Kembali ke Surat Fatir

فاطر (Fatir)

Surat ke-35, Ayat ke-9

وَاللّٰهُ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَسُقْنٰهُ اِلٰى بَلَدٍ مَّيِّتٍ فَاَحْيَيْنَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ كَذٰلِكَ النُّشُوْرُ

Dan Allah-lah yang mengirimkan angin; lalu (angin itu) menggerakkan awan, maka Kami arahkan awan itu ke suatu negeri yang mati (tandus) lalu dengan hujan itu Kami hidupkan bumi setelah mati (kering). Seperti itulah kebangkitan itu.

📚 Tafsir Al-Muyassar

Allah mengirimkan angin sehingga angina itu menggerakan awan, lalu Kami menumpahkannya ke tanah yang gersang, air hujan turun kepadanya lalu dengannya Kami menghidupkan bumi setelah sebelumnya kering sehingga sekarang ia menghijau karena tumbuh-tumbuhan, seperti penghidupan bumi inilah Allah menghidupkan orang-orang mati pada Hari Kiamat.

Sumber: https://tafsirweb.com/7875-surat-fatir-ayat-9.html

📚 Tafsir as-Sa'di

9. Allah menginformasikan tentang kemahasempurnaan KuasaNya dan kemahaluasan belas kasihNya, dan sesungguhnya Dia-lah “yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati” kemudian Allah menurunkannya di atasnya “lalu Kami hidupkan bumi setelah kematiannya dengan hujan itu,” maka hiduplah daerah tersebut dan juga para penghuninya, hewan-hewan pun mendapat makanan dan berkeliaran di lading-ladang rumput itu. “Demikianlah,” Allah Yang telah menghidupkan bumi setelah kematiannya, akan menghiduplkan kembali orang-orang yang sudah mati dari dalam kuburnya; maka kelak mereka akan datang untuk menghadap Allah, supaya Dia memberikan keputusan di antara mereka dan menetapkan keputusan dengan keputusan hukum yang adil.

Sumber: https://tafsirweb.com/7875-surat-fatir-ayat-9.html

📚 Tafsir Al-Wajiz

9. Allah adalah Dzat yang mengirim angin sebagai sarana pembawa hujan lebat, lalu angin itu menggerakkan awan dan mendorongnya ke suatu arah, kemudian Kami menggerakkan awan yang berisi hujan ini ke negeri gersang dan kering yang tidak ada tumbuhannya, Melalui hujan itu, Kami hidupkan tanah negeri itu dengan menumbuhkan tanamannya setelah kering dan gersang. Seperti proses penghidupan itulah Allah menghidupkan hamba-hambaNya dari kematian.

Sumber: https://tafsirweb.com/7875-surat-fatir-ayat-9.html

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 9-11 Seringkali Allah SWT membuat dalil tentang hari berbangkit dengan menghidupkan bumi yang tandus, sebagaimana di permulaan surah Al-Hajj. Dia mengingatkan kepada para hambaNya agar mengambil pelajaran dari hal ini atas terjadinya hari kebangkitan. Sesungguhnya bumi yang mati dan tandus yang tidak ada tumbuhan padanya, apabila Dia mengirmkan awan kepadanya yang menandung air hujan, lalu Dia menurunkannya hujan di atasnya (hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah) Demikian juga tubuh-tubuh, apabila Dia hendak membangkitkannya, maka Dia menurunkan dari bawah 'ArsyNya hujan yang merata ke seluruh bumi, dan bangkitlah semua tubuh itu dari kuburnya masing-masing, sebagaimana benih yang tumbuh dari bumi.

Oleh karena itu disebutkan dalam hadits shahih:”Semua tubuh anak cucu Adam hancur kecuali tulang ekornya, dan dari tulang itu dia diciptakan dan dari tulang itu pula dia dibangkitkan” Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Demikianlah kebangkitan itu) Firman Allah: (Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya) yaitu barangsiapa yang menginginkan hidup mulia di dunia dan akhirat, maka hendaklah dia tetap taat kepada Allah SWT. Maka sesungguhnya dengan itu dia akan meraih apa yang dia niatkan, karena sesungguhnya Allah adalah Raja dunia dan akhirat, dan milikNyalah semua kemuliaan. Sebagaimana Allah SWT berfirman: ((yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin.

Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya kekuatan semuanya kepunyaan Allah (139)) (Surah An-Nisa’) Mujahid berkata tentang firmanNya: (Barang siapa yang menghendaki kemuliaan) dengan menyembah berhala-berhala. (maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya) Qatadah berkata tentang firmanNya (Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya) yaitu hendaklah seseorang mencari kemuliaan dengan taat kepada Allah SWT.

Dikatakan bahwa barangsiapa yang menghendaki pengetahuan tentang kemuliaan, yaitu milik siapakah itu. (maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya) Pendapat itu dikatakan oleh Ibnu Jarir. Firman Allah SWT: (Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik) yaitu dzikir, membaca Al-Qur'an, dan berdoa. Penadapat itu dikatakan sejumlah ulama salaf.

Firman Allah SWT: (dan amal yang saleh dinaikkan-Nya) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan perkataan-perkataan yang baik adalah mengingat Allah SWT, itu dibawa naik ke hadapan Allah SWT. Dan amal shalih adalah menunaikan ibadah fardhu, maka barangsiapa yang menyebut nama Allah dan menunaikan kewajibannya. maka amalnya membawa naik dzikrullah ke hadapan Allah SWT. Dan barangsiapa yang berzikir menyebut nama Allah namun tidak menunaikan kewajiban-kewajibannya, maka perkataan-perkataannya dikembalikan kepada amalnya, dan amalnyalah yang berhak menerimanya.

Demikian juga dikatakan Mujahid, yaitu bahwa amal shalih mengangkat perkataan-perkataan yang baik. Demikian juga dikatakan Abu Al-’Aliyah, Adh-Dhahhak, dan lainnya. Al-Hasan dan Qatadah berkata bahwa perkataan tidak diterima kecuali dengan amal.

Firman Allah SWT: (Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan) Mujahid berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang memamerkan dengan amal mereka, yaitu membuat tipu muslihat kepada orang lain dengan memperlihatkan kepada mereka seakan-akan mereka adalah orang yang taat kepada Allah, padahal mereka adalah orang yang dimurkai Allah karena mereka pamer dengan amal perbuatan mereka. (Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali) (Surah An-Nisa: 142) Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa mereka adalah orang-orang musyrik.

Tetapi yang benar bahwa itu bermakna umum, sedangkan orang-orang musyrik termasuk ke dalam dengan hal yang lebih utama. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur) yaitu rusak, bathil, dan tampak kepalsuan mereka dari dekat bagi orang-orang yang mempunyai pandangan hati dan akal. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang menyembunyikan sesuatu, melainkan Allah akan menampakkannya melalui wajahnya dan kesalahanlisannya.

Dan tidak sekali-kali seseorang merahasiakan sesuatu, melainkan Allah akan memakaikan pakaian yang sesuai dengan apa yang dia sembunyikan itu. Jika baik maka itu kebaikan, dan jika buruk maka keburukan, maka yang. Orang yang pamer maka perkaranya tidak dapat berlanjut kecuali hanya di mata orang yang bodoh.

Adapun bagi orang-orang mukmin yang mempunyai firasat yang tajam, maka hal itu tidak dapat menipu mereka, bahkan langsung diketahui mereka dari dekat. Terlebih bagi Tuhan Yang Maha Mengetahui hal yang ghaib, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagiNya. Firman Allah SWT: (Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani) Dia memulai penciptaan nenek moyang kalian dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari air yang hina (kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan) yaitu laki-laki dan perempuan, sebagai kelembutan dan rahmatNya, Dia menjadikan bagi kalian pasangan dari jenis kalian agar kalian tenang bersamanya.

Firman Allah: (Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya) yaitu Dia mengetahui hal itu, tidak ada sesuatu dari hal itu yang tersembunyi dariNya, dan bahkan (tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)) (Surah Al-An'am: 59) Firman Allah: (Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuz)) yaitu, tidaklah Dia memberi sebagian dari benih itu usia yang panjang dengan sepengetahuanNya, melainkan hal itu tercatat di dalam kitab pertama (dan tidak pula dikurangi umurnya) dhamir ini kembali kepada jenis, bukan kepada 'ain­nya, karena yang diberi umur panjang tercatat di dalam Lauhil Mahfuz dan dalam pengetahuan Allah SWT dimana usianya tidak dikurangi, dan sesungguhnya dhamir itu kembali kepada jenisnya.

Ibnu Jarir berkata bahwa ayat ini seperti ucapan mereka,"Aku mempunyai sebuah baju dan separuhnya, yaitu separuh pakain yang lain" Abdurrahman bin Zaid bin Aslam meriwayatkan dari ayahnya tentang firmanNya: (dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuz)) dia berkata bahwa tidak ada seorang bayi pun yang dilahirkan dari rahim tanpa menyempurnakan usianya. Abdurrahman berkata tentang penafsiran ayat ini, bahwa tidakkah kamu melihat ada manusia yang diberi usia seratus tahun, sedangkan yang lainnya ada yang mati pada saat dilahirkan? Inilah yang dimaksud oleh makna itu. (dan tidak pula dikurangi umurnya) yaitu habisnya usia sedikit demi sedikit, semuanya diketahui di sisi Allah, tahun demi tahun, bulan demi bulan, minggu demi minggu, hari demi hari, dan saat demi saat, semuanya tercatat di sisi Allah dalam kitab­Nya.

Pendapat ini dinukil Ibnu Jarir dari Abu Malik. Ibnu Jarir memilih pendapat yang pertama, yakni pendapat yang sejalan dengannya Firman Allah SWT: (Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah) yaitu mudah bagiNya, dan segala sesuatu dan semua rincian makhlukNya dalam pengetahuanNya. Karena sesungguhnya pengetahuanNya mencakup semuanya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariNya

Sumber: https://tafsirweb.com/7875-surat-fatir-ayat-9.html

Informasi Tambahan

Juz

22

Halaman

435

Ruku

377

Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk

Surah An-Nahl: 98

Adab Membaca Al-Quran

1. Suci dari Hadats

Pastikan dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil sebelum memegang dan membaca Al-Quran. Berwudhu terlebih dahulu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada kitab suci Al-Quran.

2. Niat yang Ikhlas

Membaca Al-Quran dengan niat mencari ridha Allah SWT, bukan untuk pamer atau mencari pujian. Niat yang ikhlas akan membawa keberkahan dalam membaca Al-Quran.

3. Menghadap Kiblat

Diutamakan menghadap kiblat saat membaca Al-Quran sebagai bentuk penghormatan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Posisi duduk yang sopan dan tenang juga dianjurkan.

4. Membaca Ta'awudz

Memulai dengan membaca ta'awudz dan basmalah sebelum membaca Al-Quran. Ta'awudz merupakan permintaan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

5. Khusyuk dan Tenang

Membaca dengan tenang dan penuh penghayatan, memahami makna ayat yang dibaca. Tidak tergesa-gesa dan memperhatikan tajwid dengan baik.

6. Menjaga Kebersihan

Membaca Al-Quran di tempat yang bersih dan suci, serta menjaga kebersihan diri dan pakaian. Hindari membaca Al-Quran di tempat yang tidak pantas.

7. Memperindah Suara

Membaca Al-Quran dengan suara yang indah dan tartil, sesuai dengan kemampuan. Tidak perlu memaksakan diri, yang terpenting adalah membaca dengan benar sesuai tajwid.

Masukan & Feedback:info@finlup.id
© 2026 quran.finlup.id - All rights reserved