الواقعة (Al-Waqi'ah)
Surat ke-56, Ayat ke-71
اَفَرَءَيْتُمُ النَّارَ الَّتِيْ تُوْرُوْنَۗ
Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu)?
📚 Tafsir Al-Muyassar
71-72. Tidakkah kalian memperhatikan api yang kalian nyalakan. Apakah kalian yang menumbuhkan pohonnya yang menjadi bahan api atau Kami yang menumbuhkkannya?
Sumber: https://tafsirweb.com/10575-surat-al-waqiah-ayat-71.html
📚 Tafsir as-Sa'di
71-73. Ini adalah nikmat yang masuk kepada kategori kebutuhan pokok yang pasti dibutuhkan oleh makhluk, karena sesungguhnya manusia membutuhkan kenikmatan tersebut dalam banyak perkara dan kebutuhan mereka. Allah menyatakan kepada mereka (agar mereka mengakui), akan api yang Dia ciptakan pada pepohonan, dan bahwa makhluk tidaklah dapat menciptakannya, akan tetapi hanya Allah-lah Yang menciptakan (api itu) dari pepohonan yang hijau, kemudian ia menjadi api yang dinyalakan sesuai dengan kebutuhan para hamba, lalu apabila mereka telah selesai dari kebutuhan mereka, maka mereka memadamkan dan mematikannya. “Kami menjadikan api itu untuk peringatan” bagi para hamba terhadap nikmat Rabb mereka, dan sebagai peringatan (bagi mereka) akan Neraka Jahanam yang telah Allah persiapkan untuk orang-orang yang bermaksiat kepadaNya, serta menjadikannya sebagai cemeti untuk menuntun hamba-hambaNya kepada surga yang penuh dengan kenikmatan, “dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.” Maksud dari kata al-Muqwin adalah orang-orang yang mengambil manfaat atau para musafir.
Allah mengkhususkan para musafir adalah karena manfaat api itu bagi musafir lebih besar daripada bagi selainnya, atau bisa jadi sebabnya adalah karena dunia ini, semuanya adalah tempat melakukan safar, dan seorang hamba dari sejak dilahirkan adalah seorang musafir (orang yang melakukan perjalanan) menuju Rabbnya. Api ini telah dijadikan oleh Allah sebagai bahan yang berguna bagi musafir di dunia ini, dan sebagai peringatan bagi mereka akan negeri yang kekal (akhirat).
Sumber: https://tafsirweb.com/10575-surat-al-waqiah-ayat-71.html
📚 Tafsir Al-Wajiz
71-72. Kabarkan kepada-Ku tentang api yang kalian nyalakan dengan bantuan kayu-kayu pepohonan. Kalian mengesek dengan gesekan yang kuat sehingga tersulutlah api dari gesekan kayu itu.
Layaknya batu yang mengandung besi, kalian pukul-pukulkan sehingga keluarlah percikan api. Bukankah Kami yang menumbuhkan kayu itu dengan kekuasaan Kami, tanpa bantuan kalian sedikitpun? Kayu-kayu yang dapat digunakan untuk pemantik/penyulut api ini di kalangan orang Arab antara lain adalah pohon markh, ‘ifar, kalkh
Sumber: https://tafsirweb.com/10575-surat-al-waqiah-ayat-71.html
📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 63-74 Allah SWT berfirman: (Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? (63)) yaitu mencangkul, membajak, dan menaburkan benih pada tanah. (Kamukah yang menumbuhkannya?) yaitu apakah kalian yang menumbuhkannya dari tanah? (ataukah Kami yang menumbuhkannya?) Tidak, bahkan Kamilah yang menetapkannya di tempatnya dan Kamilah yang menumbuhkannya di tanah. Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman,”''Jangan mengatakan, “Kami telah bertanam” Tetapi katakanlah, “Kami telah bertani” Telah diriwayatkan dari Hajar Al-Madari, bahwa dia membaca firmanNya: (Kamukah yang menumbuhkannya? ataukah Kami yang menumbuhkannya? (64) dan ayat-ayat yang semakna. Lalu dia mengatakan, "Tidak, Engkaulah yang melakukan semuanya, ya Tuhanku" Firman Allah SWT (Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur) yaitu Kamilah yang menumbuhkannya dengan kelembutan dan rahmat Kami, dan Kami membiarkannya tumbuh sebagai rahmat untuk kalian, dan sekiranya Kami menghendaki, sungguh Kami menjadikan ia kering sebelum masak dan panennya (maka jadilah kamu heran tercengang) Kemudian hal itu dijelaskan oleh firmanNya: ((sambil berkata), "Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian (66) bahkan kami menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa” (67)) yaitu sekiranya Kami menjadikannya kering, maka sungguh kalian merasa heran dan berkata macam-macam.
Adakalanya kalian berkata,"Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian" Mujahid dan Ikrimah berkata bahwa maknannya, "Sesungguhnya kami benar-benar tergila-gila dengan harapan kami" Al-Hasan dan Qatadah berkata tentang firmanNya: (maka jadilah kamu heran tercengang) yaitu kalian menyesal, adakalanya menyesali apa yang kalian keluarkan, atau menyesali dosa-dosa yang pernah kalian kerjakan. Kisa'i berkata bahwa kata “tafakkaha” termasuk kata memiliki dua makna bertentangan. Orang-orang Arab berkata, "Tafakkahtu" yaitu aku senang, dan “tafakkahtu” yaitu aku sedih.
Kemudian Allah SWT berfirman: (Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum (68) Kamukah yang menurunkannya dari awan) yaitu awan. Pendapat itu dikatakan Mujahid, dan lainnya. (ataukah Kami yang menurunkannya?) dia berkata bahkan Kamilah yang menurunkannya (Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin) yaitu, menjadi asin lagi pahit, tidak layak untuk diminum dan untuk mengairi tanaman (maka mengapakah kamu tidak bersyukur?) yaitu mengapa kalian tidak mensyukuri nikmat Allah atas kalian karena Dia telah menurunkannya kepada kalian air tawar dan enak diminum? (untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu (10) Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan (11)) (Surah An-Nahl) Kemudian Allah SWT berfirman: (Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (71)) yaitu kaiian menggosok-gosokkan kayu dari dahan pohon sebagai pemantik api sehingga kalian dapat mengeluarkan api )Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kami yang menjadikannya? (72) yaitu bahkan Kamilah yang menjadikannya mengandung api; bagi orang Arab di masa lalu ada dua jenis kayu yang pertama yaitu (kayu Al-Marakh) dan yang lain kayu (Al-'Ifar).
Apabila dari masing-masing ranting keduanya diambil satu batang yang masih hijau, lalu satu dengan yang lainnya digosokkan, maka dari gesekan keduanya keluarlah percikan api. Firman Allah SWT: (Kami menjadikan api itu untuk peringatan) Pendapat itu dikatakan Mujahid dan Qatadah bahwa maknanya yaitu Kami mengingatkan tentang api neraka yang sangat besar. Firman Allah SWT: (dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir) Ibnu Abbas dan Qatadah berkata bahwa yang dimaksud dengan “Al-muqwin” adalah orang-orang yang melakukan perjalanan.
Pendapat ini dipilih Ibnu Jarir. Ibnu Jarir mengatakan bahwa termasuk ke dalamnya adalah ucapan mereka, “Aku meninggalkan rumah, apabila dia bepergian dan meninggalkan keluarganya. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa “al-muqwi” di sini adalah orang yang lapar.
Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid tentang firmanNya, (Al-Muqwin) yaitu semua orang yang menikmatinya. Demikian juga diriwayatkan dari Ikrimah. Tafsir ini lebih umum daripada yang lainnya, karena sesungguhnya baik orang yang ada di tempat maupun orang yang sedang dalam perjalanan, baik yang kaya maupun yang miskin, semuanya memerlukan api untuk memasak, berdiang, penerangan dan keperluan lainnya
Sumber: https://tafsirweb.com/10575-surat-al-waqiah-ayat-71.html
Informasi Tambahan
Juz
27
Halaman
536
Ruku
470