اٰل عمران (Ali 'Imran)
Per AyatMushaf
كُلُّ
tiap-tiap
نَفْسٍ
jiwa
ذَاۤىِٕقَةُ
akan merasakan
الْمَوْتِۗ
mati
وَاِنَّمَا
dan sesungguhnya hanyalah
تُوَفَّوْنَ
akan disempurnakan
اُجُوْرَكُمْ
pahalamu
يَوْمَ
pada hari
الْقِيٰمَةِ
kiamat
ۗ
فَمَنْ
maka barang siapa
زُحْزِحَ
ia dijauhkan
عَنِ
dari
النَّارِ
neraka
وَاُدْخِلَ
dan ia dimasukkan
الْجَنَّةَ
surga
فَقَدْ
maka sungguh
فَازَ
ia beruntung
ۗ
وَمَا
dan tidak
الْحَيٰوةُ
kehidupan
الدُّنْيَآ
dunia
اِلَّا
melainkan
مَتَاعُ
kesenangan
الْغُرُوْرِ
tipuan/memperdayakan
﴿١٨٥﴾
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.
478 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan dengan kejadian itu,seluruh makhluk akan kembali kepada tuhan mereka untuk memperhitungkan amal perbuatan mereka. Dan sesungguhnya kalian akan memperoleh balasan sempurna atas amal perbuatan kalian secara penuh, tanpa ada pengurangan pada hari kiamat.Maka barangsiapa telah dimuliakan oleh tuhannya dan Dia telah menyelamatkannya dari neraka, serta masukkannya ke dalam surga, sesungguhnya dia telah menggapai puncak apa yang diinginkannya. Dan tidaklah kehidupan dunia itu,melainkan kesenangan yang akan sirna, maka janganlah kalian tertipu dengannya.
Sumber: https://tafsirweb.com/1317-surat-ali-imran-ayat-185.html
Tafsir as-Sa'di
185. Ayat yang mulia ini mengandung penjelasan tentang zuhud dari dunia karena bersifat fana dan tidak kekal, dan bahwa dunia itu adalah perhiasan yang menipu, membuat fitnah fdengan keindahannya, menipu dengan kecantikan dan kemolekannya. Kemudian dunia itu akan berpindah dan ditinggalkan menuju ke negeri abadi, di mana jiwa-jiwa manusia akan diberikan balasan amal yang telah diperbuatnya di dunia ini berupa kebaikan maupun kejelekan. “Maka barangsiapa dijauhkan,” maksudnya, dikeluarkan “dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung” maksudnya, dia memperoleh kemenangan yang besar dengan selamat dari siksa yang pedih dan sampai kepada surga yang penuh nikmat, yang berisikan segala keindahan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas pada benak dan hati seseorang.Pemahaman terbalik ayat ini, adalah bahwa barangsiapa yang tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak masuk dalamm surga, maka dia tidaklah beruntung, bahkan dia celaka dengan kesengsaraan yang abadi dan disiksa dengan hukuman yang kekal. Ayat ini mengandung isyarat akan adanya kenikmatan alam barzakh maupun siksaannya, dan bahwa orang-orang yang beramal akan diberikan balasan di dalamnya dengan beberapa balasan dari amal yang telah mereka lakukan, dan disuguhkan kepada mereka beberapa contoh dari orang-orang yang mendahuluinya. Ini dapat dipahami dari FirmanNya, “Dan sesungguhnya pada Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu,” masksudnya, penyempurnaan balasan perbuatan secara total hanya terjadi pada Hari KIamat, sedangkan selain itu maka terjadi di alam barzakh, bahkan bisa jadi dapat terjadi sebelum itu (di dunia), seperti Firman Allah –As-Sajdah:21-.
Sumber: https://tafsirweb.com/1317-surat-ali-imran-ayat-185.html
Tafsir Al-Wajiz
185. Ayat ini mengandung janji dan peringatan bagi orang yang beriman dan berdusta. Isinya yaitu bahwa setiap jiwa akan mati.Sesungguhnya kalian akan diberi balasan atas amal baik dan buruk kalian secara sempurna pada hari kiamat. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah selamat dari ketakutan dan mendapatkan apa yang diinginkan. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanya tipuan belaka.Al-Mata’ adalah sesuatu yang dinikmati dan dimanfaatkan manusia lalu hilang dan lenyap. Al-Ghurur adalah tipuan, yaitu sesuatu yang menipu agar orang sibuk dengannya sehingga tidak memperhatikan marabahaya.
Sumber: https://tafsirweb.com/1317-surat-ali-imran-ayat-185.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 185-186 Allah memberitahukan seluruh makhluk bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian, sebagaimana firmanNya: (Semua yang ada di bumi itu akan binasa (26) Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (27)) (Surah Ar-Rahman) Allah سبحانه وتعالى, Dialah Yang Maha Hidup yang tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia akan mati, begitu juga malaikat dan yang menyagga ‘Arsy.Hanya Allah, Yang Maha Esa, Maha Kuasa, lagi memiliki keabadian dan kekekalan. Dia akan tetap di saat akhir sebagaimana Dia dia saat pertama. Dalam ayat terdapat penghiburan kepada semua manusia, bahwa tidak ada yang akan tinggal di muka bumi ini tanpa mengalami kematian.Ketika waktu telah berakhir, air mani yang ditetapkan Allah dalam tulang sulbi anak cucu Adam akan habis, dan semua makhluk akan berakhir, Allah akan menghidupkan kembali manusia dan membalas semua amal perbuatan mereka, baik yang mulia maupun yang hina, yang banyak maupun yang sedikit. Tidak ada seorang pun yang dizalimi meskipun dzarrah. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu) Firman Allah سبحانه وتعالى: (Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung) barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan selamat darinya serta dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh beruntung, orang yang mendapat keberuntungan itu.Diriwayatkan dari Abu Hurairah,”Dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda: "Tempat cemeti di surga itu lebih baik dari dunia dan seisinya” Maka bacalah, jika kalian mau: (Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung) Firman Allah سبحانه وتعالى: (Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya) merendahkan dan meremehkan perkara dan urusan dunia, dan bahwa dunia ini adalah sesuatu yang rendah, fana, kecil dan akan lenyap, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi (16) Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal (17)) (Surah Al-A'la), (padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)) (Surah Ar-Ra'd: 26), (Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal) (Surah An-Nahl: 96) dan (Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal) (Surah Al-Qashash: 60) Dalam hadits disebutkan:" Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” Qatadah berkata tentang firman Allah سبحانه وتعالى: (Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya) Dia berkata, "Ini adalah kenikmatan yang ditinggalkan dan hampir-hampir akan lenyap karena ditinggalkan penghuninya (dan Allah itu tidak ada Tuhan selain Dia).Jadi, ambillah dari kenikmatan ini untuk melakukan ketaatan kepada Allah sesuai kemampuanmu, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah" Firman Allah سبحانه وتعالى: (Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu) sebagaimana firmanNya: (Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (156) (Surah Al-Baqarah) yaitu seorang mukmin pasti akan diuji dalam sebagian harta, jiwa, anak, atau keluarganya.Dia akan diuji sesuai dengan tingkat keimanannya. Jika dia kuat dalam agamanya , maka ujiannya akan semakin berat. (Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada orang-orang mukmin ketika mereka sampai di Madinah sebelum terjadinya perang Badar, untuk menghibur mereka dari apa yang menimpa mereka berupa celaan para Ahli Kitab dan orang-orang musyrik, dan memerintahkan mereka untuk bersabar dan memaafkan mereka hingga Allah memberikan kemenangan. Lalu Allah berfirman: (Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan) Diriwayatkan dari Zuhri, bahwa 'Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa Usamah bin Zaid bercerita kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengendarai keledai milik beliau, diatasnya ada pelana bersulam beludru Fadaki, sementara Usamah bin Zaid membonceng di belakang beliau ketika hendak menjenguk Sa'ad bin 'Ubadah di tempat Bani Khazraj sebelum peristiwa Badar” Dia berkata,”Sampai beliau berjalan melintasi suatu majlis yang di dalamnya terdapat Abdullah bin Ubay bin Salul, kejadian itu sebelum Abdullah bin Ubay masuk Islam, dan dalam majlis tersebut terdapat pula beberapa orang kaum muslim yang bercampur baur dengan orang-orang musyrik, para penyembah patung, dan orang-orang Yahudi, terdapat pula Abdullah bin Rawahah, saat majlis itu dipenuhi kepulan debu keledai, Abdullah bin Ubay menutupi hidungnya dengan selendang sambil berkata: "Jangan mengepuli kami dengan debu" kemudian Rasulullah ﷺ mengucapkan salam pada mereka lalu berhenti dan turun, setelah itu Rasulullah ﷺ mengajak mereka menuju Allah lalu beliau membacakan Al-Qur'an kepada mereka.'Abdullah bin Ubay berkata kepada beliau: "Wahai saudara! Sesungguhnya apa yang kamu katakan tidak ada kebaikannya sedikit pun, bahkan jika yang kau katakan itu benar, maka janganlah kamu mengganggu kami di majlis ini, silahkan kembali ke kendaraanmu, lalu siapa saja mendatangimu, maka silahkan ceritakan kepadanya". Lalu Abdullah bin Rawahah berkata; "Wahai Rasulullah, bergabunglah dengan kami di majlis ini karena kami menyukai hal itu." Kaum muslimin, orang-orang musyrik dan orang-orang Yahudi pun saling mencaci hingga mereka hendak saling menyerang, Kemudian Nabi ﷺ terus menenangkan mereka hingga mereka diam, kemudian Nabi ﷺ naik kendaraan dan melanjutkan perjalanan hingga masuk ke kediaman Sa'd bin 'Ubadah lalu Nabi ﷺ bersabda kepadanya: "Hai Sa'd!Apa kau tidak mendengar ucapan Abu Hubab?" maksud beliau adalah ucapan 'Abdullah bin Ubay. Sa'ad berkata; "Maafkan dia wahai Rasulullah dan berlapang dadalah kepadanya, demi Allah, Dzat yang telah menurunkan kitab kepadamu, Sungguh Allah telah memberi kebenaran yang telah diturunkan kepadamu. Penduduk telaga ini (Madinah) bersepakat untuk memilihnya dan mengangkatnya, namun ketika dia enggan dengan kebenaran yang diberikan Allah kepadamu, maka dia menghalangi itu, maka seperti itulah perbuatannya sebagaimana yang engkau lihat.Lalu Rasulullah ﷺ memaafkannya. Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya memaafkan orang-orang musyrik dan para Ahli Kitab, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, dan mereka bersabar atas celaan yang menyakitkan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati….) dan (Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman….) (Surah Al-Baqarah: 109).Nabi ﷺ secara sukarela memberi maaf atas sesuatu yang diperintahkan oleh Allah sampai Dia memberi izin kepada beliau untuk memerangi mereka. Ketika Rasulallah melaksanakan perang Badar, Allah membinasakan banyak pemimpin kafir Quraisy. Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang yang bersamanya dari orang-orang musyrik dan penyembah berhala berkata,”Ini adalah perkara yang pasti dihadap, maka patuhilah Rasulullah ﷺ, dan masuklah Islam.Setiap orang yang melakukan kebaikan, memerintahkan kebaikan, atau melarang kemungkaran pasti akan menghadapi kesulitan. Adapun obat dari hal itu tidak lain kecuali bersabar kepada Allah, meminta pertolongan kepadaNya, dan mengembalikan segala sesuatu kepadaNya.
Sumber: https://tafsirweb.com/1317-surat-ali-imran-ayat-185.html
Informasi
Surat
اٰل عمران (Ali 'Imran)
Keluarga Imran — 200 ayat
Tempat Turun
Madaniyah
Ayat ke-
185 dari 200 ayat
Juz
Juz 4
Halaman
Halaman 74
Ruku
Ruku 60
Manzil
Manzil 1
Hizb
Hizb 15 (29/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-478 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-3