الانعام (Al-An'am)

Per AyatMushaf
اَوَمَنْ
Ataukah orang
كَانَ
adalah dia
مَيْتًا
mati
فَاَحْيَيْنٰهُ
maka/kemudian Kami menghidupkannya
وَجَعَلْنَا
dan Kami jadikan
لَهٗ
untuknya
نُوْرًا
cahaya yang terang
يَّمْشِيْ
berjalan
بِهٖ
dengannya (cahaya itu)
فِى
di (tengah-tengah)
النَّاسِ
manusia
كَمَنْ
seperti orang
مَّثَلُهٗ
serupa dengan dia
فِى
di (tengah-tengah)
الظُّلُمٰتِ
kegelapan
لَيْسَ
tidak dapat
بِخَارِجٍ
keluar
مِّنْهَاۗ
daripadanya
كَذٰلِكَ
demikianlah
زُيِّنَ
dijadikan memandang baik
لِلْكٰفِرِيْنَ
bagi orang-orang kafir
مَا
apa
كَانُوْا
mereka adalah
يَعْمَلُوْنَ
mereka kerjakan
﴿١٢٢﴾
Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.
911 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Apakah orang yang hatinya sudah mati dan binasa lagi dilanda dengan kebingungan, lalu Kami hidupkan hatinya dengan iman dan kami berikan kepadanya cahaya-cahaya hidayah, dan kKami beri taufik untuk mengikuti rosul-rosul Kami, maka mereka menjadi hidup dalam cahaya-cahaya hidayah, sama seperti orang-orang yang hanyut dalam berbagai kejahilan (kebodohan), jeratan hawa nafsu dan gulungan keseatan yang bermacam-macam tidak tahu jalan menuju keselamatan dan jalan kebebasan dari kondisinya?. Mereka tidak sama. Dan sebagimana aku acuhkan orang kafir ini,yang mendebat kalian (wahai kaum mukminin) dan aku hiasi perbuatan buruknya, sehingga memandangnya baik, begitupula aku jadikan perbuatan-perbuatan buruk orang-orang yang terlihat bagus menurut mereka, agar dengan itu mereka pantas menerima azab.

Sumber: https://tafsirweb.com/2246-surat-al-anam-ayat-122.html

Tafsir as-Sa'di

122. Allah berfirman, “Dan apakah orang” yang belum diberi hidayah oleh Allah “yang sudah mati,” dalam kegelapan, kekufuran, kebodohan, dan kemasiatan, “kemudian Kami dihidupkan” dengan cahaya ilmu, iman, dan ketaatan, lalu dia berjalan dengan cahaya di antara manusia, dan mengutamakan kebaikan bersungguh-sungguh dalam menerapkannya pada dirinya dan orang lain, mengetahui keburukan, kebenciannya, bersungguh-sungguh meninggalkannya dan menghilangkannya dari diri dan orang lain, apakah orang ini sama dengan orang yang ada dalam kegelapan, baik kegelapan kebodohan, kesesatan, kekufuran dan kemaksiatan? “Yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya.” Jalan-jalan menjadi rancu, dan rambu-rambu menjadi gelap, maka kesedihan, kegalauan, dan kesengsaraan menghadirinya.Lalau Allah mengingatkan akal dengan apa yang ia kenal dan ia ketahui bahwa ini tidaklah sama dengan itu sebagaimana malam tidaklah sama dengan siang, keterang-benderangan tidaklah sama dengan kegelapan, orang hidup tidaklah sama dengan orang yang mati, seolah-olah dikatakan, “bagaimana orang yang mempunyai sedikit akal rela dalam keadaan seperti ini, dalam kegelapan-kegelapan kebingungan?” maka dia menjawab bahwa “dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir itu apa yang tidak mereka kerjakan.” Setan terus menjadikan amal mereka sehingga mereka bagus dan menghiasinya dalam hati mereka sehingga mereka mamandang baik dan benar, maka iapun menjadi akidah di dalam hati mereka dan sifat yang terpatri yang selalu mengiringi mereka, oleh karena itu mereka rela dengan keburukan dan kejahatan yang mereka alami.

Sumber: https://tafsirweb.com/2246-surat-al-anam-ayat-122.html

Tafsir Al-Wajiz

122 Kemudian Allah menunjukkan permisalan untuk orang mukmin dan kafir, yaitu: Apakah orang yang sudah mati dalam keadaan kafir dan tidak berilmu kemudian dia Kami hidupkan dengan iman, dan apakah juga akan Kami berikan kepadanya cahaya petunjuk, yang mana dengan cahaya itu dia dapat berjalan dan menerangi jalannya di tengah-tengah manusia, yaitu cahaya petunjuk. Serupa dengan orang yang berada dalam kegelapan yaitu orang-orang kafir yang sekali-kali tidak dapat keluar dari kegelapan itu? Sebagaimana Kami telah hiasi orang mukmin dengan iman, maka Kami jadikan pula orang yang kafir itu memandang baik berbagai perbuatan buruk yang telah mereka kerjakan.Ayat ini turun tentang Umar bin Khattab dan Abu Jahal bin Hisyam. Keduanya mati dalam keadaan sesat, lalu Allah menghidupkan Umar dengan Islam dan membiarkan Abu Jahal dalam kesesatannya. Ibnu Abbas berkata: “Yang dimaksud dalam Hamzah bin Abdul Muthallib dan Abu Jahal”

Sumber: https://tafsirweb.com/2246-surat-al-anam-ayat-122.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang mukmin yang sebelumnya adalah mati yaitu dalam kesesatannya dia binasa dan bingung, lalu Allah menghidupkannya, yaitu menghidupkan hatinya dengan keimanan, memberinya petunjuk, dan memberinya taufik untuk mengikuti para rasulNya. (dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia) yaitu diberi petunjuk bagaimana caranya menempuh jalan dan bagaimana dia diarahkan kesana. Cahaya itu adalah Al-Qur'an, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Aufi dan Ibnu Abi Thalhah dari Ibnu Abbas. As-Suddi berkata yaitu agama Islam.Semua pendapat itu benar (serupa dengan orang yang keadaannya berada di dalam gelap gulita) yaitu kebodohan dan kesesatan yang terpecah belah. (yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?) yaitu tidak diberi petunjuk menuju jalan keluar dari sesuatu yang mereka ada di dalamnya. Firman Allah سبحانه وتعالى: (Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan) yaitu Kami menjadikan bagus bagi mereka sesuatu yang mereka alami yaitu kebodohan dan kesesatan, sebagai takdir dari Allah dan hikmah, bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, tidak ada sekutu bagiNya

Sumber: https://tafsirweb.com/2246-surat-al-anam-ayat-122.html

Informasi

Surat

الانعام (Al-An'am)

Binatang Ternak — 165 ayat

Tempat Turun

Makkiyah

Ayat ke-

122 dari 165 ayat

Juz

Juz 8

Halaman

Halaman 143

Ruku

Ruku 116

Manzil

Manzil 2

Hizb

Hizb 29 (57/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-911 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-6