اٰل عمران (Ali 'Imran)
Per AyatMushaf
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
يُنْفِقُوْنَ
(mereka) menafkahkan
فِى
di
السَّرَّۤاءِ
waktu senang
وَالضَّرَّۤاءِ
dan diwaktu susah
وَالْكَاظِمِيْنَ
dan orang-orang yang menahan
الْغَيْظَ
kemarahan
وَالْعَافِيْنَ
dan orang-orang yang memaafkan
عَنِ
dari
النَّاسِۗ
manusia/orang lain
وَاللّٰهُ
dan Allah
يُحِبُّ
Dia menyukai
الْمُحْسِنِيْنَۚ
orang-orang yang berbuat kebaikan
﴿١٣٤﴾
(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,
427 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Orang-orang yang menginfakkan harta mereka dalam keadaan mudah dan susah, dan orang-orang yang menahan apa yang ada dalam diri mereka berupa amarah dengan cara bersabar, dan apa bila mereka mampu memaafkan orang yang menzolimi mereka, dan ini merupakan kebaikan yang Allah cintai pemiliknya.
Sumber: https://tafsirweb.com/1266-surat-ali-imran-ayat-134.html
Tafsir as-Sa'di
134. Kemudian Allah menjelaskan tentang sipat-sipat orang yang bertakwa dan perbuatan-perbuatan mereka seraya berfirman, ”yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, ”yaitu, pada saat kondisi mereka saat sulit atau kondisi mereka sedang lapang. Bila mereka sedang lapang, maka mereka akan mempernanyak infak, dan bila mereka sedang kesulitan, maka mereka tidak menganggap remah suatu kebaikan walau hanya sedikit saja. “Dan orang-orang menahan amarahnya, ”yaitu, bila terjadi dari orang lain tindakan yang menyakitkan terhadapnyayang menimbulkan kemarahan yaitu hati yang oenuh dengan kedongkalan yang akan menimbulkan balas dendam dengan perkataan maupun perbuatan.Mereka itu tidaklah bertindak menurut tabiat kemanusiaanya, akan tetapi mereka menahan apa yang ada di dalam hati mereka di sebabkan kemarahan, dan menghadapi orang yang berbuat jelek kepadanya itu dengan kesabaran. “Dam memaafkan kesalahan orang.”termasuk dalam tindakan memaafkan orang adalah memaaafkan segala hal yang terjadidari orang yang telah berbuat jelek kepada kita dengan perkataan maupun perbuatan.Memaafkan itu sekedar lebih baik dari pada menhahn amarah, karena memaafkan itu tindakan meninggalkan balas dendam di sertai dengan bentuk kelapang dadaan terhadap orang yang berbuat jelek.itu hanya dapat terjadi pada orang-orang yang menghiasi dirinyadengan ahklak yang terpuji dan jauh daru akhlak yang tercela, dan dari orang-orang yang bertransaksi dengan Allah dan memaafkan hamba-hamba Allah merupakan kasih sayang terhadap mereka dan tindakan baik terhadap mereka, benci dari keburukan yang menimpa merekaagar Allah mengampuni dirinya sehinggga dia mendapatkan pahala di sisi Allah yang maha mulia, dan bukan dari hamba yang miskin, sebagaiman Allah berfirman, "maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syuara:40) Kemudian Allah menyebutkan kondisi yang lebih umum daripada yang lainya dan lebih baik, lebih tinggi dan lebih utama, yaitu berbuat kebaikan Allah berfirman, ”Allah menyukai orang –orang yang berbuat kebaikan.” Kebaikan itu ada dua macam: berbuat baik pada perkara ibadah kepada sang pencipta dan berbuat baik kepada para mahluk.Dan ihsan kepada perkara ibadah kepada sang pencipta telah di tafsirkan oleh NAbi dengan sadbanya, ”Engkau menyembah Allah seaka-akan engakau melihatNya, dan bila engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya dia melihatmu.” Adapun berbuat baik kepada para makhluk yaitu memberikan manfaat yang bersipat agama maupun duniawi kepada mereka sehingga termasuk dalam kategori itu adalah memerintahkan mereka kepada yang ma'rup dan melarang mereka dari yang mungkar, mengajarkan orang yang bodoh di antara mereka, menasehati masyarakat umum maupun khusus, berusaha menyatukan kalimat mereka, menyalurkan segala macam sedekah, infak yang wajib maupun yang Sunnah kepada mereka dengan perbedaan berbagai kondisi dan karakter mereka. Termasuk juga dalam hal itu adalah mengerahkan kedermawanan hati, menolak keburukan dan bersabar atas ganguan, sebagaimana Allah menjelaskan sipat-sipat orang-orang yang bertakwa dalam ayat ini. Maka barangsiapa yang melaksanakan perkara-perkara tersebut, ia telah menegakkan hak-hak Allah dan hak-hak hambaNya. kemudian Allah menyebutkan tentang alasan mereka kepada Tuhan mereka dari kejahatan dan dosa-dosa mereka, seraya berfirman,
Sumber: https://tafsirweb.com/1266-surat-ali-imran-ayat-134.html
Tafsir Al-Wajiz
134 Di antara contoh sifat orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menafkahkan hartanya untuk mencari ridho Allah, dan orang-orang yang menahan amarahnya dengan bersabar sesuai kemampuan mereka untuk menampakkannya. Sehingga tidak ada satu pun yang terzalimi.. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Sumber: https://tafsirweb.com/1266-surat-ali-imran-ayat-134.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 130-136 Allah سبحانه وتعالى berfirman selagi melarang hamba-hambaNya yang mukmin untuk terlibat dalam riba dan makanannya secara berlipat ganda, sebagaimana mereka dulu berkata pada masa Jahiliyah, “Jika masa hutang telah tiba, maka kamu harus melunasinya, atau kamu mengembangkannya. Jika kamu melunasinya, dan jika tidak maka akan bertambah waktu pembayaran, dan jumlah nilainya. Demikian juga setiap tahun, sehingga hutang yang sedikit berlipat-lipat akan menjadi banyak berlipat-lipat ganda.Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk bertakwa barangkali mereka berhasil baik di dunia maupun di akhirat. Kemudian, Allah mengancam mereka dengan neraka dan memperingatkan mereka akibat dari hal itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir (131) Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat (132)) Kemudian Allah mengajak mereka untuk melakukan kebaikan dan mendekatkan diri.Lalu Allah berfirman (Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (133)) yaitu sebagaimana neraka itu dipersiapkan untuk orang-orang kafir.Dikatakan bahwa makna dari firmanNya (yang luasnya seluas langit dan bumi) yaitu memberi penegasan atas luasnya, sebagaimana Allah berfirman tentang sifat permadani surga (yang sebelah dalamnya dari sutera) (Surah Ar-Rahman: 54) yaitu bagaimana dengan sangkaanmu secara nyata?Dikatakan bahwa lebarnya surga sejajar dengan tingginya, karena surga adalah kubah di bawah 'Arsy. Sesuatu yang berbentuk kubah dan melingkar itu luasnya seperti tingginya. Dalil dari hal tersebut adalah apa yang ada dalam hadits shahih, "Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah kepadaNya surge Firdaus, karena itulah surge paling tinggi, dan paling luas.Di dalamnya sungai-sungai surge mengalir dan atapnya adalah 'Arsy Allah yang Maha Pengasih. Ayat ini sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى dalam surah Al-Hadid: (Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi) (Surah Al-Hadid: 21).Diriwayatkan dari Thariq bin Syiihab bahwa beberapa orang Yahudi bertanya kepada Umar bin Khattab tentang surga yang luasnya seperti langit dan bumi, lalu mereka bertanya,”Lalu di mana neraka?” Umar berkata kepada mereka, “Bagaimana kalian melihat jika siang datang, di manakah malamnya?”Dan bagaimana jika malam datang, di manakah siangnya?” Mereka berkata, “Hal yang serupa dengan itu telah dihapus dari Taurat.” Kemudian Allah سبحانه وتعالى yang menggambarkan sifat-sifat penghuni surga, Lalu Dia berfirman: ((yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit) yaitu baik dalam keadaa sulit maupun mudah, rela maupun terpaksa, sehat maupun sakit di segala keadaan. Sebagaimana Allah berfirman: (Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan) [Surah Al-Baqarah: 274] yaitu, mereka tidak disibukkan oleh perkara apa pun berupa taat kepada Allah سبحانه وتعالى, berinfak dalam keadaan sakitnya, dan berbuat baik kepada makhlukNya berupa keluarga dan orang lain dengan berbagai bentuk kebaikan.Firman Allah سبحانه وتعالى: (dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang) yaitu ketika kemarahan memperngaruhi mereka, mereka menahannya, yaitu, mereka menyembunyikannya sehingga mereka tidak menampakkannya, dan memaafkan kesalahan orang lain yang berbuat jahat kepadanya Firman Allah سبحانه وتعالى: (dan orang-orang yang menahan amarahnya) yaitu, mereka tidak membiarkan kemarahan mereka mempengaruhi perilaku terhadap orang lain; sebaliknya, mereka menahan diri dari merusak hubungan dengan orang lain dan mencoba untuk menghindari kemarahan yang dapat menimbulkan kerusakan. Mereka menghindari melampiaskan amarah mereka kepada orang lain dan merasa bahwa hal ini lebih baik di sisi Allah. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman : (dan memaafkan (kesalahan) orang) yaitu dengan menahan untuk berbuat keburukan mereka memaafkan orang yang menganiaya mereka sehingga tidak ada dendam yang ada pada diri mereka kepada seseorang pun, dan ini merupakan keadaan yang paling sempurna.Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman (Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan) ini merupakan kedudukaan “ihsan”. Dalam hadits disebutkan “Tiga hal, aku bersumpah atasnya yaitu Tidaklah harta seorang berkurang karena sedekah, tidaklah Allah menambahkan kepada seseorang yang memberi maaf kecuali kemuliaan, dan orang yang tunduk kepada Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya” Firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka) yaitu bahwa ketika seseorang di antara mereka menyadari dosa, maka sebaiknya diiringi dengan taubat dan memohon ampunan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Jika seseorang melakukan dosa, kemudian dia berkata, “Ya Tuhan, aku telah berdosa, maka ampunilah dosaku.” Allah berfirman, “HambaKu telah berbuat dosa dan dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang akan mengampuni dosa dan menghukumnya atas dosa itu, sungguh Aku mengampuni hambaKu” kemudian dia melakukan dosa lain kemudian dia berkata, “Ya Tuhan, aku telah berdosa, maka ampunilah dosaku.” Lalu Allah berfirman, “HambaKu telah dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang akan mengampuni dosa dan menghukumnya atas dosanya, sungguh Alu telah mengampuni hambaKu” Kemudian dia melakukan dosa lagi, dan berkata, “Ya Tuhan, aku telah berdosa, maka ampunilah dosaku.” Allah berfirman, “HambaKu telah tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang akan mengampuni dosa dan menghukumnya atas dosanya, sungguh aku telah mengampuni hambaKu.” Kemudian dia melakukan dosa lagi, dan berkata, “Ya Tuhan, aku telah mengetahui dosaku, maka ampunilah dosaku” kemudian Allah berfirman, “Hambaku telah tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang akan mengampuni dosa dan menghukumnya atas dosanya, Aku telah bersaksi kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni hambaKu, maka biarkan dia berbuat apa yang dia inginkan" Firman Allah سبحانه وتعالى: (dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?) yaitu tidak ada satu pun yang mengampuni dosa-dosa selain Allah Firman Allah: (Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui) mereka bertaubat dari dosa-dosa mereka, lalu kembali kepada Allah dengan segera, dan mereka tidak terus menerus bermaksiat dan mempertahankannya.Sekalipun mereka melakukan dosa lagi, mereka akan bertaubat lagi. Terkait firman Allah: (sedang mereka mengetahui), Mujahid dan Abdullah bin Ubaid bin Umair berkata bahwa (sedang mereka mengetahui) bahwa orang yang bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Ini sebagaimana firmanNya: (Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya) (Surah At-Taubah: 104) dan (Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (110)) (Surah An-Nisa).Ada banyak ayat serupa dengan ini. Kemudian setelah Allah menggambarkan sifat-sifat mereka sebagaimana yang telah Dia gambarkan, Allah berfirman: (Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka) yaitu balasan mereka, ini adalah sifat-sifat mereka (ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai) yaitu berbagai jenis minuman (sedang mereka kekal di dalamnya) yaitu mereka tinggal di sana (dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal) Allah memuji surga.
Sumber: https://tafsirweb.com/1266-surat-ali-imran-ayat-134.html
Informasi
Surat
اٰل عمران (Ali 'Imran)
Keluarga Imran — 200 ayat
Tempat Turun
Madaniyah
Ayat ke-
134 dari 200 ayat
Juz
Juz 4
Halaman
Halaman 67
Ruku
Ruku 55
Manzil
Manzil 1
Hizb
Hizb 14 (27/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-427 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-3