النساۤء (An-Nisa')
Per AyatMushaf
لَيْسَ
tidak/bukan
بِاَمَانِيِّكُمْ
dengan angan-anganmu yang kosong
وَلَآ
dan tidak
اَمَانِيِّ
angan-angan kosong
اَهْلِ
ahli
الْكِتٰبِ
kitab
ۗ
مَنْ
barang siapa
يَّعْمَلْ
mengerjakan
سُوْۤءًا
kejahatan
يُّجْزَ
akan diberi balasan
بِهٖۙ
dengannya (kejahatan itu)
وَلَا
dan tidak
يَجِدْ
dia mendapat
لَهٗ
baginya
مِنْ
barang siapa
دُوْنِ
selain
اللّٰهِ
Allah
وَلِيًّا
pelindung
وَّلَا
dan tidak
نَصِيْرًا
penolong
﴿١٢٣﴾
(Pahala dari Allah) itu bukanlah angan-anganmu dan bukan (pula) angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.
616 / 6236
Tafsir
Tafsir Al-Muyassar
Tidak dapat digapai Karunia yang agung ini hanya dengan angan-angan kosong yang kalian impi-impikan belaka wahai kaum Muslimin, dan bukan juga dengan angan-angan kosong ahli kitab dari kalangan yahudi dan nasrani. Dan sesungguhnya Ia hanya dapat digapai dengan keimanan yang benar kepada Allah dan memperbaiki amal shalih yang Allah ridha. Dan barangsiapa mengerjakan perbuatan yang buruk,niscaya akan diberi pembalasan karenanya, dan dia tidak akan mendapati selain Allah pelindung yang mengurus perkara-perkara dan kepentingannya serta penolong yang menolongnya dan menyingkirkan darinya siksaan yang buruk
Sumber: https://tafsirweb.com/1655-surat-an-nisa-ayat-123.html
Tafsir as-Sa'di
123. Maksudnya, “Bukanlah” perkara itu, keselamatan dan kesucian, “menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli KItab,” angan-angan itu adalah percakapan jiwa yang tidak diiringi dengan perbuatan namun hanya pengakuan semata, dan sekiranya ditentang oleh angan-angan yang serupa dengannya, maka pastilah akan menjadi satu jenis dengannya, dan hal ini adalah umum pada setiap perkara, lalu bagaimanakah bila dalam perkara keimanan dan kebahagiaan yang abadi? Sesungguhnya angan-angan Ahli Kitab telah Allah kabarkan tentangnya bahwa mereka itu, "Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”.Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.(Al-Baqarah:111), Dan selain mereka di antara orang-orang yang tidak menisbatkan diri kepada sebuah kitab, tidak pula kepada seorang rasul, maka mereka lebih utama dan lebih patut, demikian juga Allah memasukkan ke dalam golongan itu orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam atas dasar kesempurnaan keadilan dan pemenuhan hak, karena sesungguhnya sekedar menisbahkan diri kepada suatu agama itu sama sekali tidaklah bermanfaat bila seorang manusia tidak membawa keterangan yang jelas atas kebenaran pengakuannya, maka perbuatanlah yang akan membenarkan atau mendustakan pengakuan itu, karena itulah Allah berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” Ini mencakup semua pelaku-pelaku-pelaku perbuatan, karena keburukan itu mencakup dosa apa pun, baik kecil maupun besar, dan mencakup juga seluruh balasan, baik sedikit maupun banyak, di dunia maupun di akhirat, dan manusia dalam kaitan ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, ada yang sedikit dan ada yang banyak.Barangsiapa yang seluruh perbuatannya adalah dosa, dan itu hanya terjadi pada orang kafir lalu bila ia meninggal sebelum bertaubat, maka akan dibalas dengan kekekalan dalam siksa yang pedih. Dan barangsiapa yang perbuatannya adalah shalih dan ia pada sebagian besar kondisinya dalam keadaan konsisten, hanya saja terkadang terjadi beberapa kesalahan atau dosa kecil, lalu apa pun yang menimpanya berupa kegundahan, kesedihan, gangguan dan sakit di tubuhnya, atau hatinya atau orang yang dicintainya atau hartanya dan semacamnya, maka sesungguhnya semua itu akan menjadi pengugur dosa-dosanya, dan hal itu adalah di antara balasan atas amalan-amalannya, yang telah Allah tentukan sebagai tindakan kasih sayang kepada hamba-hambaNya. Dan di antara kedua kondisi ini banyak sekali tingkatan-tingkatannya, balasan umum atas perbuatan yang buruk adalah dikhususkannya pada selain orang-orang yang bertaubat, karena sesungguhnya seorang yang bertaubat dari dosa adalah seperti seorang yang tidak memiliki dosa sama sekali, sebagaimana yang ditunjukkan oleh nash-nash yang ada.Dan FirmanNya, “Dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah” untuk menghilangkan beberapa perkara yang diperkirakan bahwa seorang yang berhak mendapat balasan atas amalannya itu kemungkinan saja memiliki pelindung atau penolong atau pemberi syafaat yang membela dirinya dari perkara yang seharusnya diterimanya, lalu Allah mengabarkan bahwa hal tersebut tidaklah ada, ia tidak memiliki pelindung yang membantunya memperoleh apa yang diinginkan dan tidak memiliki penolong yang membela dirinya dari perkara yang ditakutkan kecuali Rabbnya dan Rajanya semata.
Sumber: https://tafsirweb.com/1655-surat-an-nisa-ayat-123.html
Tafsir Al-Wajiz
123 Agama Allah itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong. Surga dan kedekatan dengan Allah juga bukan hanya dengan angan-angan dan tidak pula menurut angan-angan orang musyrik dan ahli Kitab yang mengatakan bahwa kami adalah anak Allah dan kekasih-Nya dan kami tidak akan masuk neraka kecuali hanya sebentar saja. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan baik kecil maupun besar, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu di dunia dan akhirat.Dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah yang dapat menyelamatkannya dari azab. Ayat ini turun untuk menjawab para penganut paham tiga agama yaitu Yahudi dan Nasrani yang mengklaim bahwa mereka akan selamat, dan juga Muslim yang menjawab mereka dengan perkataan: Hanya kami yang akan masuk surga. Sebab lafadz dalam ayat adalah umum, setiap kafir dan mukmin akan diberi balasan atas apa yang mereka lakukan.Balasan untuk kafir adalah neraka selamanya, adapun balasan orang mukmin adalah musibah dan penderitaan dunia, seperti kesedihan, penyakit, kesempitan dan adapun neraka telah ditentukan waktunya. Abu Shalih berkata: orang-orang yang menerima Taurat dan Injil sedang duduk bersama para penganut agama lain, setiap kelompok berkata kepada selain mereka bahwa kami lebih baik dari kalian. Sehingga turun ayat in
Sumber: https://tafsirweb.com/1655-surat-an-nisa-ayat-123.html
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)
Ayat 123-126 Makna yang terkandung dalam ayat ini adalah bahwa agama bukanlah sekadar tampilan luar atau harapan semata, melainkan sesuatu yang terdapat dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan. Tidaklah setiap orang yang mengakui sesuatu akan segera mendapatkannya hanya dengan anggapannya, begitu pula tidaklah setiap orang yang berkata,”Sesungguhnya dia itu berada dalam kebenaran dan kata-katanya didengarkan” tidak cukup seperti itu sampai dia memiliki bukti dari Allah. Oleh karena itu, Allah berfirman, (Itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab.Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu) yaitu tidaklah bagi kalian dan tidak pula bagi mereka bahwa keberhasilan itu didapat melalui angan-angan, melainkan adalah melakukan ketaatan kepada Allah dan mengikuti apa yang telah disyariatkan melalui lisan para rasul yang mulia. Oleh karena itu, Allah berfirman setelahnya, (Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu) sebagaimana firmanNya, (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (7) Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (8)) (Surah Al-Zalzalah) Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, banyak dari para sahabat terguncang Diriwayatkan dari Al-Hasan tentang firmanNya (Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu) yaitu orang kafir, lalu dia membaca, (Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir) (Surah Saba: 17).Firman Allah, (dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan Ibnu Abbas,"Kecuali jika dia bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya." Ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Yang benar adalah bahwa hal tersebut mencakup seluruh amal sebagaimana yang telah dijelaskan dalam banyak hadits, dan itu adalah pendapat pilihan Ibnu Jarir. Hanya Allah yang lebih Mengetahui.Firman Allah, (Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun (124)) Ketika menyebutkan tentang balasan dari perbuatan buruk, yaitu bahwa Dia pasti akan mendapatkan balasan yang sesuai dengan perbuatannya, baik di dunia, atau di akhirat. Kami berlindung kepada Allah dari semua itu. Kami memohon ampunan dan pemaafan kepadaNya di dunia dan akhirat.Dia menjelaskan kebaikan, kemuliaan, dan rahmatNya dalam menerima amal shalih dari hamba-hambaNya, baik laki-laki maupun perempuan, dengan syarat keimanan. Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga, dan mereka tidak akan dizalimi sedikitpun kebaikannya bahkan sekecil lubang pada biji kurma, yaitu lubang yang tampak pada yang biji kurma, dan penjelasan tentang tentang “Al-Fatiil” telah disebutkan sebelumnya yaitu bulu yang ada pada celah biji. Inilah yang dimaksud dengan “An-Naqiir”.Keduanya ada pada biji kurma. Demikian pula, "Al-Qathmir" yaitu lapisan tipis yang melapisi biji kurma. Ketiga hal ini ada dalam Al-Qur'an.Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah) ikhlas dalam beramal kepada Tuhannya, sehingga dia beramal dengan penuh keimanan dan berharap akan pahalaNya (dialah orang yang berbuat kebaikan) yaitu amal perbuatannya sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah kepadanya dan apa yang dirisalahkan oleh RasulNya berupa petunjuk dan agama yang benar. Inilah dua syarat dimana tidak sah amalan seseorang kecuali dengan kedua hal ini, yaitu dia harus ikhlas dan benar, yaitu ikhlas karena Allah dan benar dengan mengikuti syariat, sehingga dari luar dia menunjukkan bahwa dia mengikuti syariat dan dari dalam dia ikhlas. Jika salah satu dari dua syarat ini hilang, maka tindakan tersebut menjadi rusak.Jadi ketika keikhlasan itu hilang maka dia menjadi munafik. Mereka adalah orang-orang yang riyaa’ kepada orang lain. Dan barang siapa tidak mengikuti yang disyariatkan, maka dia tersesat dan tidak mendapatkan petunjuk, dan ketika mengumpulkan keduanya maka itu menjadi amal orang-orang mukmin (Orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.) (Surah Al-Ahqaf: 16) Oleh karena itu Allah berfirman, (dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus) mereka adalah nabi Muhammad dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman (68)) (Surah Ali Imran), (Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (123))(Surah An-Nahl), dan (Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik" (161)) (Surah Al-An’am).Al-Hanif adalah menghindari kemusyrikan, yaitu meninggalkannya dan meneriman kebenaran secara utuh, sehingga tidak ada yang bisa membuatnya mundur orang yang mendorongnya, dan tidak akan membuatnya berpaling orang yang berusaha memalingkannya. Firman Allah (Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasihNya) Ini adalah bagian dari dorongan untuk mengikutinya, karena dia adalah seorang imam yang dijadikan tauladan untuk mencapai suatu tujuan dimana Allah dekat dengan hamba-hambaNya, dimana dia sudah mencapai kedudukan paling tinggi yang dicintai. Hal ini hanya terjadi karena dia sangata taat kepada Tuhannya, sebagaimana yang digambarkan oleh Allah dalam firmanNya: (dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (37)) [Surah An-Najm].Banyak ulama salaf mengatakan bahwa dia melaksanakan semua yang diperintahkan di setiap tingkatan ibadah, sehingga perkara yang rendah tidak bisa menghalangi perkara yang agung, dan tidak pula perkara yang kecil menghalangi perkara yang besar. Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia") [Surah Al-Baqarah: 124] dan (Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (120) (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah.Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus (121) Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia….) [Surah An-Nahl].Firman Allah: (Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi) yaitu bahwa semuanya adalah milikNya, hamba, dan ciptaanNya. Dialah yang mengendalikan semua itu, tidak ada yang dapat menentang apa yang Dia tentukan, tidak ada yang menolak keputusanNya, dan tidak ada yang mempertanyakan apa yang Dia perbuat karena keagungan, kekuasaan, keadilan, hikmah, kelembutan, dan rahmatNya. Firman Allah (dan Allah Meliputi segala sesuatu) yaitu pengetahuanNya meliputi segala sesuatu sehingga tidak ada yang tersembunyi sedikitpun dariNya sesuatu dari hamba-hambaNya.Tidak ada yang luput dari pengetahuanNya bahkan sekecil dzarrah sesuatu di langit dan di bumi, baik yang kecil maupun yang besar. Tidak ada yang tersembunyi dariNya, bahkan sekecil dzarrah baik yang terlihat atau tidak terlihat oleh orang yang memandang.
Sumber: https://tafsirweb.com/1655-surat-an-nisa-ayat-123.html
Informasi
Surat
النساۤء (An-Nisa')
Wanita — 176 ayat
Tempat Turun
Madaniyah
Ayat ke-
123 dari 176 ayat
Juz
Juz 5
Halaman
Halaman 98
Ruku
Ruku 79
Manzil
Manzil 1
Hizb
Hizb 20 (39/4)
Sajdah
—
Urutan Mushaf
Ayat ke-616 dari 6.236
No. Surat
Surat ke-4