اٰل عمران (Ali 'Imran)
Per AyatMushaf
هُوَ
Dia
الَّذِيْٓ
yang
اَنْزَلَ
menurunkan
عَلَيْكَ
kepadamu
الْكِتٰبَ
Al Kitab
مِنْهُ
daripadanya
اٰيٰتٌ
ayat-ayat
مُّحْكَمٰتٌ
muhkamat (jelas maksudnya)
هُنَّ
itulah
اُمُّ
isi pokok
الْكِتٰبِ
Al Kitab
وَاُخَرُ
dan yang lain
مُتَشٰبِهٰتٌ
mutasyabihat (mengandung beberapa pengertian)
ۗ
فَاَمَّا
maka adapun
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
فِيْ
dalam
قُلُوْبِهِمْ
hati mereka
زَيْغٌ
condong pada kesesatan
فَيَتَّبِعُوْنَ
maka mereka mengikuti
مَا
apa (ayat-ayat)
تَشَابَهَ
mutasyabihat
مِنْهُ
daripadanya
ابْتِغَاۤءَ
untuk mengharapkan
الْفِتْنَةِ
fitnah
وَابْتِغَاۤءَ
dan mengharapkan/mencari
تَأْوِيْلِهٖۚ
penjelasannya
وَمَا
dan tidak
يَعْلَمُ
mengetahui
تَأْوِيْلَهٗٓ
penjelasannya
اِلَّا
melainkan
اللّٰهُ
Allah
ۘوَالرَّاسِخُوْنَ
dan orang-orang yang mendalam
فِى
dalam
الْعِلْمِ
ilmu
يَقُوْلُوْنَ
mereka berkata
اٰمَنَّا
kami beriman
بِهٖۙ
kepadanya
كُلٌّ
semuanya
مِّنْ
dari
عِنْدِ
sisi
رَبِّنَا
Tuhan kami
ۚ
وَمَا
dan tidak
يَذَّكَّرُ
mengambil pelajaran
اِلَّآ
melainkan
اُولُوا
golongan
الْاَلْبَابِ
orang-orang yang berpengetahuan
﴿٧﴾
Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.
300 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Dia lah satu-satunya dzat yang menurunkan al-qur’an kepadamu. Dintara isi al-quram itu ada ayat-ayat yang jelas makna dan kandungannya, itulah pokok-pokok ajaran al-qur’an yang menjadi rujukan dalam persoalan-persoalan yang masih samar, dan hal-hal yang bertentangan dikembalikan padanya, dan diantaranya ada ayat-ayat yang lain yang mutasyabihat yang menghimpun beberapa pengertian yang berbeda, yang tidak tampak jelas maksudnya kecuali dengan dipadukan dengan ayat-ayat muhkam. maka adapun orang-orang yang hatinya sakit lagi menyimpang dikarenakan buruknya tujuan hati mereka, mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat saja, supaya meniupkan subhat-subhat di tengah manusia sehingga dapat menyesatkan orang-orang tersebut dan agar menafsirkankan ayat-ayat tersebut diatas madzhab mereka yang batil. Dan tidak ada yang mengetahui hakikat makna-makan ayat ini selain Allah. sedang orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan “kami beriman kepada al-qur’an, semuanya datang kepada kami dari sisi tuhan kami, melalui lisan rasulNYA, Muhammad shalallohu alaihi wasallam.” Dan mereka membalikan ayat mutasyabihat kepada ayat-ayat muhkamnya, dan orang yang dapat memaham, mencerna dan menyelami makna-makna nya dengan pemahaman yang lurus adalah orang orang yang berakal lurus.
Sumber: https://tafsirweb.com/1139-surat-ali-imran-ayat-7.html
Tafsir as-Sa'di
7. Allah memberitakan tentang keagunganya dan kesempurnaan pengaturaNya, yakani bahwa dia-lah yang esa yang menurunkan kitab yang agung ini, yang tidak akan di temukan dan tidak akan ditemukan tandinganya dan semisalnya dalam petunjuk, keindahan Bahasa, kemukzijatan, dan kebaikan bagi makhluk. Dan bahwasanya kitab ini mencakup yang muhkam, yakni jelas sekali artinya, yang terang, yang tidak samar tentangnya, dan juga mencakup ayat-ayat mustasyabihat yang mengandung beberapa arti yang tidak ada satupun dari arti-arti itu yang lebih kuat kalau hanya berpegang dengan ayat tersebut hingga di satukan kepada ayat yang muhkam. orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit, penyimpangan dan penyelewengan tersebut.Mereka mengambilnya sebagai dalil demi memperkuat tulisan-tulisan mereka yang bahtil dan pemikiran-pemikiran mereka yang palsu hanya untuk mengobarkan fitnah dan menyimpang terhadap kitabullah serta menjadikanya sebagai tafsiran untuknya sesuai dengan jalan yang madzhab mereka yang akhirnya mereka itu tersesat dan menyesatkan orang lain. Adapun orang yang berilmu dan mendalam yang ilmunya dan keyakinanya telah mencapai hati mereka, lalu membuahkan bagi mereka perbuatan dan pengetahuan, maka mereka ini mengahui bahwa al qur’an itusemuanya dari sisi Allah, dan bahwa semua yang ada di dalamnya adalah haq, baik yang muthasyibah maupun yang muhkam, dan bahwasanya yang haq itu tidak akan saling bertentanggan dan saling berbeda. Dan mereka akan mengatahui dengan jelas bahwa ayat-ayat muhkam mengandung makna yang jelas dan tegas, maka mereka mengembalikan ayat-ayat mutasyabih yang sering menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang kurang ilmu dan pengetahuan kepada yang muhkam mereka mengembalikan ayat-ayat yang metasyabih kepada ayat-ayat yang muhkam hingga seluruhnya menjadi muhkam dan mereka berkata, ”kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semua itu dari sisi tuahn kami. “Dan tidak dapat mengambil pelajaran, dari padanya” yang mendalam ”melainkan orang-orang yang berakal yakni orang-orang yang memiliki akal cerdas. dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukan bahwa sikap ini adalah orang orang yang berakal, dan bahwa mengikuti ayat-ayat yang mutasibih adalah sipat orang yang pemikirannya sakit, akalnya rendah, dan tujuan-tujuanya buruk.Dan firmanya, ” padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah, ” apabila yang di maksud itu adalah pengetahuan tentang akibat suatu perkara, hasilnya, serta mengarah kepadanya, maka berwajibanlah berpatokan dengan, ” melainkan Allah, ” dimana hanya Allah saja yang melakukan takwil dengan makna tersebut. Namun apabila takwil tersebut dimaksudkan dengan makna tafsir dan ilmu tentang arti dari perkataan tersebut, maka yang lebih baik adalah menyambung dengan kalimat sebalumnya, hingga hal ini menjadi sebuah pujian terhadap orang-orang yang ilmunya mendalam, yaitu bahwasanya mereka mengetahui bagaimana menempatkan nash-nash Al-quran dan assunah, baik yang muhkamnya maupun yang mutasyabihnya. Dan ketika konteksnya adalah tetang perpecahan orang-orang (sehingga) ada yang menyimpan dan ada yang istiqomah, maka mereka berdoa kepada Allah agar menetapkan mereka di atas keimanan seraya berkata,
Sumber: https://tafsirweb.com/1139-surat-ali-imran-ayat-7.html
Tafsir Al-Wajiz
7. Allah adalah Dzat yang menurunkan Al-Qur’an kepadamu wahai nabi Muhammad. Di antaranya ada ayat-ayat muhkamat, yaitu ayat yang hanya memiliki satu sudut pandang penafsiran seperti ayat {Wa laa Taqrabuz zinaa} [surah Al-Isra’ 17/32] ayat-ayat tersebut merupakan sumber dalam Al-Qur’an yang digunakan sebagai pedoman.Di antaranya juga ada ayat mutasyabihat, yaitu ayat-ayat yang mengandung banyak makna seperti ayat {Ar-Rahman ‘alal ‘arsyistawa} [surah Thaha 20/5] dan ayat {Yadullahi fauqa aidiihim} [Surah Al-fath 48/10], juga janji tentang terjadinya kiamat, hakikat ruh dan lain-lain.Adapun orang-orang yang di dalam hatinya itu berpaling dari yang haq menuju yang bathil, maka mereka lebih terikat dengan ayat mutasyabihah, mereka menafsirkannya dengan cara yang membingungkan dengan maksud untuk memfitnah manusia tentang agama yang benar dan menta’wilkannya sesauai tujuan mereka. Tidak ada yang mengetahui tafsir dan hakikat ayat mutasyabihah kecuali Allah. Orang yang mahir dalam keilmuan berkata: “Kami beriman kepada seluruhnya, bahwa setiap ayat muhkamat dan mutasyabihat itu dari sisi Tuhan Kami,” Ayat-ayat itu tidak saling tumpang tindih, sehingga ayat-ayat sifat menolak ayat-ayat tentang kesucian yang mutlak, begitu juga ayat-ayat tentang penggambaran tentang Isa dengan diberi kalimat dan ruh yang bertentangan dengan ayat-ayat tauhid yang sudah mutlak.Dan tidak ada yang mengambil pelajaran dari ayat-ayat ini kecuali orang-orang yang memiliki akal sehat.
Sumber: https://tafsirweb.com/1139-surat-ali-imran-ayat-7.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 7-9 Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat ayat-ayat muhkamat, (itulah pokok-pokok isi Al qur'an) yaitu ayat-ayat yang menerangkan dalil yang jelas dan tidak ada kerancuan di dalamnya bagi siapa pun. Di antara ayat-ayat lainnya, terdapat ayat-ayat yang mengandung dalil yang bisa menimbulkan keraguan pada banyak orang atau beberapa dari mereka. Maka barangsiapa yang mengembalikan sesuatu yang mengandung keraguan itu pada sesuatu yang jelas, dan mengambil hukum yang jelas untuk menilai yang samar, maka sungguh dia telah mendapatkan petunjuk.Tetapi barangsiapa yang melakukan sebaliknya, maka dia telah tersesat. Oleh karena itu Allah berfirman: (Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu.Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an) yaitu merupakan dasar yang menjadi rujukan dari ayat mutasyabihat. (dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat) yaitu dalilnya perlu merujuk pada ayat muhkamat. Dan mengandung hal lain, baik dari segi lafazh dan susunannya, namun bukan dari maknanya. Para ulama’ berbeda pendapat terkait ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat.Diriwayatkan dari ulama’ salaf banyak pendapat tentang itu. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat muhkamat adalah ayat yang menasakh, menjelaskan tentang halal, haram, hukum-hukum, batasan-batasan, kewajiban-kewajiban, perintah, dan amalan-amalan. Demikian juga diriwayatkan dari ‘Ikrimah, Mujahid, Qatadah, Adh-Dhahhak, Muqatil bin Hayyan, Ar-Rabi’ bin Anas, dan As-Suddi.Mereka berkata bahwa ayat muhkamat adalah ayat yang diamalkan. Dikatakan bahwa ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat yang dinasakh, ayat yang didahulukan, diakhirkan, ayat perumpamaan, sumpah, sesuatu yang diimani, dan sesuatu yang tidak diamalkan. Hal ini diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas Dikatakan juga bahwa ayat mutasyabihat adalah huruf-huruf muqatha’ah di awal-awal surat.Pendapat ini diungkapkan oleh Muqatil bin Hayyan. Diriwayatkan dari Mujahid bahwa ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang saling membenarkan satu sama lain. Ini adalah penjelasan firmanNya: (Al-Qur'an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang) [Surah Az-Zumar: 23] Di sini mereka menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ayat mutasyabihat adalah kalam dalam satu konteks, dan yang dimaksud dengan “Al-Matsani” adalah kalam tentang dua hal yang saling berlawanan, seperti deskripsi tentang surga dan neraka, menyebutkan keadaan orang-orang yang berbuat kebajikan kemudian keadaan orang-orang yang durhaka, dan sejenisnya.Adapun di sini, yang dimaksud dengan “mutasyabih” adalah yang berlawanan dengan “muhkamat”. Pendapat paling baik dalam hal ini adalah apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu yang dijelaskan oleh Muhammad bin Ishaq bin Yasar yang mengatakan,“Di dalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat yang merupakan hujjah Tuhan, perlindungan bagi para hamba, jawaban bagi lawan-lawan dan kebathilan, tidak dipengaruhi, dan tidak diubah dari apa yang telah ditetapkan. Dia berkata: "Adapun ayat mutasyabihat yang benar adalah ada kemungkinan untuk ditafsirkan, dan dita’wilkan, dimana Allah menguji hamba-hambaNya melalui hal-hal ini, sebagaimana Dia menguji mereka dalam halal dan haram, agar mereka tidak disesatkan kebathilan dan memutarbalikkan kebenaran.Oleh karena itu, Allah berfirman: (Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan) yaitu tersesat dan keluar dari kebenaran menuju kepada kebathilan, (maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya) yaitu mereka mengambil dari Al-Quran hanya ayat yang mutasyabihat, yang dapat mereka putarbalikkan sesuai dengan niat buruk mereka, dan mereka menjadikan hal itu melalui lafazhnya agar sesuai dengan kecenderungan mereka.Adapun ayat muhkamat, maka tidak celah bagi mereka di dalamnya, karena itu untuk menghalangi dan menjadi hujjah atas mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman: (untuk menimbulkan fitnah) yaitu menyesatkan para pengikutnya dengan memberikan mereka ilusi bahwa mereka behujjah menggunakan Al-Quran untuk bid’ah mereka, padahal itu adalah hujjah atas mereka, bukan untuk mereka.Sebagaimana jika orang-orang Nasrani menggunakan dalil bahwa Al-Quran menyatakan bahwa nabi Isa adalah ruh Allah dan kalimatNya yang Dia taruh kepada Maryam, dan mereka mengabaikan hujjah dari firmanNya: (Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian)) [Surah Az-Zukhruf: 59], dan (Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam.Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia (59)) [Surah Ali 'Imran), dan ayat-ayat muhkamat lainnya yang menerangkan bahwa nabi Isa adalah makhluk Allah, hambaNya, dan salah satu rasulNya.Firman Allah سبحانه وتعالى: (untuk mencari-cari ta'wilnya) yaitu: mengubahnya sesuai dengan keinginan mereka. Muqatil bin Hayyan dan As-Suddi berkata: “Mereka ingin mengetahui apa yang akan terjadi dan akibat dari segala sesuatu dalam Al-Quran”.Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata: “Rasulullah membaca: (Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat) hingga (orang-orang yang berakal). Hingga beliau bersabda: “Apabila kalian melihat orang-orang berdebat tentang ayat-ayat yang mutasyabihat, mereka adalah orang-orang yang dimaksudkan oleh Allah, maka berhati-hatilah terhadap mereka.” Diriwayatkan dari Abu Ghalib, dia berkata: “Aku mendengar Abu Umamah mengisahkan tentang Nabi ﷺ tentang firmanNya: (Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihat daripadanya), beliau bersabda: “Mereka adalah Khawarij”.Terkait firmanNya: (pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram) [Surah Ali 'Imran: 106], beliau bersabda: “Mereka adalah Khawarij”.Ini diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih tanpa meriwayatkan dari siapapun dari Abu Ghalib dari Abu Umamah dengan sanad yang marfu’. Hadits ini lebih sedikit pembagiannya, dan menurut pendapat para sahabat merupakan hadits mauquf, dan maknanya shahih. karena bid'ah pertama yang muncul dalam Islam adalah fitnah dari Khawarij. Mereka adalah pertama-tama muncul karena persoalan dunia, yaitu ketika Nabi ﷺ membagikan harta rampasan dari perang Hunain.Seakan-akan mereka berpikir dengan akal mereka yang rusak bahwa pembagian harta itu tidak adil. Lalu mereka mengajukan keluhan ini kepada Nabi. Salah satu dari mereka, Dhul Khuwaishirah berkata: "Hendaklah engkau berlaku adil, karena engkau tidak berlaku adil”.Lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Sungguh aku akan celaka dan merugi Jika aku tidak berlaku adil, Apakah patut Allah akan mempercayakan kepadaku atas penduduk bumi, sedangkan kalian tidak mempercayaiku?” Setelah pria itu pergi, Umar bin Khattab (dalam riwayat lain adalah Khalid bin Walid) meminta izin Rasulullah untuk membunuhnya, tetapi Nabi bersabda: “Biarkanlah dia, karena dia akan melahirkan kaum (yaitu dari kelompoknya) yang suka berdebat. Kaum yang yang salah seorang diantara kalian meremehkan shalatnya sekalipun dia shalat, dan meremehkan puasanya sekalipun dia puasa, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busur. Dimana pun kalian menemui mereka, bunuhlah mereka, karena dalam kematian mereka terdapat pahala bagi siapa saja yang membunuh mereka.” Firman Allah سبحانه وتعالى: (padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah) para ulama’ qira’ah berbeda pendapat terkait waqaf di sini.Dikatakan bahwa ada pada lafazh jalalah. Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa dalam bacaan Abdullah bin Mas'ud: (inna ta’wiilahu, lla ‘indallah, war raasikhuuna fil ‘ilmi yaquuluuna aamannnaa bih) Demikian juga diriwayatkan dari Abu bin Ka'b. Ibnu Jarir memilih pendapat ini.Di antara mereka ada yang berhenti pada firmanNya: (War raasikhuuna fil ;ilmi), dan banyak diikuti oleh para mufasir dan ahli ushul fiqh. Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid, (war raasikhuuna fil ‘ilmi ya’lamuuna ta’wiilahu wa yaquuluuna aamannnaa bih) Dalam hadits yang disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ berdoa untuk Ibnu Abbas, seraya bersabda, "Ya Allah, pandaikanlah dia dalam agama dan ajarkanlah ilmu tafsir” Di antara para ulama terdapat orang-orang yang telah menjelaskan kedudukan ini. Ada yang berkata,”Ta’wil adalah penafsiran” dan yang dimaksud dengan ta’wil dalam Al-Quran itu memiliki dua makna: Pertama, bahwa ta’wil adalah makna dari hakikan sebuah sesuatu dan sesuatu yang dita’wilkan.Di antaranya adalah firman Allah: (Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan) (Surah Yusuf:100) dan firmanNya: (Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu.Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu) (Surah Al-A'raf: 53) yaitu hakikat dari sesuatu yang diberitakan kepada mereka, yaitu sesuatu yang dirujuk.Maka jika menginginkan ta’wil yang sesuai dengan pendapat ini, maka waqafnya adalah pada lafazh jalalah. Karena hakikat dan esensi segala sesuatu itu tidak akan bisa diketahui dengan jelas kecuali Allahdan firmanNya (War raasikhuuna fil ‘ilmi) menjadi mubtada’ , sedangkan (yaquuluuna aamanna) adalah khabarnya. Adapun jika menghendaki bahwa ta’wil itu memiliki makna lain yang berarti penafsiran, penjelasan, dan keterangan tentang sesuatu, seperti firmanNya: (Berikanlah kepada kami ta'birnya) (Surah Yusuf:36) yaitu dengan penafsirannya.Maka jika menghendaki ta’wil dengan makna ini, maka waqafnya pada (war raasikhuuna fil ‘ilmi) karena mereka tidak mengetahui dan memahami tentang apa yang mereka berbicarakan tentang itu dengan ungkapan ini. Jika mereka tidak memiliki pemahaman tentang hakikan segala sesuatu dari esensinya maka dia tidak berhak atas hal itu. Berdasarkan hal ini, firman Allah (Yaquuluuna aamanna bih) menjadi haal dari mereka.Hal ini diperbolehkan. Bisa juga menjadi ma’thuf tanpa adanya ma’thuf ‘alaih, sebagaimana firmanNya ((Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka) sampai firmanNya (Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami….) (Surah Al-Hasyr,: 8-10) Firman Allah memberitakan tentang mereka, bahwa (mereka berkata: "Kami beriman kepadanya”) yaitu kepada ayat-ayat mutasyabihat, (semuanya itu dari sisi Tuhan kami) yaitu, baik ayat muhkamat maupun ayat mutasyabihat itu adalah kebenaran.Setiap bagian dari keduanya saling membenarkan dan memberikan kesaksian, karena semuanya dari sisi Allah, dan tidak ada sesuatu pun dari sisi Allah itu berbeda atau bertentangan, sebagaimana firmanNya: (Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya (82)) (Surah An-Nisa).Oleh karena itu Allah berfirman: (Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal), yaitu hanya orang yang bisa memahami, memikirkan dan merenungi maknanya, karena akal sehat dan pemahaman mereka yang lurus.Kemudian Allah berfirman seraya memberitahukan tentang mereka bahwa mereka berdoa kepada Tuhan mereka, seraya berkata: (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami) yaitu janganlah Engkau mengalihkan hati kami dari petunjuk setelah Engkau menetapkannya bagi kami, dan janganlah Engkau jadikan kami seperti orang-orang yang hatinya beralih, yaitu mereka yang mencari-cari pertentangan dalam ayat-ayat mutasyabihat Al-Quran.Akan tetapi tetapkanlah kami di jalan yang lurus dan agamaMu yang kokoh, (dan karuniakanlah kepada kami dari sisiMu) yaitu dari sisiMu (rahmat) yang menjaga hati kami dan menyatukan kecenderungan kami, serta tambahkanlah kepada kami dengan rahmat itu iman dan keyakinan, (sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)). Diriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwa Nabi ﷺ biasa berdoa: "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu" Kemudian beliau membaca: (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)" (8)). Firman Allah: ("Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya".Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji (9)) yaitu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan makhlukMu pada hari mereka dikembalikan. Engkau memutuskan atas perkara-perkara yang mereka perselisihkan, dan memberi balasan kepada setiap orang sesuai dengan amalnya di dunia baik itu amal yang baik maupun yang buruk.
Sumber: https://tafsirweb.com/1139-surat-ali-imran-ayat-7.html
Informasi
Surat
اٰل عمران (Ali 'Imran)
Keluarga Imran — 200 ayat
Tempat Turun
Madaniyah
Ayat ke-
7 dari 200 ayat
Juz
Juz 3
Halaman
Halaman 50
Ruku
Ruku 42
Manzil
Manzil 1
Hizb
Hizb 10 (20/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-300 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-3