الانشقاق (Al-Insyiqaq)

Per AyatMushaf
اِلَّا
kecuali
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
اٰمَنُوْا
beriman
وَعَمِلُوا
dan mereka berbuat/beramal
الصّٰلِحٰتِ
kebajikan/saleh
لَهُمْ
bagi mereka
اَجْرٌ
pahala
غَيْرُ
lain/tidak
مَمْنُوْنٍ
terputus-putus
ࣖ
﴿٢٥﴾
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.
5909 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Akan tetapi orang orang yang beriman kepada Allah dan rasul NYA, serta menunaikan apa yang Allah wajibkan atas mereka, bagi mereka pahala di akhirat yang tidak terputus dan tidak dikurangi.

Sumber: https://tafsirweb.com/12443-surat-al-insyiqaq-ayat-25.html

Tafsir as-Sa'di

Ini adalah kondisi kebanyakan manusia; mendustakan al-Qur’an dan tidak beriman padanya. Di antara manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan mereka beriman padaNya serta menerima risalah yang dibawa para rasul. Maka “mereka beriman dan beramal shalih,” sehingga “bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya,” yakni, tidak terputus dan pahalanya kekal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di benak manusia.

Sumber: https://tafsirweb.com/12443-surat-al-insyiqaq-ayat-25.html

Tafsir Al-Wajiz

25. Akan tetapi, orang-orang yang beriman kepada Allah, rasul-Nya, dan kedatangan hari kiamat, serta menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, akan ditetapkan kepada mereka pahala yang tidak terpotong, tidak berkurang

Sumber: https://tafsirweb.com/12443-surat-al-insyiqaq-ayat-25.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 16-25 Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa mereka berkata “asy-syafaq” adalah awan merah “Asy-syafaq” adalah merahnya warna cakrawala yang adakalanya hal ini terjadi sebelum terbitnya matahari dan adakalanya setelah tenggelamnya matahari, sebagaimana yang diketahui di kalangan ahli bahasa Dalam hadits shahih Muslim, dari Abdullah bin Amr, dari Rasulallah ﷺ bahwa beliau bersabda,”waktu Maghrib selama sinar merah belum tenggelam” Tetapi yang benar pendapat dari Mujahid bahwa dia berkata tentang firmanNya: (Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja (16)) itu adalah seluruh siang. Dalam riwayat lain darinya, bahwa “asy-syafaq” adalah matahari. Dan sesungguhnya hal yang mendorong Mujahid mengatakan demikian adalah karena dia membandingkan dengan firmanNya: (dan dengan malam dan apa yang diselubunginya (17)) yaitu menggabungkan, seakan-akan menurutnya Allah bersumpah dengan menyebut cahaya dan kegelapan.Ibnu Jarir berkata bahwa Allah bersumpah dengan menyebut siang hari yang pergi dan malam hari yang datang. Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, dan Qatadah berkata tentang firmanNya, (Wama wasaq) yaitu apa yang dihimpunkan Qatadah berkata bahwa maknanya adalah bintang-bintang dan hewan-hewan yang dihimpunkan. Ikrimah berkata tentang firmanNya: (dan dengan malam dan apa yang diselubunginya (17)) yaitu apa yang dikumpulkan karena kegelapannya, jika malam hari tiba, maka semua makhluk pulang ke tempat tinggalnya.Firman Allah سبحانه وتعالى: (dan dengan bulan apabila jadi purnama (18)) Ibnu Abbas berkata terhimpun dan terlihat sempurna. Demikian juga dikatakan Ikrimah, Mujahid, dan Ibnu Zaid. (dan dengan bulan apabila jadi purnama (18)) yaitu, ketika sempurna. Al-Hasan berkata, ketika penuh.Qatadah berkata, ketika bundar. Makna pendapat mereka bahwa ketika bulan itu sempurna cahayanya, yang hal ini dijadikan sebagai lawan kata dari malam yang apabila gelap gulita. Firman Allah سبحانه وتعالى (sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) (19)) Ibnu Abbas berkata tentang firmanNya: (sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) (19)) yaitu keadaan demi keadaan.Lalu dia berkata bahwa demikianlah Nabi kalian ﷺ. Hal ini bisa ditafsirkan bahwa Ibnu Abbas menyandarkan tafsir ini dari Nabi ﷺ seakan-akan dia berkata,”Aku mendengar ini dari nabi kalian ﷺ. Maka perkataannya,”nabiyyukum” sebagai marfu’ menjadi fa’il dari “qaala”.Dan itu adalah yang paling jelas. Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa Ibnu Abbas berkata tentang firmanNya: (sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) (19)) dia berkata bahwa menurut Nabi kalian yaitu “keadaan demi keadaan”;. Bisa juga ditafsirkan bahwa yang dimaksud oleh firmanNya: (sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) (19)) adalah keadaan demi keadaan.Lalu disebutkan bahwa orang yang dimaksud adalah Nabi kalian. Maka, kata “nabiyyukum” dimarfu’ dengan ketentuan bahwa “haza” dan “nabiyyukum” merupakan mubtada’ dan khabar; hanya Allah yang lebih Mengetahui. Hal ini diperkuat dengan adanya bacaan Umar, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan sebagian besar ulama Makkah dan Kufah (latarkabanna) dengan difathah huruf ta’ dan ba’nya.Kemudian Ibnu Jarir setelah mengemukakan pendapat semua ulama qiraat dan tafsir tentang ayat ini berkata bahwa penafsiran yang benar adalah pendapat orang yang berkata bahwa sesungguhnya kamu, wahai Muhammad akan melalui keadaan demi keadaan, dan urusan demi urusan yang berat. Makna yang dimaksud sekalipun khitabnya hanya ditujukan kepada Rasulullah ﷺ, tetapi pengertiannya mencakup semua manusia, bahwa mereka pada hari kiamat akan mengalami banyak penderitaan karena menghadapi keadaan-keadaan dan kengerian-kengeriannya. Firman Allah سبحانه وتعالى: (Mengapa mereka tidak mau beriman? (20) Dan apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud (21)) yaitu apakah yang menghalangi mereka untuk beriman kepada Allah dan RasulNya serta hari akhir, dan mengapa mereka ketika Al-Qur'an yang merupakan ayat-ayat dan kalam Allah ini dibacakan kepada mereka, mereka tidak mau bersujud menghormati dan mengagungkanNya?Firman Allah سبحانه وتعالى: (bahkan orang-orang kafir itu mendustakan (nya) (22)) yaitu watak mereka yaitu mendustakan kebenaran, mengingkari dan menentang kebenaran (Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka) (23)) Mujahid dan Qatadah berkata bahwa mereka menyembunyikannya dalam dada mereka. (Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih (24)) yaitu maka beritahukanlah kepada mereka, wahai Muhammad, bahwa Allah سبحانه وتعالى menyediakan bagi mereka azab yang pedih. Firman Allah سبحانه وتعالى: (Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh (25)) Ini merupakan isti'sna munqathi’, yaitu tetapi (orang-orang yang hatinya beriman) yaitu dengan hati mereka (dan beramal saleh) dengan seluruh anggota tubuh mereka (bagi mereka pahala) yaitu di akhirat (yang tidak putus-putusnya) Ibnu Abbas berkata bahwa maknanya adalah tidak dikurangi

Sumber: https://tafsirweb.com/12443-surat-al-insyiqaq-ayat-25.html

Informasi

Surat

الانشقاق (Al-Insyiqaq)

Terbelah — 25 ayat

Tempat Turun

Makkiyah

Ayat ke-

25 dari 25 ayat

Juz

Juz 30

Halaman

Halaman 589

Ruku

Ruku 526

Manzil

Manzil 7

Hizb

Hizb 118 (236/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-5909 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-84