النحل (An-Nahl)

Per AyatMushaf
وَقَالَ
dan berkata
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
اَشْرَكُوْا
(mereka) musyrik
لَوْ
jika
شَاۤءَ
menghendaki
اللّٰهُ
Allah
مَا
tidak
عَبَدْنَا
kami menyembah
مِنْ
dari
دُوْنِهٖ
selain Dia
مِنْ
dari
شَيْءٍ
sesuatu/apapun
نَّحْنُ
kami
وَلَآ
dan tidak
اٰبَاۤؤُنَا
bapak-bapak kami
وَلَا
dan tidak
حَرَّمْنَا
kami mengharamkan
مِنْ
dari
دُوْنِهٖ
selain Dia
مِنْ
dari
شَيْءٍ
sesuatu/apapun
ۗ
كَذٰلِكَ
demikian
فَعَلَ
perbuatan
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
مِنْ
dari
قَبْلِهِمْ
sebelum mereka
ۚفَهَلْ
maka apakah
عَلَى
atas
الرُّسُلِ
para Rasul
اِلَّا
melainkan
الْبَلٰغُ
penyampaian
الْمُبِيْنُ
nyata
﴿٣٥﴾
Dan orang musyrik berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)-Nya.” Demikianlah yang diperbuat oleh orang sebelum mereka. Bukankah kewajiban para rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.
1936 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Dan orang-orang Musyrik berkata, “Sekiranya Allah menghendaki kami hanya menyembahNya saja, pastilah kami tidak menyembah siapapun selainNya, baik kami maupun bapak-bapak kami sebelumnya, dan kami tidak pula mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya.” Dengan dalih batil seperti ini, orang-orang kafir terdahulu membela diri, sedangkan mereka adalah orang-orang yang berbohong. Sebab sesungguhnya Allah telah memerintahkan mereka dan melarang mereka, serta memberikan kepada mereka kemampuan untuk melaksanakan kewajiban yang di bebankanya kepada mereka, dan mengadakan bagi mereka kekuatan dan kehendak yang menjadi pangkal perbuatan-perbuatan mereka. Maka pembelaan diri mereka dengan menggunakan Qadha dan Qada, adalah usaha yang paling batil setelah adanya peringatan para Rasul kepada mereka.Tidaklah ada kewajidan atas rasul-rasul yang memperingatkan mereka kecuali hanya menyampaikan dengan jelas apa yang di bebankan terhadap mereka.

Sumber: https://tafsirweb.com/4383-surat-an-nahl-ayat-35.html

Tafsir as-Sa'di

35. kaum musyrikin membela diri atas tindakan syirik mereka dengan (dalih) masyi’atullah (kehendak Allah) bahwa, sekiranya Allah tidak menghendaki, niscaya mereka tidak akan berbuat syirik dan tidak mengharamkan sesuatu apa pun dari binatang binatang ternak yang Allah halalkan. Seperti mengharamkan bahirah, washilah, ham dan binatang lain bukan karena Allah. Ini merupakan argumentasi yang batil.Sekiranya pembelaan jenis ini tepat, niscaya Allah tidak akan menghukum orang orang sebelum mereka yang telah menyekutukan suatu obyek denganNya. Allah menghukum mereka dengan siksa yang sangat berat. Seandainya Allah menyukai praktik itu, maka Dia tidak menyiksa mereka.Tidaklah maksud mereka dengan ungkapan itu melainkan untuk menampik kebenaran yang dibawa oleh para rasul. Kalau tidak untuk tujuan demikian, sebetulnya mereka itu mengetahui bahwa tidak ada hujjah (pembelaan diri) bagi mereka untuk menggugat Allah. Allah sudah memerintahkan dan melarang mereka, serta memudahkan mereka untuk menjalankan beban yang mesti mereka pikul.Dia telah menciptakan kekuatan dan kehendak bagi mereka yang menjadi sumber perbuatan mereka. Gugatan mereka dengan menggunakan (dalih) ketentuan qadha dan qadar adalah termasuk kebatilan yang fatal. Demikianlah, dengan inderanya, setiap orang mengetahui kemampuan orang lain untuk mengerjakan sebuah perbuatan yang ia inginkan tanpa ada pihak yang menghambatnya.Maka mereka telah menggabungkan antara sikap pendustaan kepada Allah dan pendustaan terhadap rasul dan pendustaan terhadap perkara perkara yang dapat dicerna oleh akal dan indera. “maka tidaklah kewajiban atas para rasul, melainkan menympaikan (amanat Allah) dengan terang” yaitu yang jelas lagi tampak yang sampai menembus ke dalam hati, dan yang tidak menyisakan alasan bagi seseorang di hadapan Allah. Apabila para rasul telah menyampaikan kepada mereka perintah dan larangan yang berasal dari Rabb mereka, sementara mereka mengelak di hadapan para rasul dengan argumentasi bahwa takdir telah tertuliskan, maka tidak ada wewenang bagi para rasul sedikitpun. perhitungan tentang mereka di sisi Allah.

Sumber: https://tafsirweb.com/4383-surat-an-nahl-ayat-35.html

Tafsir Al-Wajiz

35. Orang-orang musyrik Makkah dengan maksud mengolok-olok dan mengingkari kenabian dan tugas Nabi berkata: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia berupa berhala, baik kami maupun bapak-bapak kami. Tidak pula kami mengharamkan sesuatupun berupa hewan ternak tanpa izin-Nya”.Itu semua adalah atas izin Allah, dan Allah meridhoi itu. Maka Allah menjawab: “Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan amanat Allah dengan terang, bukan untuk memberi hidayah kepada mereka.”

Sumber: https://tafsirweb.com/4383-surat-an-nahl-ayat-35.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 35-37 Allah سبحانه وتعالى memberitahukan tentang tertipunya orang-orang musyrik oleh apa yang mereka lakukan berupa kemusyrikan dan alasan mereka yang berpegang kepada takdir, yaitu melalui ucapan mereka: (Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah suatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)Nya) yaitu bahirah, saibah, washilah, dan lainnya yang mereka buat-buat sendiri tanpa ada keterangan yang diturunkan Allah. Dan kandungan perkataan mereka adalah bahwa seandainya Allah سبحانه وتعالى tidak suka dengan apa yang kami perbuat, maka Allah mengingkari perbuatan itu dengan menurunkan hukuman, dan Dia tidak memberikan kesempatan kepada kami untuk melakukannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya membantah alasan mereka yang keliru: (maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampai­kan (amanat Allah) dengan terang) yaitu perkaranya itu tidak seperti yang kalian duga bahwa Allah tidak mengingkari perbuatan kalian.Sungguh Allah telah meng­ingkari perbuatan kalian dengan pengingkaran yang keras, dan Dia melarang kalian melakukannya dengan larangan yang tegas. Dia telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat, yaitu kepada setiap generasi dan sejumlah rasul. Semuanya menyeru mereka untuk menyembah kepada Allah dan melarang menyembah kepada selainNya: (Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut) Allah سبحانه وتعالى terus mengutus para rasulNya kepada manusia dengan membawa risalah itu sejak terjadinya kemusyrikan di kalangan anak cucu Adam, yaitu sejak kaumnya nabi Nuh yang mana Allah mengutus nabi Nuh kepada mereka.Dia. adalah.rasul pertama yang diutus Allah kepada penduduk bumi sampai menutup mereka dengan nabi Muhammad ﷺ yang mencakup kalangan manusia dan jin, di belahan timur dan belahan barat. Semuanya sebagaimana yang dikatakan Allah سبحانه وتعالى: (Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya,"Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku” (25)) (Surah Al-Anbiya’) Allah سبحانه وتعالى berfirman di ayat yang mulia ini: (Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”) maka bagaimanakah seorang musyrik dapat diperkenankan berkata: (Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia) Maka kehendak Allah سبحانه وتعالى secara syar'i tentang mereka tidak ada, karena Allah سبحانه وتعالى melarang mereka tentang hal itu melalui lisan para rasulNya.Adapun kehendak Allah yang bersifat kenyataan yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu secara takdir, maka tidak ada hujjah bagi mereka dalam hal ini. Karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan neraka dan penduduknya dari kalangan setan dan orang-orang kafir. Dia tidak ridha kepada para hambaNya yang kafir.Dalam hal itu Allah mempunyai hujjah yang kuat dan hikmah yang pasti. Kemudian sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia mengingkari mereka dengan hukuman mereka di dunia setelah peringatan para rasul kepada mereka. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)) yaitu, tanyakanlah tentang perkara orang yang menentang para rasul dan mendustakan kebenaran, bagaimanakah: (Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu) (Surah Muhammad: 10) dan (Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya).Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku (18)) (Surah Al-Mulk) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan kepada Rasulullah ﷺ bahwa keinginan beliau agar mereka mendapat petunjuk itu tidak akan memberi manfaat bagi mereka ketika Allah menghendaki kesesatan mereka.Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah) (Surah Al-Maidah: 41) Nabi Nuh berkata kepada kaumnya: (Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kalian, sekiranya Allah hendak menye­satkan kalian) (Surah Hud: 34) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam ayat yang mulia ini: (Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya) Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Barang siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan (186)) (Surah Al-A'raf) dan (Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman (96) meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih (97)) (Surah Yunus) Firman Allah: (maka sesungguhnya Allah) yaitu perkara dan urusanNya adalah bahwa apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi.Oleh karena itu Allah berfirman (tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya) yaitu orang Dia sesatkan, maka siapakah yang dapat memberinya petunjuk selain Allah? maka tidak ada seorang pun (dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong) yaitu menyelamatkan mereka dari azab dan belenggu Allah.

Sumber: https://tafsirweb.com/4383-surat-an-nahl-ayat-35.html

Informasi

Surat

النحل (An-Nahl)

Lebah — 128 ayat

Tempat Turun

Makkiyah

Ayat ke-

35 dari 128 ayat

Juz

Juz 14

Halaman

Halaman 271

Ruku

Ruku 228

Manzil

Manzil 3

Hizb

Hizb 54 (108/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-1936 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-16