النساۤء (An-Nisa')

Per AyatMushaf
وَمَنْ
dan barang siapa
يَّقْتُلْ
membunuh
مُؤْمِنًا
seorang mukmin
مُّتَعَمِّدًا
dengan sengaja
فَجَزَاۤؤُهٗ
maka balasannya
جَهَنَّمُ
neraka Jahanam
خَالِدًا
kekal
فِيْهَا
di dalamnya
وَغَضِبَ
dan murka
اللّٰهُ
Allah
عَلَيْهِ
atasnya
وَلَعَنَهٗ
dan mengutuknya
وَاَعَدَّ
dan Dia menyediakan
لَهٗ
baginya
عَذَابًا
siksa
عَظِيْمًا
besar
﴿٩٣﴾
Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.
586 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Dan barangsiapa berbuat melampaui batas terhadap seorang mukmin dengan membunuhnya secara sengaja tanpa ada alasan yang dibenarkan,maka hukuman baginya adalah neraka jahanam,dia kekal disana disertai dengan kemurkaan allah kepadanya dan terusir dari rahmatNYA,jika Dia memberikannya balasan karena dosanya.Dan allah menyediakan baginya siksaan yang paling keras disebabkan apa yang telah mereka lakukan berupa tindakan kejahatan besar. Akan tetapi,allah memafkan dan melimpahkan karuniaNYA kepada orang-orang beriman,maka allah tidak membalas mereka dengan kekekalan dalam neraka jahanam.

Sumber: https://tafsirweb.com/1625-surat-an-nisa-ayat-93.html

Tafsir as-Sa'di

93. Telah berlalu bahwa Allah memberitakan bahwasanya tidaklah terjadi pembunuhan terhadap seorang Mukmin oleh Mukmin yang lain, dan bahwasanya pembunuhan itu adalah di antara bentuk kufur amali. Dalam ayat ini Allah menyebutkan tentang ancaman bagi pembunuh dengan sengaja yaitu ancaman yang menggetarkan jiwa, menakutkan hati, dan membuat orang-orang yang berakal gelisah.Dan tidaklah ada hukuman yang dikeluarkan bagi dosa-dosa besar yang lebih besar dari hukuman ini, bahkan tidak ada yang sepertinya, yaitu kabar bahwa hukumannya adalah Jahanam, artinya, dosa yang besar ini telah patut menjadi satu-satunya dosa untuk diberikan hukuman kepada pelakunya dengan Jahanam dengan segala siksaan yang ada di dalamnya dan kehinaan yang nyata, kemurkaan Allah, hilangnya keselamatan dan keberuntungan, serta adanya kegagalan dan kerugian, maka hanya kepada Allah kita berlindung dari segala sebab yang menjuahkan dari rahmatNya. Ancaman ini memiliki kedudukan yang sama seperti hal-hal yang semisal dengannya dari nash-nash ancaman atas beberapa dosa-dosa besar dan kemaksiatan dengan keabadian dalam neraka atau haramnya surga. Dan sesungguhnya para ulama telah berbeda pendapat tentang penafsirannya, disamping kesepakatan mereka atas batilnya pendapat Khawarij dan Mu’tazilah yang berpendapat akan kekalnya orang-orang seperti itu (pelaku dosa besar) dalam neraka walaupun mereka ini masih bertauhid, dan yang shahih dalam penafsirannya adalah apa yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin, di mana beliau telah menyebutkan beberapa pendapat para ulama dalam tafsir akan hal tersebut lalu beliau mengomentarinya seraya berkata; “Sekelompok ulama berpendapat, bahwa nash-nash ini atau yang semisalnya adalah di antara perkara yang disebutkan padanya tuntutan diberlakukannya hukuman.Keberadaan tuntutan hukum tidak menghatruskan adanya suatu hukuman, karena hukuman itu hanya akan terwujud jika tuntutan-tuntutannya terpenuhi dan tidak ada penghalang-penghalangnya. Maksud dari nash-nash ini adalah pemberitahuan bahwa yang demikian itu merupakan sebab yang mengakibatkan hukuman. Dan sungguh telah ada ada dalil tentang adanya penghalang-penghalang tersebut yang sebagiannya adalah ijma’ dan sebagian lagi berupa nash.Mereka menyatakan bahwa atas dasar inilah penegakkan kemaslahatan dunia dan akhirat atau kemudharatan keduanya, dan atas dasar ini juga patokan hukum-hukum syariat dan ketetapan-ketetapan takdir, dan juga merupakan tuntutan Sunnah Allah yang berlaku di dunia, dengannya ada keterkaitan antara sebab-sebab dan akibatnya sebagai suatu penciptaan dan perintah, dan sungguh Allah telah menjadikan bagi setiap hal ada hal lain yang kontradiksi dengannya yang selalu melawannya dan menghadangnya hingga hukum yang tegak adalah yang paling kuat darinya, maka kekuatan menghasilkan kesehatan dan keselamatan, dan kerusakan serta kezhaliman yang terjadi pada interaksi antara dua hal yang berlawanan tersebut adalah penghalang bagi fungsi alam. Jadi fungsi kekuatan dan hukum adalah bagi yang paling kuat darinya, demikian juga bagi kekuatan obat-obatan dan penyakit. Seorang hamba memiliki kesempatan untuk sehat dan kesempatan untuk sakit, salah satu pihak dari kedua hal itu akan menghalangi kesempurnaan pengaruh dari pihak lainnya dan melawannya, dan bila ia mampu menanggulanginya dan menang atasnya, niscaya pengaruhnya yang akan berfungsi, dari sinilah dapat diketahui pembagian makhluk yang masuk surga dan tidak masuk neraka atau sebaliknya, dan makhluk yang masuk neraka kemudian keluar darinya dan menetapnya dalam neraka adalah sesuai dengan hal-hal yang menuntut keberadaannya di neraka tersebut yang berpengaruh pada cepat atau lambatnya ia keluar dari neraka.Makhluk yang memiliki mata hati yang terang di mana ia mampu memandang dengannya segala hal yang dikabarkan oleh Allah dalam kitabNya berupa perkara tentang Hari Pembalasan dan perincian-perinciannya, hingga seolah-olah ia menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, dan ia mengetahui bahwa hal ini adalah suatu tuntutan uluhiyah Allah, rububiyahNya, kemuliaanNya, dan hikmahNya, dan bahwasanya mustahil pada diri Allah apa yang berlawanan dengan itu semua. Dan prosentase keyakinan tersebut pada diri orang itu adalah sama dengan prosentase apa yang tidak pantas padaNya, sehingga prosentase hal tersebut berkaitan dengan bashirahnya adalah seperti prosentase (kuatnya) sinar matahari dan bintang kepada daya pandangannya. Dan inilah hakikat keimanan yang benar yang mampu membakar keburukan sebagaimana api membakar kayu, dan orang yang memiliki keimanan seperti ini, mustahil baginya terus-menerus berbuat keburukan walaupun ia pernah melakukannya dan bahkakn seringkali melakukannya, karena apa yang ada bersamanya berupa cahaya keimanan akan selalu memerintahkan kepadanya untuk memperbaharui taubat pada setiap waktu dan untuk kembali kepada Allah dalam setiap desah nafasnya.Dan inilah makhluk yang paling Allah cintai.” Berakhir perkataan beliau dan semoga Allah menyucikan jiwanya dan membalasnya untuk Islam dan kaum Muslimin dengan kebaikan.

Sumber: https://tafsirweb.com/1625-surat-an-nisa-ayat-93.html

Tafsir Al-Wajiz

93 Barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah abadi dalam neraka Jahannam, dan Allah murka kepadanya. Akan terhalang dari rahmat-Nya dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. Ayat ini turun untuk Miqyas bin Dhibabah Alkanani yang membunuh seorang laki-laki dari Bani Fahd, meskipun dia telah membayarkan diyat dari harta saudaranya yaitu Hisyam bin Dhibabah dari Bani Najar dan kembali ke Makkah dengan keadaan kafir

Sumber: https://tafsirweb.com/1625-surat-an-nisa-ayat-93.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 92-93 Allah berfirman: "Tidak diperbolehkan bagi seorang mukmin untuk membunuh saudaranya yang mukmin , kecuali karena beberapa hal sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulallah ﷺ bersabda : “Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga sebab: orang yang telah menikah yang berzina, jiwa dengan jiwa (membunuh), dan orang yang meninggalkan agamanya, lagi memisahkan diri dari jamaah" Kemudian jika terjadi sesuatu dari tiga hal ini, maka tidak ada satu orang pun dari kalompok masyarakat yang boleh membunuhnya melainkan pemimpin atau wakilnya.Firman Allah (kecuali karena tidak sengaja) Mereka mengatakan: Ini adalah pengecualian yang tegas, sebagaimana perkataan seorang penyair: "telur tidak jauh dan tidak menyentuh tanah, kecuali dengan kain rajut yang dilempar" Banyak bukti yang mendukung hal ini. Firman Allah: (dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tidak sengaja (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya) Dua kewajiban ini dalam perkara pembunuhan yang tidak disengaja. Salah satunya adalah membayar diyat atas dosa besar yang telah dilakukan, meskipun itu tidak sengaja.Salah satu syaratnya adalah bahwa yang dibebaskan adalah seorang budak mukmin, karena diyat itu tidak diterima dari seorang budak kafir. Firman Allah (serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya) itu adalah kewajiban kedua, yaitu memberikan diyat dari orang yang membunuh kepada keluarga yang telah kehilangan anggota keluarga mereka. Diyat ini biasanya berjumlah lima kali lipat.Dikatakan bahwa itu. Diyat ini dibebankan untuk keluarga yang membunuh tidak tergantung pada hartanya. Imam Syafi'i berkata,”Aku tidak mengetahui ada perbedaan pendapat bahwa Rasulullah ﷺ telah memutuskan diyat bagi orang yang membunuh" Firman Allah: (kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah) yaitu dia wajib membayar diyat kepada keluarganya, kecuali jika mereka (keluarga yang terbunuh) menyedekahkan diyat itu, maka dia diyat itu tidak wajib.Firman Allah: (Jika ia (orang terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (orang terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman) yaitu jika yang terbunuh adalah seorang mukmin, akan tetapi walinya adalah orang-orang kafir yang memerangi orang muslim, maka tidak ada diyat yang dibayarkan untuk mereka dan wajib bagi yang membunuh untuk membebaskan budah mukmin, dan tidak melakukan selain itu. Firman Allah (dan jika yang terbunuh dari kaum yang terdapat perjanjian antara kamu dan mereka maka diat itu diserahkan kepada keluarganya dan memerdekakan hamba sahaya) yaitu jika yang terbunuh itu walinya adalah kelompok yang memiliki perjanjian gencatan senjata maka mereka berhak memperoleh diyat itu. Jika yang terbunuh adalah seorang mukmin, maka diyatnya penuh dan jika yang terbunuh adalah seorang kafir, maka diyatnya penuh juga menurut beberapa ulama’ .Dikatakan bahwa orang kafir yang terbunuh itu diyatnya setengah dari orang muslim. Dikatakan juga bahwa diyatnya adalah sepertiganya sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab “Al-Ahkam”. Orang yang membunuh juga wajim membebaskan budak mukmin.Firman Allah (Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut) yaitu tidak ada waktu untuk tidak berpuasa baginya di antara dua bulan itu, bahkan puasanya harus disambung sampai akhir dari dua bulan itu. Jika dia tidak berpuasa tanpa adanya udzur berupa sakit, haid, atau nifas, maka dia haru mengulangi lagi dari awal (untuk penerimaan taubat dari Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana) yaitu ini adalah bentuk taubat dari pembunuh yang tidak sengaja ketika tidak menemukan budak untuk dibebaskan, maka dia harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut Kemudian setelah Allah menjelaskan hukum tentang pembunuhan yang tidak disengaja, Allah menjelaskan tentang hukum pembunuhan yang disengaja, Allah berfirman: (Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya (93)) ini adalah ancaman keras dan janji yang ditegaskan bagi siapa saja yang melakukan dosa besar ini, yang langsung dikaitkan dengan perbuatan syirik kepada Allah, dimana hal tersebut disebutkan dalam ayat Kitabullah.Allah berfirman dalam surah Al-Furqan: (Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina) (Surah Al-Furqan: 68) dan (Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan) sampai firmanNya (dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar".Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami) (Surah Al-An’am: 151) dan ayat-ayat serta hadits-hadits tentang larangan membunuh itu sangat banyak sekali.Di antara semua itu adalah yang terdapat dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,”Hal pertama dihisab pada hari kiamat adalah pertumpahan darah” Hal yang menjadi kesepakatan mayoritas ulama’ salaf dan ulama’ masa kini adalah bahwa orang yang membunuh memiliki kesempatan bertaubat antara dirinya kepada Allah. Jika dia bertaubat, menyesal, tunduk, dan melakukan amal shalih, maka Allah akan mengganti kejahatannya dengan kebaikan, dan orang yang dibunuh akan juga akan diampuni dosa-dosanya dan diridhai permintaannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (68)) sampai firmanNya (kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang (70)) (Surah Al-Furqan) hingga akhir ayat.Ini adalah berita yang tidak boleh diterapkan kepada orang-orang musyrik.Ayat ini lebih ditujukan kepada orang-orang mukmin, berbeda dari tampak. Hl ini membutuhkan dalil yang lebih kuat. Hanya Allah yang lebih mengetahui Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (53)) (Surah Az-Zumar:53) Ayat ini bersifat umum untuk semua dosa, termasuk kekufuran, kemusyrikan, kemunafikan, pembunuhan, kemaksiatan, dan hal lain sebagainya.Setiap orang yang bertaubat, yaitu dari semua itu, maka Allah akan menerima taubatnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya) (Surah An-Nisa :48) Ayat ini bersifat umum untuk semua dosa kecuali syirik.Ayat ini disebutkan dalam surah ini setelah ayat-ayat sebelumnya untuk memperkuat harapan. Hanya Allah yang lebih mengetahui" Disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim tentang kisah tentang seorang Bani Israil yang membunuh seratus jiwa kemudian bertanya kepada orang alim, “Apakah ada kesempatan bagiku untuk bertaubat?” orang alim itu menjawab, “Siapakah yang akan menghalangi antara dirimu dan taubat?” Lalu dia memberikan petunjuk kepada tempat di mana Allah disembah, lalu dia berhijrah ke sana, namun dia mati di tengah perjalanan. Malaikat- malaikat rahmat pun datang mengambilnya, sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya, dimana hal ini terjadi pada Bani Israil.Sungguh taubat itu akan diterima bagi umat (kita) ini, karena Allah telah menghapus batasan dan beban-beban yang dahulu ada pada mereka dari kita, dan Dia mengutus Nabi kita dengan agama yang lurus dan mudah. Adapun menurut pendapat Ibnu Abbas dan orang yang sependapat dengannya, bahwa tidak ada taubat baginya, atau berdasarkan pendapat mayoritas ulama’, dimana jika tidak ada amal shalih baginya, maka dia tidak akan kekal dalam neraka. Akan tetapi yang dimaksud dengan kekal di sini adalah tinggal dalam waktu yang sangat lama.Telah disebutkan dalam beberapa hadits yang mutawatir dari Rasulullah ﷺ yang bersabda, “Seseorang yang memiliki keimanan dalam hatinya bahkan lebih kecil dari dzarrah, akan keluar dari neraka”

Sumber: https://tafsirweb.com/1625-surat-an-nisa-ayat-93.html

Informasi

Surat

النساۤء (An-Nisa')

Wanita — 176 ayat

Tempat Turun

Madaniyah

Ayat ke-

93 dari 176 ayat

Juz

Juz 5

Halaman

Halaman 93

Ruku

Ruku 74

Manzil

Manzil 1

Hizb

Hizb 19 (37/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-586 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-4