الشورى (Asy-Syura)

Per AyatMushaf
۞
وَمَا
dan tidak
كَانَ
ada
لِبَشَرٍ
bagi seorang manusia
اَنْ
bahwa
يُّكَلِّمَهُ
berkata dengannya
اللّٰهُ
Allah
اِلَّا
kecuali
وَحْيًا
wahyu
اَوْ
atau
مِنْ
dari
وَّرَاۤئِ
belakang
حِجَابٍ
tabir
اَوْ
atau
يُرْسِلَ
mengutus
رَسُوْلًا
utusan
فَيُوْحِيَ
lalu diwahyukan
بِاِذْنِهٖ
dengan idzin-Nya
مَا
apa yang
يَشَاۤءُ
Dia kehendaki
ۗاِنَّهٗ
sesungguhnya Dia
عَلِيٌّ
Maha Tinggi
حَكِيْمٌ
Maha Bijaksana
﴿٥١﴾
Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.
4323 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Tidak patut bagi seorang anak cucu adam diajak berbicara oleh Allah kecuali dalam bentuk wahyu yang Dia wahyukan kepadanya atau Allah berbicara kepadanya di balik hijab, sebagaimana Allah bicara kepada Musa atau Allah mengutus seorang utusan, sebagaimana jibril, turun kepada para rasul, lalu dia memberikan wahyu dengan izin tuhan-Nya (bukan sekedar keinginan nafsunya) apa yang hendak Allah wahyukan. Sesungguhnya Allah maha tinggi dengan Dzat Nya, nama-namaNya, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatanNya Dia mengalahkan segala sesuatu dan para makhlukpun tunduk kepadaNYa, maha bijaksana dalam segala pengaturanNYa terhadap urusan makhkukNYa. Ayat ini menetapkan sifat “kalam” (berbicara) bagi Allah sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya.

Sumber: https://tafsirweb.com/9141-surat-asy-syura-ayat-51.html

Tafsir as-Sa'di

51. setelah orang-orang yang mendustakan para utusan Allah, yang kafir kepada Allah itu berkata, ”kenapa Allah tidak langsung bebicara kepada kami atau datang kepada kami bukti,” (al-baqarah:118), karena kesombongan dan kecongkakan mereka, maka Allah menjawab (membantah) mereka dengan ayat suci ini. (dan Dia jelaskan) bahwa Dia hanya berkata-kata langsung kepada manusia tertentu, yaitu para nabi yang diutus dan manusia pilihanNYa. Dan pembicaraan itu terjadi melalui beberapa cara: berbicara kepadanya melalui wahyu, Dia tiupkan wahyu tesebut kepada hati seorrang rasul tanpa perantara seorang malaikat atau tanpa pembicaraan langsung dengan rasul itu, “atau” Dia berbicara kepadanya secara langsung akan tetapi “dari belakang tabir”sebagaimana terjadi pada nabi musa bin iman (yang dijuluki) kalimur-rahman “atau” Allah berbicara kepadanya melalui perantara utusan dari kalangan malaikat, “dengan mengutus seorang utusan,” seperti malaikat jibril atau malaikat-malaikat lainnya.”lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNya, ”maksudnya, seizin tuhannya, tidak berdasarkan kemauannya sendiri.” Sesungguhnya Allah mehatinggi dzatNya. Mahatinggi sifat-sifatNya, lagi mahaagung, lagi mahatinggi perbuatan-perbuatanNya. dia telah mengalahkan segala sesuatu, seluruh makhluk tunduk kepadaNYa, ”lagi mahabijaksana,” di dalam penempatan segala sesuatu dari berbagai makhluk dan ketetapan hukum masing-masing pada tempatnya,

Sumber: https://tafsirweb.com/9141-surat-asy-syura-ayat-51.html

Tafsir Al-Wajiz

51. Tidak mungkin bagi manusia dapat diajak berbicara Allah kecuali melalui wahyu yang diturunkan kepadanya (wahyu adalah kalam tersembunyi yang disadari dengan cepat) atau diajak berbicara dari balik satir (penutup), sebagaimana Musa عليه السلام berbicara, atau dengan mengirimnya utusan dari golongan malaikat seperti Jibril عليه السلام untuk menyampaikan wahyu atau menyampaikan sesuatu yang dikirim kepadanya dengan perintah yang dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى adalah Dzat yang Maha Luhur dan terbebas dari sifat-sifat makhlukNya.Dia bertindak sesuai kebijaksanaanNya dengan meletakkan setiap sesuatu pada tempatnya yang tepat. Ayat ini diturunkan saat orang Yahudi berkata kepada nabi ﷺ: “Jika kamu benar-benar nabi, Apakah kamu tidak berbicara dan melihat Allah layaknya Musa berbicara (denganNya)?” Kemudian turunlah ayat ini dan Nabi ﷺ bersabda: “Musa belum pernah melihat Allah سبحانه وتعالى.”

Sumber: https://tafsirweb.com/9141-surat-asy-syura-ayat-51.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 51-53 Ini tentang tingkatan-tingkatan wahyu jika dikaitkan dengan Dzat Allah سبحانه وتعالى, yaitu terkadang Dia melemparkan sesuatu ke dalam diri Nabi ﷺ sesuatu yang tidak diragukan Nabi ﷺ bahwa hal itu dari Allah سبحانه وتعالى Firman Allah سبحانه وتعالى (atau di belakang tabir) Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berbicara kepada nabi Musa, lalu nabi Musa meminta kepadaNya. Agar dia dapat melihat DzatNya sesudah pembicaraan itu, tetapi pandangannya terhalang tabir. Firman Allah: (atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat), lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki) Sebagaimana Dia menurunkan malaikat Jibril dan malaikat lainnya kepada para nabi (Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana) Allah Maha Tinggi, Maha Mengetahui, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana.Firman Allah سبحانه وتعالى (Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami) yaitu Al-Qur'an (Sebelumnya tidaklah kamu mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu) yaitu secara rinci, yang telah disyaratkan untukmu dalam Al-Qur'an (tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu) yaitu Al-Qur’an (cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami) sebagaimana firmanNya: (Katakanlah, "Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh") (Surah Fushshilat: 44).Firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan sesungguhnya kamu) wahai Muhammad (benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus) yaitu jalan yang benar lagi lurus. Kemudian dijelaskan dengan firmanNya سبحانه وتعالى ((yaitu) jalan Allah) yaitu syariat yang telah diperintahkan Allah سبحانه وتعالى (yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi) yaitu Tuhan, Dzat yang Merajai, dan Mengatur keduanya, dan Hakim yang tidak ada yang menghalangi keputusanNya (Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan) yaitu semua urusan akan dikembalikan kepadaNya, lalu Dia akan menjelaskan dan menghukuminya. Maha Tinggi dan Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan orang-orang yang zalim dan orang-orang yang ingkar dengan ketinggian yang setinggi-tingginya

Sumber: https://tafsirweb.com/9141-surat-asy-syura-ayat-51.html

Informasi

Surat

الشورى (Asy-Syura)

Musyawarah — 53 ayat

Tempat Turun

Makkiyah

Ayat ke-

51 dari 53 ayat

Juz

Juz 25

Halaman

Halaman 488

Ruku

Ruku 423

Manzil

Manzil 6

Hizb

Hizb 98 (196/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-4323 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-42