المجادلة (Al-Mujadalah)
Per AyatMushaf
يٰٓاَيُّهَا
wahai
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
اٰمَنُوْٓا
beriman
اِذَا
apabila
تَنَاجَيْتُمْ
kamu bicara rahasia
فَلَا
maka jangan
تَتَنَاجَوْا
kamu bicara rahasia
بِالْاِثْمِ
dengan berbuat dosa
وَالْعُدْوَانِ
dan permungsuhan
وَمَعْصِيَتِ
dan mendurhakai
الرَّسُوْلِ
rasul
وَتَنَاجَوْا
dan berbicara rahasia
بِالْبِرِّ
dengan kebaikan
وَالتَّقْوٰىۗ
dan takwa
وَاتَّقُوا
dan bertakwalah
اللّٰهَ
Allah
الَّذِيْٓ
orang-orang yang
اِلَيْهِ
kepada-Nya
تُحْشَرُوْنَ
kamu dikembalikan
﴿٩﴾
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Tetapi bicarakanlah tentang perbuatan kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan kembali.
5113 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan RasulNya serta melaksanakan syariatNya, bila kalian berbisik-bisik secara rahasia di antara kalian, jangan berbisik dengan sesuatu yang mengandung dosa, dalam bentuk pelanggaran terhadap orang lain atau penyelisihan terhadap perintah Rasulullah, sebaliknya berbicaralah sesuatu yang mengandung kebaikan, ketaatan dan keinginan berbuat baik. Dan takutlah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Hanya kepada Allah semata kalian akan kembali dengan membawa seluruh amal perbuatan dan perkataan kalian yang Dia catat untuk kalian, dan Dia akan membalas kalian atasnya.
Sumber: https://tafsirweb.com/10763-surat-al-mujadalah-ayat-9.html
Tafsir as-Sa'di
8-9. “Pembicaraan rahasia” adalah pembicaraan antara dua orang atau lebih yang membahas kebaikan atau keburukan. Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar membicarakan kebaikan ketika berbicara secara rahasia. Kebaikan adalah kata menyeluruh untuk seluruh kebaikan, ketaatan, menunaikan hak-hak Allah, hak-hak sesama manusia, takwa, dan lainnya.Dan yang dimaksud dalam ayat ini dengan penggunaan kata menyeluruh adalah agar menjauhi seluruh keharaman dan dosa. Orang Mukmin pasti menunaikan perintah ilahi ini. Tidaklah anda melihatnya berbisik-bisik atau berbicara kecuali membahas sesuatu yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah dan menjauhkan mereka dari murkaNya.Adapun orang-orang durjana dan pendosa saling memandang rendah perintah-perintah Allah serta berbisik-bisik dengan dosa dan permusuhan serta mendurhakai Rasulullah, seperti halnya orang-orang munafik. Itulah kebiasaan mereka dan kondisi mereka bersama Rasulullah. Allah berfirman, “Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagaimana yang ditentukan Allah untukmu.” Maksudnya mereka merahasiakan pembicaraan yang dibeberkan oleh Allah Yang Mengetahui hal yang ghaib dan nyata, yaitu pembicaraan mereka, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu.” Maksudnya mereka meremehkan hal itu dengan berdalih tidak disegerakannya azab dan hukuman untuk mereka dengan alasan pembicaraan mereka itu tidak terlarang.Allah berfirman seraya menjelaskan bahwa Dia memberi tangguh bukan melalaikan, “Cukuplah bagi mereka Neraka Jahanam yang akan mereka masuki.Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” Maksudnya, cukuplah Neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali.” Maksudnya cukuplah Neraka Jahanam bagi mereka yang mencakup berbagai macam siksaan dan kesengsaraan untuk mereka; siksaan-siksaan itu meliputi dan menyakitkan mereka, dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Mereka yang disinggung tersebut adalah orang-orang munafik yang menampakkan keimanan dan mengungkapkan kata-kata tersebut kepada Rasulullah yang menurut mereka menginginkan kebaikan padahal mereka berdusta. Atau yang dimaksud dalam ayat ini adalah ahli kitab, yaitu orang-orang yang ketika memberi ucapan salam kepada Rasulullah menyatakan, “AsSammu ‘alaika ya Muhammad,” maksudnya adalah “Matilah kau Muahammad!”
Sumber: https://tafsirweb.com/10763-surat-al-mujadalah-ayat-9.html
Tafsir Al-Wajiz
9. Wahai orang-orang yang beriman jika kalian berbisik-bisik tentang sesuatu yang rahasia, maka jangan berbisik tentang suatu hal yang berbau dosa dan maksiat, jangan pula tentang kedhaliman dan permusuhan (agresi). Jangan berbisik untuk mengingkari perintah rasul, seperti yang dillakukan oleh orang-orang munafik.Namun berbisiklah tentang hal yang mengarah pada ketaqwaan, ketaatan dan menjauhi maksiat. Bertaqwalah kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kelak pada hari kiamat kalian akan dikumpulkan di hadapan-Nya berdasarkan amal kalian, dan akan menerima balasan sesuai amal kalian.Al birru adalah segala sesuatu yang di dalamnya ada kebaikan
Sumber: https://tafsirweb.com/10763-surat-al-mujadalah-ayat-9.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 8-10 Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata bahwa pernah orang-orang Yahudi menemui Rasulullah ﷺ, lalu mereka mengucapkan, "Assaamu 'alaika (semoga kebinasaan menimpa dirimu), hai Abu Al-Qasim" Maka Aisyah menjawab, "Wa 'alaikumus saam (semoga kamulah yang tertimpa kebinasaan)" Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah tidak menyukai kata-kata yang keji dan perbuatan yang keji" Aisyah berkata, "Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka katakan? Mereka mengatakan, 'Assaamu 'alaika" Rasulullah ﷺ balik bertanya, "Tidakkah engkau mendengar apa yang kukatakan kepada mereka? Aku katakan kepada mereka, “Wa'alaikum” (semoga kamulah yang demikian itu)" Maka Allah menurunkan firmanNya: (Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu) Firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, "Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?”) yaitu apa yang mereka lakukan dan katakan itu berupa melipat kata-kata dan memberikan perkiraan seakan-akan kata-kata itu adalah salam.Padahal sesungguhnya kata-kata itu sebenarnya merupakan cacian. Selain itu mereka mengatakan dalam diri mereka sendiri bahwa seandainya orang ini adalah seorang nabi, niscaya Allah akan mengazab kami karena apa yang kami katakan terhadapnya apa yang dalam bathin, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kami sembunyikan ; sekiranya dia benar seorang nabi, pastilah dalam waktu dekat Allah akan menyegerakan siksaanNya di dunia. Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam) yaitu, neraka Jahanam, sudah cukup untuk mereka di akhirat (yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya mendidik hamba-hambaNya yang beriman agar mereka tidak menjadi seperti orang-orang kafir dan orang-orang munafik. (Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul) yaitu sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dari kalangan orang-orang kafir Ahli Kitab, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam kesesatan dari kalangan orang-orang munafik (Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan) yaitu lalu Dia memberitahukan kepada kalian semua amal perbuatan dan ucapan kalian, Allah telah mencatatnya atas kalian dan akan membalaskannya terhadap kalian.Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedangkan pembicaraan itu tidaklah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal (10)) yaitu sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah pembicaraan yang dilakukan dengan bisik-bisik untuk membuat orang mukmin dalam keburukan (adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita) yaitu sesungguhnya pembicaraan rahasia ini akibat dari bisikan setan yang dihembuskan kepada mereka dan membuat mereka menganggap baik perbuatan itu (supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita) yaitu agar hati mereka menjadi gelisah, padahal hal tersebut sama sekali tidak membahayakan mereka kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang merasa menghadapi itu, maka hendaklah dia meminta perlindungan dan bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya hal itu tidak akan membahayakan dirinya dengan izin Allah.
Sumber: https://tafsirweb.com/10763-surat-al-mujadalah-ayat-9.html
Informasi
Surat
المجادلة (Al-Mujadalah)
Gugatan — 22 ayat
Tempat Turun
Madaniyah
Ayat ke-
9 dari 22 ayat
Juz
Juz 28
Halaman
Halaman 543
Ruku
Ruku 477
Manzil
Manzil 7
Hizb
Hizb 109 (217/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-5113 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-58