Kembali ke Surat Al-Baqarah

البقرة (Al-Baqarah)

Surat ke-2, Ayat ke-67

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.”

📚 Tafsir Al-Muyassar

Dan Ingatlah -wahai Bani Israil- tindakan kejahatan para pendahulu kalian, dan banyaknya pembangkangan mereka serta debat mereka kepada Musa alaihi salam, tatkala Dia berkata kepada mereka “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kalian untuk menyembelih seekor sapi betina”, mereka menjawab dengan nada Sombong “apakah kamu mau menjadikan kami bahan olokan dan ejekan”. Maka Musa menjawab dengan berkata “aku memohon perlindungan kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang mengolok-olok”.

Sumber: https://tafsirweb.com/382-surat-al-baqarah-ayat-67.html

📚 Tafsir as-Sa'di

67. Maksudnya, dan ingatlah kalian apa yang terjadi pada kalian bersama Musa ketika kalian membunuh sesorang lalu kalian saling tuduh menuduh tentang itu, maksudnya kalian saling mengingkari dan saling berselisih tentang pembunuhnya hingga perkara itu menjadi rumit di antara kalian, dan hampir saja –sekiranya Allah tidak menjelaskannya untuk kalian- terjadi suatu keburukan yang dahsyat di antara kalian. Lalu Nabi Musa berkata kepada kalian untuk mengungkap pelaku pembunuhannya, ’kalian sembelihlah seekor sapi” dan yang wajib adalah bersegera dalam mentaati perintahnya tanpa ada sanggahan atasnya.

Akan tetapi mereka enggan melakukannya kecuali dengan memberikan sanggahan seraya mereka berkata, ”apakah kamu hendak menjadikan kami bahan ejekan?” Nabi Allah Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil, ” karena orang yang jahil itu adalah orang yang berbicara dengan perkataan yang tidak ada gunanya dan orang bodoh seperti itulah yang mengejek orang. Adapun orang yang berakal, maka pastilah dia akan meyakini bahwa sebesar-besarnya aib yang mengurangi derajat agama dan akal, adalah olok-olokannya terhadap orang yang mana dia adalah sama manusianya seperti dirinya, walaupun (memang) dia lebih utama daripada orang yang di hinanya, karena keutamaan itu menuntutnya bersyukur kepada Allah dan berlaku kasih sayang terhadap sesama makhluk. Dan ketika nabi Musa mengatakan hal itu kepada mereka, maka mereka mengetahui bahwa itu benar, lalu mereka berkata,

Sumber: https://tafsirweb.com/382-surat-al-baqarah-ayat-67.html

📚 Tafsir Al-Wajiz

Ingatlah wahai Bani Israil, ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih sapi betina untuk mengetahui pembunuh orang kaya yang mandul dan tidak memiliki apapun kecuali satu-satunya pewaris yaitu anak dari saudara laki-lakinya. Dia membunuhnya agar mendapatkan warisannya, kemudian membuangnya di depan pintu rumah seorang laki-laki Yahudi, lalu dia memberitahukan kematian orang tua itu kepada mereka. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Hatim dari Ubaidah As-Salmani bahwa mereka berkata kepada Musa: “Apakah kamu mengolok-olok dan mengejek kami?”.

Lalu Musa berkata: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang bodoh yang berbohong dengan membawa nama Allah, lalu bagaimana bisa aku menyampaikan perintah yang bahkan tidak Dia perintahkan?!

Sumber: https://tafsirweb.com/382-surat-al-baqarah-ayat-67.html

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Allah SWT berfirman: Wahai hai Bani Israil, dan ingatlah nikmatKu atas kalian terkait kebingungan kalian dalam urusan sapi betina, dan petunjuk tentang pembunuh, serta menghidupkan orang yang sudah mati dan membuatnya menunjukkan orang yang membunuhnya di antara kalian

Sumber: https://tafsirweb.com/382-surat-al-baqarah-ayat-67.html

Informasi Tambahan

Juz

1

Halaman

10

Ruku

9

Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk

Surah An-Nahl: 98

Adab Membaca Al-Quran

1. Suci dari Hadats

Pastikan dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil sebelum memegang dan membaca Al-Quran. Berwudhu terlebih dahulu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada kitab suci Al-Quran.

2. Niat yang Ikhlas

Membaca Al-Quran dengan niat mencari ridha Allah SWT, bukan untuk pamer atau mencari pujian. Niat yang ikhlas akan membawa keberkahan dalam membaca Al-Quran.

3. Menghadap Kiblat

Diutamakan menghadap kiblat saat membaca Al-Quran sebagai bentuk penghormatan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Posisi duduk yang sopan dan tenang juga dianjurkan.

4. Membaca Ta'awudz

Memulai dengan membaca ta'awudz dan basmalah sebelum membaca Al-Quran. Ta'awudz merupakan permintaan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

5. Khusyuk dan Tenang

Membaca dengan tenang dan penuh penghayatan, memahami makna ayat yang dibaca. Tidak tergesa-gesa dan memperhatikan tajwid dengan baik.

6. Menjaga Kebersihan

Membaca Al-Quran di tempat yang bersih dan suci, serta menjaga kebersihan diri dan pakaian. Hindari membaca Al-Quran di tempat yang tidak pantas.

7. Memperindah Suara

Membaca Al-Quran dengan suara yang indah dan tartil, sesuai dengan kemampuan. Tidak perlu memaksakan diri, yang terpenting adalah membaca dengan benar sesuai tajwid.

Masukan & Feedback:info@finlup.id
© 2026 quran.finlup.id - All rights reserved