النساۤء (An-Nisa')
Per AyatMushaf
يٰٓاَيُّهَا
wahai
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
اٰمَنُوْا
beriman
كُوْنُوْا
jadilah kamu
قَوَّامِيْنَ
orang-orang yang menegakkan
بِالْقِسْطِ
dengan keadilan
شُهَدَاۤءَ
menjadi saksi
لِلّٰهِ
bagi/karena Allah
وَلَوْ
walaupun
عَلٰٓى
atas/terhadap
اَنْفُسِكُمْ
diri kalian sendiri
اَوِ
atau
الْوَالِدَيْنِ
kedua orang tua
وَالْاَقْرَبِيْنَ
dan kaum kerabat
ۚ
اِنْ
jika
يَّكُنْ
adalah
غَنِيًّا
kaya
اَوْ
atau
فَقِيْرًا
miskin
فَاللّٰهُ
maka Allah
اَوْلٰى
lebih dekat (tahu)
بِهِمَاۗ
dengan keduanya
فَلَا
maka janganlah
تَتَّبِعُوا
kamu mengikuti
الْهَوٰٓى
hawa nafsu
اَنْ
jika
تَعْدِلُوْا
kamu berbuat adil
ۚ
وَاِنْ
dan jika
تَلْوٗٓا
kamu memutar balikkan
اَوْ
atau
تُعْرِضُوْا
kamu menentang/enggan
فَاِنَّ
maka sesungguhnya
اللّٰهَ
Allah
كَانَ
adalah Dia
بِمَا
dengan/terhadap apa
تَعْمَلُوْنَ
kamu kerjakan
خَبِيْرًا
Maha Mengetahui
﴿١٣٥﴾
Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.
628 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta menjalankan syariatNya, jadilah kalian orang-orang yang senantiasa tegak menjalankan keadilan, mengemukakan persaksian karena mengaharap wajah Allah , walaupun terhadap diri kalian sendiri atau ayah-ayah dan ibu-ibu kalian atau terhadap karib kerabat kalian, bagiamanapun keadaan orang yang dipersaksikan, baik kaya maupun miskin, karena sesungguhnya Allah lebih utama memperhatikan mereka dibandingkan kalian dan lebih tahu apa yang mendatangkan kemaslahatan mereka berdua. Janganlah membawa kalian hawa nafsu dan fanatik buta untuk meninggalkan sikaf adil. Apabila kalian mengubah-ubah persaksian dengan lisan-lisan kalian,lalu kalian membawakan persaksian yang tidak sebenarnya atau berpaling darinya dengan tidak mengemukakannya atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah maha mengetahui sekecil apapun tindakan kalian dan akan memberikan balasan kepada kalian menurut perbuatan tersebut.
Sumber: https://tafsirweb.com/1667-surat-an-nisa-ayat-135.html
Tafsir as-Sa'di
135. Allah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman agar mereka menjadi “orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah,” al-Qawwam (penegak keadilan) adalah sebuah kata yang menunjukkan makna lebih (Sighah mubalagah), artinya jadilah kalian penegak keadilan dalam segala kondisi terhadap hak-hak Allah dan dan hak-hak hamba-hambaNya. Adil terhadap hak-hak Allah adalah tidak memakai nikmat-nikmatNya untuk bermaksiat kepadaNya, akan tetapi seharusnya dipergunakan dalam ketaatan kepadaNya, sedang adil terhadap hak-hak manusia adalah menunaikan segala hak-hak yang menjadi tanggung jawabmu sebagaimana engkau meminta hak-hak dirimu.Maka anda menunaikan nafkah-nafkah yang wajib dan hutang-hutang, dan bermuamalah terhadap manusia dengan akhlak dan tata karma yang Anda sendiri ingin diperlakukan dengannya, juga dengan penghargaan dan sebagainya. Di antara bentuk-bentuk keadilan yang paling agung adalah adil dalam menilai ucapan dan orang-orang yang memiliki pandangan tersebut, tidak menetapkan untuk salah satu perkataan atau salah satu dari dua orang yang berselisih hanya karena bernisbah kepadanya atau kecondongannya kepada salah satunya, akan tetapi ia harus berlaku adil di antara keduanya, dan di antara keadilan itu adalah menunaikan kesaksian yang ada padamu dalam bentuk apa pun, hingga walaupun atas orang-orang yang dicintai, bahkan atas diri sendiri, karena itulah Allah berfirman, “Menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya,” maksudnya, janganlah kalian mempertimbangkan seorang yang kaya karena kekayaannya, dan seorang yang miskin dengan prasangka bahwa hal itu adalah sebagai belas kasih baginya, akan tetapi bersaksilah dengan benar atas siapa pun orangnya.Menegakkan keadilan adalah di antara perkara yang paling agung dan paling menunjukkan akan keberagaman penegak keadilan tersebut dan sikap hati-hatinya serta kedudukannya dalam Islam, maka wajiblah atas orang yang mau menasehati dirinya dan menghendaki keselamatan dirinya agar memperhatikan hal tersebut dengan sebaik-baiknya, dan selalu menjadikannya di hadapan matanya dan tujuan keinginannya, dan agar ia menghilangkan dari jiwanya segala hal yang menghalangi dan merintangi dirinya dari menegakkan keadilan atau mengamalkan keadilan tersebut, dan rintangan yang paling terbesar dalam hal itu adalah mengikuti hawa nafsu, karena itulah Allah memperingatkan agar menghilangkan rintangan tersebut dalam FirmanNya, “Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran,” yaitu janganlah kalian mengikuti syahwat diri kalian yang bertentangan dengan kebenaran, karena bila kalian mengikutinya, niscaya kalian akan menyimpang dari kebenaran dan kalian tidak diberi taufik kepada keadilan, karena sesungguhnya hawa nafsu itu akan membutakan mata hati orang tersebut hingga ia akan melihat kebenaran itu sebagai sebuah kebatilan dan kebatilan itu sebagai sebuah kebenaran, atau ia mengetahui kebenaran lalu meninggalkannya demi hawa nafsunya, maka barangsiapa yang selamat dari hawa nafsunya, niscaya ia akan diberi taufik kepada kebenaran dan akan diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Dan tatkala Allah menjelaskan bahwa yang wajib adalah menegakkan keadilan, Allah juga melarang dari perkara yang bertentangan dengan hal tersebut, yaitu penyimpangan lisan dari kebenaran dalam persaksian atau selainnya, dan pembelokkan kata dari kebenaran yang dimaksudkan dari segala sisinya atau dari beberapa sisinya, dan termasuk dalam hal itu adalah pembelokan kesaksian dan tidak menyempurnakannya atau penakwilan seorang saksi atas suatu hal yang lain, karena sesungguhnya ini adalah di antara bentuk penyimpangan, karena menyimpang dari kebenaran, “atau enggan menjadi saksi,” yaitu kalian meninggalkan keadilan yang ditetapkan pada kalian seperti seorang saksi yang meninggalkan kesaksiannya atau seorang hakim yang meninggalkan pengadilannya yang wajib dilakukan olehnya. “Maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan,” yaitu meliputi apa yang kalian kerjakan, mengetahui perbuatan-perbuatan kalian yang tersembunyi maupun yang Nampak, hal ini mengandung ancaman yang keras kepada orang yang menyimpang dalam berbicara atau meninggalkan yang seharusnya dikerjakan, dan yang lebih utama dan lebih patut lagi adalah orang yang menetapkan hukum dengan kebatilan atau bersaksi dengan saksi palsu, karena sesungguhnya hal tersebut adalah kejahatan yang paling besar, karena dua orang yang pertama telah meninggalkan kebenaran saja, sedang yang terakhir ini meninggalkan kebenaran dan menegakkan kebatilan.
Sumber: https://tafsirweb.com/1667-surat-an-nisa-ayat-135.html
Tafsir Al-Wajiz
135 Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan atas segala urusan keluarga, pemutusan masalah, pemerintahan dan masyarakat di antara manusia. Menjadi saksi karena Allah dengan menegakkan persaksian dengan benar biarpun terhadap dirimu sendiri dengan sebenarnya. Ataupun kepada ibu bapak dengan benar satu sama lain. –Ini disebutkan karena kedua orang tua adalah orang yang paling dicintai oleh seorang anak.- dan atau kepada kaum kerabatmu.Sebab mereka adalah golongan yang dicintai maka tetaplah bersaksi dengan sebenarnya, jangan kalian menyelewengkan persaksian. Jika ia yang disaksikan kaya ataupun miskin, maka Allah lebih utama dari pertimbangan itu semua. Jangan kalian hormati orang kaya karena kekayaannya, dan jangan kalian sepelekan orang miskin karena kemiskinannya, sehingga kalian dengan mudah menyelewengkan persaksian.Jangan menuruti hawa nafsu untuk mendatangkan manfaat atau mudharat kepada salah satu dari mereka, sebagai pengingkaran untuk dapat berbuat adil. Atau hawa nafsu tidak bisa dijadikan dasar untuk menentukan persaksian yang benar. Jika kalian gerakkan lisan kalian untuk bersaksi dengan tidak benar atau menyeleweng dari bersaksi secara benar maka sesungguhnya Allah maha Maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala apa yang kamu kerjakan dan Maha memberi balasan atas perbuatan kalian.Assiddi berkata bahwa ayat ini turun untuk nabi, ketika ada si kaya dan miskin sedang bertengkar sedangkan Nabi lebih condong kepada yang miskin, dengan dasar bahwa yang miskin tidak akan menzalimi yang kaya sehingga Allah melarang untuk menjadikan dasar kaya atau miskin sebagai dasar dalam bersaksi. Maka Allah berfirman Ya ayyuhalladzina amanu kunu...
Sumber: https://tafsirweb.com/1667-surat-an-nisa-ayat-135.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin untuk berlaku adil, sehingga mereka tidak condong ke kanan maupun ke kiri, tidak dicemooh oleh orang yang mencemooh dalam urusan dengan Allah, tidak dipalingkan dariNya oleh orang yang memalingkan, dan saling membantu, menolong, dan mendukung dalam urusan dengan Allah. Firman Allah (menjadi saksi) sebagaimana firmanNya, (hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah) (Surah Ath-Thalaq: 2) yaitu agar mereka harus memberikan kesaksian karena Allah.Jadi ketika itu juga kesaksiannya menjadi benar, adil, benar, dan bebas dari penyimpangan, perubahan, atau penyembunyian fakta. Oleh karena itu, Allah berfirman, (biarpun terhadap dirimu sendiri) yaitu bersaksilah atas kebenaran, bahkan kesaksian itu merugikan untuk dirimu sendiri.Jika kamu ditanya tentang suatu perkara, maka katakanlah kebenaran tentang perkara itu sekalipun kemudharatannya kembali padamu. Sesungguhnya Allah akan memberikan kepada orang yang taat kepadaNya kelapangan dan jalan keluar dari setiap perkara yang mempersulitnya. Firman Allah, (atau orang tua dan kaum kerabatmu) yaitu bahkan jika kesaksian itu atas orang tua atau kerabatmu, maka janganlah melindungi mereka dalam kesaksian itu, melainkan bersaksilah dengan kebenaran, bahkan harus jika kemudharatan dari kesaksian itu akan berimbas kepada mereka.Sesungguhnya kebenaran itu berlaku dan diberikan untuk setiap orang. Firman Allah, (Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya) yaitu janganlah melindungi seseorang karena kekayaannya atau karena kamu kasihan kepada seseorang karena kemiskinannya. Allahlah yang bertanggung jawab atas keduanya bahkan lebih berhak atas keduanya daripada kamu, serta lebih mengetahui apa yang lebih berguna bagi keduanya.Firman Allah, (Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran) yaitu janganlah mengikuti hawa nafsu, kecenderungan, atau kebencian terhadap orang-orang sehingga mengabaikan keadilan dalam urusan-urusan kalian. Akan tetapi, berpegang pada keadilan dalam segala keadaan, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa) [Surah Al-Ma'idah: 8] sesuai dengan ini, yaitu ucapan dari Abdullah bin Rawahah ketika Nabi ﷺ mengutusnya untuk mengambil buah-buahan dan hasil panen penduduk Khaibar.Mereka ingin menyaupnya agar dia berpihak kepada mereka. Lalu Abdullah berkata, "Demi Allah, aku datang kepada kalian mewakili orang yang paling aku cintai, dan kalian adalah orang-orang yang paling aku benci daripada musuh-musuh kalian yaitu kera dan babi. Akan tetapi, kecintaanku kepada beliau dan kebencianku kepada kalian tidak membuatku berbuat tidak adil kepada kalian.Mereka pun berkata,"Dengan ini, langit dan bumi tegak berdiri" Terkait firman Allah, ( Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi) Mujahid dan beberapa ulama’salaf lainnya berkata," Kata “Talwuu" maknanya adalah memutarbaillkkan dan mengganti kesaksian, “Al-Layu” yaitu memutar balikkan sesuatu dan sengaja berbuat dusta. Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui) (Surah Ali Imran: 78) Sedangkan "Al-I’radh" adalah menyembunyikan kesaksian dan mengabaikannya, Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya) (Surah Al-Baqarah: 283).Nabi ﷺ bersabda, (Sebaik-baik saksi adalah orang yang datang dengan kesaksiannya sebelum dia dimintai kesaksian" Oleh karena itu, Allah mengancam mereka dengan firmanNya, (maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan yang) yaitu Dia akan membalas kalian karena hal itu
Sumber: https://tafsirweb.com/1667-surat-an-nisa-ayat-135.html
Informasi
Surat
النساۤء (An-Nisa')
Wanita — 176 ayat
Tempat Turun
Madaniyah
Ayat ke-
135 dari 176 ayat
Juz
Juz 5
Halaman
Halaman 100
Ruku
Ruku 81
Manzil
Manzil 1
Hizb
Hizb 20 (40/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-628 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-4