الاحزاب (Al-Ahzab)
Per AyatMushaf
مَا
tidak
كَانَ
ada
عَلَى
atas
النَّبِيِّ
nabi
مِنْ
dari
حَرَجٍ
keberatan
فِيْمَا
dalam/tentang apa
فَرَضَ
telah menetapkan
اللّٰهُ
Allah
لَهٗ
baginya
ۗسُنَّةَ
sunnah/peraturan
اللّٰهِ
Allah
فِى
pada
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
خَلَوْا
(mereka) berlalu
مِنْ
dari
قَبْلُ
sebelumnya/dahulu
ۗوَكَانَ
dan adalah
اَمْرُ
perintah/perkara
اللّٰهِ
Allah
قَدَرًا
ketetapan/keputusan
مَّقْدُوْرًاۙ
telah ditetapkan
﴿٣٨﴾
Tidak ada keberatan apa pun pada Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku,
3571 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Nabi Muhammad tidak memikul dosa karena melakukan apa yang Allah halalkan, yaitu menikahi mantan istri anak angkatnya setelah dia diceraikan, sebagaimana Allah menghalalkannya untuk nabi-nabi sebelumnya. Ini adalah Sunnah Allah dalam agama pada orang-orang yang terdahulu dan perkara Allah adalah sesuatu yang telah ditakdirkan dan pasti akan terlaksana.
Sumber: https://tafsirweb.com/7650-surat-al-ahzab-ayat-38.html
Tafsir as-Sa'di
38. Ini adalah sanggahan terhadap tuduhan miring dari orang yang mencela Rasulullah dalam masalah banyaknya istri beliau, dan bahwa sesungguhnya tuduhan miring tersebut adalah tuduhan yang tidak pada tempatnya. Maka Allah berfirman, “TIdak ada suatu keberatan pun atas Nabi,” maksudnya, kesalahan dan dosa, “tentang sesuatu yang telah Allah tetapkan baginya,” yakni tentang istri-istri yang telah Allah tetapkan baginya.Sebab hal ini telah diperbolehkan oleh Allah kepadanya, sebagaimana telah diperbolehkan kepada para nabi sebelumnya. Maka dari itu Allah berfirman, “(Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnahNya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu.Dan ketetapan Allah itu adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku,” maksudnya, pasti harus terjadi.
Sumber: https://tafsirweb.com/7650-surat-al-ahzab-ayat-38.html
Tafsir Al-Wajiz
38. Tidak ada dosa atas apa yang telah Allah halalkan kepada Nabi, yaitu menikahi bekas istri putra angkatnya. Allah telah menetapkannya sebagai kesunnahan sebagaimana sunnah-sunnah lainnya seperti yang sudah diberlakukan kepada umat-umat dan nabi-nabi terdahulu.Sesuatu yang awalnya menjadi beban kemudian Allah menghalalkannya seperti pada kasus masalah pernikahan dan lainnya. Sesungguhnya ketetapan Allah itu pasti. Takdir telah ditulis sesuai kehendak Allah sejak zaman azali.Kalimat maqduran sebagai penekanan
Sumber: https://tafsirweb.com/7650-surat-al-ahzab-ayat-38.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya) yaitu tentang apa yang dihalalkan bagi beliau dan apa yang Dia perintahkan kepada beliau berupa mengawini Zainab yang telah diceraikan anak angkat beliau, Zaid bin Haritsah. Firman Allah سبحانه وتعالى: ((Allah telah menetapkan yang demikian itu) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu) Ini merupakan hukum Allah pada nabi-nabi sebelumnya. Allah tidak sekali-kali memerintahkan kepada mereka untuk melakukan sesuatu yang menyebabkan dosa.Ini merupakan sanggahan terhadap sebagian orang dari kalangan orang-orang munafik yangg menduga terkait berkurangnya martabat beliau karena mengawini bekas istri Zaid yang merupakan maula dan anak angkat beliau (Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku) yaitu, perkara yang telah ditetapkan itu pasti terjadi dan tidak akan bisa dielakkan dan dihalangi, karena apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi.
Sumber: https://tafsirweb.com/7650-surat-al-ahzab-ayat-38.html
Informasi
Surat
الاحزاب (Al-Ahzab)
Golongan Yang Bersekutu — 73 ayat
Tempat Turun
Madaniyah
Ayat ke-
38 dari 73 ayat
Juz
Juz 22
Halaman
Halaman 423
Ruku
Ruku 365
Manzil
Manzil 5
Hizb
Hizb 85 (169/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-3571 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-33