الماۤئدة (Al-Ma'idah)

Per AyatMushaf
يٰٓاَيُّهَا
wahai
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
اٰمَنُوْا
beriman
لَا
jangan
تُحِلُّوْا
kamu melanggar
شَعَاۤىِٕرَ
syiar-syiar
اللّٰهِ
Allah
وَلَا
dan jangan
الشَّهْرَ
bulan-bulan
الْحَرَامَ
haram/suci
وَلَا
dan jangan
الْهَدْيَ
binatang hadiah/korban
وَلَا
dan jangan
الْقَلَاۤىِٕدَ
binatang yang diberi kalung untuk korban
وَلَآ
dan jangan
اٰۤمِّيْنَ
orang-orang yang mengunjungi
الْبَيْتَ
Baitul
الْحَرَامَ
haram/suci
يَبْتَغُوْنَ
mereka bermaksud mencari
فَضْلًا
karunia
مِّنْ
dari
رَّبِّهِمْ
Tuhan mereka
وَرِضْوَانًا
dan keridhaan
ۗوَاِذَا
dan apabila
حَلَلْتُمْ
kamu telah menyelesaikan ibadah haji
فَاصْطَادُوْا
maka berburulah kamu
ۗوَلَا
dan jangan
يَجْرِمَنَّكُمْ
ganjaran(dosa) yang kamu lakukan
شَنَاٰنُ
kebencian
قَوْمٍ
suatu kaum
اَنْ
bahwa
صَدُّوْكُمْ
mereka menghalang-halangi kamu
عَنِ
dari
الْمَسْجِدِ
Masjidil
الْحَرَامِ
haram/suci
اَنْ
bahwa
تَعْتَدُوْۘا
kamu melampaui batas/aniaya
وَتَعَاوَنُوْا
dan tolong menolonglah kamu
عَلَى
atas/dalam
الْبِرِّ
kebaikan
وَالتَّقْوٰىۖ
dan takwa
وَلَا
dan jangan
تَعَاوَنُوْا
kamu tolong menolong
عَلَى
atas/dalam
الْاِثْمِ
berbuat dosa
وَالْعُدْوَانِ
dan permusuhan
ۖوَاتَّقُوا
dan bertakwalah
اللّٰهَ
Allah
ۗاِنَّ
sesungguhnya
اللّٰهَ
Allah
شَدِيْدُ
sangat keras
الْعِقَابِ
siksa
﴿٢﴾
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.
671 / 6236

Tafsir

Tafsir Al-Muyassar

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta menjalankan syariatNya, janganlah kalian melewati batasan-batasan Allah dan rambu-rambuNya, dan janganlah kalian menghalalkan peperangan di bulan-bulan haram, yaitu, Bulan dzulqadah, dzulhijjah, muharram, dan rajab. Dan ketetapan ini berlaku pada permulaan perkembangan islam. Dan janganlah kalian menghalalkan kehormatan binatang hadyu dan jangan pula binatang-binatang yang leher-lehernya telah dikalungi sesuatu.Hal itu karena mereka meletakkan kalung-kalung berbentuk kuciran-kuciran dari bulu domba atau unta pada batang lehernya sebagai pertanda bahwa binatang-binatang ternak tersebut diperuntukkan sebagai hadyu dan pembawanya adalah orang yang hendak mengerjakan ibadah haji. Dan janganlah kalian menghalalkan tindakan memerangi orang-orang yang bermaksud mendatangi Masjidil Haram yang mengharapkan dari Allah karunia yang dapat memperbaiki kualiatas kehidupan dunia mereka dan mendatangkan keridhaan tuhan mereka. Apabila kalian telah selesai dari ihram kalian, maka halal bagi kalian binatang buruan.Dan janganlah menyeret kalian rasa kebencian kalian terhadap satu kaum gara-gara mereka menghalang-halangi kalian untuk memasuki masjidil haram, sebagimana yang terjadi pada tahun perjanjian Hudaibiyah, membuat kalian mengabaikan perbuatan adil terhadap mereka. Dan tolong-menolonglah di antara kalian wahai kaum Mukminin,dalam mengerjakan kebaiakan dan ketakwaan kepada Allah. Dan janganlah kalian saling menolong dalam perbuatan yang memuat dosa,maksiat, dan pelanggaran terhadap batasan-batasan Allah, dan wasapadalah kalian dari melanggar perintah Allah, karena sesungguhnya Dia amat dahsyat siksaanNYa.

Sumber: https://tafsirweb.com/1886-surat-al-maidah-ayat-2.html

Tafsir as-Sa'di

2. Firman Allah, “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah,” maksudnya apa-apa yang di haramkannya dimana Allah telah memerintahkanmu agar mengagungkannya dan tidak melanggarnya. Larangan ini meliputi larangan melakukannya dan meyakini kehalalannya.Ia meliputi larangan melakukan perbuatan buruk yang meyakini bolehnya. Termasuk dalam hal ini adalah perkara-perkara yang di haramkan pada waktu ihram dan perkara-perkara yang di haramkan di daerah haram. Termasuk pula apa yang dinyatakan oleh FirmanNya “ Dan janganlah kamu melanggar kehormatan bulan-bulan haram.” Maksudnya, janganlah kamu menodainya dengan melakukan peperangan dan kezhaliman yang bermacam-macam di dalamnya sebagaimana Firman Allah, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-taubah:36). Jumhur ulama berpendapat bahwa larangan berperang di bulan-bulan haram adalah mansukh dengan FirmanNya “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian.Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (At-taubah:5). Dan ayat lain bersipat umum kandungannya adalah perintah untuk memerangi kaum kafir secara mutlak dan ancaman bagi yang tida berpartisipitasi dalam memerangi mereka dan di dukung lagi oleh kenyatan bahwa nabi memerangi pendudk Thaif di bulan Dzulqa’dah dan ia adalah salah satu bulan haram.Ulama lain berpendapat bahwa berperang di bulan haram tidak mansukh berdasarkan ayat ini dan lainnya yang padanya terdapat larangan secara khusus. Dan dalil yang umum tersebut, mereka sinkronkan dengan makna tersebut. Mereka berpendapat, bahwa dalil-dalil yang mutlak harus di tafsirkan dengan dalil-dalil yang muqayyad.Sebagian ulama meletakkan perincian, mereka berkata, “Tidak boleh memulai perang di bulan-bulan Haram. Adapun melanjutkannya jika ia telah dimulai sebelumnya maka itu boleh. Pendapat ini menafsirkan perang Nabi terhadap penduduk Tha’if, karena peperangan melawan mereka telah dimulai di HUnain dan itu terjadi di bulan Syawal (yang belum masuk bulan haram).” Semuan itu berlaku untuk peperangan yang tidak bertujuan untuk membela diri.Adapun jika kaum Muslimin membela diri karena orang-orang kafir yang memulai, maka kaum Muslimin boleh memerangi mereka untuk mebela diri di bulan-bulan Haram atau selainnya berdasarkan ijma’ para ulama. FirmanNya, “jangan mengganggu binatang-binatang hadyu dan qala’id.” Maksudnya janganlah kamu menghalalkan binatang hadyu yang di giring ke baitullah pada pelaksanaan ibadah haji atau umrah selainya, baik unta ataupun yang lain. Janganlah kamu mengahalang-halanginya untuk sampai di tempat penyembelihannya.Janganlah kamu mengambilnya dengan mencurinya atau lainya. Janganlah kamu menyia-nyiakannya atau membebaninya di atas batas kemampuannya karena dikhawatirkan ia mati sebelum sampai ke tempat penyembelihannya. Akan tetapi hormatilah ia dan hormati orang-orang yang datang membawanya. “ Jangan menggangu binatang qala’id.” Qala’id adalah salah satu macam hadyu yang hkusus, yaitu, hadyu yang dilingkari kalung tali yang di sematkan olehnya untuk menampakan syiar-syiar Allah, mendorong orang-orang untuk mengikuti dan mengajarkan sunah kepada mereka agar diketahui bahwa ia adalah hadyu dan supaya ia di muliakan.Karena itu, memberi kalung kepada binatang hadyu adalah termasuk syiar-syiar yang disunnahkan. “Jangan mengganggu orang-orang yang mengunjungi baitullah.” Yaitu mereka yang memang bermaksud mendatanginya “ sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhannya.” Maksudnya barang siapa yang medatangi baitullah, sementara tujuannya adalah perniagaan dan pekerjaan yang di bolehkan, atau tujuannya mencari ridha Allah dengan haji, umrah, thawaf, shalat dan ibadah-iabdah yang lainnya, maka janganlah kamu menimpakan keburukan kepadanya, dan menghinakan, akan tetapi muliakanlah dia dan hirmatilah orang-orang yang datang berkunjung ke rumah RabbMu. Termasuk dalam perintah ini adalah menjamin terciptanya keamanan jalan-jalan yang menghubungkan ke baitullah, menjadikan orang-orang yang medatanginya merasa tenang dan lega tanpa kekhawatiran terhadap diri mereka dari pembunuhan dan yang lebih kecil dari pembunuhan, tanpa tajut terhadap harta mereka dari rampokan, pemalakan, dan lain-lain. Ayat ini di khususkan oleh Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini.Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah:28). Orang-orang musyirik tidak di beri kesempatan untuk masuk daerah haram.Penghususan larangan untuk tidak mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah demi mencari ridha Allah dan karunia Allah dalam ayat ini menunjukan bahwa barangsiapa yang mendatanginya untuk melakukan penyimpangan dengan melakukan kemaksiatan, maka menghalangi orang yang bertujuannya seperti itu agar tidak membuat kerusakan di Baitullah adalah termasuk kesempurnaan penghormatan kepada Baitullah Al-Haram, sebagaimana Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (Al-Hajj:25). Ketika Allah melarang mereka berburu pada waktu ihram, Allah berfirman, “ Dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah kamu berburu.” Maksudnya, jika kamu telah menyelesaikan haji dan umrah dengan bertahallul dari keduanya dan kamu telah keluar dari daerah Haram, maka halal untukmu berburu.Keharaman menjadi hilang. Dan perintah yang datang sesudah larangan hukumnya di kembalikan kepada hukum sebelum larangn itu ada. “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu pada suatu kaum karena mereka mengahalang-halangimu dari Masjidil Haram mendorongmu berbuat aniaya kepada mereka.” Maksudnya kebencian suatu kaum, permusuhan, dan kezhaliman mereka terhadap kalian, dimana mereka menghalangimu dari Masjidil Haram jangan sampai mendorongmu untuk berbuat semena-mena kepada mereka untuk balas dendam. Seorang hamba harus senantiasa berpijak kepada perintah Allah dan menempuh jalan keadilan, walaupun dia dijahati atau di dzalimi atau di aniaya.Dia tidak boleh berdusta kepada orang berdusta kepadanya, atau menghianati orang yang menghianatinya. “Dan tolong menolonglah kamu dalam menolong kebaikan dan takwa.” Maksudnya, hendaknya sebgaian dari kamu membantu segaian yang lain dalam kebaikan. Kebajikan adalah nama yang mengumpulkan segalan perbuatan, baik lahir maupun batin, baik hak Allah maupun hak manusia yang di cintai dan diridhai oleh Allah. Dan takwa disini adalah nama yang mengumpulkan sikap meninggalkan segala perbuatan-perbuatan lahir dan batin yang di benci oleh Allah dan RasulNya.Setiap perbuatan baik yang di perintahkan untuk di kerjakan atau setiap perbiatan buruk yang diperintahkan untuk di jauhi, maka seorang hamba di perintahkan untuk melaksanakannya sendiri dan dengan bantuan dari orang lain dari kalangan saudara-saudaranya yang beriman, baik dengan ucapan atau perbuatan yang mamacu dan mendorong kepadanya. “Dan janganlah kamu saling tolong menolong dalam perbuatan dosa,” yaitu, saling mendorong melakukan kemaksiatan, di mana pelakunya memikul beban berat dosa. “Dan pelanggaran,” yaitu pelanggaran terhadap manusia pada darah, harta, dan kehormatan mereka. Seorang hamba wajib menghentikan diri dari segala kemaksiatan dan kezhaliman lalu membantu orang lain untuk meninggalkannya. “Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNYa.” Ialah, atas orang yang bermaksiat kepadaNya dan berani melanggar perkara-perkara yang diharamkannya. Karena itu berhati-hatilah terhadap perkara-perkara yang diharamkan agar hukumanNya tidak menimpa kalian di dunia dan akhirat.

Sumber: https://tafsirweb.com/1886-surat-al-maidah-ayat-2.html

Tafsir Al-Wajiz

2 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar ketentuan ibadah haji kalian seperti shafa dan marwa atau lainnya dengan melakukan pelanggaran. Yaitu segala yang telah diatur oleh syariat atau segala yang menjadi ketentuan atau tanda suatu ibadah haji atau umroh, baik dari ihram, thawaf atau sa’i. Dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, yaitu empat bulan, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rajab.Jangan mengganggu binatang-binatang yang menuntun menuju Baitullah, yaitu unta, sapi atau domba betina yang kalian jadikan atau kalian ganggu untuk sampai kepada Baitullah. Juga jangan kalian ganggu binatang-binatang ternak yang berkalung dengan anting-anting ketika memberikannya kepada orang-orang fakir dengan merampasnya, kemudian kalian kalungi dengan anting-anting untuk menandai sehingga tidak dikenali lagi. Jangan pula mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari laba berdagang dan juga kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dengan melaksanakan ibadah.Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka kalian dibolehkan berburu selain binatang haram. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram pada tahun Hudaibiyah, mendorongmu berbuat aniaya kepada mereka. Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan meninggalkan kemungkaran.Dan jangan tolong-menolong kalian dalam berbuat dosa dan pelanggaran kepada Allah dan menzalimi manusia. Takutlah kamu kepada azab Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya kepada orang-orang yang bermaksiat dan tidak bertaubat. Ayat ini turun ketika sebagian sahabat Nabi mencoba menghalangi beberapa orang musyrikin dari Umroh ketika tahun Hudaibiyah, kemudian orang-orang musyrik berkata: kami menghalangi mereka sebagaimana kelompok mereka telah menghalangi kami

Sumber: https://tafsirweb.com/1886-surat-al-maidah-ayat-2.html

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas)

Ayat 1-2 Hai orang-orang yang beriman, penuhilah perjanjian-perjanjian itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya (1) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu.Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (2) (Hai orang-orang yang beriman) Ibnu Mas’ud berkata,”Ketika aku mendengar (Hai orang-orang yang beriman) maka jagalah pendengaranmu, karena itu adalah kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang dilarang.Firman Allah سبحانه وتعالى: (penuhilah perjanjian-perjanjian itu) Ibnu Abbas, Mujahid, dan lainnya berkata,”yaitu perjanjian itu. Ibnu Jarir meriwayatkan kesepakatan tentang hal itu. Dia berkata,”Perjanjian yang mereka setujui, termasuk sumpah dan perjanjian lainnya.Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah: (Hai orang-orang yang beriman, penuhilah perjanjian-perjanjian itu) perjanjian, yaitu apa yang telah dihalalkan, diharamkan, diwajibkan, dan yang diatur oleh Allah, semuanya itu dalam Al-Quran.Maka janganlah kalian berkhianat atau melanggar perjanjian, kemudian menegaskan hal itu, lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi) sampai firmanNya (tempat kediaman yang buruk) [Surah Ar-Ra'd: 25].Firman Allah (Dihalalkan bagimu binatang ternak) yaitu unta, sapi, dan kambing. Pendapat ini dikatakan oleh Al-Hasan, Qatadah, dan lainnya. Ibnu Jarir berkata ,”Demikian juga menurut bangsa Arab.Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan lainnya menggunakan ayat ini sebagai dalil diperbolehkannya janin yang ditemukan mati dalam rahim ibunya yang telah disembelih" Firman Allah: (kecuali yang akan dibacakan kepadamu) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: Ini mengacu pada bangkai, darah, dan daging babi. Qatadah berkata,”Ini mengacu pada bangkai dan apa yang tidak disebut nama Allah padanya” Yang jelas (hanya Allah yang lebih mengetahui) bahwa yang dimaksud dengan ini adalah firmanNya: (Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas) [Surah Al-Ma'idah: 3], hal ini termasuk dalam hewan ternak, kecuali hal itu diharamkan dengan yang disebutkan ini, oleh karena itu Allah berfirman: (kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan yang disembelih untuk berhala) [Surah Al-Ma'idah: 3], yang berarti dari jenis tersebut, maka itu haram dan tidak dapat ditawar lagi.Oleh karena itu, Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu) yaitu, kecuali apa yang dijelaskan kepada kalian tentang pengharaman sebagian dari hal itu dalam beberapa kondisi" Firman Allah سبحانه وتعالى: (dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji) Beberapa ulama mengatakan: “Ini manshub sebagai haal dan yang dimaksud dengan hewan ternak adalah hewan ternak yang umum bagi manusia, yaitu unta, sapi, dan kambing. Dan hewan liar itu seperti rusa betina, sapi liar, dan keledai. Apa yang disebutkan sebelumnya dikecualikan dari manusia, dan juga hewan liar untuk diburu dalam keadaan ihram.Dikatakan bahwa yang dimaksud adalah Kami menghalalkan hewan ternak untuk kalian, kecuali sesuatu yang telah dikecualikan bagi orang yang dalam keadaan diharamkan untuk berburu, maka hal itu haram bagi dia, sesuai dengan firman Allah: (tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) [Surah An-Nahl: 115] yaitu Kami memperbolehkan untuk memakan bangkai bagi orang yang terpaksa, dengan syarat tidak melampui batas, demikian juga di sini, yaitu sebagaimana Kami menghalalkan hewan ternak dalam segala kondisi, lalu mereka diharamkan untuk berburu dalam keadaan ihram.Sesungguhnya Allah telah mengatur hal ini. Dia adalah Dzat yang Maha Bijaksana dalam semua yang Dia perintahkan dan Dia larang, Oleh karena itu, Allah سبحانه وتعالى berfirman: (Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya). Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah) Ibnu Abbas berkata, yang dimaksud dengan itu adalah ibadah haji.Mujahid berkata,” Shafa dan Marwah, Hadyu dan sapi yang dibawa untuk dikurbankan adalah syi'ar-syi'ar Allah. Dikatakan bahwa syi'ar-syi’ar Allah adalah bulan-bulan haramNya, yaitu janganlah kalian menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah dalam bulan-bulan haram oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman (dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram) yaitu dengan itu pengharamannya dan sesuatu yang diketahui karena pengagungannya, dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah berupa memulai peperangan dan dengan sungguh-sungguh menjauhi yang diharamkan itu, sebagaiumana Allah سبحانه وتعالى berfirman (Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu) (Surah At-Taubah: 36).Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah سبحانه وتعالى, (dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram) yaitu janganlah kalian menghalalkan peperangan di dalamnya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hal itu telah dinasakh, dan diperbolehkan memulai peperangan pada bulan-bulan haram. Mereka berargumen dengan firman Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka) (Surah At-Taubah: 5) Maksudnya adalah bulan-bulan haram adalah jumlahnya empat bulan (Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan) (Surah At-Taubah: 2) Mereka berkata,”Tidak ada pengecualian untuk bulan haram di sini”.Imam Abu Ja'far meriwayatkan kesepakatan bahwa Allah سبحانه وتعالى telah mengizinkan untuk memerangi orang-orang musyrik dalam bulan-bulan haram dan bulan-bulan lainnya dalam setahun. Dia berkata,”Demikian juga mereka sepakat bahwa orang musyrik itu sekalipun leher dan lengannya dilindungi oleh seluruh pohon di tanah haram, maka hal itu tidak akan membuatnya aman dari pembunuhan kecuali jika dia memiliki perjanjian perlindungan atau perjanjian dami dari umat Islam. Firman Allah سبحانه وتعالى, (binatang-binatang hadyu, dan binatang-binatang qalaid), yaitu janganlah meninggalkan hewan-hewan hadyu yang dibawa ke Baitullah, karena di dalamnya terdapat pengagungan terhadap syiar-syiar Allah, dan jangan pula meninggalkan hewan yang ada ikatan pada lehernya agar bisa dibedakan dari hewan ternak yang lain, dan agar diketahui bahwa hewan itu adalah hewan kurban menuju Ka’bah, Maka orang yang berniat melakukan hal buruk menjauhinya, dan orang yang melihatnya bisa membawa sesuatu yang serupa.Maka orang yang mengajak orang untuk berkurban itu akan mendapatkan pahala sebesar pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang yang mengikutinya sedikitpun. Oleh karena itu, ketika Rasulullah ﷺ melakukan ibadah haji, beliau beristirahat di Dzul Hulaifah di lembah ‘Aqiq. Kemudian pada pagi hari, beliau mengelilingi istri beliau yang berjumlah sembilan kemudian beliau mandi, memakai wewangian, melakukan shalat dua rakaat, menandai hewan hadyu beliau dan hewan yang diberi kalung milik beliau, lalu berihram untuk haji dan umrah.Hewan hadyu beliau sejumlah unta yang sangat banyak, mencapai enam puluh unta yang bentuk dan warnanya paling baik sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, (Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (32)) (Surah Al-Hajj).Sebabian ulama’ salaf memuliakan, dan menghormati syi’ar-syi’ar itu. Ali bin Abi Thalib berkata, "Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk menjaga mata dan telinga. Diriwayatkan oleh ahli hadits.Muqatil bin Hayyan berkata,"Firman Allah (dan binatang-binatang qalaid) berarti janganlah kalian menghalalkan syi'ar-syi'ar itu. Penduduk Jahiliyah, ketika mereka keluar dari daerah mereka di luar bulan-bulan haram, mereka akan mengenakan pada hiasan bulu hewan dan orang-orang musyrik mengenakan tanda dari bulu pohon-pohon dari Masjidil Haram sehingga mereka merasa aman dengan itu. Diriwayatkan dari Ibnu 'Auf, dia berkata,"Aku bertanya kepada Al-Hasan,“Apakah ada ayat dalam Al-Maidah yang dinasakh?” Dia menjawab, “Tidak” Sementara ‘Atha' berkata, “Mereka akan mengenakan bulu dari pohon-pohon di Masjidil Haram agar mereka merasa aman dengan itu, lalu Allah melarang memotong pohon-pohon tersebut.Demikian juga yang dikatakan oleh Mutharrif bin Abdullah. Firman Allah, (dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya) yang janganlah kalian menghalalkan memerangi orang-orang bermaksud pergi ke Baitullah dimana orang yang memasukinya akan merasa aman. Demikian juga orang yang mencari karunia dan keridhaan Allah, Jadi, janganlah kalian menghalangi, mencegah, dan mengganggunya" Mujahid, 'Atha', Abu Al-'Aliyah, Mutharrif bin Abdullah, Abdullah bin Ubaid bin Umair, Ar-Rabi' bin Anas, Muqatil bin Hayyan, Qatadah, dan lainnya berkata tentang firmanNya (sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya) hal itu mengacu pada perdagangan, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firmanNya, (Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu) (Surah Al-Baqarah: 198) dan firman Allah (dan keridhaan) Ibnu Abbas berkata bahwa mereka mencari keridhaan Allah dengan ibadah haji mereka" Ibnu Jarir meriwayatkan kesepakatan bahwa memerangi orang musyrik diperbolehkan jika mereka tidak memiliki perjanjian damai, terutama jika mereka datang ke Baitul Haram atau Baitul Maqdis.Namun, hukum ini dinasakh bagi mereka (Hanya Allah yang lebih mengetahui) Adapun orang yang bermaksud melakukan kejahatan di dalamnya dan melakukan kemusyrikan di sana, serta melakukan kekufuran di sana, maka hal itu dilarang. Allah سبحانه وتعالى berfirman (Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini) (Surah At-Taubah: 28).Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ pada tahun kesembilan mengutus Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memerintahkan Ali kepada orang-orang yang melakukan haji, dia memerintahkannya untuk mengumumkan atas kenabian Rasulullah ﷺ untuk membebaskan diri dari dosa kekafiran, dan agar orang musyrik tidak melakukan haji setelah tahun itu dan tidak melakukan thawaf di Baitullah.. Ibnu Abu Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata tentang firmanNya, (dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah) yaitu bahwa siapa saja yang menghadap ke arah Baitullah, baik orang-orang mukmin atau orang-orang musyrik itu berhaji. Lalu Allah melarang orang-orang mukmin untuk mencegah seseorang dari orang mukmin ataupun orang kafir.Kemudian Allah menurunkan ayat setelahnya (Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini) (Surah At-Taubah: 28), (Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah) (Surah At-Taubah: 17) dan (Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir) (Surah At-Taubah: 18).Lalu orang-orang musyrik dilarang masuk ke Masjidil Haram" Diriwayatkan dari Qatadah tentang firman Allah: (dan binatang-binatang qalaid, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah) dia berkata bahwa hal ini telah dinasakah. Pada zaman Jahiliyah, jika seseorang keluar dari rumahnya ingin melakukan haji, dia akan mengenakan bulu dari pohon, tidak ada yang mempermasalahkannya. Ketika dia kembali mengenakan bulu dari pohon dari bulu juga tidak ada yang mempermasalahkannya.Pada saat itu, orang musyrik tidak dicegah untuk mendekati Baitullah, dan mereka diperintahkan untuk tidak berperang di bulan haram dan juga di sekitar Baitullah. Lalu ayat itu dinasakh oleh firman Allah: (Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka) (Surah At-Taubah: 5).Ibnu Jarir memilih bahwa makna firman Allah: (dan binatang-binatang qalaid) yaitu jika kalian mengenakan qalaid dari tanag haram, maka amankanlah mereka.” Dia berkata bahwa bangsa Arab masih memelihara hal itu. Seorang penyair berkata: Bukankah kalian membunuh dua hewan qalaid ketika mereka lewat di hadapan kalian dengan bulu yang dilipat-lipat" Firman Allah سبحانه وتعالى: (dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu) yaitu setelah kalian selesai dari ihram kalian dan kalian telah bertahalul, maka Kami telah memperbolehkan kalian atas apa yang diharamkan untuk kalian selama dalam keadaan ihram yaitu berburu. Ini adalah perintah setelah larangan.Pendapat yang benar adalah pendapat yang dikuatkan, dan hukumnya kembali kepada ketentuan sebelum adanya larangan, bahkan sebelumnya wajib, maka hal itu mengembalikannya kepada sesuatu yang wajib; dan jika sebelumnya sunnah, maka dikembalikan kepada sesuatu yang sunnah; atau jika sebelumnya mubah, maka dikembalikan kepada sesuatu yang mubah. Orang yang berpendapat bahwa hal itu adalah wajib, maka hal itu bisa ditentang dengan banyak ayat, dan orang yang berpendapat bahwa itu mubah, maka hal itu bisa ditentang dengan ayat-ayat lain. Semua bukti-bukti ini sejalan dengan apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, sebagaimana yang dipilih oleh sebagian ulama ushul fiqh, dan hanya Allah yang lebih mengetahui.Firman Allah: (Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram, mendorongmu berbuat aniaya) di antara ulama’ qiraah ada yang membaca “An Shaddukum” dengan difathah karena “an” dan maknanya tampak, yaitu bahwa janganlah perasaan murka terhadap suatu kaum membuat kalian menghalang-halangi kalian mencapai Masjidil Haram. Hal ini terjadi saat perang Hudaibiyah, agar kalian tidak melampaui batas terhadap hukum Allah terhadap mereka, dan kalian melakukan kezaliman dan permusuhan terhadap mereka, tapi buatlah ketentuan sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dengan adil atas hak setiap orang. Ayat ini sebagaimana yang akan dijelaskan pembahasannya tentang firmanNya (Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa) (Surah Al-Ma’idah:8), yaitu janganlah perasaan murka terhadap suatu kaum membuat kalian untuk berlaku tidak adil.Sesungguhnya keadilan adalah suatu kewajiban yang harus diberikan kepada setiap orang di semua kondisi. Sebagian ulama’ salaf berkata,”Janganlah kamu samakan interaksimu bersama orang yang bermaksiat kepada Allah dengan ketaatanmu kepadaNya dalam berinteraksi bersamanya, dan dengan keadilan itu langit dan bumi berdiri tegak.” Ibnu Abu Hatim berkata,”Ayahku mengabarkan kepada kami, Sahl bin Affan mengabarkan kepada kami, dan Abdullah bin Ja'far mengabarkan kepada kami dari Zaid bin Aslam, dia berkata: “Rasulullah ﷺ berada di Hudaibiyah bersama para sahabatnya ketika orang-orang musyrik mencegah mereka untuk mencapai Baitullah, dan hal itu membuat mereka menderita, lalu orang-orang dari golongan orang musyrik melewati mereka dari penduduk Masyriq yang hendak melakukan umrah. Lalu para sahabat Nabi ﷺ berkata: “Mari kita menghalangi mereka sebagaimana mereka menghalangi kita” Lalu Allah menurunkan ayat ini. “Asy-Syanaan” adalah kemurkaan.Itu adalah pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan lainnya. Itu adalah bentuk mashdar dari akar kata “Syana’tuhu”, “Asyna’uhu”, “Syana’an” dengan diberi tambahan, seperti kata “Jamazaan”, “Darajaan”, dan “Raqalaan”, dari “Jamaza”, “Daraja” , dan “Raqala”. Ibnu Jarir berkata,”Di antara orang Arab ada yang menghilangkan penambahan pada kata “syana’an” sehingga menjadi “Syanaan”, namun saya tidak tahu siapa yang membacanya dengan bentuk itu" Di antara yang mengatakan itu adalah perkataan seorang penyair: “Wa mal ‘iisyu illa maa tuhibbu wa tasytahii wa in laamun fiihi dzusy syanaan wa fannada” "Kehidupan ini hanyalah apa yang engkau cintai dan engkau inginkan, bahkan jika di dalamnya ada orang yang penuh kebencian dan penolakan" Firman Allah: (Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran) Allah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin untuk saling membantu dalam melakukan kebaikan dan kebajikan, dan meninggalkan perbuatan mungkar, itulah yang disebut dengan takwa.Allah juga melarang mereka untuk saling menolonga dalam kebathilan dan saling membantu dalam melakukan perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan. Ibnu Jarir berkata,"Dosa itu adalah ketika meninggalkan apa yang diperintahkan Allah untuk dilakukan, sedangkan permusuhan adalah melampaui batas dari apa yang telah ditetapkan Allah dalam agama kalian, dan melampaui batas dari apa yang diwajibkan oleh Allah atas kalian baik untuk diri kalian sendiri maupun untuk orang lain"

Sumber: https://tafsirweb.com/1886-surat-al-maidah-ayat-2.html

Informasi

Surat

الماۤئدة (Al-Ma'idah)

Hidangan — 120 ayat

Tempat Turun

Madaniyah

Ayat ke-

2 dari 120 ayat

Juz

Juz 6

Halaman

Halaman 106

Ruku

Ruku 86

Manzil

Manzil 2

Hizb

Hizb 22 (43/4)

Sajdah

—

Urutan Mushaf

Ayat ke-671 dari 6.236

No. Surat

Surat ke-5