الفاتحة (Al-Fatihah)
Surat ke-1, Ayat ke-6
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ
Tunjukilah kami jalan yang lurus,
📚 Tafsir Al-Muyassar
Tunjukilah dan bimbinglah kami serta berilah Taufik bagi kami menuju jalan yang lurus, teguhkanlah kami di atasnya hingga kami bertemu dengan-Mu kelak. Yaitu agama Islam yang merupakan Jalan yang jelas yang menyampaikan kepada keridhoan Allah dan kepada surga-Nya yang telah ditunjukkan oleh penutup para Rosul dan Para Nabi Allah, yaitu Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. maka tidak ada jalan menuju kebahagiaan bagi seorang hamba kecuali dengan Istiqomah di atas jalan tersebut.
Sumber: https://tafsirweb.com/58-surat-al-fatihah-ayat-6.html
📚 Tafsir as-Sa'di
Kemudian lafaz ihdinaa shirotol mustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus) maksudnya Tuntunlah kami, Bimbinglah kami dan Arahkan kami kepada jalan yang lurus. yaitu jalan yang sangat jelas yang menghantarkan kepada Allah dan kepada surganya. yaitu dengan mengetahui kebenaran dan melaksanakannya. Maka tunjukkanlah kami kepada jalan tersebut dan berikanlah petunjuk kepada kami di jalan tersebut. maka hidayah (petunjuk) kepada jalan adalah bentuk konsisten terhadap agama Islam dan meninggalkan agama agama selain Islam. Hidayah (petunjuk) kepada jalan yang lurus meliputi petunjuk kepada seluruh perincian-perincian agama, baik Ilmu maupun amalannya. oleh karena itu doa ini adalah termasuk doa yang paling lengkap dan paling berguna bagi seorang hamba. dengan demikian maka wajiblah atas manusia untuk berdoa kepada Allah dengan doa itu dalam setiap rakaat salat nya karena kebutuhan yang sangat kepada hal tersebut.
Sumber: https://tafsirweb.com/58-surat-al-fatihah-ayat-6.html
📚 Tafsir Al-Wajiz
Tuntunlah kami menuju jalan yang lurus, jelas dan tidak menyimpang, yaitu islam dan iman
Sumber: https://tafsirweb.com/58-surat-al-fatihah-ayat-6.html
📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Bacaan mayoritas (ulama’) menggunakan huruf shad, dibaca juga (sirath), dan dengan huruf “zay”. Al-Farra' berkata bahwa ini merupakan dialek Bani 'Udzrah dan Bani Kalb. Ketika pujian telah diungkapkan kepada Allah SWT, maka boleh dilanjutkan dengan permintaan.
Seperti firmanNya: (Maka separuhnya untukKu, dan separuhnya lagi untuk hambaKu, dan hambaKu akan mendapatkan apa yang ia minta”. Inilah sikap yang paling sempurna bagi seorang yang meminta, yaitu memuji yang Dzat yang dimintai, kemudian meminta kebutuhannya dan kebutuhan saudara-saudara mukminnya dengan mengatakan: “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus(6)) karena permohonan ini lebih baik untuk mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan dan lebih layak untuk dikabulkan. Oleh karena itu, Allah membimbing untuk melakukan hal ini, karena itu lebih sempurna. Terkadang permintaan itu berupa informasi tentang keadaan dan kebutuhan orang yang meminta, sebagaimana yang dikatakan nabi Musa AS: (Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku) (Surah Al-Qashash: 24).
Atau bisa juga disertai dengan penyebutan sifat-sifat Dzat yang dimintai, seperti apa yang dikatakan oleh Dzun Nun (nabi Yunus): (Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".) (Surah Al-Anbiya’: 87).
Namun terkadang dapat dilakukan hanya dengan memuji Dzat yang dimintai saja Seperti yang dikatakan oleh penyair: Akankah aku menyebutkan kebutuhanku atau cukup bagiku rasa maluku terhadapMu Sungguh sudah kebiasaanku malu terhadapMu" Jika seseorang memujiMu suatu hari, maka telah cukup baginya Dzat yang menerima pujian "Hidayah" di sini merupakan petunjuk dan pertolongan. bahkan melampaui “hidayah” itu sendiri sebagaimana firman Allah SWT disini (Tunjukilah Kami jalan yang lurus (5)) Ayat ini mengandung makna "ilhamilah kami" atau “bimbinglah kami”, "berilah kami rezeki" atau "berikanlah kami karunia". FirmanNya (Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (10)) (Surah Al-Balad) maknanya yaitu Terangkanlah kepada kami kebaikan dan keburukan.
Dan dibubuhi dengan “ila” seperti firman Allah SWT (Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.) (Surah An-Nahl: 121) yang bermakna petunjuk dan bimbingan.
Begitu pula dalam firmanNya: (Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.) (Surah Ash-Shura: 52), dan diikuti dengan huruf "lam" seperti ucapan penduduk surga (Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini) (Surah Al-A'raf: 43) yang bermakna bahwa Allah telah membimbing kami kepada (surga) ini, dan menjadikan kami penghuninya.
Adapun terkait “jalan yang lurus” Imam Abu Ja'far bin Jarir berkata: para ahli tafsir sepakat bahwa (Ash-Shirat Al-Mustaqim) adalah jalan yang jelas dan tidak bengkok. Demikian juga dalam bahasa seluruh bangsa Arab. Berikut adalah ungkapan Jarir bin ‘Athiyah Al-Khatfiy: Pemimpin orang-orang mukmin itu berada di jalan yang lurus, ketika segala hal yang bengkok menjadi lurus" Abdullah bin Mas'ud dia berkata: "Jalan yang lurus adalah Kitabullah" Dikatakan: "Jalan yang lurus adalah Islam" Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa makna (Tunjukilah kami jalan yang lurus) yaitu Islam.
Makna hadits yang diriwayatkan oleh An-Nawwas bin Sam'an dari Rasulullah SAW bersabda: "Allah memberi perumpamaan jalan yang lurus, di kedua sisiku ada dua tembok dengan pintu-pintu terbuka, dan pada pintu-pintu tersebut ada tirai yang tergantung. Pada jalan itu ada penyeru yang berkata, “Wahai manusia sekalian, masuklah ke jalan ini, dan janganlah kamu bengkok”, dan ada penyeru yang memanggil-manggi dari tengah jalan. Ketika seseorang ingin membuka salah satu pintu itu, dia berkata Celaakalah kamu, jangan buka itu, sesungguhnya jika kamu membukanya maka kamu akan memasukinya.
Dan jalan itu adalah Islam, tembok-tembok itu adalah batasan-batasan Allah, dan pintu-pintu yang terbuka adalah larangan-larangan Allah. Para penyeru di ujung jalan itu adalah Kitabullah, dan penyeru dari atas jalan jalan itu adalah pemberi nasihat dari Allah dalam hati setiap orang muslim" Dari Ashim Al-Ahwal, dari Abu Al-'Aliyah berkata bahwa makna (Tunjukkilah kami jalan yang lurus) nabi Muhammad SAW dan dua sahabat setelahnya" Ashim berkata, "Kami menyampaikan hal itu kepada Hasan, lalu beliau berkata, 'Abu Al-'Aliyah benar dan dia memberi nasehat" Semua pernyataan ini benar dan lazim. Maka sesungguhnya siapa saja yang mengikuti Nabi SAW dan meneladani dua sahabat setelahnya, yaitu Abu Bakar dan Umar, maka dia telah mengikuti kebenaran.
Siapa saja yang mengikuti kebenaran, dia telah mengikuti agama Islam, dan siapa saja yang mengikuti Islam, dia telah mengikuti Al-Quran, yaitu Kitabullah, taliNya yang kuat, dan jalanNya yang lurus.
Semua pernyataan ini benar dan saling membenarkan, segala puji bagi Allah. Jadi makna dari firman Allah SWT (Tunjukkilah kami jalan yang lurus) adalah "Teruslah membimbing kami di jalan tersebut, dan jangan pindahkan kami ke jalan lain, dan jangan biarkan kami tersesat darinya"
Sumber: https://tafsirweb.com/58-surat-al-fatihah-ayat-6.html
Informasi Tambahan
Juz
1
Halaman
1
Ruku
1