الضحى (Ad-Duha)
Per AyatMushaf
وَالَّيْلِ
dan malam
اِذَا
apabila
سَجٰىۙ
telah sunyi
﴿٢﴾
dan demi malam apabila telah sunyi,
6081 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
1-3. Allah bersumpah dengan waktu dhuha,dan maksudnya adalah seluruh siang, Allah bersumpah Juga dengan malam yang membuat makhluk tenang dan kegelapannya pekat. Allah bersumpah dengan makhluk yang Dia kehendaki. sedangkan makhluk tidak boleh bersumpah dengan selain khaliknya,karena sumpah dengan selain Allah adalah syirik.Tuhanmu (wahai nabi),tidak meninggalkanmu dan tidak marah kepadamu hanya karena menahan wahyu darimu.
Sumber: https://tafsirweb.com/12812-surat-ad-dhuha-ayat-2.html
Tafsir as-Sa'di
1-3. Allah bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, “apabila telah sunyi,” dan gelap gulita, atas perhatian Allah terhadap RasulNya seraya berfirman, “Rabbmu tiada meninggalkan kamu,” yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhatikanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan merawatmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, “dan tiada (pula) benci kepadamu,”maksudnya Allah tidaklah membencimu, sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebaikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan.Inilah keadaan Rasulullah sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah dan perhatian Allah pada beliau.
Sumber: https://tafsirweb.com/12812-surat-ad-dhuha-ayat-2.html
Tafsir Al-Wajiz
1-2. Aku bersumpah demi waktu meningginya matahari di permulaan siang. Sa’id bin Manshur Al-Faryabiy mengatakan dari Jundub yang berkata: “Jibril telah melambatkan Nabi ﷺ, kemudian orang-orang musyrik berkata:”Sungguh Muhammad telah ditinggalkan”.Dan demi malam yang ditempati manusia untuk istirahat, dan menutupi segala sesuatu dengan kegelapannya.
Sumber: https://tafsirweb.com/12812-surat-ad-dhuha-ayat-2.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 1-11 Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Qais, dia berkata,”Aku mendengar Jundub berkata bahwa Nabi ﷺ mengalami sakit selama satu atau dua malam sehingga beliau tidak melakukan qiyamul lail. Maka datanglah kepadanya seorang wanita dan berkata,"Wahai Muhammad, menurutku setanmu itu tidak lain telah meninggalkanmu" Maka Allah سبحانه وتعالى menurunkan firmanNya: (Demi waktu matahari sepenggalah naik (1) dan demi malam apabila telah sunyi (2) Tuhanmu tiada meninggalkanmu dan tiada (pula) benci kepadamu (3)) Ini merupakan sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan menyebut waktu dhuha dan cahaya yang Dia ciptakan padanya (dan demi malam apabila telah sunyi (2)) yaitu jika tenang dan gelap gulita. Pendapat ini dikatakan Mujahid, Ibnu Zaid, dan lainnya.Hal ini menunjukkan bukti yang jelas dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) (1) dan siang apabila terang benderang (2)) (Surah Al-Lail) dan Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan.Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (96)) (Surah Al-An'am) Firman Allah سبحانه وتعالى: (Tuhanmu tiada meninggalkan kamu) yaitu, Dia tidak meninggalkanmu (dan tiada (pula) benci kepadamu) yaitu Dia tidak murka kepadamu. (dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan (4)) yaitu, Sungguh akhirat itu lebih baik bagimu daripada negeri ini.Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling zuhud terhadap dunia dan paling menjauhinya serta paling tidak menyukainya, sebagaimana yang telah diketahui dari perjalanan hidup beliau ﷺ ketika Nabi ﷺ disuruh memilih di akhir usia beliau antara hidup kekal di dunia sampai akhir usia dunia kemudian ke surga dan antara kembali ke sisi Allah سبحانه وتعالى. Maka beliau ﷺ memilih apa yang ada di sisi Allah daripada dunia yang rendah ini. Firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas (5)) yaitu kelak di akhirat Allah memberinya hingga dia merasa puas tentang umatnya dan juga kemuliaan yang telah disediakan oleh Allah untuk dirinya berupa telaga Kautsar yang kedua tepinya berupa kubah-kubah dari mutiara yang berongga, sedangkan tanahnya bibit minyak kasturi.Diriwayatkan dari Ali bin Abdullah bin Abbas, dari ayahnya, dia berkata bahwa ditampakkan kepada Rasulullah ﷺ apa yang bakal dibukakan untuk umatnya setelah tidak ada perbendaharaan demi perbendaharaan. Lalu Allah سبحانه وتعالى menurunkan firmanNya: (Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas (5)) Allah سبحانه وتعالى memberikan kepada beliau ﷺ di dalam surga satu juta gedung, dalam setiap gedung terdapat istri-istri dan para pelayan. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bilangan nikmat-nikmat yang telah Dia karuniakan kepada hamba dan RasulNya, nabi Muhammad ﷺ: (Bukanlah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu (6)) Demikian itu karena ayah beliau wafat sejak beliau masih berada dalam kandungan ibunya.Firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk (7)) sebagaimana firmanNya: (Dan demikianlah Kami wahyukan kepada wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjukkan dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami) (Surah Asy-Syura: 52).Firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan (8)) yaitu sebelumnya kamu hidup dalam keadaan fakir dan memiliki banyak anak, lalu Allah memberimu kecukupan dari selainNya. Jadi Allah menghimpunkan bagi beliau antara kedudukan orang fakir yang sabar dan orang kaya yang bersyukur. Qatadah berkata tentang firmanNya: (Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu (6) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk (7) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan (8)) dia berkata demikianlah kedudukan Nabi ﷺ sebelum beliau diangkat menjadi rasul oleh Allah سبحانه وتعالى.Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang (9)) yaitu sebagaimana kamu dahulu seorang yang yatim, lalu Allah melindungimu, maka janganlah berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. yaitu janganlah menghina, membentak, dan merendahkannya, tetapi berbuat baiklah dia, dan kasihanilah dia. Qatadah berkata yaitu jadilah terhadap anak yatim itu sebagai seorang ayah yang penyayang. (Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya (10)) yaitu sebagaimana kamu dahulu dalam keadaan kebingungan, lalu Allah memberimu petunjuk, maka janganlah menghardik orang yang meminta ilmu yang benar. Mujahid berkata bahwa yang dimaksud adalah kenabian yang diberikan Tuhanmu kepadamu (Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) (11)) yaitu sebagaimana kamu dahulu orang memiliki banyak keluarga dan miskin, lalu Allah menjadikanmu berkecukupan, maka ceritakanlah nikmat Allah yang diberikan kepadamu.Ibnu Jarir berkata,”Diriwayatkan dari Abu Nadhrah, dia berkata bahwa dahulu orang-orang muslim memandang bahwa termasuk mensyukuri nikmat-mkmat Allah adalah dengan menceritakannya.
Sumber: https://tafsirweb.com/12812-surat-ad-dhuha-ayat-2.html
Informasi
Surat
الضحى (Ad-Duha)
Duha — 11 ayat
Tempat Turun
Makkiyah
Ayat ke-
2 dari 11 ayat
Juz
Juz 30
Halaman
Halaman 596
Ruku
Ruku 535
Manzil
Manzil 7
Hizb
Hizb 119 (238/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-6081 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-93