النساۤء (An-Nisa')
Per AyatMushaf
اَلَمْ
tidaklah
تَرَ
kamu perhatikan
اِلَى
kepada
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
قِيْلَ
dikatakan
لَهُمْ
kepada mereka
كُفُّوْٓا
tahanlah
اَيْدِيَكُمْ
tanganmu
وَاَقِيْمُوا
dan dirikanlah
الصَّلٰوةَ
sholat
وَاٰتُوا
dan tunaikan
الزَّكٰوةَۚ
zakat
فَلَمَّا
maka setelah
كُتِبَ
diwajibkan
عَلَيْهِمُ
atas mereka
الْقِتَالُ
berperang
اِذَا
tiba-tiba
فَرِيْقٌ
segolongan
مِّنْهُمْ
dari mereka
يَخْشَوْنَ
mereka takut
النَّاسَ
manusia
كَخَشْيَةِ
seperti takut
اللّٰهِ
Allah
اَوْ
atau
اَشَدَّ
lebih
خَشْيَةً
takut
ۚ
وَقَالُوْا
dan mereka berkata
رَبَّنَا
ya Tuhan kami
لِمَ
mengapa
كَتَبْتَ
Engkau wajibkan
عَلَيْنَا
atas kami
الْقِتَالَۚ
berperang
لَوْلَآ
mengapa tidak
اَخَّرْتَنَآ
Engkau tangguhkan kami
اِلٰٓى
kepada
اَجَلٍ
waktu
قَرِيْبٍۗ
dekat
قُلْ
katakanlah
مَتَاعُ
kesenangan
الدُّنْيَا
dunia
قَلِيْلٌۚ
sedikit
وَالْاٰخِرَةُ
dan akhirat
خَيْرٌ
lebih baik
لِّمَنِ
bagi orang
اتَّقٰىۗ
bertakwa
وَلَا
dan tidak
تُظْلَمُوْنَ
kamu dianiaya
فَتِيْلًا
sedikitpun
﴿٧٧﴾
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ”Tahanlah tanganmu (dari berperang), laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat!” Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu). Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tunda (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa (mendapat pahala turut berperang) dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.”
570 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Tidakkah kamu (wahai rasul) mengetahui perihal orang-orang yang dikatakan kepda mereka sebelum adanya izin berjihad,”tahanlah tangan-tangan kalian dari memerangi musuh-musuh kalian dari kalangan musyrikin, dan kewajiban kalian adalah mengerjakan kewajiban yang Allah wajibkan bagi kalian, berupa shalat dan membayar zakt,” maka ketika Dia mewajibakan mereka untuk berperang tiba-tiba ada segolongan dari mereka yang berubah keadaannya.Mereka malah menjadi takut terhadap manusia dan gentar menghadapi mereka,seperti ketakutan mereka kepada Allah,atau bahkan lebih kuat. Dan mereka mengumumkan persaan yang merasuki mereka berupa rasa takut yang amat besar,lalu mereka mengatakan,”Wahai tuhan kami mengapa,Engkau mewajibkan kami berperang?tidakkah engkau menangguhkan kami sampai beberapa saat lagi?” dikarenakan hasrat besar terhadap mereka sangat besar dari mereka terhadap kesenangan yang ada di kehidupan dunia. katakanlah olehmu (wahai rasul), ”Kesenangan di dunia itu sedikit,sedang kehidupan akhirat dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya lebih agung dan lebih abadi bagi orang yang bertakwa lalu mengerjakan amal yang diperintahkan kepadanya dan menjauhi perkara yang dia larang untuk melakukannya. Tuhanmu tidaklah menzhalimi sesorang sedikitpun, meskipun sekecil benang yang ada di belahan biji kurma.
Sumber: https://tafsirweb.com/1609-surat-an-nisa-ayat-77.html
Tafsir as-Sa'di
77. Kaum Muslimin ketika masih di Makkah, mereka diperintahkan untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat, yaitu sebagai pelipur lara bagi kaum fakir, bukan zakat yang diketahui yang memiliki nishab dan syarat-syarat tertentu, sesungguhnya zakat seperti itu belumlah diwajibkan kecuali di Madinah, dan mereka pun belum diperintahkan untuk berjihad karena beberapa faidah di antaranya; ~ Bahwa di antara hikmah Allah adalah Dia mensyariatkan hukum-hukum kepada hamba-hambaNya dalam bentuk yang tidak memberatkan mereka, dan Allah memulai dengan yang paling penting sebelum yang penting, yang lebih mudah sebelum yang mudah. ~ Bahwasanya bila saja diperintahkan kepada mereka jihad padahal jumlah dan perlengkapan mereka yang masih sedikit ditambah jumlah musuh yang besar, niscaya hal itu akan menjadi boomerang bagi hancurnya islam, maka menjadi pertimbangan yang pasti dari sisi kemaslahatan yang besar atas kemaslahatan yang lebih kecil darinya dan hikmah-hikmah Ilahi yang lainnya. Dan sebagian kaum Mukminin merasa sangat menginginkan seandainya jihad diwajibkan atas mereka pada suatu kondisi yang mana hal itu tidak cocok untuk diwajibkan, namun yang patut pada kondisi seperti itu adalah menegakkan apa yang diperintahkan kepada mereka berupa tauhid, shalat, zakat, dan semisalnya, sebagaimana Firman Allah, "Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka)," (An-Nisa:66) Kemudian ketika mereka berhijrah ke Madinah dan Islam telah kuat, maka diwajibkanlah jihad atas mereka pada waktunya yang cocok untuk itu, lalu sekelompok dari orang-orang yang sebelumnya tergesa-gesa meminta diwajibkannya jihad karena rasa takut kepada manusia (musuh), mereka lemah dan tidak berani, “Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami?” dalam hal ini tindakan itu adalah sebuah sikap keluh kesah dan sanggahan terhadap Allah, dan yang sepatutnya bagi mereka adalah menerima perintah Allah dan bersabar atas perintah-perintahNya tersebut, maka mereka telah berlaku kebalikan dari apa yang seharusnya diharapkan dari mereka, mereka berkata, “Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” maksudnya, mengapa engkau tidak menunda kewajiban jihad itu selama masa tertentu dan bukan saat ini, kondisi seperti ini sering kita temui diperlihatkan oleh orang-orang yang kurang matang dan tergesa-gesa dalam urusan sebelum waktunya, kebanyakannya adalah ia tidak akan bersabar atasnya ketika menunaikannya dan tidak pula teguh dalam mengembannya, akan tetapi ia sedikit sekali kesabarannya.Kemudian Allah mengingatkan mereka dari kondisi seperti itu, di mana itu merupakan tindakan tidak ikut serta dalam peperangan, dalam FirmanNya, “Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa’“ maksudnya, menikmati kesenangan-kesenangan dunia dan keindahan-keindahannya adalah sebentar, dan menghadapi segala kesulitan dalam ketaatan kepada Allah pada waktu yang sebentar adalah sangat mudah bagi jiwa dan ringan untuknya, karena bila ia mengetahui bahwa kesulitan yang dihadapinya itu tidak akan lama, niscaya hal itu mudah baginya, lalu bagaimana ia mampu menyamakan antara dunia dan akhirat, padahal akhirat itu lebih baik dari dunia pada dzatnya yaitu kesenangan, dan waktunya. Adapun dzatnya sebagaimana disebutkan dalam hadits nabi "sesungguhnya tempat sedikit di surge lebih baik dari pada dunia dan isisnya", karena kenikmatannya adalah suci dari hal-hal yang merusaknya, bahkan setiap yang terbesit dalam benak atau berputar-putar dalam pikiran berupa gambaran suatu kenikmatan, maka kenikmatan surga itu adalah lebih dari gambaran tersebut, sebagaimana Allah berfirman, "Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan." (As-Sajdah:17) Allah pun berfirman melalui lisan nabiNya "Aku menyiapkan untuk hambaku yang sholeh sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terbersit dalam akal fikiran".Adapun kenikmatan dunia, sesungguhnya ia bercampur dengan berbagai macam gangguan di mana bila dibandingkan antara kelezatannya dana pa yang mengiringinya berupa berbagai macam penderitaan dan kegelisahan serta kegalauan, maka kelezatan tersebut tidaklah mempunyai prosentase sedikit pun dari segala sisinya. Adapun waktunya, sesungguhnya dunia itu sementara, usia manusia menurut usia dunia sangatlah pendek sekali, sedangkan akhirat, maka sesungguhnya ia adalah kenikmatan yang selamanya, penghuni-penghuninya kekal di dalamnya, bila seorang yang berakal mau berpikir tentang kedua negeri tersebut dan tergambar olehnya hakikat keduanya dengan sebenar-benarnya, mesti ia tahu yang mana yang harus didahulukan, diusahakan, dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya, karena itulah Allah berfirman, “Dan akhirat itu lebih baik untuk orang yang bertakwa,” yaitu menjauhi kesyirikan dan seluruh hal-hal yang diharamkan, “dan kamu tidak akan dianiyaya sedikit pun,” maksudnya, usaha kalian untuk akhirat akan kalian dapatkan secara sempurna dan penuh dan tidak dikurangi sedikit pun darinya.
Sumber: https://tafsirweb.com/1609-surat-an-nisa-ayat-77.html
Tafsir Al-Wajiz
77. Wahai Nabiyullah, apakah kamu tidak melihat sebagian sahabat mukmin yang dikatakan kepada mereka di Mekah: “Tahanlah tangan kalian untuk memerangi orang-orang musyrik, tunaikanlah shalat fardhu, dan berikanlah zakat kepada orang yang berhak menerimanya.” Namun ketika diwajibkan bagi mereka di Madinah untuk melakukan jihad yang terus mereka cari, sebagian mereka takut memerangi orang musyrik layaknya ketakutan mereka terhadap azab Allah. atau bahkan lebih takut terhadap azabNya, bukan karena canggung melainkan takut mati dan takut terhadap kengerian perang. Mereka berkata: “Kenapa engkau mewajibkan peperangan atas kami?Kenapa tidak engkau tangguhkan waktu kami, sehingga bisa menikmati kehidupan kami di kesempatan yang lainnya?!” Katakan kepada mereka wahai Nabi: “Kenikmatan dunia itu sangat cepat hilang, dan pahala akhirat itu lebih baik bagi kalian daripada kenikmatan yang sedikit di dunia bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan menghendaki keabadian dan pahala yang terus menerus di antara kalian. Dan kalian tidak akan dizalimi (tidak akan dikurangi) sedikitpun pahalanya bahkan seukuran fatil yaitu sabut yang ada di biji kurma” Ayat ini turun untuk sebagian sahabat. Mereka mendapatkan banyak penderitaan dari orang-orang musyrik, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau memberi ijin kami untuk memerangi mereka?” Lalu Rasulullah bersabda kepada mereka: “Tahanlah tangan kalian untuk menyakiti mereka, sesungguhnya aku belum diperintahkan untuk memerangi mereka” lalu ketika Allah memerintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik setelah hijrah, sebagian mereka membenci hal itu dan saling membubarkan diri.Lalu Allah menurunkan ayat ini.
Sumber: https://tafsirweb.com/1609-surat-an-nisa-ayat-77.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 77-79 Pada permulaan Islam, orang-orang mukmin yang ada di Makkah diperintahkan untuk melaksanakan shalat dan zakat, dan sekalipun jika tidak mencapai nishabnya. Mereka juga diperintahkan untuk membantu orang miskin di antara mereka dan diperintahkan untuk memaafkan dan bersabar terhadap orang musyrik saat itu. Meskipun mereka tersiksa dan berharap diperintahkan untuk berperang agar bisa melawan musuh-musuh mereka, dan saat itu karena banyak faktor, yaitu jumlah mereka yang sedikit dibandingkan dengan musuh-musuh mereka, dan karena mereka berada di negeri mereka dan negeri mereka itu adalah tanah haram, yang yang merupakan tempat paling mulia di bumi, sehingga tidak ada perintah untuk memulai peperangan di dalamnya sebagaimana yang telah difirmankan.Oleh karena itu, mereka tidak diperintahkan untuk berjihad kecuali ketika di Madinah, dimana sudah memiliki rumah, perlindungan dan pertolongan. Dengan semua itu mereka diperintahkan untuk melakukan sesuatu yang mereka harapkan, namun sebagian mereka ragu-ragu, dan mereka sangat takut menghadapi orang (Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami?) yaitu Jika engkau menunda kewajiban berperang itu ke kesempatan lainnya, karena akan terjadi pertumpahan darah, anak-anak akan menjadi yatim, dan wanita-wanita akan menjadi janda. Ayat ini sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى (Dan orang-orang yang beriman berkata: "Mengapa tiada diturunkan suatu surat?" Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka (20) Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka).Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka (21)) (Surah Muhammad).Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Abdurrahman bin Auf dan beberapa sahabatnya mendatangi Nabi ﷺ di Makkah. Mereka berkata, "Wahai Nabi Allah, kami dahulu berada dalam kemuliaan saat kami masih musyrik. Katika kami beriman, kami menjadi rendah.Lalu beliau menjawab, “Aku diperintahkan untuk memaafkan, janganlah kamu berperang melawan mereka” Namun, setelah Allah memindahkan beliau ke Madinah, Allah memerintahkan beliau untuk berperang, tetapi mereka menahan diri. Lalu Allah menurunkan ayat, (Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut dari itu) Firman Allah,(Katakanlah,”Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa) yaitu akhirat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik daripada dunianya (dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun) yaitu, dari amal kalian bahkan kalian akan diberi balasan dengan penuh atas hal itu. Ini merupakan hiburan bagi mereka terkait dengan dunia, dorongan untuk mencari akhirat, dan menyemangati mereka untuk berjihad.Al-Hasan membaca ayat (Katakanlah,”Kesenangan di dunia ini hanya sebentar) yaitu Allah mengasihi hamba dan akan membalasnya sesuaai dengan amalnya, dan tidaklah seluruh dunia dari awal sampai akhirnya kecuali seperti seorang laki-laki yang tidur dan bermimpi dan dia melihat dalam mimpinya sebagaian yang dia sukai kemudian dia bangun" Firman Allah, (Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh) yaitu kalian pasti akan menuju kematian, dan tidak ada satupun dari kalian yang bisa selamat darinya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman (Semua yang ada di bumi itu akan binasa (26) Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (27)) (Surah Ar-Rahman), (Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati) (Surah Ali-Imran: 185) dan (Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu) (Surah Al-Anbiya’: 34), Maknanya yaitu bahwa setiap orang pasti mati dan tidak akan bisa selamat dari hal itu baik dia ikut berjihad atau tidak, karena baginya itu waktu yang teelah dipastikan dan kedudukan yang dibagi-bagikan Firman Allah (kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh) benteng yang kokoh lagi tinggi.Dikatakan bahwa itu benteng di langit, seperti yang dikatakan oleh As-Suddi, namun pendapat ini lemah. Yang benar adalah bahwa yang dimaksud adalah benteng yang kokoh, yaitu dia berusaha dan melindungi dirinya dari kematian. Sebagaimana yang dikatakan oleh Zuhair bin Abi Salma: Siapa saja yang takut pada penyebab kematian yang akan mendatanginya, bahkan jika dia berusaha mencari pelindung di langit melalui tangga Firman Allah (dan jika mereka memperoleh kebaikan), yaitu kekayaan dan rezeki dari buah-buahan, hasil pertanian, keturunan, dan hal-hal sejenisnya.Ini adalah makna dari pendapat Ibnu Abbas, Abu Al-‘Aliyah, dan As-Suddi, (mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana), yaitu kekeringan, kegersangan, kekurangan buah dan hasil pertanian atau kematian anak-anak, atau hal-hal serupa seperti yang diungkapkan oleh Abu Al-Aliyah dan As-Suddi, (mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu) yaitu dari sisimu dank arena kami mengikutimu dan agamamu sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kaum Fir’aun (Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami". Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya) [Surah Al-A'raf: 131] dan (Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat) [Surah Al-Hajj: 11].Demikianlah yang dikatakan oleh orang-orang munafik yang masuk Islam secara zhahir, tetapi mereka membencinya dalam hati. Oleh karena itu, ketika mereka ditimpa keburukan, mereka menyandarkan hal itu karena mereka mengikuti Nabi ﷺ." Firman Allah (Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah") yaitu semua itu ketetapan dan takdir Allah yang pada kebaikan, keburukan, orang kafir, dan orang mukmin. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah (Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah") yaitu kebaikan dan keburukan.Demikian yang dikatakan Hasan Al-Bashri. Kemudian, Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menolak orang-orang yang mengatakan ucapan yang berisi keraguan, sedikitnya pemahaman dan banyaknya kebodohan dan kezaliman mereka (Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?). Kemudian Allah berfirman seraya berbicara kepada Rasulullah ﷺ, namun yang dimaksud adalah seluruh manusia agar mendapatkan jawaban , (Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah).yaitu bahwa berupa keutamaan, pemberian, kelembutan, kebaikan dan rahmat Allah (dan apa saja dari keburukan yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri) maka dari sisimu dan akibat amal perbuatanmu sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman (Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (30)) (Surah Asy-Syura) As-Suddi, Hasan Al-Bashri, Ibnu Juraij, dan Ibnu Zaid tentang firmanNya (maka dari (kesalahan) dirimu sendiri) yaitu karena dosamu.Qatadah berkata tentang ayat (maka dari (kesalahan) dirimu sendiri) yaitu sebagai hukuman bagimu wahai anak cucu Adam, akibat dari perbuatanmu. Dalam hadits shahih,"Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya." Firman Allah سبحانه وتعالى (Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia), yaitu untuk menyampaikan hukum-hukum Allah dan hal yang dicintai dan diridhai Allah, dan hal yang dibenci dan ditolak oleh Allah. (Dan cukuplah Allah menjadi saksi) bahwa Dia telah mengutusmu dan Dia menjadi saksi antara kamu dan mereka, serta Maha Mengetahui segala sesuatu yang kamu sampaikan kepada mereka dan kebenaran yang mereka tolak karena kekafiran dan perlawanan mereka.
Sumber: https://tafsirweb.com/1609-surat-an-nisa-ayat-77.html
Informasi
Surat
النساۤء (An-Nisa')
Wanita — 176 ayat
Tempat Turun
Madaniyah
Ayat ke-
77 dari 176 ayat
Juz
Juz 5
Halaman
Halaman 90
Ruku
Ruku 72
Manzil
Manzil 1
Hizb
Hizb 18 (36/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-570 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-4