النّور (An-Nur)

Per AyatMushaf
وَالَّذِيْنَ
dan orang-orang yang
كَفَرُوْٓا
kafir/ingkar
اَعْمَالُهُمْ
amal-amal mereka
كَسَرَابٍۢ
seperti fatamorgana
بِقِيْعَةٍ
tanah datar/padang pasir
يَّحْسَبُهُ
mengiranya
الظَّمْاٰنُ
orang-orang yang dahaga
مَاۤءًۗ
air
حَتّٰٓى
sehingga
اِذَا
apabila
جَاۤءَهٗ
ia mendatanginya
لَمْ
ia tidak
يَجِدْهُ
mendapatkannya
شَيْـًٔا
sesuatu
وَّوَجَدَ
dan ia mendapatkan
اللّٰهَ
Allah
عِنْدَهٗ
disisinya
فَوَفّٰىهُ
lalu Dia mencukupkan
حِسَابَهٗ
perhitungannya
ۗ
وَاللّٰهُ
dan Allah
سَرِيْعُ
sangat cepat
الْحِسَابِ
perhitungan
ۙ
﴿٣٩﴾
Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
2830 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhan mereka dan mendustakan rasul-rasulNya, perbuatan-perbuatan mereka yang mereka pandang akan bermanfaat bagi mereka di akhirat, seperti silaturahmi, membebaskan tawanan dan kebaikan-kebaikan lainnya, adalah seperti fatamorgana, yaitu satu fenomena yang terlihat seperti air di permukaan tanah yang datar di siang hari, yang diduga orang dahaga sebagai air, kemudian ketika mendatanginya, ia tidak mendapatkan air. Orang kafir akan menyangka bahwa perbuatan-perbuatannya akan berguna bagi dirinya, lalu pada Hari Kiamat ternyata dia tidak mendapati balasan pahalanya, dan dia mendapati Allah mengawasinya, lalu menyempurnakan balasan perbuatannya secara penuh. Dan Allah maha cepat perhitunganNya, maka janganlah orang-orang jahil menganggap ancaman itu masih lama waktu terjadinya, sebab pasti akan datang.

Sumber: https://tafsirweb.com/6167-surat-an-nur-ayat-39.html

Tafsir as-Sa'di

39 “dan orang-orang kafir,” terhadap Rabb mereka dan mendustakan para RasulNya, ”amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar,” yaitu tanah datar yang tidak ada pepohonan dan tumbuhannya “yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga,” yaitu orang yang sangat dahaga, yang menghalusinasikan sesuatu yang tidak dihalusinasikan oleh orang lain, disebabkan rasa dahaganya. Padahal itu adalah halusinasi yang batil, lalu dia bermaksud untuk menghilangkan rasa dahaganya “hingga ketika dia mendatangi air itu, dia tidak mendapati sesuatu apapun,” maka dia benar-benar menyesal. Kehausannya makin menjadi parah lantaran harapannya terputus.Begitu pula amalan orang-orang kafir, ia ibarat fatamorgana, masih bisa dilihat lalu orang yang bodoh, (yang tidak mengerti perkara-perkara) menyangkanya merupakan amalan-amalan yang bermanfaat. Kemasan amalan-amalan itu menipu dirinya, fantasinya mempermainkannya, dia pun mengira hal itu adalah amalan-amalan yang bermanfaat bagi hawa nafsunya. Dia juga merasa butuh bahkan sangat memerlukannya, sebagaimana kebutuhan orang yang dahaga terhadap air.Maka tatkala ia mendatangi amalannya pada Hari Pembalasan, dia merasa kehilangan dan tidak menemukan sesuatu apapun. Kondisi (sebenarnya) amalan-amalan itu tidak lenyap, tidak untuk kebaikannya atau mencelakainya. Bahkan “dia mendapati (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup,” yang tidak tersembunyi (walau) seringan partikel dan setipis kulit ari, tiada yang hilang dari amalan itu, sedikit ataupun banyak. “dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya,” maka janganlah orang-orang bodoh itu meminta tunda (waktu kedatangan) janji itu, karena ia pasti akan tiba.Allah mempermisalkan amalan-amalan orang-orang kafir layaknya fatamorgana, yang ada “ditanah datar,” yang tidak ada pep[ohonan dan tanaman. Ini permisalan hati-hati mereka, lantaran adanya faktor penghalang, yaitu kekafiran.

Sumber: https://tafsirweb.com/6167-surat-an-nur-ayat-39.html

Tafsir Al-Wajiz

39. Dan perbuatan orang-orang kafir itu berbanding terbalik dengan orang-orang mukmin, yaitu seperti fatamorgana: sesuatu yang dilihat di padang pasir akibat pantulan matahari saat tengah hari sehingga memunculkan asumsi bahwa itu adalah air yang ada di tengah qi’ah, yaitu tanah yang membentang dari bagian bumi yang diasumsikan oleh orang yang haus memiliki air, sampai ketika dia mencapai tempatnya di gurun pasir, dia tidak mendapati air disana sebagaimana yang diasumsikan.. Seperti itulah orang kafir yang menganggap bahwa amalnya bermanfaat pada hari kiamat, lalu ketika mati dia tidak mendapatkan manfaat apapun dari amalnya sebagaimana fatamorgana itu tidak memberi manfaat bagi orang yang haus dan dia mendapati Allah berada di sisi amalnya sedang menunggunya (Dia mendapati balasan atas amal perbuatannya).Lalu Allah membalasnya atas amal itu di dunia. Dan Allah itu Maha Cepat untuk membalas. Ayat ini diturunkan untuk Utbah bin Rabi’ah atau Syaibah bin Rabi’ah, keduanya mati dalam keadaan kafir.

Sumber: https://tafsirweb.com/6167-surat-an-nur-ayat-39.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 39-40 Kedua ayat ini merupakan dua buah perumpamaan yang dibuat Allah سبحانه وتعالى untuk menggambarkan dua macam orang kafir. Sebagaimana Allah membuat perumpamaan tentang orang-orang munafik dalam permulaan surah Al-Baqarah dua perumpamaan, yaitu api dan air. Dan sebagaimana Allah membuat perumpamaan tentang apa yang yang ditetapkan dalam hati berupa petunjuk dan ilmu dalam surah Ar-Ra'd sebanyak dua perumpamaan, yaitu air dan api.Kami membicarakan keterangan masing-masing di tempatnya sehingga tidak perlu diulangi lagi. Segala puji bagi Allah. Adapun perumpamaan pertama dari keduanya, dimana hal itu tentang keadaan orang-orang kafir yang menyeru orang lain kepada kekafiran mereka yang menduga bahwa mereka berada dalam jalan dan keyakinan yang benar, padahal kenyataannya mereka sama sekali tidak seperti itu.Perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan fatamorgana yang terlihat di tanah datar yang luas dari kejauhan. seakan-akan seperti lautan yang berombak. “Al-qai'ah” adalah bentuk jamak dari “qa'un”, seperti “jarun” yang bentuk jamaknya adalah “jairah”. “Al-qa'u” juga bisa menjadi bentuk tunggal dari “al-qai'an”, sebagaimana dikatakan “jarun”, bentuk jamaknya “Al-jiran”, yaitu tanah datar yang luas dan membentang serta di dalamnya ada fatamorgana, dan hal itu terjadi setelah lewat tengah hari. Sedangkan “Al-’al” terjadi pada permulaan siang hari, yang dilihat seakan-akan ada air antara langit dan bumi. Ketika fatamorgana terlihat oleh orang yang membutuhkan air, maka dia akan menduganya sebagai air yang dia inginkan untuk minum.Tetapi setelah dekat dengannya (dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun) Demikian juga keadaan orang kafir, dia menduga bahwa dirinya mengerjakan suatu amal dan bahwa dirinya pasti mendapat sesuatu. Tetapi apabila dia menghadap kepada Allah pada hari kiamat dan Allah menghisabnya dan menanyai semua amal perbuatannya, maka dia tidak mendapati sesuatu pun dari apa yang telah dia lakukan sebelumnya. Terkadang karena tidak ikhlas, atau karena tidak sesuai dengan tuntunan syariat, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadi­kan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan (23)) (Surah Al-Furqan) dan di sini Allah berfirman: (Dan dida dapati (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup, dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya) Demikianlah yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka'b, Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah dan lainnya.Perumpamaan ini merupakan gambaran tentang keadaan orang-orang yang bodoh berlipat-lipat. Adapun orang-orang bodoh yang biasa adalah sejumlah besar manusia yang mengikuti para pemimpin kafir yang bisu dan tuli yang tidak berakal. Perumpamaan mereka sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam) Qatadah berkata bahwa (lujiyyin) adalah dalam. (Yang diliputi oleh ombak, yang diatasnya ombak (pula), di­atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih bertindih, apabila ia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya) yaitu hampir saja tidak dapat melihatnya karena sangat gelap.Hal ini merupakan perumpamaan hati orang kafir yang kebodohannya sederhana yanghanya bertaklid, yang tidak mengetahui keadaan orang yang memimpinnya dan tidak mengetahui kemanakah dia pergi. Bahkan sebagaimana dalam perumpamaan dimana ditanya kepada orang bodok,"Kamu hendak pergi kemana?" dia menjawab,"bersama mereka" Dikatakan, "Kemana mereka pergi?" dia menjawab, "Aku tidak tahu" Ubay bin Ka'b berkata tentang firmanNya: (gelap gulita yang saling bertindih) Dia berada dalam lima kegelapan. Perkataannya kegelapan, amalnya kegelapan, tempat masuknya kegelapan, tempat keluarnya kegelapan, dan tempat kembalinya kepada kegelapan pada hari kiamat menuju neraka.As-Suddi dan Ar-Rabi' bin Anas berkata tentang itu juga. Firman Allah سبحانه وتعالى: (dan barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun) yaitu barangsiapa yang tidak mendapat petunjuk dari Allah, maka dia binasa, bodoh, terhalang, hancur, dan kafir. Sebagaimana firmanNya: (Barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tiada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya) (Surah Al-A'raf: 186) Ini merupakan kebalikan dari apa yang disebutkan Allah tentang perumpamaan orang-orang mukmin: (Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki) (Surah An-Nur: 35) Kita memohon kepada Allah yang Maha Agung, semoga Dia memberikan cahaya dalam hati kita semua; dan cahaya di sebelah kanan, dan sebelah kiri kita, dan semoga Dia membesarkan cahayaNya bagi kita

Sumber: https://tafsirweb.com/6167-surat-an-nur-ayat-39.html

Informasi

Surat

النّور (An-Nur)

Cahaya — 64 ayat

Tempat Turun

Madaniyah

Ayat ke-

39 dari 64 ayat

Juz

Juz 18

Halaman

Halaman 355

Ruku

Ruku 305

Manzil

Manzil 4

Hizb

Hizb 71 (142/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-2830 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-24