البقرة (Al-Baqarah)

Per AyatMushaf
اَلَّذِيْنَ
orang-orang yang
يُنْفِقُوْنَ
(mereka) menafkahkan
اَمْوَالَهُمْ
harta mereka
بِالَّيْلِ
di malam hari
وَالنَّهَارِ
dan siang hari
سِرًّا
(secara) sembunyi
وَّعَلَانِيَةً
dan terang-terangan
فَلَهُمْ
maka bagi mereka
اَجْرُهُمْ
pahala mereka
عِنْدَ
disisi
رَبِّهِمْۚ
Tuhan mereka
وَلَا
dan tidak ada
خَوْفٌ
kekhawatiran
عَلَيْهِمْ
atas mereka
وَلَا
dan tidak ada
هُمْ
mereka
يَحْزَنُوْنَ
(mereka) bersedih hati
﴿٢٧٤﴾
Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
281 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Orang-orang yang mengeluarkan harta mereka demi mengharap ridha Allah malam dan siang hari, baik dengan merahasiakan dan menampakkannya, maka bagi mereka pahala dari Tuhan mereka, tidak ada rasa takut pada mereka berkaitan dengan apa yang akan mereka hadapi di akhirat, dan merekapun tidak bersedih hati atas kesenangan-kesenangan dunia yang luput bagi mereka. Ketetapan ajaran syariat ilahi ini adalah manhaj islam dalam berinfak karena di dalamnya memuat unsur memenuhi kebutuhan orang-orang fakir dalam kemuliaan dan kehormatan yang terjaga serta pembersihan harta-harta orang kaya dan perwujudan semangat kerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan demi mencari Wajah Allah tanpa ada unsur tindakan represif dan pemaksaan.

Sumber: https://tafsirweb.com/1040-surat-al-baqarah-ayat-274.html

Tafsir as-Sa'di

274. “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati,” karena allah akan menaungi mereka dengan naunganNya pada hari di mana tidak ada naungan selain naunganNya. Allah akan memberi mereka kebaikan-kebaikan dan menolak dari mereka kesedihan, perasaan takut, dan khawatir, serta segala perkara yang dibenci.Dan FirmanNya, “Maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya,” setiap orang dari mereka menurut kondisinya masing-masing. Pengkhususan bahwa semua itu di sisi Tuhan mereka, menunjukkan atas kemuliaan kondisi tersebut dan keberadaannya pada suatu tempat yang besar, sebagaimana dalam hadist shahih, “Sesungguhnya seorang hamba bersedekah dengan sebiji kurma dari hasil usaha yang baik lalu diterima oleh Yang Maha Memaksa dengan TanganNya lalu Dia mengembangkannya untuk salah seorang di antara kalian sebagaimana salah seorang dari kalian mengembangkan anak kudanya hingga menjadi seperti gunung yang besar.” HR Bukhori 1410

Sumber: https://tafsirweb.com/1040-surat-al-baqarah-ayat-274.html

Tafsir Al-Wajiz

274. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah di setiap waktu baik malam ataupun siang, sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan, ektika seseorang membutuhkannya tanpa berlaku boros dan pelit dalam hal itu, maka bagi mereka itu pahala di sisi Tuhannya. Tiada kekhawatiran bagi mereka tentang azab hari kiamat.Mereka juga tidak bersedih atas sesuatu yang hilang dari mereka di dunia. Ayat ini turun untuk Ashabul Khail, yaitu orang-orang yang menunggang kuda di jalan Allah سبحانه وتعالى dan mereka berinfak.

Sumber: https://tafsirweb.com/1040-surat-al-baqarah-ayat-274.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 272-274 Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Mereka dulu tidak suka mengalah kepada keturunan mereka dari golongan orang-orang musyrik, maka mereka meminta izin, lalu diizinkan untuk mereka. Maka turunlah ayat ini: (Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri.Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan) (272)) Akan datang penjelasan di sisi Allah: (Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu…) (Surah Al-Mumtahanah: 8), yaitu hadits Asma' binti Abu Bakar tentang hal tersebut.Firman Allah: (Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah), ‘Atha’ Al-Khurasani berkata: yaitu jika kamu memberi karena Allah, maka kamu tidak ada tanggungan atas apa yang telah dikerjakanNya. Ini adalah makna yang baik. Kesimpulannya adalah bahwa orang yang bersedekah karena Allah, maka pahalanya ada di sisi Allah, dan tidak ada tanggungan atas dirinya dalam hal tersebut, baik dia melakukan kebaikan atau maksiat, berhak atau tidak berhak, dan dia diberi pahala sesuai dengan niatnya.Dasar dari hal ini adalah keseluruhan ayat: (Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dizalimi ….) Firman Allah: (kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah) yaitu: orang-orang muhajirin yang hijrah sepenuhnya kepada Allah dan kepada RasulNya dan menetap di Madinah, dan mereka tidak memiliki cara untuk memenuhi dan memperkaya mereka (mereka tidak dapat (berusaha) di bumi) yaitu: melakukan perjalanan untuk mencari nafkah. Berusaha di bumi adalah melakukan perjalanan. Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu)) (Surah An-Nisa': 101), dan (Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah…) (Surah Al-Muzzammil: 20) Firman Allah: (orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta) yaitu orang-orang yang tidak mengetahui tentang urusan dan keadaan mereka akan mengira bahwa mereka kaya karena kesederhanaan dalam pakaian, keadaan, dan perkataan mereka.Dalam hal ini, terdapat hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang miskin bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang banyak, lalu peminta itu diberi sesuap dua suap, atau sebutir dua butir kurma." Para sahabat bertanya, "Kalau begitu, seperti apakah orang yang miskin itu?" Beliau menjawab: "Orang miskin sesungguhnya ialah mereka yang tidak memiliki apa-apa untuk menutupi kebutuhannya, namun keadaannya itu tidak diketahui orang supaya orang bersedekah padanya, dan tidak pula meminta-minta ke sana ke mari” Hal itu diriwayatkan oleh Ahmad dari hadits Ibnu Mas’ud juga. Firman Allah: (Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya) yaitu, dengan ciri-ciri yang jelas bagi orang-orang berakal tentang sifat-sifat mereka, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka) (Surah Al-Fath: 29), dan (Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka) (Surah Muhammad: 30), serta dalam hadits yang terdapat dalam kitab sunan: “Hati-hatilah terhadap firasat orang mukmin, karena dia melihat dengan cahaya Allah.” Kemudian dia membaca ayat: (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (75))(Surah Al-Hijr) Firman Allah: (mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak) yaitu mereka tidak mendesak dalam meminta-minta dan tidak memberatkan orang lain dengan hal-hal yang tidak diperlukan.Jika meminta dan yang dimintai sesuatu memiliki sesuatu yang membuatnya tidak meminta-minta, maka dia telah mendesak dalam meminta, Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, dia bersabda: “Yang disebut orang miskin itu bukanlah seorang peminta-minta yang diberi orang satu atau dua biji kurma atau sesuap dua suap makanan. Tetapi orang miskin sesungguhnya, ialah orang yang tahu menjaga diri (dari meminta-minta). Jika kamu mau, maka bacalah firman Allah: “Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak…” Firman Allah: (Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui) yaitu tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariNya, dan Dia akan memberi balasan yang berlimpah dan sempurna pada hari kiamat, sesuatu yang paling mereka butuhkan Firman Allah: (Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (274)) Ini adalah pujian dari Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang berinfak di jalanNya dan mencari ridhaNya di semua waktu, baik malam maupun siang hari, serta keadaan rahasia maupun terbuka, sehingga termasuk memberi nafkah untuk keluarga juga, sebagaimana yang tercantum dalam hadits shahih Bukhari Muslim bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Sa'ad bin Abi Waqqas ketika dia sakit pada tahun Fathu Makkah, dan dalam suatu riwayat, pada tahun Haji Wada', "Sesungguhnya kamu tidak akan berinfak karena Allah melainkan kamu akan bertambah tinggi derajat dan kedudukannya, bahkan sampai apa yang kamu nafkahkan untuk istrimu" diriwayatkan dari hadits Syu’bah.Firman Allah: (maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya) yaitu pada hari kiamat, karena apa yang mereka lakukan, berupa infak karena ketaatan (Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati) dimana penafsirannya telah disebutkan sebelumnya

Sumber: https://tafsirweb.com/1040-surat-al-baqarah-ayat-274.html

Informasi

Surat

البقرة (Al-Baqarah)

Sapi — 286 ayat

Tempat Turun

Madaniyah

Ayat ke-

274 dari 286 ayat

Juz

Juz 3

Halaman

Halaman 46

Ruku

Ruku 39

Manzil

Manzil 1

Hizb

Hizb 10 (19/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-281 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-2