ابرٰهيم (Ibrahim)
Per AyatMushaf
وَمَا
dan mengapa
لَنَآ
kami
اَلَّا
tidak akan
نَتَوَكَّلَ
kami bertawakkal
عَلَى
atas
اللّٰهِ
Allah
وَقَدْ
dan/padahal sesungguhnya
هَدٰىنَا
Dia telah memberi petunjuk
سُبُلَنَاۗ
jalan kami
وَلَنَصْبِرَنَّ
dan sungguh kami akan bersabar
عَلٰى
atas
مَآ
apa
اٰذَيْتُمُوْنَاۗ
kamu menyakiti kami
وَعَلَى
dan atas/kepada
اللّٰهِ
Allah
فَلْيَتَوَكَّلِ
hendaknya bertawakkal/berserah diri
الْمُتَوَكِّلُوْنَ
orang-orang yang bertawakkal
ࣖ
﴿١٢﴾
Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri.”
1762 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Dan bagaimana kami tidak bergantung kepada Allah, sedang Dialah Dzat yang menunjukan kami ke jalan keselamatan dari siksaanNya dengan cara mengikuti hukum-hukum agamaNya? Dan kami benar-benar akan bersabar mengahadapi gangguan kalian terhadap kami yang berbentuk ucapan buruk dan lainnya.Dan hanya kepada Allah semata, kaum mukminin bergantung dalam kemenangan mereka dan mengalahkan musuh-musuh mereka.
Sumber: https://tafsirweb.com/4058-surat-ibrahim-ayat-12.html
Tafsir as-Sa'di
12. “Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukan jalan kepada kami”, apakah yang menghalangi kami untuk bertawakal kepada Allah? Sementara kondisi kami berada di atas kebenaran daan hidayah. Barangsiapa berada di atas kebenaran dan petunjuk, maka hidayah (yang dia genggam) akan mengarahkannnya menuju kesempurnaan dalam bertawakal.Begitu pula yang telah diketahui, bahwa Allah akan menjamin untuk menolong dan menangani urusan orang yang mendapatkan hidayah, yang menyeru padanya. Berbeda halnya dengan orang yang tidak berdiri di atas kebenaran dan hidayah, maka dia bukan orang yang dijamin oleh Allah. Sepak terjangnya berlawanan dengan karakter orang yang bertawakal.Dalam ucapan ini, sepertinya terdapat sinyal dari para rasul kepada kaumnya dengan sebuah ayat yang agung, yaitu bahwa kaum mereka pada umumnya, mempunyai hegemoni dan penguasaan atas para rasul. Maka para rasul itu menentang mmereka (dengan bertawakal kepada Allah) dalam menghadapi tipu daya dan makar orang-orang yang mundustakan. Para rasul merasa benar-benar yakin dengan pertolongan Allah bagi mereka.Sungguh, Allah telah membebaskan mereka dari kejahatan kaumnya, padahal merekka begitu semangat dalam menghabisi para rasul dan memadamkan cahaya kebenaran yang mereka bawa. Sehingga ini laksana perkataan Nuh kepada kaumnya, ""Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku."(Yunus:71).Dan seperti perkataan Hud, "Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu". Huud menjawab: "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku."(Hud: 54-55). “Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami”, kami akan (tetap) melanjutkan dakwah kepada kalian dan menasehati serta mengingatkan kalian. Kami tidak peduli dengan gangguan yang kalian gencarkan kepada kami.Kami akan menempa diri kami untuk menghadapi siksaan yang kami peroleh dari kalian, kalian mengharapkan pahala dari Allah, dan demi untuk menasehati kalian. Semoga Allah memberikkan hidayah kepada kalian melalui banyaknya peringatan. “Dan hanya kepada Allah-lah”, kepadaNya semata, bukan selainNya “orang-orang yang bertawakal itu berserah diri”, karena bertawakal kepadaNya merupakan kunci segala kebaikan. Ketahuilah, bahwa tingkatan tawakal para rasul itu sudah berada di level paling atas dan kedudukan paling mulia.Yakni tawakal kepada Allah dalam menegakkan agamaNya, membela dan memberi hidayah kepada para hambaNya, serta dalam upaya penghapusan kesesatan dari mereka. Ini merupakan bentuk tawakal yang paling sempurna.
Sumber: https://tafsirweb.com/4058-surat-ibrahim-ayat-12.html
Tafsir Al-Wajiz
12. Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah, juga tidak ada yang melarang kami untuk itu, padahal Allah telah menunjukkan jalan rahmat-Nya kepada kami dan menjauhkan dari siksa-Nya. Kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami.Hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri kepadaNya”.
Sumber: https://tafsirweb.com/4058-surat-ibrahim-ayat-12.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 10-12 Allah سبحانه وتعالى memberitahukan tentang perdebatan yang terjadi antara orang-orang kafir dan para rasulNya. Demikian itu bahwa ketika para rasul mendapat jawaban keraguan dari umat mereka terhadap apa yang mereka bawa kepada umat mereka agar menyembah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagiNya. Lalu para rasul berkata: (Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah) Hal ini mengandung dua perkara: Pendapat pertama, apakah ada keragu-raguan terhadap keberadaanNya, Maka sesungguhnya fitrah manusia adalah menjadi saksi atas keberadaanNya, dan diciptakan dalam keadaan mengakui keberadaanNya.Orang yang mengakui Allah itu pasti memiliki fitrah yang sehat, tetapi terkadang fitrah manusia dijangkiti keraguan dan kebimbangan. Maka diperlukan pertimbangan dalil yang menunjukkan keberadaanNya. Oleh karena itu para rasul membimbing dan mereka ke jalan untuk mengenalNya bahwa Dia (Pencipta langit dan bumi) yang menciptakan dan mengadakan keduanya tanpa ada contoh sebelumnya.Sesungguhnya kejadian, penciptaan, dan pengaturan yang ada pada keduanya bahwa pasti ada yang membuatnya. Dia adalah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu, Dia adalah Tuhan dan pemiliknya. Pendapat kedua, tentang firmanNya: (Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah) yaitu Apakah dalam ketuhanan dan keesaanNya untuk disembah itu ada keraguan?Dia adalah Dzat yang menciptakan semua yang ada. Tidak ada yang berhak disembah selain Dia, tidak ada sekutu bagiNya. Sesungguhnya kebanyakan umat mengakui Tuhan yang Maha Pencipta, tetapi mereka menyembah bersamaNya tuhan selain Dia berupa perantara-perantara yang mereka sangka bisa memberi manfaat kepada mereka atau dapat mendekatkan mereka kepada Allah.Para rasul mereka berkata kepada mereka: (Dia menyeru kalian untuk memberi ampunan kepada kalian dari dosa-dosa kalian) yaitu di akhirat (dan menangguhkan (siksaan) kalian sampai masa yang ditentukan) yaitu di dunia ini. Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan kalian dan bertobat kepada-Nya. (Jika kalian mengerjakan yang demikian itu), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepada kalian sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya) (Surah Hud: 3).Para umat berkata kepada para rasul mereka seraya berhujjah tentang kedudukan risalah setelah mereka mendapatkan kedudukan yang pertama. Kesimpulan dari apa yang mereka katakan: (Kalian tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kami juga) yaitu bagaimana kami mengikuti kalian hanya dengan perkataan kalian, sedangkan kami belum melihat adanya suatu mukjizat dari kalian (Karena itu, datangkanlah kepada kami bukti yang nyata) yaitu yang luar biasa yang kami minta dari kalian (Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka:"Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kalian”) Yaitu memang benar kami adalah manusia biasa seperti kalian (akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya) yaitu kerasulan dan kenabian (Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kalian) sesuai dengan apa yang kalian minta (melainkan dengan izin Allah) yaitu setelah kami meminta kepadaNya dan izinNya kepada kami dalam hal itu (Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal) yaitu dalam semua urusan mereka. Kemudian para rasul berkata: (Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah) yaitu, apakah yang mencegah kami untuk berserah diri kepadaNya, dan Dia telah memberi petunjuk kepada kami jalan yang paling lurus, paling jelas, dan paling terang (dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kalian lakukan kepada kami) yaitu perkataan yang buruk dan perbuatan-perbuatan yang rendah (Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri)
Sumber: https://tafsirweb.com/4058-surat-ibrahim-ayat-12.html
Informasi
Surat
ابرٰهيم (Ibrahim)
Ibrahim — 52 ayat
Tempat Turun
Makkiyah
Ayat ke-
12 dari 52 ayat
Juz
Juz 13
Halaman
Halaman 257
Ruku
Ruku 212
Manzil
Manzil 3
Hizb
Hizb 52 (103/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-1762 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-14