya kepada mereka berupa kemaksiatan yang terkandung dalam dalam kitab-kitabNya dan melalui lisan rasul-rasulNya. Lalu mereka melanggarnya dengan tidak melakukan hal tersebut.Ulama’ lain berpendapat bahwa yang dimaksud yaitu perjanjian orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang munafik. Perjanjian dengaan Allah yang mereka langgar, yaitu janji yang ditetapkan oleh Allah atas mereka dalam Taurat berupa amalan yang terkaandung di dalamnya, mengikuti nabi Muhammad ﷺ ketika beliau diutus, mengimaninya dan apa yang dibawa olehnya dari Tuhan mereka. Mereka melanggar hal itu setelah mengetahuinya dengan mengingkari kebenarannya, menolaknya, dan menyembunyikan kebenaran itu dari orang-orang setelah Allah membuat perjanjian dengan mereka untuk menyatakan kebenaran itu kepada manusia, bukan menyembunyikannya.Maka Allah memberitahukan bahwa mereka meninggalkan janji itu dan menjualnya dengan harga yang murah" Ini adalah pendapat yang dipilih Ibnu Jarir, dan adalah pendapat Muqatil bin Hayyan. Ulama’ lain juga berpendapat bahwa ayat ini mencakup semua orang kafir, orang musyrik, dan orang munafik. Allah melakukan perjanjian dengan mereka untuk bertauhid kepadaNya dan menunjukkan bukti-bukti yang menunjukkan ketuhananNya.Allah melakukan perjanjian dengan mereka terkait perintah dan laranganNya yang dijadikan hujjah oleh rasul-rasulNya berupa mukjizat-mukjizat yang tidak dapat disaingi oleh siapa pun, sebagai bukti atas kebenaran para rasulNya. Mereka meelanggaran dan menolak atas pemberitahuan yang telah dibuktikan kebenarannya, dan mendustakan para rasul dan kitab-kitabNya, meskipun mereka mengetahui bahwa apa yang disampaikan adalah benar. Diriwayatkan juga dari Muqatil bin Hayyan hal serupa.Ini merupakan pendapat yang hasan. Pendapat ini juga diikuti oleh Az-Zamakhshari. Dia berkata, "Jika ditanya, apa yang dimaksud dengan perjanjian Allah?Saya berkata: “Itu adalah perjanjian yang tertancap dalam pikiran mereka tentang tauhid, seolah-olah Dia mewasiatkan dan meneguhkan hal itu atas mereka". Itu adalah makna firman Allah, (dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami)( (Surah Al-A'raf: 172) ketika Allah telah membuat perjanjian atas mereka dalam kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka, sebagaimana firmanNya, (dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu) (Surah Al-Baqarah: 40).As-Suddi menyatakan dalam tafsirnya bahwa makna firman Allah,( (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh) adalah apa yang dijanjikan Allah kepada mereka dalam Al-Qur'an, mereka mengakuinya, kemudian mereka mengingkari dan melanggarnya. Dikatakan bahwa makna firman Allah سبحانه وتعالى (dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya) adalah hubungan kekerabatan dan persaudaraan, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Qatadah, seperti firman Allah, (Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (22)) (Surah Muhammad).Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Jarir. Dikatakan bahwa maknanya lebih umum dari itu, yaitu segala yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan dilakukan, telah diutusditinggalkan oleh mereka. Muqatil bin Hayyan mengatakan bahwa makna firman Allah, (Mereka itulah orang-orang yang rugi) maknanya yaitu (kerugian) di akhirat.Ini sebagaimana firman Allah (orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).) Surah Ar-Ra'd: 25).Ibnu Jarir berkata terkait firman Allah سبحانه وتعالى (Mereka itulah orang-orang yang rugi) yaitu bahwa (khasirun) adalah bentuk jamak dari kata (khasir) Mereka adalah orang-orang yang membuat diri mereka merugi dari rahmat Allah karena kemaksiatan mereka, sebagaimana seorang pedagang akan mengalami kerugian dalam perniagaannya dengan meletakkan sebagian modalnya dalam sebuah transaksi penjualan. Begitu juga orang munafik dan orang kafir akan mengalami kerugian dengan menolak rahmat Allah yang diciptakan untuk hamba-hambaNya di hari kiamat, hari dimana mereka akan sangat membutuhkan rahmatNya. Dikatakan tentang itu yaitu seperti seseorang yang mengalami kerugian yang sangat besar, Seperti yang dikatakan oleh Jarir bin 'Athiyyah: Sungguh orang yang kurang ajar itu dalam kerugian, sesungguhnya mereka adalah keturunan bangsa yang telah menciptakan kesesatan"

Sumber: https://tafsirweb.com/279-surat-al-baqarah-ayat-26.html

Informasi

Surat

البقرة (Al-Baqarah)

Sapi — 286 ayat

Tempat Turun

Madaniyah

Ayat ke-

26 dari 286 ayat

Juz

Juz 1

Halaman

Halaman 5

Ruku

Ruku 4

Manzil

Manzil 1

Hizb

Hizb 1 (2/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-33 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-2