البقرة (Al-Baqarah)

Per AyatMushaf
وَاِذَا
dan apabila
لَقُوا
mereka berjumpa
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
اٰمَنُوْا
beriman
قَالُوْٓا
mereka berkata
اٰمَنَّا
kami telah beriman
ۚ
وَاِذَا
dan apabila
خَلَوْا
mereka kembali
اِلٰى
kepada
شَيٰطِيْنِهِمْ
syaitan-syaitan mereka
ۙ
قَالُوْٓا
mereka berkata
اِنَّا
sesungguhnya kami
مَعَكُمْ
bersama kalian
ۙاِنَّمَا
sesungguhnya hanyalah
نَحْنُ
kami
مُسْتَهْزِءُوْنَ
orang-orang yang berolok-olok
﴿١٤﴾
Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.”
21 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Orang-orang munafik tersebut apabila bertemu dengan kaum Mukminin mereka berkata: “kami membenarkan agama Islam seperti kalian”. akan tetapi jika mereka berpaling dan Pergi mendatangi para pemuka mereka yang kafir lagi membangkang terhadap Allah, mereka menegaskan di hadapan para tokoh itu bahwa mereka Tetaplah di atas kekafiran yang dulu dan tidak meninggalkannya, sesungguhnya mereka sekedar mengolok-olok kaum mukminin dan mengejek mereka.

Sumber: https://tafsirweb.com/234-surat-al-baqarah-ayat-14.html

Tafsir as-Sa'di

14. Inilah yang biasa keluar dari lisan-lisan mereka yang bukan dari hati mereka, yaitu bahwasanya mereka ini bila berkumpul dengan kaum Mukminin, maka mereka menampakkan bahwa mereka dalam satu manhaj dengan kaum Mukminin dan bahwa mereka sama dengan kaum Mukminin, namun bila mereka kembali kepada setan-setan mereka –yaitu pemimpin-pemimpin dan ketua-ketua kejahatan mereka-, maka mereka berkata, “sesungguhnya pada hakikatnya kami ini bersama kalian, kami hanya mengolok-olok kaum Mukminin dengan menampakkan kepada mereka bahwa kami berada di atas jalan mereka. “Inilah kondisi mereka secara lahir dan batin, dan tidaklah makar yang buruk itu kecuali akan menimpa pelakunya.

Sumber: https://tafsirweb.com/234-surat-al-baqarah-ayat-14.html

Tafsir Al-Wajiz

Ketika mereka bertemu orang-orang mukmin, mereka menampakkan keimanan mereka, dan ketika kembali kepada pemimpin-pemimpin kafir mereka, mereka berkata: kami adalah orang-orang yang tetap ingkar dan memperolok orang-orang muslim dengan berpura-pura sepakat dengan mereka

Sumber: https://tafsirweb.com/234-surat-al-baqarah-ayat-14.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Allah سبحانه وتعالى berfirman, apabila orang-orang munafik itu bertemu dengan orang-orang mukmin mereka berkata, (Kami telah beriman) maksudnya yaitu mereka menampakkan keimanan, janji dan kecintaan mereka kepada orang-orang mukmin dengan penuh kemunafikan, kepura-puraan dan untuk menghindar, serta agar mereka bisa ikut mengambil bagian dari kebaikan dan harta rampasan yang diperoleh oleh orang-orang mukmin. (Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka) maknanya yaitu ketika mereka berpaling dan pergi kepada para setan mereka. Kata (Khalau) ini mengandung makna berpaling, disambungkan dengan "ila" untuk menunjukkan fi'il yang mengandung dhamir dan fi'il yang tampak. Di antara para ulama, ada yang berpendapat bahwa "ila" di sini mengandung makna "ma'a".Pendapat pertama itu yang lebih baik, dan pendapat ini menjadi dasar ungkapan Ibnu Jarir. As-Suddi meriwayatkan dari Abu Malik bahwa (Khalau) maknanya adalah berlalu. "Setan-setan mereka) maknanya adalah para pemimpin, pembesar, dan pemuka mereka, yaitu para uskup Yahudi, para pemimpin orang musyrik, dan orang-orang munafik.Dari Ibnu Abbas, bahwa (Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka) itu adalah orang-orang Yahudi yang diperintah oleh mereka untuk berdusta, dan menentang apa yang dibawa Rasulallah ﷺ. Mujahid berkata bahwa (Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka) itu adalah para sahabat mereka yaitu orang-orang munafik dan orang-orang musyrik. Qatadah berkata bahwa (Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka) berarti kembali kepada para pemimpin dan pemuka mereka dalam hal kesyirikan dan kejahatan.Begitu juga, Abu Malik, Abu Al-'Aliyah, As-Suddi, dan Ar-Rabi' bin Anas menafsirkan demikian. Ibnu Jarir berkata bahwa setan dari segala sesuatu itu adalah yang menentangnya, dan bisa berasal dari golongan manusia dan jin, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan) (Surah Al-An'am: 112).Dalam "Musnad" dari Abu Dzar, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Berlindunglah kepada Allah dari setan-setan dari golongan manusia dan jin." Aku bertanya, "Ya Rasulullah, apakah ada setan dari kalangan manusia juga?" Beliau menjawab: "Iya". Dari Ibnu Abbas tentang firman Allah سبحانه وتعالى: (Mereka berkata," Sesungguhnya kami bersama kamu") maknanya adalah: "Kami berada di tempat yang sama dengan kalian", dan ayat (kami hanya berolok-olok) maknanya adalahi: "Kami hanya mengolok-olok dan bermain-main dengan kaum itu" Hal itu juga dikatakan oleh Ar-Rabi' bin Anas dan Qatadah. Dan firman Allah سبحانه وتعالى untuk menjawab dan menanggapi perbuatan mereka yaitu (Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan (15)) Ibnu Jarir berkata bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membalas perbuatan mereka itu pada hari kiamat, sebagaimana diterangkan dalam firmanNya: (Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)".Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa)' [Surah Al-Hadid: 13] dan firmanNya: (Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah) [Surah Ali Imran: 178].Ibnu Jarir berkata, "ini adalah balasan dan hal yang serupa berupa olok-olok, ejekan, dan tipu daya dari Allah untuk orang-orang munafik dan orang-orang yang berbuat syirik kepadaNya, ketika seseorang mengatakan dan menafsiri hal ini" Ulama' lainnya berkata bahwa maknanya yaitu ini bentuk olok-olok, celaan, dan cemoohan Allah atas mereka itu akibat kemaksiatan dan kekafiran yang mereka kerjakan. Ulama' lain juga berkata bahwa "ayat ini dan perumpamaan lainnya adalah bentuk jawaban, seperti seseorang yang berhasil menipu orang lain dan berkata: "Aku telah menipu kamu" padahal dia sebenarnya tidak menipu, tapi dia mengatakan itu setelah dia berhasil menipu. Ulama' lainnya berkata, Allah SWTmemberitahu bahwa Dia mengolok-olok mereka, lalu menampakkan hukum-hukumNya bagi mereka di dunia, seperti melindungi nyawa dan harta mereka, berbeda dengan apa yang menanti mereka di akhirat, yaitu siksa dan hukuman.Kemudian Ibnu Jarir menjelaskan dan mempertahankan pendapat terakhir ini karena tipu daya, tipuan, dan ejekan dengan tujuan main-main dan bercanda kepada Allah itu dilarang, tetapi apabila dengan tujuan membalas dengan adil dan memberi hukuman maka itu tidak dilarang. Firman Allah سبحانه وتعالى: (membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan) Ibnu Jarir berkata bahwa pendapat yang benar adalah Allah akan menambah pembiaran mereka dalam kedurhakaan dan kesombongan mereka, sebagaimana Allah berfirman: (Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat) [Surah Al-An'am: 110] Makna durhaka adalah melampaui batas sesuatu, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera( (Surah Al-Haqqah: 11).Dari Ibnu Abbas, bahwa makna (mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka) yaitu mereka kebingungan dalam kekufuran mereka. Hal ini juga dijelaskan oleh As-Suddi dengan menyandarkannya kepada para sahabat. Demikian juga Abu Al-‘Aliyah, Qatadah, Ar-Rabi' bin Anas, Mujahid, Abu Malik, dan Abdul Rahman bin Zaid tentang kekufuran dan kesesatan mereka.Ibnu Jarir berkata, Kata “Al-'amah” artinya kesesatan. Dikatakan,”Fulan menjadi buta, jika dia tersesat. Dia berkata, dan firman Allah (mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka) itu maknanya dalam kesesatan dan kekafiran mereka yang telah meliputi dan meninggikan mereka noda tersebut.Mereka bingung dalam kesesatan, dan tidak menemukan jalan keluar dari sana, sarena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah mengunci mati dan menetapkan kesesatan itu pada hati mereka, dan membutakan penglihatan mereka dari petunjuk, serta meliputi hatinya dengan kesesatan itu; sehingga mereka tidak melihat petunjuk, dan tidak mendapatkan jalan keluar. Sebagian ulama’ berkata: “Al-‘Amyu” adalah kebutaan untuk mata, dan “Al-‘Amah” adalah kebutaan hati. “Al-‘Amyu” juga terkadang digunakan untuk kebutaan hati. Allah سبحانه وتعالى berfirman: (sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada( (Surah Al-Hajj: 46).Bisa juga dikatakan: “(‘Amiha Ar-Rajulu Ya’mahu ‘Umuhan fa Huwa ‘Amihun wa ‘Aamihun) dan bentuk jamaknya adalah (‘Ummahun), dan unta betinanya hilang tersesat, ketika tidak diketahui ke mana perginya.

Sumber: https://tafsirweb.com/234-surat-al-baqarah-ayat-14.html

Informasi

Surat

البقرة (Al-Baqarah)

Sapi — 286 ayat

Tempat Turun

Madaniyah

Ayat ke-

14 dari 286 ayat

Juz

Juz 1

Halaman

Halaman 3

Ruku

Ruku 3

Manzil

Manzil 1

Hizb

Hizb 1 (1/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-21 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-2