Per AyatMushaf
وَوَهَبْنَا
dan Kami karuniakan
لِدَاوٗدَ
kepada Daud
سُلَيْمٰنَۗ
Sulaiman
نِعْمَ
sebaik-baiknya
الْعَبْدُ
hamba
ۗاِنَّهٗٓ
sesungguhnya dia
اَوَّابٌۗ
orang yang suka kembali
﴿٣٠﴾
Dan kepada Dawud Kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).
4000 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Dan Kami memberikan kepada dawud seorang anak bernama sulaiman sebagai sebuah nikmat dari Kami kepadanya, dan Kami membahagiakannya dengannya. Sebaik-baik hamba adalah sulaiman, sesungguhnya dia banyak kembali kepada Allah dan pasrah kepadaNya.

Sumber: https://tafsirweb.com/8516-surat-shad-ayat-30.html

Tafsir as-Sa'di

30. Setelah Allah memuji Nabi Dawud dan menjelaskan apa yang terjadi baginya dan darinya, seraya berfirman, “Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman,” maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, “sebaik-baik hamba” adalah Sulaiman, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, yaitu “sesungguhnya dia amat taaat,”maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru’ dan bersungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan mengutamakannya atas segala sesuatu.

Sumber: https://tafsirweb.com/8516-surat-shad-ayat-30.html

Tafsir Al-Wajiz

30. Kami telah menganugerahkan rahmat kepada Dawud dan Sulaiman, Sulaiman adalah sebaik-baik hamba. Dia adalah orang yang banyak bertaubat dan kembali kepada ketaatab kepada Allah

Sumber: https://tafsirweb.com/8516-surat-shad-ayat-30.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 30-33 Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya memberitahukan bahwa Dia telah menganugerahkan anak kepada nabi Dawud, yaitu nabi Sulaiman, yaitu yang menjadi seorang nabi, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud) (Surah An-Naml: 16) yaitu dalam hal kenabian, karena sesungguhnya saat itu Dawud mempunyai anak yang banyak selain nabi Sulaiman.Sesungguhnya saat itu nabi Dawud mempunyai seratus orang istri yang semuanya dari wanita merdeka. Firman Allah سبحانه وتعالى: (dia adalah sebaik-baiknya hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)) pujian kepada nabi Sulaiman, bahwa dia adalah seorang yang sangat taat, banyak beribadah dan suka bertaubat kepada Allah سبحانه وتعالى Firman Allah سبحانه وتعالى: ((Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore (31)) yaitu pada saat ditampilkan di hadapan nabi Sulaiman keadaan kerajaannya, dan kuda-kuda yang tenang di atas singgasana kerajaannya Mujahid berkata bahwa itu adalah kuda yang yang berdiri di atas ketiga kakinya, sedangkan kaki yang keempatnya menginjakkan ujung kakinya. Ini adalah ciri kuda yang kencang.Demikian juga dikatakan banyak ulama salaf. Firman Allah سبحانه وتعالى: (Ia berkata.”Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan” (32)) Ulama salaf dan mufasir yang memberitahukan bahwa nabi Sulaiman disibukkan penampilan kuda-kuda itu hingga shalat Ashar terlewat darinya. Tetapi yang pasti bahwa nabi Sulaiman tidak meninggalkannya dengan sengaja, melainkan lupa, sebagaimana kesibukan yang pernah dialami Nabi ﷺ pada hari penggalian parit sehingga shalat Ashar terlewatkan olehnya dan baru mengerjakannya setelah matahari tenggelam.Disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari banyak jalur, salah satunya dari Jabir, dia berkata,”Umar datang di hari penggalian parit setelah matahari tenggelam, maka dia mencaci maki orang-orang kafir Quraisy dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku belum mengerjakan shalat Ashar, dan matahari telah tenggelam" Rasulullah ﷺ bersabda, "Demi Allah, aku belum mengerjakannya" Maka kami berangkat menuju Buthan dan Nabi ﷺ berwudhu untuk shalatnya, lalu kami berwudhu. Maka beliau mengerjakan shalat Ashar setelah matahari tenggelam, kemudian beliau langsung mengerjakan shalat Magrib setelahnya. Barangkali menurut syariat nabi Sulaiman diperbolehkan mengakhirkan shalat karena alasan perang; dan kuda di masanya dimaksudkan untuk berperang.Segolongan ulama menyatakan bahwa pada mulanya hal itu diisyaratkan, kemudian dinasakh dengan shalat khauf. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa hal itu diperbolehkan di saat keadaan beradu senjata dan sulit sehingga tidak mungkin melaksanakan shalat, rukuk, dan sujud. Sebagaimana yang dilakukan para sahabat kenika mereka menaklukkan Tustar.Riwayat ini dinukil dari Makhul, Al-Auza'i dan selain keduanya. Pendapat yang pertama yang lebih mendekati kebenaran, karena setelahnya Allah berfirman: ((Ia Berkata), "Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku!" Lalu ia menebas kaki dan leher kuda itu (33)) Hasan Al-Bahsri berkata, "Tidak" nabi Sulaiman berkata, "Demi Allah, janganlah menyibukkanku dari menyembah Tuhanku”Kemudian dia memerintahkan agar kuda-kuda disembelih.Demikian juga dikatakan Qatadah. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa nabi Sulaiman mengusap-usap leher dan kaki kuda itu.

Sumber: https://tafsirweb.com/8516-surat-shad-ayat-30.html

Informasi

Surat

ص (Sad)

Sad — 88 ayat

Tempat Turun

Makkiyah

Ayat ke-

30 dari 88 ayat

Juz

Juz 23

Halaman

Halaman 455

Ruku

Ruku 393

Manzil

Manzil 6

Hizb

Hizb 91 (182/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-4000 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-38