اٰل عمران (Ali 'Imran)

Per AyatMushaf
لَقَدْ
sesungguhnya
مَنَّ
telah memberi karunia
اللّٰهُ
Allah
عَلَى
atas/kepada
الْمُؤْمِنِيْنَ
orang-orang yang beriman
اِذْ
ketika
بَعَثَ
(Allah) mengutus
فِيْهِمْ
pada/diantara mereka
رَسُوْلًا
seorang Rasul
مِّنْ
telah memberi karunia
اَنْفُسِهِمْ
(golongan) mereka sendiri
يَتْلُوْا
(ia) membacakan
عَلَيْهِمْ
atas/kepada mereka
اٰيٰتِهٖ
ayat-ayatNya
وَيُزَكِّيْهِمْ
dan (ia) membersihkan mereka
وَيُعَلِّمُهُمُ
dan (ia) mengajarkan mereka
الْكِتٰبَ
Al Kitab
وَالْحِكْمَةَۚ
dan Hikmah
وَاِنْ
dan sedangkan
كَانُوْا
mereka adalah
مِنْ
telah memberi karunia
قَبْلُ
sebelum itu
لَفِيْ
sungguh dalam
ضَلٰلٍ
kesesatan
مُّبِيْنٍ
yang nyata
﴿١٦٤﴾
Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
457 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Sesungguhnya Allah telah melimpahkan kenikmatan kepada kaum mukminin dari bangsa arab, ketika Dia mengutus di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri,membacakan ayat-ayat al-qur’an kepada mereka,dan menyucikan mereka dari kemusyrikan dan akhlak yang rusak, dan mengajarkan kepada mereka al-qur’an dan assunnah. Dan mereka dahulu sebelum kedatangan rasul tersebut benar-benar berada di dalam kesesatan dan kebodohan yang nyata.

Sumber: https://tafsirweb.com/1296-surat-ali-imran-ayat-164.html

Tafsir as-Sa'di

164. Karunia ini yang telah Allah berikan kepada hamba-hambaNya, merupakan karunia yang paling besar bahkan karunia yang paling mendasar, yaitu anugerah dengan adanya Rasul yang mulia tersebut kepada mereka, yang dengannya Allah menyelamatkan mereka dari kesesatan, dan memelihara mereka dengannya dari kehancuran, maka Allah berfirman, “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus pada mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri” yang mereka ketahui garis keturunannya, keadaannya dan bahasanya dari kaum mereka dan suku mereka sebagai seorang pemberi nasihat bagi mereka, bersikap kasih sayang terhadap mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, dan mengajarkan kepada mereka lafazh dan maknanya, “dan membersihkan (jiwa) mereka” dari syirik dan maksiat, hal-hal yang hina serta seluruh akhlak-akhlak yang buruk, “dan mengajarkan kepada mereka al-kitab, ” baik jenis al-Kitab (secara umum) yang maksudnya adalah al-Quran, sehingga Firman Allah, “Yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, ” maksudnya adalah, ciptaan-ciptaan Allah (al Ayat al-Kauniyah), atau yang dimaksudkan dengan al-KItab di sini adalah penulisan, sehingga maknanya adalah bahwa Allah telah memberikan karuniaNya atas mereka dengan mengajarkan al-Kitab dan penulisan, di mana dengan tulisan itu ilmu dapat dipahami dan terjaga. “Dan al-Hikmah, ” yaitu, as-Sunnah yang merupakan pendamping al-Quran.Atau (juga bermakna) meletakkan sesuatu pada tempatnya dan mengetahui rahasia-rahasia syariat. Maka Allah menyatukan bagi mereka antara pengajaran hukum-hukum dan segala hal yang dengannya hukum-hukum tersebut direalisasikan dan segala hal yang menjadi perangkat didapatkannya faidah dan buahnya. Hingga mereka melampaui seluruh makhluk yang ada dengan perkara-perkara yang agung itu.Dan mereka menjadi para ulama Rabbani, “sekalipun sebelum (kedatangan Nabi) itu”, maksudnya, sebelum diutusnya Rasul tersebut, “mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Mereka tidak mengetahui jalan yang menghantarkan mereka kepada Rabb mereka, tidak juga tentang perkara yang membersihkan jiwa mereka dan menyucikannya. Akan tetapi apa yang dihiasi oleh kebodohan mereka, niscaya mereka melakukannya walaupun perbuatan itu bertentangan dengan akal sehat seluruh alam.

Sumber: https://tafsirweb.com/1296-surat-ali-imran-ayat-164.html

Tafsir Al-Wajiz

164 Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yaitu seorang manusia dari golongan Arab, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Al-quran sebagaimana mereka belum mengetahui syariat pada masa Jahiliyyah, serta membersihkan jiwa mereka dari kotoran kekufuran dan dosa, dan mengajarkan kepada mereka Al-quran dan sunnah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan Nabi itu, mereka benar-benar dalam kesesatan dan kebodohan yang nyata.

Sumber: https://tafsirweb.com/1296-surat-ali-imran-ayat-164.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 159-164 Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya berbicara kepada RasulNya dan menambahkan atas dirinya dan orang-orang yang mukmin dalam apa yang telah mengendap dalam hatinya terhadap umatnya yang mengikuti perintahnya, yang meninggalkan larangannya, dan Dia memberikan kata-kata yang lembut kepada mereka: (Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka) yaitu hal apa yang membuat kamu bersikap lembut kepada mereka, kalau bukan karena rahmat Allah terhadapmu dan mereka. Qatadah berkata terkait firmanNya (Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka) yaitu bahwa karena rahmat Allahlah yang membuat kamu bersikap lembut kepada mereka. Huruf “maa” adalah “shilah”.Bangsa Arab menghubungkannya dengan isim ma’rifah, sebagaimana firman Allah: (Fa bimaa naqdhihim miitsaaqahum) (Surah An-Nisa, 155), dan dengan isim nakirah sebagaimana dalam firmanNya (‘amma qaliil) Demikian juga Allah berfirman di sini (Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka) yaitu disebabkan rahmat dari Allah Hasan Al-Bashri berkata: “Ini adalah akhlak nabi Muhammad ﷺ yang diutus oleh Allah dengan hal itu” Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu) Maksud dari kata bersikap keras di sini adalah kata-kata yang kasar, sesuai dengan firmaan setelahNya (lagi berhati kasar) yaitu jika ucapanmu kasar, maka hatimu akan keras keras terhadap mereka dan mereka akan menjauh darimu dan meninggalkanmu.Akan tetapi Allah telah mengumpulkan mereka di sekitarmu, dan menjadikanmu lembut terhadap mereka untuk meneguhkan hati mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin Amr bahwa dia melihat sifat Rasulullah ﷺ dalam kitab-kitab terdahulu: bahwa dia bukanlah orang yang kasar, keras, berbuat gaduh di pasar-pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dia akan memaafkan. Oleh karena itu, Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu) Demikian juga Rasulallah ﷺ biasa bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam suatu urusan, ketika beliau berbicara dengan lembut untuk memberi ketenangan hati mereka, sehingga mereka lebih tekun dalam melakukan apa yang akan mereka lakukan. Sebagaimana ketika Rasulullah ﷺ bermusyawarah dengan mereka terkait pergi ke suatu tempat Mereka berkata, “Ya Rasulullah, Seandainya engkau menghadapkan kami ke lautan ini, kami akan mengikutimu.Jika engkau berjalan dengan kami menuju telaga yang dalam, maka kami akan mengikutimu, Kami tidak akan mengatakan sesuatu yang dikatakan oleh kaum nabi Musa kepadanya: “Pergilah kamu dan Tuhanmu, lalu berperanglah. Kami akan menunggu di sini.” Tetapi kami akan berkata, “Pergilah, kami akan bersamamu, dan berada di sebelah depan, kanan, dan kirimu”. Rasulullah ﷺ juga bermusyawarah dengan mereka terkait tempat untuk tinggal, sehingga dia menyarankan kepada Mundzir bin Amr Al-Mu’taq untuk mati dengan maju menghadang musuh.Rasulullah ﷺ juga bermusyawarah dengan mereka terkait perang Uhud apakah mereka akan menunggu di Madinah atau keluar melawan musuh. Mayoritas mereka menyarankan untuk keluar menghadapi musuh, dan Rasulullah ﷺ bermusyawarah dengan mereka terkait peperangan dan urusan lainnya. Firman Allah سبحانه وتعالى: (Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah) yaitu ketika kamu bermusyawarah dalam suatu perkara dan membulatkan tekad atas perkara itu, maka bertawakallah kepada Allah dalam hal itu. (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya) Firman Allah (Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu?Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal (160)) Hal ini sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya dari firmanNya: (Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) (Surah Ali Imran: 126).Kemudian Dia memerintahkan mereka untuk bertawakkal kepadaNya, lalu Dia berfirman: (hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal) Firman Allah سبحانه وتعالى: (Tidak mungkin seorang nabi berkhianat) Ibnu Abbas, Mujahid, Hasan, dan yang lainnya berkata: “Tidak patut bagi seorang nabi berkhianat” Ini adalah pembebasan bagi beliau ﷺ dari segala bentuk khianat dalam menjalankan amanah, pembagian harta rampasan, dan lain sebagainya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya) Ini adalah ancaman yang sangat keras dan peringatan yang tegas, dan telah disebutkan dalam hadits yang tentang larangan melakukan hal tersebut. Dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Sa'id bin Zaid, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang berbuat zalim (dengan mengambil) sejengkal tanah, maka Allah akan mengalungkan di lehernya tujuh lapis bumi pada hari kiamat” Firman Allah: (Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam?Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali (162)) yaitu tidaklah sama orang yang mengikuti keridhaan Allah dalam apa yang telah Dia syariatkan, maka dia pantas mendapatkan keridhaanNya yang agung dan pahala yang melimpah, serta dijauhkan dari siksaanNya yang berat. Adapun orang yang pantas mendapat murka Allah dan dihukum olehNya, maka tidak ada tempat menghindar dariNya, dan tempat kembali baginya pada hari kiamat adalah neraka Jahannam, seburuk-buruknya tempat kembali. Terkait hal ini terdapat dalam berbagai ayat dalam Al-Qur'an, sebagaimana firmanNya: (Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?) (Surah Ar-Ra'd: 19), dan (Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi; kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)? (61)) (Surah Al-Qashash).Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman: ((Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah) Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Ishaq berkata,”Maknanya adalah beberapa derajat bagi orang yang melakukan kebaikan dan orang yang melakukan keburukan. Abu 'Ubaidah dan Al-Kisa'i berkata bahwa maknanya adalah beberapa tempat, yaitu mereka dipisah-pisah dalam tingkatan dan kedudukan (tinggi) di surga dan kedudukan (rendah) di neraka, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya…) (Surah Al-An’am: 132).Oleh karena itu, Allah سبحانه وتعالى berfirman: (dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan) yaitu Dia akan membalas mereka dengan adil, sehingga Dia tidak akan menganiaya mereka dengan kebaikan dan tidak menambahkan kepada mereka dengan kejahatan, melainkan Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan amalnya. Firman Allah سبحانه وتعالى (Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri) yaitu dari kalangan mereka sendiri agar mereka dapat berbicara dengannya, duduk dengannya, dan mengambul manfaat darinya. Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri) (Surah Ar-Rum: 21) yaitu dari kalangan kalian, dan Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa") (Surah Al-Kahfi: 110).Ini adalah bukti yang jelas atas pemberian Allah bahwa RasulNya yang diutus untuk mereka berasal dari kalangan mereka sendiri, sehingga mereka bisa berbicara dengannya, merenungkan ajaran-ajarannya, Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman: (yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah) yaitu Al-Qur’an (membersihkan (jiwa) mereka) yaitu memerintahkan mereka untuk berbuat baik dan melarang dari perbuatan yang munkar. untuk membersihkan jiwa mereka dan membersihkan mereka dari kotoran yang mereka lakukan ketika mereka masih dalam keadaan musyrik dan jahiliyyah. (dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah) yaitu AL-Qur’an dan Sunnah (Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu) yaitu sebelum adanya rasul ini (mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata) yaitu dalam kesesatan dan kebodohan yang nyata dan jelas bagi setiap orang

Sumber: https://tafsirweb.com/1296-surat-ali-imran-ayat-164.html

Informasi

Surat

اٰل عمران (Ali 'Imran)

Keluarga Imran — 200 ayat

Tempat Turun

Madaniyah

Ayat ke-

164 dari 200 ayat

Juz

Juz 4

Halaman

Halaman 71

Ruku

Ruku 58

Manzil

Manzil 1

Hizb

Hizb 14 (28/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-457 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-3