البقرة (Al-Baqarah)
Per AyatMushaf
وَمِنْ
dan dari
حَيْثُ
mana saja
خَرَجْتَ
kamu keluar
فَوَلِّ
maka hadapkanlah
وَجْهَكَ
wajahmu
شَطْرَ
kearah
الْمَسْجِدِ
Masjidil
الْحَرَامِ
Haram
ۗ
وَحَيْثُ
dan dimana
مَا
apa/saja
كُنْتُمْ
kalian adalah
فَوَلُّوْا
maka hadapkan
وُجُوْهَكُمْ
wajahmu
شَطْرَهٗ
kearahnya
ۙ
لِئَلَّا
agar tidak
يَكُوْنَ
mereka adalah
لِلنَّاسِ
bagi manusia
عَلَيْكُمْ
atas kalian
حُجَّةٌ
alasan
اِلَّا
kecuali
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
ظَلَمُوْا
(mereka) dzalim
مِنْهُمْ
diantara mereka
فَلَا
maka janganlah
تَخْشَوْهُمْ
kamu takut pada mereka
وَاخْشَوْنِيْ
dan takutlah kepadaKu
وَلِاُتِمَّ
dan agar Aku sempurnakan
نِعْمَتِيْ
nikmatKu
عَلَيْكُمْ
atas kalian
وَلَعَلَّكُمْ
dan supaya kamu
تَهْتَدُوْنَۙ
kalian mendapat petunjuk
﴿١٥٠﴾
Dan dari manapun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu, agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, dan agar kamu mendapat petunjuk.
157 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Dan dari tempat mana saja kamu keluar -wahai nabi- maka menghadaplah kamu ke Masjidil Haram, dan dimanapun kalian berada -wahai kaum muslimin- di negeri mana pun dari seluruh penjuru bumi, maka arahkan wajah-wajah kalian ke arah Masjidil Haram, agar tidak ada alasan bagi orang-orang yang menentang kalian untuk mengajak adu argumentasi perselisihan dan perdebatan setelah kalian menghadapnya, kecuali orang-orang yang zalim dan suka menentang dari mereka. Maka mereka akan terus menerus melancarkan perdebatan mereka, maka janganlah kalian takut kepada mereka, dan takutlah kepada Ku dengan menjalankan perintah Ku dan meninggalkan larangan Ku, supaya aku sempurnakan nikmat Ku atas kalian dengan memilih ajaran syariat yang paling sempurna bagi kalian, dan supaya kalian mendapat petunjuk menuju Al Haq dan kebenaran.
Sumber: https://tafsirweb.com/614-surat-al-baqarah-ayat-150.html
Tafsir as-Sa'di
150. “Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya,” lalu Dia berfirman, “Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari rabbmu,” Allah menegaskan dengan huruf Inna dan lam, agar tidak terjadi syubhat yang terkecil sekalipun pada seseorang, dan agar dia tidak mengira bahwa itu hanyalah kesenangan belaka dan bukannya melaksanakan perintah. “Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa apa yang kamu kerjakan,” akan tetapi Dia mengawasi kalian di segala kondisi kalian, maka berbuat baiklah kepadaNya dan cermatilah pengawasanNya dengan selalu melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, karena sesungguhnya perbuatan-perbuatan kalian itu tidak dilalaikan, akan tetapi akan mendapat balasannya dengan balasan yang paling sempurna; bila baik, maka baiklah balasannya, dan bila buruk, maka buruklah balasannya. Allah kemudian berfirman “Agar tidak ada hujjah (alasan) bagi manusia atas kamu,” maksudnya, Kami mensyariatkan bagi kalian untuk menghadap Ka’bah yang mulia, agar tidak ada bantahan dari ahli kitab dan kaum musyrikin kepada kalian, karena seandainya kalian masih tetap menghadap ke Baitul Maqdis, niscaya hujjah itu akan terus ada, karena sesungguhnya ahli kitab mendapatkan dalam kitab mereka bahwa kiblat mereka yang tetap adalah Ka’bah Baitul haram, sedang kaum musyrikin memandang bahwa di antara kehormatan milik mereka adalah Al Baitul haram tersebut, dan bahwa dia adalah ajaran Nabi Ibrahim, dan bila Nabi Muhammad tidak berkiblat ke arahnya, niscaya bantahan-bantahan mereka akan tertuju kepada beliau dengan berkata, bagaimana dia mengaku menganut ajaran Nabi Ibrahim sedangkan dia termasuk keturunannya, namun dia meninggalkan terhadap kiblatnya? oleh karena itu, dengan menghadap ke arah kiblat, maka tegaklah hujjah atas ahli kitab dan kaum musyrikin sekaligus serta lenyaplah bantahan mereka atas beliau kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka. Artinya orang yang berhujah diantara mereka dengan hujjah yang dia berlaku dholim dengannya yang tidak memiliki sandaran sama sekali kecuali hanya hawa nafsu dan kezhaliman, maka orang seperti ini tidak ada jalan untuk memuaskannya dan berhujah atasnya, demikian pula tidak ada artinya menjadi syubhat yang mereka utarakan dengan maksud membantah itu sebagai suatu masalah yang tidak perlu diperhatikan dan tidak perlu dipedulikan.Oleh karena itu Allah berfirman, “Maka janganlah kamu takut kepada mereka,” karena hujjah mereka adalah batil, sedangkan batil itu adalah seperti namanya sendiri yaitu sesuatu yang ditinggalkan, dan ahli kebatilan ditinggalkan.Hal ini sangat berbeda jauh dengan ahli kebenaran, karena kebenaran itu memiliki kekuatan dan kemuliaan yang menimbulkan rasa takut mereka yang berada dalam kebenaran, Allah memerintahkan untuk takut kepadaNya dimana Hal itu merupakan puncak dari segala kebaikan. Maka barangsiapa yang tidak takut kepada Allah, niscaya dia tidak akan menahan diri dari kemaksiatan kepada-Nya, dan tidak menunaikan perintahNya. Perpindahan kiblat kaum muslimin ke arah Ka’bah mengakibatkan fitnah yang besar yang dimunculkan oleh ahli kitab, kaum munafik dan kaum musyrikin.Mereka memperbesar fitnah itu dengan memperbanyak pembicaraan dan syubhat-syubhat tentangnya. Oleh karena itu alah membeberkan hal tersebut dan menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya serta menegaskannya dalam segala bentuk sarana-sarana penegasan yang dikandung dalam ayat ini: Pertama: adanya perintah untuk memalingkan wajah ke arah Ka’bah sebanyak 3 kali, padahal dengan sekali saja sudah cukup. Kedua: kesepakatan bahwa perintah itu ditujukan kepada rasul yang tentunya umatnya termasuk di dalamnya sebagai suatu konsekuensi, atau ditujukan langsung kepada umat yang bersifat umum, dan dalam ayat ini perintah kepada rasul secara khusus, “palingkanlah wajahmu” dan kepada umat secara umum dalam firman Allah, “Maka palingkanlah wajah kalian kearahnya” Ketiga: Bahwasanya Allah menolak segala bantahan batil yang dimunculkan oleh orang-orang durhaka, dan Allah menggugurkan semua syubhat satu demi satu sebagaimana yang telah dijelaskan.Keempat: Bahwasanya Allah memupus keinginan yang besar (ahli kitab) agar Rasul ikut terhadap kiblat ahli kitab (Baitul Maqdis). Kelima: firmanNya, “Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar suatu yang hak dari rabbmu.” Sudah cukup dan lengkap hanya dengan sebatas kabar dari Dzat yang benar dan agung, akan tetapi dengan hal itu juga Allah berfirman, “Sesungguhnya ketentuan itu adalah benar-benar sesuatu yang hak dari robbmu.” Keenam: Allah mengabarkan (dan Dia adalah Dzat yang maha tahu segala yang tersembunyi) bahwasanya tentang kebenaran hal itu telah diakui oleh ahli kitab, akan tetapi mereka menyembunyikan kesaksian itu padahal mereka mengetahui.Dan karena perintahNya tentang peralihan dalam menghadap kiblat bagi kita adalah sebuah nikmat yang besar, kasih sayang dan rahmatNya terhadap umat ini senantiasa bertambah, dan setiap kali Dia mensyariatkan kepada mereka suatu syariat agama itu merupakan suatu kenikmatan yang besar, maka Dia berfirman, “Dan agar kusempurnakan nikmatku atas kamu.” Maka dasar kenikmatan itu adalah Hidayah kepada agamaNya dengan mengutus rasulNya dan penurunan kitabNya, kemudian setelah itu ada kenikmatan-kenikmatan pelengkap bagi nikmat dasar ini yang tidak dapat dihitung banyaknya dan tidak dapat dibatasi sejak Allah mengutus rasulnya hingga mendekati kepergian beliau dari dunia. Allah telah memberikan kepadanya segala nikmat, serta memberikan kepada umatnya apa yang menyempurnakan nikmatnya itu Kepada beliau dan kepada mereka lalu Allah menurunkan wahyu kepadanya, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." QS Al Maidah ayat 3 Segala puji hanya milik Allah atas segala karuniaNya yang tidak mampu kita hitung, apalagi untuk mensyukurinya. “Dan supaya kamu mendapat petunjuk,” maksudnya, kalian mengetahui kebenaran lalu mengamalkannya. Maka Allah tabaroka wata'ala, termasuk rahmat-Nya terhadap hamba-hambaNya, yaitu Dia memudahkan bagi mereka sebab-sebab hidayah dengan sangat mudah sekali, dan Dia mengingatkan mereka untuk menempuh jalannya, lalu Allah menjelaskan kepada mereka dengan keterangan yang paling sempurna.Dan diantara hal itu adalah Dia menakdirkan bagi kebenaran itu adanya para pembangkang terhadapnya, lalu mereka berdebat tentangnya, hingga jelaskan kebenaran dan nampaklah ayat-ayat dan tanda-tandaNya, serta teranglah batilnya kebatilan itu dan bahwa kebatilan itu tidak ada hakekatnya sama sekali. Sekiranya bukan karena adanya perlawanan kebatilan terhadap kebenaran, mungkin saja keadaannya tidak akan jelas bagi sebagian besar makhluk, karena dengan hal yang kontradiksi, jelaslah segala sesuatu. Sekiranya bukan karena adanya malam hari, tidaklah diketahui keutamaannya siang hari, sekiranya bukan karena kejelekan, tidaklah diketahui keutamaan keindahan, sekiranya bukan karena kegelapan, tidak diketahui manfaatnya cahaya, dan sekiranya bukan karena kebatilan, maka kebenaran tidak akan benar-benar jelas.Akhirnya segala puji hanya bagi Allah atas semua itu.
Sumber: https://tafsirweb.com/614-surat-al-baqarah-ayat-150.html
Tafsir Al-Wajiz
150. Dimanapun kalian tinggal, maka menghadaplah ke arah Ka’bah. Wahai orang-orang muslim, dimanapun tempat kalian di alam ini, menghadaplah ke arah Ka’bah yang mulia.Pengulangan perintah sebanyak 3 kali merupakan sebuah penegasan tentang perubahan kiblat, supaya tidak ada satupun manusia yang memiliki peluang untuk berdebat dan berselisih tentang keberpalingan ke arah selain kiblat. Dan sia-sialah hujjah orang-orang Yahudi yang berkata: “Muhammad meninggalkan agama kami, namun mengikuti kiblat kami” dan hujjahnya orang-orang musyrik yang berkata: “Sesungguhnya Muhammad menganggap bahwa dirinya mengikuti Ibrahim, namun dia meninggalkan kiblatnya (Ka’bah)” Dan arah kiblat kalian ke Masjidil haram menghalangi perkataan-perkataan ini. Adapun orang-orang yang menzalimi diri sendiri di antara mereka dengan bertingkah keras kepala dan sombong, yaitu orang-orang musyrik Allah, maka janganlah kalian takut terhadap fitnah dan bantahan mereka yang dilakukan dengan bathil.Takutlah terhadap hukumanKu, jika menentang perintahKu, dan supaya Aku bisa menyempurnakan nikmatKu setelah Aku tunjukkan kepada kalian kiblatKu. Dan kalian akan menaklukkan Mekah. Kalian akan memasuki Baitul Haram dengan aman dan tenang, serta supaya kalian mendapat petunjuk menuju kebenaran.
Sumber: https://tafsirweb.com/614-surat-al-baqarah-ayat-150.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 149-150 Ini adalah ketiga kalinya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk menghadap Ka'bah dari seluruh penjuru bumi. Mereka berbeda pendapat mengenai hikmah pengulangan perintah ini sebanyak tiga kali. Dikatakan bahwa ini adalah penegasan karena ini adalah nasakh pertama dalam Islam, sesuai dengan penjelasan Ibnu Abbas dan yang lainnya.Dikatakan juga bahwa ini adalah firman yang diturunkan sesuai dengan keadaan. Perintah pertama untuk mereka yang berada di dekat Ka'bah. Perintah kedua untuk mereka yang berada di Mekah tetapi tidak berada di dekatnya, dan perintah ketiga untuk mereka yang berada di daerah lain.Ini adalah pandangan Fakhruddin Ar-Razi. Al-Qurtubi berkata: Perintah pertama adalah untuk mereka yang berada di Mekah, perintah kedua adalah untuk mereka yang berada di daerah lain, dan perintah ketiga adalah untuk mereka yang berada dalam perjalanan. Pendapat ini lebih kuat menurut Al-Qurtubi.Dikatakan juga bahwa pengulangan ini hanya disebutkan untuk mengaitkannya dengan konteks sebelum atau sesudahnya. Misalnya, Allah berfirman, Pertama (Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi) hingga (Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka.Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan) [Surah Al-Baqarah: 144].Dalam konteks ini, Allah memberikan jawaban atas permintaan Rasulullah ﷺ dan memerintahkannya untuk menghadap kiblat yang beliau inginkan dan sukai. Dalam perintah kedua, (Dan dari manapun engkau (Muhammad) keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan (149)).Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa ini adalah kebenaran dari Allah. Ini mengonfirmasi perintah pertama di mana Rasulullah ﷺ menghadap kiblat sesuai dengan kehendaknya. Allah menjelaskan bahwa inijuga merupakan kebenaran dari Allah yang dicintai dan diridhai olehNya.Adapun perintah ketiga, adalah hikmah untuk melawan argumen orang-orang Yahudi yang selalu berargumen bahwa Rasulullah ﷺ menghadap ke arah yang sama dengan kiblat mereka sebelumnya. Mereka tahu dari kitab-kitab mereka bahwa Rasulullah ﷺ akan menghadap kiblat yang sama dengan nabi Ibrahim, yaitu Ka'bah, Demikian pula, orang-orang musyrik Arab yang kehilangan argumen mereka ketika Rasulullah ﷺ mengubah kiblatnya dari kiblat orang Yahudi yang mereka sukai, ke arah kiblat nabi Ibrahim yang lebih mulia. Mereka sangat menghormati Ka'bah dan sangat kaget ketika Rasulullah ﷺ menghadapkan kiblatnya kepada Ka'bah.Firman Allah, (agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu)), yaitu Ahli Kitab, karena mereka tahu bahwa tindakan ini merupakan sifat umat ini, yaitu menghadap ke Ka'bah. Jadi, ketika mereka kehilangan sifat ini, mereka tidak bisa lagi menggunakan argumen ini terhadap kaum muslimin, atau bahkan mungkin mereka tidak bisa mengklaim bahwa orang-orang muslim setuju dengan mereka dalam hal menghadap kiblat yang sama dengan yang mereka kehendaki sebelumnya. Abu Al-'Aliyah berkata: (agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu)). yang dimaksud adalah Ahli Kitab ketika mereka mengatakan: Muhammad berpindah arah ke Ka'bah, dan mereka berkata: Lelaki ini merindukan rumah ayahnya dan agama kaumnya. dan Hujjah mereka atas Nabi ﷺ ketika dia berpaling ke Baitullah yaitu mereka mengatakan: "Dia akan kembali ke agama kami sebagaimana dia kembali ke arah kiblat kami" Ibnu Abu Hatim berkata, dan diriwayatkan dari Mujahid, 'Atha', Adh-Dhahhak, Ar-Rabi' bin Anas, Qatadah, dan As-Suddi yang semua pendapatnya sejalan dengan ini.Mereka berkata tentang firmanNya: (kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka) - yaitu orang-orang musyrik dari suku Quraisy. Beberapa dari mereka hujjah yang sesat yaitu sebuah bantahan, bahwa mereka berkata: "Lelaki ini mengklaim bahwa dia berada di atas agama Ibrahim, jadi jika tujuannya adalah mengarah ke Baitul Maqdis berdasarkan agama Ibrahim, mengapa dia berbalik darinya?" Jawabannya: Allah سبحانه وتعالى memilihkan untuknya kiblat ke arah Baitul Maqdis terlebih dahulu, karena hikmah yang dimiliki olehNya dalam hal itu, lalu dia taat kepada Tuhannya dalam hal itu. Kemudian Allah mengubah arahnya menuju kiblat nabi Ibrahim yaitu Ka'bah, dan dia juga mentaati perintah Allah dalam hal itu.Rasulullah ﷺ adalah orang yang patuh kepada Allah dalam segala keadaan, tidak keluar sedikitpun dari perintah Allah, dan umatnya mengikutinya. Adapun firman Allah: (Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku) yaitu: Jangan takut pada orang-orang keras kepala yang berada dalam kegelapan. Takutlah kepadaKu.Karena Allah سبحانه وتعالى adalah Dzat yang layak untuk ditakuti. Dan firmanNya: (agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu) itu athaf kepada firmanNya (agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu)) agar Aku sempurnakan nikmatKu kepada kalian sesuai yang telah Aku tetapkan untuk kalian, yaitu menghadap Ka'bah Supaya Aku sempurnakan syariat bagi kalian dalam segala hal. (dan agar kamu mendapat petunjuk) yaitu: Menuju sesuatu yang dianggap sesat oleh umat-umat sebelumnya, Kami telah memberikan petunjuk kepada kalian dan mengistimewakan kalian dengan hal itu. Oleh karena itu, umat ini adalah umat yang paling mulia dan terbaik"
Sumber: https://tafsirweb.com/614-surat-al-baqarah-ayat-150.html
Informasi
Surat
البقرة (Al-Baqarah)
Sapi — 286 ayat
Tempat Turun
Madaniyah
Ayat ke-
150 dari 286 ayat
Juz
Juz 2
Halaman
Halaman 23
Ruku
Ruku 19
Manzil
Manzil 1
Hizb
Hizb 5 (9/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-157 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-2