القيٰمة (Al-Qiyamah)
Per AyatMushaf
وُجُوْهٌ
wajah-wajah
يَّوْمَىِٕذٍ
pada hari itu
نَّاضِرَةٌۙ
berseri-seri
﴿٢٢﴾
Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri,
5573 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
22-23. Wajah orang-orang yang berbahagia pada Hari Kiamat akan berbinar, bersuka cita dan bergembira, wajah-wajah itu akan melihat Penciptanya dan pemegang urusannya, maka wajah-wajah itu mendapatkan kenikmatan karenanya.
Sumber: https://tafsirweb.com/11670-surat-al-qiyamah-ayat-22.html
Tafsir Al-Wajiz
22. Pada hari kiamat, wajah-wajah orang mukmin sangat bercahaya penuh kegembiraan atas kabar nikmat yang akan mereka dapatkan
Sumber: https://tafsirweb.com/11670-surat-al-qiyamah-ayat-22.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 16-25 Ini merupakan pengajaran dari Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya ﷺ tentang bagaimana dia harus menerima wahyu dari malaikat. Karena sesungguhnya beliau selalu tergesa-gesa menerimanya dan mendahului malaikat dalam membacanya. Maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kepadanya bahwa jika malaikat datang membawa wahyu kepadanya, hendaknya Rasulallah mendengarkannya, dan Allahlah yang akan menjaminnya untuk dapat mengumpulkannya di dalam dadanya dan memudahkan baginya dalam menyampaikannya sesuai dengan apa yang disampaikan kepadanya.Dan hendaknyalah Rasulullah membiarkan malaikat menerangkan, menafsirkan, dan menjelaskannya. Maka keadaan pertama adalah mengumpulkannya dalam dadanya, keadaan kedua adalah membacanya, dan keadaan ketiga adalah tafsir dan penjelasan maknannya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya (16)) yaitu dengan Al-Qur'an, sebagaimana Allah berfirman: (dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah, "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”) (Surah Thaha: 114) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya) di dadamu (dan membacanya) yaitu kamu membacanya (Apabila Kami telah selesai membacakannya) yaitu apabila malaikat telah membacakannya kepadamu dari Allah سبحانه وتعالى (maka ikutilah bacaannya itu) yaitu dengarkanlah dia, kemudian bacalah sebagaimana dibacakan kepadamu (Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya (19)) yaitu setelah kamu hafal dan baca, maka Kami akan menjelaskan dan menerangkannya kepadamu serta memberimu ilham terkait maknanya sesuai dengan apa yang Kami kehendaki dan tentukan.Diriwayatkan dari Musa bin Abu ‘Aisyah, dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulullah ﷺ pada mulanya merasa berat saat menerima wahyu, dan beliau menggerakkan kedua bibirnya” Dia berkata, “Ibnu Abbas berkata kepadaku,"Dan aku menggerakkan kedua bibirku sebagaimana Rasulullah ﷺ menggerakkan kedua bibirnya" dia berkata,”Sa'id berkata kepadaku,"Aku menggerakkan kedua bibirku sebagaimana Ibnu Abbas menggerakkan kedua bibirnya" Kemudian Allah سبحانه وتعالى menurunkan firmanNya: (Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya (16) Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya (17)) yaitu mengumpulkannya di dalam dadamu, kemudian kamu membacanya. (Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu (18)) yaitu, dengarkanlah dan diamlah. (Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya (19)) Setelah itu apabila malaikat Jibril berangkat, maka Nabi ﷺ membacanya sebagaimana apa yang dibacakan kepadanya. Firman Allah: (Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia (20) dan meninggalkan (kehidupan) akhirat (21)) yaitu, sesungguhnya yang mendorong mereka mendustakan hari kiamat, menentang wahyu kebenaran dan Al-Qur'an yang agung yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya ﷺ, karena tujuan mereka hanya kehidupan dunia yang segera dan mereka sama sekali melupakan akhirat. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri (22)) dari kata “an-nadharah” yaitu bagus, cerah, bersinar, dan gembira (Kepada Tuhannyalah mereka melihat (23)) yaitu melihat Tuhannya dengan terang-terangan, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam hadits shahihnya:”Sesungguhnya kamu kelak akan melihat Tuhanmu dengan terang-terangan” Dan sungguh terkait melihatnya orang-orang mukmin kepada Allah سبحانه وتعالى di akhirat telah disebutkan hadits-hadits shahih dari berbagai jalur yang mutawatir, yang telah dinukil oleh para imam hadits, sehingga tidak mungkin ditolak atau dicegah kebenarannya.Hadits dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah yang keduanya ada dalam hadits shahih Bukhari Muslim bahwa sejumlah orang bertanya,"Wahai Rasulullah, apakah kita dapat melihat Tuhan kita pada hari kiamat?" Rasulullah ﷺ bertanya:”Apakah kalian berdesak-desakan saat melihat matahari dan bulan di hari yang tak berawan?” Mereka menjawab, "Tidak” Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian seperti itu" Hal ini dengan memuji Allah telah menjadi kesepakatan di antara para sahabat, tabi'in, dan ulama’ Salaf dari umat ini, sebagaimana hal ini telah disepakati di kalangan para imam Islam dan para ulama pemberi petunjuk manusia. Orang yang menakwilkan kata “ila” sebagai bentuk tunggal dari “Al-ala’” yaitu nikmat-nikmat, seperti yang dikatakan Ats-Tsauri, dari Manshur, dari Mujahid tentang firmanNya: (Kepada Tuhannyalah mereka melihat (23)) dia berkata, "menunggu pahala dari Tuhan " Maka sesungguhnya pendapat ini menjauhkan keraguan dan membatahkan argumen yang disampaikan. Lalu bagaimanakah jawaban orang yang berpendapat demikian dengan adanya firman Allah سبحانه وتعالى: (Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka (15)) (Surah Al-Muthaffifin) Imam Syafii berkata bahwa tidaklah orang-orang durhaka dihalangi dari melihat Tuhan mereka, melainkan karena diketahui bahwa orang-orang yang baik dapat melihat Tuhan mereka.Kemudian banyak juga pemberitahuan-pemberitahuan dari Rasulullah ﷺ secara mutawatir menunjukkan pengertian yang sama dengan konteks ayat yang mulia, yaitu firmanNya سبحانه وتعالى: (Kepada Tuhannyalah mereka melihat (23)) Firman Allah سبحانه وتعالى: (Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram (24) mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat (25)) Inilah penampilan wajah orang-orang durhaka pada hari kiamat dan menjadi muram. Qatadah berkata tampak kelabu. Ibnu Zaid berkata bahwa firmanNya (basirah) yaitu muram. (mereka yakin) yaitu yakin (bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat) Mujahid berkata bahwa maknannya adalah kebinasaan.Qatadah berkata bahwa itu adalah keburukan.
Sumber: https://tafsirweb.com/11670-surat-al-qiyamah-ayat-22.html
Informasi
Surat
القيٰمة (Al-Qiyamah)
Hari Kiamat — 40 ayat
Tempat Turun
Makkiyah
Ayat ke-
22 dari 40 ayat
Juz
Juz 29
Halaman
Halaman 578
Ruku
Ruku 512
Manzil
Manzil 7
Hizb
Hizb 116 (231/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-5573 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-75