Kembali ke Surat Al-Mujadalah

المجادلة (Al-Mujadalah)

Surat ke-58, Ayat ke-1

قَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّتِيْ تُجَادِلُكَ فِيْ زَوْجِهَا وَتَشْتَكِيْٓ اِلَى اللّٰهِ ۖوَاللّٰهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَاۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ

Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.

📚 Tafsir Al-Muyassar

Sungguh Allah telah mendengar ucapan Khaulah binti Tsa’labah yang mengadu kepadamu tentang suaminya Aus bin ash-Shamit, berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh Aus terhadap Khaulah, yaitu menzhiharnya. Dia mengucapkan kepadanya, “Kamu bagiku sudah seperti punggung ibuku”, yakni dalam hal pengharaman pernikahan. Khaulah memohon kepada Allah agar mengangkat kesulitannya.

Allah mendengar perbincangan dan pembicaraan kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar setiap perkataan, Maha Melihat segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya.

Sumber: https://tafsirweb.com/10755-surat-al-mujadalah-ayat-1.html

📚 Tafsir as-Sa'di

1. Ayat-ayat mulia ini turun berkenaan dengan seseorang dari kalangan Anshar ketika istrinya mengadukan perihalnya kepada Rasulullah yang mengharamkan dirinya setelah sekian bersama dan memiliki banyak anak. Suaminya adalah orang yang sudah tua.

Istrinya mengadu perihal kondisinya dan kondisi suaminya kepada Allah dan RasulNya secara berulang-ulang, lalu Allah berfirman, “Sungguh Allah telah mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah.

Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua.” Yakni, pembicaraan kalian di antara kalian berdua, “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar,” semua pembicaraan di seluruh waktu meski dengan keperluan yang diatur rapi, “Lagi Maha Melihat,” yang bisa melihat langkah semut hitam di atas batu hitam pekat di dalam kegelapan malam. Ini merupakan pemberitahuan tentang sempurnanya penglihatan serta pendengaran Allah. Pandangan dan penglihatan Allah meliputi segala hal yang rumit dan besar sekalipun.

Di dalam ayat ini juga mencakup isyarat bahwa Allah akan menghapus masalah yang diadukan serta menghilangkan musibahnya. Karena itu Allah menyebutkan hukumnya dan hukum yang lain secara umum seraya berfirman (dalam ayat selanjutnya)

Sumber: https://tafsirweb.com/10755-surat-al-mujadalah-ayat-1.html

📚 Tafsir Al-Wajiz

1. Allah telah mengabulkan doa dan permohonan seorang istri untuk memberi jalan keluar terhadap permasalahan hidupnya. Perempuan itu mengadukan tentang perilaku suaminya terhadap dirinya kepadamu wahai Nabi.

Perempuan itu adalah Khaulah binti Tsa’labah, istri Aus bin Shamit. Allah mendengar pembicaraan kamu berdua, Allah Maha Mendengar segala perkataan dan Maha Melihat atas segala kejadian dan perbuatan. Diriwayatkan dari Al Hakim yang di benarkan dari Aisyah, Aisyah berkata: Maha Suci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu.

Aku benar-benar telah mendengar perkataan Khaulah binti Tsa’labah yang sedikit dirahasiakan. Dia mengadukan suaminya kepada Rasul SAW, dia berkata: Wahai Rasul, suamiku telah mengisap masa mudaku, aku bentangkan perutku untuknya, dan manakala usiaku sudah tua dan aku tidak bisa mengandung lagi, tiba-tiba dia melakukan dhihar (menyamakannya dengan ibunya si suami) kepadaku. Ya Allah aku mengadu kepada-Mu.

Sehingga sebelum Khaulah bangkit pulang, Jibril telah turun membawa ayat ini (ayat 1), dia adalah Aus bin Shamit

Sumber: https://tafsirweb.com/10755-surat-al-mujadalah-ayat-1.html

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 1 Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, "Segala puji bagi Allah yang pendengaranNya mencakup semua suara, sesungguhnya telah datang kepada Nabi SAW seorang wanita yang mengajukan gugatan, lalu wanita itu berbicara kepada Nabi SAW, sedangkan aku berada di salah satu ruangan di dalam rumah, aku tidak dapat mendengar apa yang dia katakan" Maka Allah SWT menurunkan firmanNya: (Sungguh, Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya), hingga akhir ayat. Aisyah berkata bahwa suaminya adalah Aus bin Ash-Shamit

Sumber: https://tafsirweb.com/10755-surat-al-mujadalah-ayat-1.html

Informasi Tambahan

Juz

28

Halaman

542

Ruku

476

Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk

Surah An-Nahl: 98

Adab Membaca Al-Quran

1. Suci dari Hadats

Pastikan dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil sebelum memegang dan membaca Al-Quran. Berwudhu terlebih dahulu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada kitab suci Al-Quran.

2. Niat yang Ikhlas

Membaca Al-Quran dengan niat mencari ridha Allah SWT, bukan untuk pamer atau mencari pujian. Niat yang ikhlas akan membawa keberkahan dalam membaca Al-Quran.

3. Menghadap Kiblat

Diutamakan menghadap kiblat saat membaca Al-Quran sebagai bentuk penghormatan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Posisi duduk yang sopan dan tenang juga dianjurkan.

4. Membaca Ta'awudz

Memulai dengan membaca ta'awudz dan basmalah sebelum membaca Al-Quran. Ta'awudz merupakan permintaan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

5. Khusyuk dan Tenang

Membaca dengan tenang dan penuh penghayatan, memahami makna ayat yang dibaca. Tidak tergesa-gesa dan memperhatikan tajwid dengan baik.

6. Menjaga Kebersihan

Membaca Al-Quran di tempat yang bersih dan suci, serta menjaga kebersihan diri dan pakaian. Hindari membaca Al-Quran di tempat yang tidak pantas.

7. Memperindah Suara

Membaca Al-Quran dengan suara yang indah dan tartil, sesuai dengan kemampuan. Tidak perlu memaksakan diri, yang terpenting adalah membaca dengan benar sesuai tajwid.

Masukan & Feedback:info@finlup.id
© 2026 quran.finlup.id - All rights reserved