المؤمنون (Al-Mu'minun)

Per AyatMushaf
فَاِذَا
maka apabila
نُفِخَ
ditiup
فِى
di/pada
الصُّوْرِ
sangkakala
فَلَآ
maka tidak
اَنْسَابَ
pertalian nasib
بَيْنَهُمْ
diantara mereka
يَوْمَىِٕذٍ
pada hari itu
وَّلَا
dan tidak
يَتَسَاۤءَلُوْنَ
mereka bertanya-tanya
﴿١٠١﴾
Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya.
2774 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Saat Hari Kiamat tiba, malaikat yang ditugasi meniup sangkakala telah meniupnya, dan manusia dibangkitkan, maka tidak ada kebanggaan dengan pertalian nasab pada hari itu sebagaimana mereka berbangga-bangga diri dengannya di dunia, dan tidak seorang pun yang bertanya kepada orang lain.

Sumber: https://tafsirweb.com/5993-surat-al-muminun-ayat-101.html

Tafsir as-Sa'di

101 Allah mengabarkan mengenai kengerian Hari kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakan telingan dan mendebarkan hati [dihari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara keselurhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menyebabkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan menjadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, “Dan apabila datang suara yang memekakan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukannya.” (Abasa:33-37).

Sumber: https://tafsirweb.com/5993-surat-al-muminun-ayat-101.html

Tafsir Al-Wajiz

101. Apabila sangkakala ditiup pada tiupan kedua maka tidak akan ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya karena kesibukan mereka pada hari itu

Sumber: https://tafsirweb.com/5993-surat-al-muminun-ayat-101.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 101-104 Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa apabila sangkakala telah ditiup untuk tiupan kebangkitan, dan semua manusia bangkit dari kubur, (maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu) yaitu hubungan nasab tidak berguna pada hari itu, dan orang tua tidak dapat menangisi anaknya dan tidak menoleh kepadanya. Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Dan tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya (10) sedangkan mereka saling melihat) (Surah Al-Ma'arij) yaitu, seseorang tidak bertanya kepada kerabatnya, sedangkan dia melihatnya, sekalipun dia menanggung dosa-dosa yang tidak kuat ditanggung, padahal kerabatnya itu orang yang paling disayangi di dunia, tetapi keadaan pada hari itu membuatnya tidak memperhatikannya, dan tidak membantu tanggungannya bahkan seberat sayap lalat pun.Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya (34) ibu dan bapak­nya (35) dari istri dan anaknya (36) Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya (37)) (Surah 'Abasa) Ibnu Mas'ud berkata bahwa ketika hari kiamat terjadi, Allah mengumpulkan semua manusia yang terdahulu dan yang terakhir, kemudian penyeru menyerukan,"Ingatlah, barangsiapa yang pernah dianiaya, maka datanglah dan ambillah haknya" dia berkata,”Maka bergembiralah orang yang mempunyai hak pada orang tua, anak, atau istrinya, sekalipun haknya itu kecil.Hal yang membenarkannya adalah firman Allah سبحانه وتعالى: (Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya (101)) Firman Allah سبحانه وتعالى: (Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan (102)) yaitu, barangsiapa yang kebaikannya berat, dan keburukannya ringan, walaupun hanya satu kebaikan. Pendapat itu dikatakan oleh Ibnu Abbas (Maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberun­tungan) yaitu orang-orang yang beruntung adalah orang-orang yang selamat dari neraka dan masuk surga. (Dan barang siapa yang ringan timbangannya) yaitu, keburukannya lebih berat melebihi kebaikannya. (maka mereka- itulah orang-orang yang merugikan diri sendiri) yaitu kecewa, binasa, dan kembali dengan membawa transaksi yang rugi. Oleh karena itu Allah berfirman: (mereka kekal di dalam neraka Jahannam) yaitu menetap di dalam neraka Jahannam untuk selamanya dan tidak akan dikeluarkan darinya (Muka mereka dibakar api neraka) Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (dan muka mereka ditutup oleh api neraka) (Surah Ibrahim: 50) dan (Seandainya orang kafir itu mengetahui, ketika mereka itu tidak mampu mengelakkan api neraka dari wajah dan punggung mereka, sedang mereka tidak mendapat pertolongan (tentulah mereka tidak meminta disegerakan) (39)) (Surah Al-Anbiya’) Firman Allah : (dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yaitu masam cemberut.Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Mas'ud tentang firmanNya: (dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat) bahwa tidakkah kamu pernah melihat kepala yang dikuliti sehingga gigi-giginya kelihatan dan kedua bibirnya telah disayat dan dikuliti?

Sumber: https://tafsirweb.com/5993-surat-al-muminun-ayat-101.html

Informasi

Surat

المؤمنون (Al-Mu'minun)

Orang-Orang Mukmin — 118 ayat

Tempat Turun

Makkiyah

Ayat ke-

101 dari 118 ayat

Juz

Juz 18

Halaman

Halaman 348

Ruku

Ruku 300

Manzil

Manzil 4

Hizb

Hizb 70 (139/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-2774 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-23